Satu Gram Saja

Oleh: Etgar Keret

(Diterjemahkan dari Bahasa Ibrani oleh Nathan Englander, cerpen ini diambil dari The New Yorker)

Ada pelayan manis di kedai kopi dekat rumahku. Benny, yang bekerja di dapur kedai itu, memberitahuku bahwa dia bernama Shikma, tidak punya pacar, dan penggemar obat-obatan jenis rekreasional. Sebelum dia bekerja menunggui meja kedai, aku belum pernah mengunjungi tempat ini—tak pernah sekalipun. Namun kini kau bisa menemukanku bertengger di salah satu kursi tiap pagi. Minum espresso. Berbincang sedikit dengannya—tentang hal-hal yang kubaca di koran, tentang pelanggan, tentang kue-kue. Kadang aku malah berhasil membuatnya tertawa. Dan saat dia tertawa, aku senang. Aku nyaris beberapa kali mengajaknya ke bioskop. Tapi ‘mengajak ke bioskop’ terkesan terlalu agresif. ‘Mengajak ke bioskop’ adalah satu langkah sebelum mengajaknya makan malam, atau mengajaknya terbang ke Eilat untuk berakhir pekan di pantai. Mengajak seseorang ke bioskop hanya punya satu makna; seperti berkata, “Aku menginginkanmu.” Dan jika dia tidak tertarik dan menolak, semua ini akan berakhir dengan tidak menyenangkan. Karenanya, kupikir, mengajaknya menghisap ganja terlihat lebih baik. Seburuk-buruknya, dia akan bilang, “Sayangnya, aku nggak merokok,” dan aku akan bikin guyonan tentang pemabuk, dan, seolah percakapan tadi tak pernah terjadi, aku memesan lagi secangkir kecil espresso dan menyintas.

etgar_keret

Karena itulah aku menelepon Avri. Avri dulu adalah satu-satunya teman sekelasku di SMA yang pemadat garis keras. Sudah dua tahun lebih kami tidak bercakap-cakap. Aku mulai membicarakan percakapan hipotetis yang mencuat di dalam kepala saat menelepon, mencari apa saja yang bisa kubicarakan sebelum menyebutkan ganja. Tapi sesaat setelah aku bertanya bagaimana cara dia mendapatkannya, dia berkata, “Kosong. Mereka menutup perbatasan Lebanon karena ada masalah di Siria, dan mereka menutup perbatasan Mesir karena bajingan-bajingan Al-Qaeda. Nggak ada yang bisa dihisap, Kawan. Mengesalkan.” Aku bertanya apa lagi yang terjadi, dan dia menjawab pertanyaanku, meski kami sama-sama tahu aku sama sekali tidak tertarik. Dia bercerita soal kehamilan pacarnya, dan bahwa mereka memang menginginkan anak, dan ibu pacarnya adalah janda yang bukan hanya mendesak mereka segera menikah namun juga menginginkan perayaan keagamaan—karena katanya itulah yang diinginkan pula oleh almarhum ayahnya jika dia masih hidup. Maksudku, itu argumen yang tak bisa disangkal! Memangnya kau bisa apa? Mencangkul kuburan ayahnya dan menanyakan apa yang dia inginkan?

Dan selama Avri berbicara aku mencoba menenangkannya, kukatakan bahwa itu bukanlah masalah besar. Karena buatku memang bukan masalah besar apakah Avri kelak menikah di depan rabi atau tidak. Bahkan jika dia memutuskan untuk pindah negara demi kebaikannya atau operasi kelamin sekalipun, aku akan kalem saja. Yang paling penting bagiku saat ini hanyalah cimeng buat Shikma. Maka, kumuntahkan saja kalimat ini: “Kawan, seseorang di suatu tempat pasti punya barang, kan? Bukan buat giting, kok. Ini buat cewek. Cewek spesial yang pengin kubikin terkesan.”

