Benda Kecil

Adzan subuh bersahut-sahutan di kejauhan. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Sejauh yang kuingat, beberapa tahun lalu jam 5 pagi sudah dihapus dari putaran waktu di hari libur, demi kenyamanan bersama. Orang di balik pintu itu nampaknya tidak tahu informasi tersebut, mungkin karena sosialisasinya kurang gencar.

Aku tidak bisa berpura-pura tuli. Telinga kiriku dan pintu hanya berjarak setengah jengkal. Isi kepalaku masih tergenang tuak sehingga suara ketukan pintu ditambah gema adzan menghasilkan efek yang cukup buruk. Suara-suara itu terdengar enam kali lebih banyak dan memantul-mantul di dalam rongga kepala seperti bola pingpong.

Aku baru akan tidur setelah pulang dari danau buatan di lahan yasan tak jauh dari indekosku. Pukul satu dini hari tadi aku duduk di tepi danau itu, minum tuak sambil memandangi pulau buatan yang terapung di tengah-tengahnya.

Biasanya, aku duduk di sana sambil bermain tebak-tebakkan atau apa pun yang bisa dilakukan saat kau sedang bersama pacarmu. Tetapi malam tadi sedikit berbeda, pacarku akan dinikahi seorang kader partai besar siang nanti, dan aku tak menemukan kegiatan lain yang cocok dilakukan seorang diri selain minum tuak.

Setelah menghabiskan empat liter tuak, dengan kepala seperti diduduki Jin Ifrit, kunyalakan Astrea dan meninggalkan danau. Aku hanya berputar-putar di dalam perumahan entah berapa lama sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Setelah itu, aku menyeberang jalan, memasuki gang sempit tempat indekosku berada. Tak banyak yang kuingat tentang momen tersesat itu, satu-satunya yang paling jelas adalah saat seekor serangga menghantam wajahku dan aku spontan melepas kedua tangan. Saat itu aku lupa bahwa aku sedang naik motor. Alhasil motorku oleng, dan aku terjatuh.

Ketukan pintu terdengar semakin keras, aku sebisa mungkin berusaha untuk tak peduli. Kubiarkan saja hingga ia bosan atau punggung jarinya lecet atau diculik penjahat-penjahat berjaket kulit hitam, dimasukkan ke dalam karung lalu dilempar jip atau apa sajalah, asalkan bisa membuatnya berhenti mengetuk. Beberapa saat kemudian, nyatanya, ia malah berimprovisasi. Sekarang, ia mengetuk sambil mengucap salam. Seorang perempuan.

Aku menjawab salamnya di dalam hati sambil berusaha tidur lagi. Setiap kali ia mengucap salam, aku menjawabnya. Terus begitu, sampai terbawa mimpi. Dalam mimpiku aku menjadi penjaga pintu, tiap kali aku mendengar salam, aku menjawabnya sambil membuka pintu. Karena bosan, aku memutuskan untuk tak membukakan pintu. Orang dibalik pintu di dalam mimpiku terus-menerus mengucap salam. Aku menyumbat sepasang telinga dengan telunjuk, tetapi salam itu masih terdengar jelas. Dan karena itulah aku sadar aku tengah bermimpi. Aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul lima lewat sepuluh menit dan perempuan itu masih saja mengetuk pintu dan mengucap salam. Aku sudah tak tahan lagi.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaaatuh,” jawabku, setengah berteriak.

Perempuan itu mengaku bernama Ana Mayuri. Meski lumayan cantik, tetapi wajahnya tak ada jepang-jepangnya. Rambutnya hitam legam, dikuncir kuda. Di dahinya terdapat empat jerawat kecil. Dengan mata selebar karakter-karakter manga, kulit sawo matang, dan hidung agak pesek, aku bertanya-tanya, dari mana ide nama Ana Mayuri menyusup ke dalam pikiran orangtuanya?

