Hukuman Mati

Setelah berhasil menjatuhkanku ke lantai Bayam Merah, istriku, menempelkan moncong pistol di dada kiriku. Telapak tangan kanannya, yang menggenggam pistol erat-erat, kini pasti bisa merasakan degup jantung. Ia tertawa puas sekali hingga tanpa sadar liurnya muncrat dan mendarat di ujung hidungku. Ia menyeka mulutnya. Wajar, sih, jika posisi kami ditukar, aku mungkin akan tertawa kesetanan seperti itu juga.

Itu pistol sungguhan, aku tahu. Pistol mainan, dalam kondisi semacam ini, jarang digunakan.

“Ini nggak akan terjadi kalau kau nggak bertingkah,” ujarnya. “Cuma karena kau menggenggam beceng, bukan berarti kau sudah menggenggam dunia.”

Aku memang tidak berpikir begitu, dan aku sama sekali tidak takut. Kecuali ada setan kurang kerjaan yang iseng membisikinya untuk menekan pelatuk, ia mungkin tak akan berani menembakku. Aku kenal Bayam Merah. Bandit kecil yang menghabiskan separuh hidupnya dengan ngomel di media sosial. Ia memang cerewet sekali di dunia maya. Tapi, ini dunia nyata, dunia di mana ia lebih sering bernafas ketimbang bicara. Dunia di mana seekor ulat bulu pun sanggup membunuhnya.

Aku tidak sedang berusaha menghibur diri. Faktanya begitu: ia pernah pingsan cuma karena melihat ulat bulu merangkak di ranjang kami.

“Kau ingin kutarik pelatuknya dengan telunjuk atau jari tengah?”

“Aku ingin kau menggosok gigi. Nafasmu bau sekali.”

Ia menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan kiri, membentuk ceruk, lalu mengembuskan nafasnya. Membaui nafasnya sendiri. “Nggak bau.”

“Telur dadar buatanmu tadi pagi juga kau bilang enak,” jawabku.

“Nggak masalah,” katanya. “Besok kau nggak akan memakan masakanku lagi.”

Aku tersenyum mengejek. “Baguslah, aku jadi nggak perlu berpura-pura lagi.”

Ia menghela nafas panjang, memandangiku penuh curiga seperti ikan mujair melihat cacing menggeliat di dasar kolam.

“Kau mencintaiku. Nggak perlu kau bilang lagi, aku sudah tahu.” Setelah berkata begitu, ia membasahi bibirnya dengan lidah.

“Aku nggak akan kangen masakanmu, sumpah,” kataku. “Tapi mungkin aku akan kangen dengan kebiasaan kecilmu itu.”

“Kau akan masuk surga,” katanya. “Kau suami yang baik, meski agak menyebalkan. Di surga katanya banyak bidadari, semoga ada yang punya kebiasaan membasahi bibirnya dengan lidah juga.”

“Yah, semoga bidadari punya lidah.” Aku mendengus kesal. “Orang-orang selalu menggambarkan bidadari begitu cantik, tapi cuma begitu-begitu saja, kau tahu, kan? Hidungnyalah mancung, kulitnyalah putih, buah dadanyalah besar, dan tak cukup sampai di situ, mereka bilang semuanya perawan dan akan selalu perawan. Tapi aku nggak pernah dengar ada yang bilang ‘lidah bidadari itu pendek dan agak meruncing’, seperti lidahmu dan mereka suka membasahi bibir mereka dengan lidahnya.”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Masalahnya…” kutarik nafas dalam-dalam, mencoba memunculkan bayangan bidadari dan yang muncul justru kadal bersayap sedang menempel begitu saja di batang pohon sambil tiap beberapa detik menjulurkan lidah lalu menariknya cepat-cepat. “Kalau nggak punya kebiasaan sepertimu, sih, mungkin masih bisa kumaklumi. Tapi kalau nggak punya lidah, kukira, aku nggak akan sanggup melihatnya. Sekalipun mereka perawan terus.”

