Cemaslah!

Suatu hari, karena tuntutan dunia percangkulan, saya membaca sebuah buku soal pemasaran. Buku yang tebal, cocok untuk mengganjal lapar, kalau kamu mungkin sedang iseng ingin ngemil. Menurut buku itu, orang terdorong membeli karena beberapa hal, dua di antaranya: untuk mengembangkan diri dan kecemasan. Kecemasan merupakan pendorong yang sangat kuat.

Nah, sekarang, sebaiknya kalian cemas. Karena, sepertinya, apa yang saya jual tidak terlalu bermanfaat untuk mengembangkan diri.

CEMASLAH WAHAI ANAK CUCU ADAM HAWA~

CEMASLAAAH~

huwowow~

paan 😐

Kamu

Penulis : Sabda Armandio
Penerbit : Moka Buku
ISBN : –
Ketebalan : 356 hlm
Terbit : Januari 2015

SINOPSIS:
Beberapa pekan menjelang Ujian Nasional, seorang siswa SMA bolos sekolah untuk kali pertama demi menolong temannya yang bernama Kamu. Kamu bilang ini persoalan gawat dan ia benar-benar butuh bantuan untuk… mencari sebuah sendok. Begitulah mulanya, dan perlahan, satu demi satu, jalinan peristiwa yang mengubah hidup keduanya terurai.

Ditulis dalam tradisi panjang novel-novel coming-of-age seperti The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger dan The Adventures of Hucklebery Finn karya Mark Twain, KAMU menampilkan keunikan pikiran serta cara karakter-karakternya yang remaja dalam memandang dunia, menyoroti pilihan-pilihan yang mereka ambil, keyakinan, keragu-raguan, cinta, kesedihan, amarah.

Menjadi dewasa adalah proses penting yang pasti dialami, namun belum tentu dipahami, oleh semua orang. Karya Sabda Armandio ini menawarkan ‘pengalaman baru’ sekaligus kesempatan untuk ‘berpikir ulang’, baik bagi para pembaca dewasa maupun pembaca-pembaca muda. Dan di atas semuanya, KAMU adalah sebuah novel yang enak dibaca.

Cuplikan:

“Seseorang meyakinkan polisi bahwa aku adalah anak pemilik rumah yang terbakar. Polisi itu menarik turun risleting kedua kantung mayat sampai bagian leher. Saat ditanya apakah itu benar-benar orangtuaku, aku hanya menggeleng. Aku tidak tahu. Sulit mengenali mana wajah ayah dan mana wajah ibu. Keduanya, dilihat sekilas, sama matangnya.”

*

“Salut,
Sumpah-serapah kondektur bus,
adalah sumpah-serapah juga
Sumpah-serapah Kapten Haddock,
tetap sumpah-serapah juga

Salut,
Kopi tiga puluh ribu, adalah kopi juga
Kopi dua ribu rupiah, tetap kopi juga
Lalu di mana spesialnya?
Lalu di mana spesialnya?

Suara Kamu keterlaluan sumbangnya. Benar-benar sumbang sampai aku berpikir barangkali ­suaranya bisa mengacaukan sistem ekolokasi kelelawar dan membuat hewan-hewan malang itu menabrak ­din­ding sampai mati. Dan lebih buruk lagi, ia mengulang bagian ‘lalu di mana spesialnya?’ hingga lebih dari sepuluh kali. Tanpa nada sama sekali. Jenis suara yang bisa membuat Erwin Gutawa mematahkan tongkat konduktor dengan kening atau membuat anggota Elfa’s Singer membubarkan diri dan memilih untuk mengurus rumah saja.

“Bagus, kan?” Setelah merasa puas mengulang-ulang bagian refrain, Kamu menoleh ke arahku dan bertanya seperti itu sambil mendengus penuh kebanggaan.

“Bagus. Bagus sekali,” kataku. “Kau mestinya lahir di Amerika sebelum tahun ’45.”

“Kenapa begitu? Apa suaraku seperti penyanyi jazz klasik?”

*

“Sesaat­ sebelum berbalik, aku memandangi hamparan laut di hadapanku. Tak ada kapal, tak ada pemandangan yang indah-indah. Biasa saja. Hanya aku dan laut. Entah berapa banyak orang yang tenggelam di laut, digulung ombak, karam tanpa nisan, dan mungkin akan dilupakan begitu saja setelah dua atau tiga minggu­ berselang. Cara mati yang, kalau dipikirkan, sepertinya pedih sekali—kau merasakan air laut memenuhi lambungmu, mengisi paru-parumu hingga kau depresi dan menyerah untuk bernafas, jantungmu yang kekurangan suplai oksigen berhenti bekerja, dan sedikit demi sedikit udara di dalam tubuhmu keluar seperti balon gas yang dilepas di dalam air, kau meronta-ronta hingga lemas; kau merasakan kematian perlahan merentangkan lengan dan memelukmu. Kau mati dan kesepian. Tetapi apa bedanya? Mati bahagia dan mati sedih, mati di tempat ramai atau mati di tempat sepi, sama saja. Kau mati dan kau mati dan kau mati.”

Bagi kalian yang sekarang, seharusnya, sudah cemas. Belilah buku ini, belilah wahai~

Dalam waktu dekat, mungkin akan tersedia di toko buku terdekat–sekalipun toko buku terdekat dari rumahmu sejauh 20 kilometer. Untuk sementara, kalian bisa memesannya di bukubukularis, di parcelbuku, dan di sini.

Selamat membaca!

Iklan

2 tanggapan untuk “Cemaslah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s