Hai, Sayang…

Saat lelaki itu meninggalkan kamar, duduklah di kursinya. Sandarkanlah punggungmu, kalau kau mau terjungkal. Kau menyaksikan lelaki itu duduk di kursi ini, menatap layar komputer, memainkan tetikus, dan mengetik sesuatu sejak delapan jam yang lalu. Kemarin, ia melakukan hal yang sama. Kemarin lusa. Ya, sejak bukunya terbit, kau selalu melihat lelaki itu duduk di kursi ini, melakukan hal yang sama, berjam-jam lamanya. Kau menduga ia sedang mengerjakan sesuatu yang berguna, sesuatu yang sebaiknya dilakukan seseorang setelah menerbitkan buku, sebab itu kau tidak ingin mengganggunya. Sekarang, fokuslah. Lupakan foto kecoa yang dijadikan latar belakang layar, ada tiga tombol di toolbar: pemutar lagu, peramban web, dan perangkat lunak pengolah kata. Bukalah satu persatu tombol itu; pemutar lagu sedang memutar satu album ‘A Gift from a Flower to a Garden’ dari Donovan, peramban web membuka beberapa laman media sosial dan youtube dan piratebay, dan pengolah kata kosong sama sekali. Tak ada yang ia ketik sejak tadi, patutlah bila kau curiga ia tak mengetik apapun sejak kemarin.

Ambil kertas dan pulpen, lalu tulislah begini:

“Hai, Sayang…

Capek, ya? Menulis, menerbitkan, menjual, dan menyibukkan diri dengan hal yang nggak penting-penting amat setelahnya; seperti Jonru. Nanti biar kupijat.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s