Ia tertawa, mulutnya terbuka lebar-lebar, menampilkan giginya yang terawat: tidak putih bersih seperti aktris iklan pasta gigi, memang, tapi terawat. Dan itu cukup. Istriku agak sensitif dengan mulutnya, sewaktu remaja ia pernah jatuh dari motor dan gigi depannya patah dua buah. Selama dua bulan ia hidup dengan gigi depan yang patah, dan selama itu pula ia mengalami perundungan. Teman-temannya sering mengejek: “Mulutmu bau!” atau “Dasar nenek-nenek!” Tidak tahan, ia memaksa ibunya untuk membawanya ke dokter gigi. Karena itulah saat ia sedang merajuk, aku sering menggodanya dengan bilang bahwa nafasnya bau. Itu bohong, dan ia tahu aku berbohong. Meski begitu, tetap saja ia lekas-lekas menggosok gigi. Tapi, sepertinya, tidak kali ini.

“Akhirnya, kau mati juga.” Dia tersenyum bahagia. “Selesai sudah. Kau nggak akan tahu apa nanti aku akan kawin lagi, apakah aku akan punya anak lagi, apakah aku bahagia lagi, kau nggak akan tahu. Orang mati nggak perlu tahu hal-hal seperti itu.”

“Kalau kau kawin lagi, terserah, deh. Asal jangan sama Steven Gerrard.”

Ia tertawa lagi. “Aku akan ke Ing—”

“Tolol banget, sih. Dia kan pindah ke Amerika.”

“Benarkah?”

“Mengaku pecinta berat Liverpool, yang begitu saja kau nggak tahu,” ejekku. “Kau cuma suka sama si Gerrard, karena dia ganteng. Jadi…”

“Jadi?”

“Jadi, mulai sekarang, sebaiknya berhentilah datang ke kafe-kafe buat nonton bareng pertandingan Liverpool. Percuma. Nggak ada Gerrard.”

“Kau cuma takut aku ketemu jodoh di kafe itu,” ia tergelak.

Aku menggeleng keras, sambil menahan tawa. Ia benar. 10 tahun kami menikah dan ia hampir selalu benar. Dari mulai firasatnya tentang jenis kelamin anak pertama dan kedua kami, hingga dugaannya soal pekerjaan baruku yang ia pikir akan mencelakakanku. Bayam Merah penjudi yang baik, ia rela menahan taruhannya jika ia pikir tak akan menang. Nasib baik selalu menyertai penjudi yang baik, kukira.

Aku memang tak pernah bilang, setelah ditendang dari kantor, aku menjadi kurir heroin. Aku tak bisa menemukan alasan bagus untuk menutupi alasanku yang sebenarnya: aku cuma tak kepengin ia dan anak-anakku kelaparan. Itu konyol. Usiaku baru 34 tahun dan, kupikir, akan sangat sulit menemukan pekerjaan baru. Picik betul. Tapi, begitulah kenyataannya. Mencoba berkilah ini-itu hanya akan membuatku terlihat semakin konyol. Sederhananya: aku memang lelaki payah, dan penjudi yang sembrono. Aku sudah memutuskan akan mempertaruhkan semua jauh sebelum bandar membagikan kartu, berharap keberuntungan memihakku. Kuintip kartu, dan ternyata jelek. Kugosok-gosokkan di telapak tangan dan, shazam! Kartuku tetap jelek, tidak berubah.

“Kau nggak mau menciumku?”

“Buat apa?” tanyanya balik.

“Buat kenang-kenangan.”

“Setelah peluru ini melubangi jantungmu, kau nggak perlu mengenang lagi. Percuma.” Ia membasahi bibirnya lagi. “Lagipula, aku nggak mau mencium suami yang menganggap remeh istrinya.”

“Kau salah. Kali ini kau salah,” kataku. “Aku nggak pernah meremehkanmu.”

“Kau ambil pekerjaan itu pasti karena kau pikir aku takut aku kelaparan, Monyet!”

Aku bisa membantah, tapi, yah, buat apa? Berdebat soal benar-salah saat kau tahu kau akan mati, tidak banyak gunanya. Kau salah, kau mati. Kau benar, kau tetap mati. Bagaimanapun, Bayam Merah ada benarnya.