“Kosong,” Avri mengatakannya lagi. “Sumpah. Aku bahkan mulai menghisap Spice, kayak pecandu lainnya.”

“Aku nggak bisa kasih dia sintetis sialan kayak gitu,” kataku. “Nggak keren.”

“Aku ngerti,” gumamnya di ujung telepon. “Aku ngerti, tapi ganja, sekarang-sekarang ini—nggak ada sama sekali.”

Dua hari kemudian, Avri meneleponku di pagi hari dan mengabarkan dia mungkin punya sesuatu, tapi agak rumit. Kubilang, aku siap membayar mahal. Aku hanya akan menggunakannya sekali, dan hanya butuh satu gram saja. “Aku nggak bilang ‘mahal’,” katanya. “Aku bilang ‘rumit’. Temui aku empat puluh menit lagi di Carlebach Street dan akan kujelaskan.”

‘Rumit’ bukanlah yang kubutuhkan saat ini. Dan seingatku di sekolah dulu, ‘rumit’-nya Avri artinya memang ‘rumit’. Saat aku mendatanginya, yang kuingin hanya sedikit ganja, selinting lebih baik, untuk dihisap bersama seorang gadis yang menertawai guyonanku. Aku tak berpikir untuk bertemu seorang kriminal bengis, atau siapapun yang tinggal di sekitar Carlebach. Nada bicara Avri di telepon sudah cukup membuatku stres, dan lagi dia berkata ‘rumit’ sebanyak dua kali.

Saat aku tiba, Avri sudah menunggu di atas skuter dengan tanpa melepas helmnya. “Laki-laki ini,” katanya, terengah-engah seakan kami sedang naik tangga, “yang akan kita temui, dia seorang pengacara. Temanku membersihkan rumahnya setiap minggu, tapi bukan buat uang—cewek itu membersihkan rumahnya buat dapat ganja medis. Si Pengacara ini mengidap kanker entah—aku nggak tahu bagian tubuhnya yang mana yang terkena kanker—dan dia dapat jatah empat puluh gram sebulan, tapi nggak dihisap. Aku minta temanku tanya ke pengacara itu kalau-kalau dia punya sedikit kelebihan, dia bilang dia akan mendiskusikannya, tapi dia bersikeras yang datang harus dua orang, entahlah. Jadi aku meneleponmu.”

“Avri,” ujarku, “aku cuma minta cimeng. Aku nggak mau bertransaksi narkoba dengan seorang pengacara yang belum pernah sekali pun kautemui.”

“Ini bukan transaksi,” kata Avri. “Orang itu cuma minta kita mampir ke apartemennya dan bicara. Kalau kita nggak sepakat, kita langsung pergi dan nggak akan berhubungan lagi dengannya. Lagipula, nggak akan ada transaksi hari ini. Aku nggak punya uang. Yah, kita lihat saja akan ke mana nantinya.”

Aku masih merasa tidak nyaman dengan ide ini. Bukan karena kupikir ini tindakan berbahaya, tetapi karena aku khawatir nantinya akan serba-canggung. Aku tak bisa menangani kecanggungan. Duduk bersama orang tak dikenal di dalam rumah yang tak dikenal, dengan atmosfir menjemukan yang akan mendominasi—pasti akan membuat perasaanku semakin buruk. “Nu,” seru Avri. “kita temui dia, dan setelah dua menit bertingkahlah seperti kau nggak ada di sana. Asal jangan kau biarkan aku sendirian menemuinya. Bagaimanapun, dia minta dua orang yang datang. Masuklah ke rumah itu bersamaku supaya aku nggak kelihatan seperti orang tolol, setelah lewat satu menit kita bertemu dengannya, ya, lakukan sesukamu.” Meski ia berkata begitu, tetap saja tidak terdengar bagus buatku. Akan tetapi penjelasan Avri membuatku tak bisa berkata ‘tidak’, persis seperti sperma yang sudah berada diujung penis.