“Kau ingat saat Wortel lahir?” tanyaku—Wortel anak kedua kami. “Matanya tertutup dan nggak menangis sama sekali. Sampai bikin dokter kalang-kabut. Kalau saja mulutnya nggak monyong-monyong begitu, orang-orang pasti mengira dia mati. Anak itu, baru lahir sudah meresahkan.”

Ia menggesek-gesekkan moncong pistol di atas bajuku. “Mau meracau biar aku nggak jadi menembak, ya?”

“Justru aku meracau karena tahu akan mati.”

Ia mendelik, mengorek lubang hidung dengan kelingking kiri, lalu membersihkan jarinya di bajuku.

“Dan, Kubis Organik…” kataku, mengambil jeda sejenak untuk mengingat tampang anak pertamaku yang baru berusia tujuh tahun, dan bengalnya minta ampun. “Dia pernah menonjok anak orang sampai hidungnya patah.”

“Itu wajar, dia membela adiknya.”

“Ya, aku nggak bermaksud menyalahkannya,” ujarku tenang. “Aku mau bilang, nanti di ulang tahunnya yang ke delapan coba tanya, apa dia mau jadi petinju? Kurasa, anak itu berbakat.”

“Itu karena kau sering membiarkannya nonton pertandingan tinju, Tolol!”

“Nah, makanya, coba tanyakan. Aku sudah kepengin menanyakannya dari tahun lalu, tapi lupa terus.”

Ia berpikir sebentar, mengangguk kecil, lalu menelengkan kepalanya. “Ada lagi?”

“Ada,” jawabku. “Menurutmu, kenapa kita merasa terdesak untuk bahagia?”

“Kita? Itu, sih, kau!”

“Ya, ya, kenapa aku terdesak untuk bahagia?” tanyaku, dengan sedikit menekan kata ‘aku’.

“Karena kau nggak mengerti.”

“Memang apa yang harus dimengerti? Semua orang ingin cepat bahagia. Tukang bakso yang mencampur baksonya dengan borax, junkies langgananku, pengacara bangsat itu… semua ingin. Kenapa harus repot-repot mengerti?”

Ditekannya pistol kuat-kuat. “Kesedihan juga patut dirayakan, Sawi.”

“Heh, nggak bisa ya menghibur orang yang mau mati?” kataku. “Aku sengaja mendatangkanmu ke sini karena aku ingin ditembak saat aku sedang berbahagia. Seperti kata Fats Waller.”

“Tapi Fats Waller mampus karena flu, dan mati saat pilek, mungkin nggak ada bahagia-bahagianya.”

“Pneumonia, Sayang. Ada perbedaan besar antara pilek dan radang paru-paru.”

Ia, sekali lagi, membasahi bibirnya. “Ada lagi, Pak Guru?”

“Ada. Buatmu,” jawabku cepat. “Aku ing—”

Nyalak senapan terdengar dari jarak yang cukup jauh, dan belum sempat suaranya berakhir, sesuatu sudah menekan dadaku kuat-kuat sebelum akhirnya masuk. Panas dan sesak. Perutku pernah dihantam bola voli, tapi rasanya tidak sepanas dan sesesak ini; ia merambat naik ke kepala. Tengkukku lemas, tapi aku belum mati.

Segalanya memudar perlahan. Bayangan istriku meredup. Menyisakkan pemandangan kain hitam penutup kepala. Dan selanjutnya, tak ada apa-apa, cuma begini saja. Kenapa mereka menembakku di saat yang tak tepat? Tak bisakah mereka sedikit berbelas kasih dan membiarkan orang yang mau mati menyelesaikan obrolan imajinernya dulu?

Tiap kali jantung berdetak, sesuatu meleleh keluar dari dalam tubuhku. Pelan. Sangat pelan. Dan rasanya seperti, yah, seperti ini. Tak ada apa-apa, cuma begini saja. Rasa kantuk menyerang tiba-tiba. Aku tak bisa menggambarkan kematian lebih baik dari ini. Cuma begini saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s