Nama belakang pengacara itu Corman, paling tidak itulah yang tertulis di pintu. Dan orangnya ramah. Dia menjamu kami coke dengan es dan meletakkan irisan lemon di tiap gelas, rasanya seperti berada di bar hotel. Apartemennya pun terawat: terang, dan wangi. “Dengar,” katanya, “Saya harus berada di pengadilan satu jam lagi. Ada gugatan perdata atas kasus tabrak-lari yang melibatkan seorang gadis sepuluh tahun. Pengemudi mobil yang menabraknya sudah dipenjara setahun, dan sekarang aku mewakili orangtua korban, yang menggugatnya kira-kira dua juta. Si Pengemudi ini orang Arab, keluarganya kaya raya.”

“Wah,” seru Avri, seolah dia mengerti apa yang sebenarnya tengah dibicarakan Corman. “Sayangnya, kami di sini ingin membicarakan hal yang sama sekali berbeda. Kami temannya Tina. Masalah yang akan kami bicarakan sebenarnya soal ganja.”

“Ya, masalahnya sama,” timpal Corman, tak sabar. “Kalau kau mengizinkanku menyelesaikan kalimatku, kau akan mengerti. Begini, seluruh keluarga pengemudi itu akan datang untuk memberi dukungan di persidangan. Nah, di sisi korban, selain orangtuanya, tak ada seorang pun yang akan datang. Dan orangtuanya cuma akan duduk diam di sana dengan kepala tertunduk, mereka tidak akan bicara apa-apa.” Avri mengangguk tenang, dia masih belum mengerti arah pembicaraan ini, tetapi kelihatannya ia tak ingin menyakiti hati Corman. “Saya ingin kau dan temanmu datang ke pengadilan dan bertingkah seolah kalian ada hubungannya dengan korban. Buatlah keributan. Teriaki si terdakwa. Teriaki dia pembunuh. Terisaklah, sedikit mengutuk lebih baik, tapi jangan rasis, cuma sebatas ‘Dasar bajingan kau!’, atau apapunlah, yang terkesan tak dibuat-buat. Singkatnya, hakim mesti merasakan kehadiran kalian. Dia perlu tahu bahwa orang-orang di kota ini berpikir si terdakwa harus dihukum seberat-beratnya. Ini mungkin terdengar tolol bagi kalian, tapi cara seperti ini benar-benar mempengaruhi hakim. Ini akan menggetarkan hati mereka, memicu iba dari orang-orang tua itu, dan akan mengikis keyakinan mereka.”

“Ganjanya, bagaimana?” potong Avri.

“Saya baru akan menjelaskannya,” ujar Corman. “Hadiri pengadilan barang setengah jam dan kalian akan mendapatkan masing-masing sepuluh gram. Kalau kalian teriak cukup keras, mungkin lima belas. Bagaimana?”

“Saya cuma butuh satu gram,” jawabku. “Bagaimana kalau Anda menjualnya saja dan saya akan membelinya, supaya cepat? Setelah itu, Anda dan Avri—“

“Jual?” Corman tertawa. “Maksudnya, kau membayar saya, begitu? Memangnya siapa saya? Bandar ganja? Kau tahu? Saya sering membagi sekantung besar kepada teman-teman sebagai hadiah kecil.”

“Nah, kalau begitu, beri saya hadiah,” pintaku. “Satu gram saja!”

“Kau dengar tadi saya bilang apa?” Corman tersenyum dengan senyum yang tidak mengenakan. “Saya akan berikan, tapi pertama-tama kau harus membuktikan kau adalah teman saya.”

Jika bukan karena Avri, aku dengan tegas menolaknya, namun Avri memberitahuku bahwa ini satu-satunya kesempatan kami dan permintaannya tadi tidak terlihat berbanaya atau melanggar hukum. Menghisap cimeng memang ilegal, tapi memaki orang Arab yang menabrak-mati gadis cilik—bukan hanya legal, itu tindakan yang benar-benar normatif. “Siapa tahu,” katanya, “ada kamera di sana dan kita akan masuk berita tengah malam.”

“Tapi, bagaimana dengan berpura-pura menjadi keluarga si gadis?” ujarku. “Maksudku, orangtuanya pasti tahu kalau kita nggak ada hubungan sama sekali dengan mereka.”

“Lho, dia nggak bilang kita harus ‘berhubungan’ dengan keluarga itu,” bela Avri. “Dia cuma menyuruh kita berteriak. Kalau ada yang tanya, kita bisa beralasan kita membaca soal kasus ini di koran dan kita cuma warga biasa yang merasa harus terlibat.”

Kami berbincang seperti ini di lobi pengadilan, yang gelap dan berbau seperti campuran selokan dan kayu lapuk. Dan meskipun kami berdebat, sudah jelas bagi kami bahwa aku setuju. Kalau aku tidak setuju, tentu tadi aku tidak akan duduk di jok belakang skuter Avri yang jelas-jelas akan pergi ke sini. “Santai sajalah,” katanya. “Aku akan berteriak buat kita berdua. Kau diam saja. Bertindaklah seperti seorang teman yang berusaha menenangkanku. Yang penting mereka menyadari kita datang bersama.”

Separuh keluarga si Pengemudi sudah di sana, memandangi kami yang sedang berdebat di lobi bawah. Pengemudinya sendiri berpipi tembam dan terlihat masih sangat muda, dan dia menyapa orang-orang yang baru datang, mencium mereka semua, seakan-akan ini adalah pesta pernikahan. Di meja penggugat, dekat Corman dan pengacara muda lain yang berjenggot, duduklah orangtua si Gadis. Mereka tidak terlihat seperti sedang berada di pesta pernikahan. Mereka terlihat kelelahan. Si Ibu sekitar lima puluhan lebih namun kurus seperti burung kecil. Rambutnya ubanan dan terlihat benar-benar neurotik. Si Ayah duduk di sisinya sembari memejamkan mata. Tiap beberapa saat dia membuka matanya beberapa detik, lalu menutupnya lagi.

Persidangan dimulai, dan kelihatannya kami datang di proses akhir setelah melewati beberapa proses yang rumit, dan semuanya terdengar sangat teknis dan terfragmentasi. Para pengacara terus menerus menggumamkan bab dan pasal yang berbeda. Aku mencoba membayangkan Shikma dan aku duduk di sini setelah anak kami ditabrak-mati. Kami patah hati, namun tetap saling menyemangati, kemudian dia berbisik di telingaku, “Aku ingin pembunuh bangsat itu membayar perbuatannya.” Bukanlah bayangan yang menyenangkan, jadi kuhentikan dan malah mulai membayangkan kami berdua di dalam apartemenku, menghisap sesuatu, dan menonton dokumenter National Geographic tentang hewan-hewan dengan mematikan suara televisi. Entah bagaimana kami mulai bercumbu, dan saat ia menempelkan tubuhnya kepadaku sewaktu kami berciuman aku merasa dadanya menekanku kuat-kuat…

“Dasar Hiena!” Avri melonjak dari kursi dan mulai berteriak-teriak. “Ngapain senyam-senyum! Heh, kau membunuh gadis kecil, tahu? Dan kau tenang-tenang berdiri di situ pakai kaus polo bak sedang berpesiar—mereka seharusnya membiarkanmu membusuk di balik jeruji.” Kerabat si Pengendara menoleh ke arah kami, maka aku berdiri dan bergaya seolah sedang menenangkan Avri. Hakim mengetuk palunya dan berkata bila Avri tidak berhenti berteriak petugas akan mengeluarkannya secara paksa, yang saat ini ancaman itu malah terdengar lebih menyenangkan ketimbang harus berinteraksi dengan keluarga si Pengemudi, sebagian besar dari mereka kini hanya berjarak beberapa millimeter dari wajahku dan mulai mengutuk dan mendorong Avri.

“Dasar teroris!” Avri memekik. “Kau layak dihukum mati.” Aku tidak mengerti kenapa dia berkata begitu. Akan tetapi seorang pria, dengan kumis tebal, menamparnya. Aku mencoba memisahkan mereka, menengahi keduanya, dan pria berkumis itu malah menanduk wajahku. Petugas persidangan menyeret Avri keluar. Saat diseret-seret, dia masih sempat berteriak, “Kau membunuh seorang gadis kecil. Kau mematahkan bunga yang akan mekar. Semoga seseorang kelak membunuh anakmu juga!” Di waktu yang sama, aku sudah merangkak-rangkak di lantai. Darah mengucur dari hidung atau keningku—aku tak yakin soal ini. Sesaat setelah Avri menyumpahi anak si Pengendara akan mati dibunuh juga, seseorang mendaratkan tendangan mantap ke rusukku.

Ketika kami kembali ke rumah Corman, dia membuka lemari pendingin, memberiku sekantong kacang beku, dan menyuruhku untuk menekannya agak keras. Avri tak berbicara dengannya atau denganku, hanya bertanya di mana ganjanya. “Kenapa, sih, pakai bilang teroris segala?” tanya Corman. “Saya sudah memperingatkan untuk tidak secara khusus menyebutkan dia orang Arab.”

“Lho, teroris bukan anti-Arab,” jawab Avri, membela diri. “Kata itu sama saja artinya dengan ‘pembunuh’. Di sini pun ada teroris.”

Corman tidak menjawab. Dia pergi ke kamar mandi dan kembali dengan membawa dua bungkus plastik kecil. Dia memberiku satu dan melemparkan satunya kepada Avri, yang nyaris gagal menangkapnya. “Satu bungkus isinya dua puluh,” Corman berkata kepadaku sambil membuka pintu depan. “Kacang itu buatmu saja.”

Keesokan paginya di café, Shikma menanyakan soal wajahku yang babak bundas. Kubilang ini hanya kecelakaan. Kemarin aku pergi ke rumah teman dan menginjak mainan anaknya di lantai ruang tamu. “Aku pikir kau berkelahi dengan seseorang demi seorang cewek,” kata Shikma, tertawa, dan meletakkan espresso pesananku.

“Kadang yang seperti itu bisa terjadi,” aku mencoba membalas senyumnya. “Kalau kau sudah mengenalku cukup lama kau akan melihatku berkelahi demi cewek, demi teman, atau demi anak kucing. Tapi akan selalu aku yang dipukuli, bukan aku yang memukuli.”

“Kau kayak kakakku saja,” kata Shikma. “Tipe cowok yang gemar memulai perkelahian dan akhirnya malah dihajar habis-habisan.”

Aku bisa merasakan plastik berisi dua puluh gram ganja bergemerisik di saku mantel. Tetapi, bukannya mengindahkan bunyi-bunyi itu, aku malah bertanya apakah dia punya waktu untuk menonton film baru tentang astronot wanita yang pesawat luar angkasanya meledak, dan dia terdampar di luar angkasa bersama George Clooney. Dia bilang ‘tidak’ dan bertanya balik kenapa aku menanyakan hal itu. “Nggak, sih,” aku mengaku, “tapi sepertinya keren. Menonton film 3-D, memakai kacamata dan yang begitulah. Barangkali kau mau nonton denganku?”

Keheningan meliputi kami, dan aku tahu, setelah keheningan ini, ‘ya’ atau ‘tidak’ akan muncul begitu saja. Beberapa gambar mendatangi pikiranku. Shikma menangis. Kami berdua di ruang pengadilan, saling menggenggam. Aku mencoba mengganti saluran di dalam kepalaku, menggantinya ke gambar lain, kami berdua berciuman di sofa usang ruang tamuku. Mencoba, dan gagal. Gambar muram itu, tak bisa kuenyahkan.

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s