Tingginya sebahuku. Ia memakai kaus yang terlalu besar hingga nampak seperti daster, dan celana pendek biru mengintip dari ujung-ujung kausnya.

“Kalau semut sedang berjalan sendirian, menurutmu apakah semut itu sedang dikucilkan atau ia memang suka menyendiri?”

Pertanyaan macam apa itu? Batinku. Mungkin ia sedang ingin melucu, maka kuputuskan untuk tersenyum kecil. “Aku nggak tahu banyak soal semut, tapi agak aneh rasanya kalau ada semut yang suka menyendiri. Mungkin ia hanya terpisah dari rombongan, tersesat atau semacamnya.”

Ia menganggukkan kepala. “Tadi aku melihatmu di danau depan, sekitar jam tiga kau berputar-putar di lapangan basket, terus jatuh. Sedang belajar motor, ya?”

Karena tak melihat pentingnya menjelaskan apa yang sebenarnya kualami, aku mengangguk saja. “Kau nggak datang jam segini cuma buat menanyakan semut, kan?”

“Nggak,” jawabnya seraya mengangkat cangkir. “Aku mau bikin teh buat suamiku. Kami tinggal di sebelah, baru pindah kemarin sore, peralatan masaknya masih di dalam kardus, belum sempat beres-beres. Boleh minta air panas?”

Aku sudah tinggal di kamar ini selama dua tahun dan juga belum sempat beres-beres. Jadi, yah, aku sedikit mengerti perasaannya. “Letak dapurnya sama dengan letak dapur di kamarmu.”

Ia masuk, matanya menyapu seisi kamarku yang lumayan berantakan. Sampai di tepi karpet bulu, ia menunduk dan berjalan dengan berjingkat, melompati tas kerja dan kemeja, dengan gesit menghindari meja komputer, lalu mendarat sambil tetap berjingkat. Setelah yakin tak ada rintangan, ia mendaratkan sepasang tumitnya secara bersamaan, lantas berjalan biasa dan menghilang di pintu dapur. Tak sampai satu menit, ia sudah berada di depan pintu dapur dan mengulangi cara yang sama, akan tetapi kali ini sambil menjaga cangkir berisi air panas. Cara berjalannya sedikit membuatku kagum.

Ia berdiri tepat di depan wajahku, mengucapkan terima kasih, dan kembali ke kamarnya.

Setelah menutup pintu, aku berbaring di ranjang. Mengecek ponsel. Ada tiga pesan baru di sana, dan ketiganya berasal dari operator layanan jasa telekomunikasi: pesan pertama memberi tahu promo awal tahun, pesan kedua berisi rekomendasi nada tunggu, dan pesan ketiga isinya ucapan terima kasih telah menjadi pelanggan setia. Aku tak tahu apa alasan perusahaan telekomunikasi raksasa gemar mengirim pesan singkat kepada pelanggannya, boleh jadi raksasa itu melakukannya hanya karena ia tak dikenakan tarif pesan singkat seperti pelangan-pelanggannya—apa pun yang gratis memang berpotensi membuat kecanduan—atau mungkin saja si raksasa cuma merasa kesepian dan terlalu banyak waktu luang, ia mengisi waktu luang itu dengan menyapa pelanggan-pelanggan setianya. Tepat di bawah pesan ketiga, ada pesan singkat yang masuk di Kamis siang. Dari sekretaris Bos Besar, isinya tentang rapat hari Senin dan ia mengingatkan untuk membawa kandar kilat USB yang berisi video dokumenter.

Aku tak lupa soal rapat maupun video dokumenter, aku hanya lupa menyimpan benda kecil itu.

Meski bukan pegawai yang loyal, tapi sebisa mungkin aku berusaha tak memiliki masalah di kantor. Aku hanya tidak tahan mendengar ocehan Bos Besar, walaupun ia berbicara tak akan lebih dari satu jam, tetapi efek yang ditimbulkan kurang lebih akan sama dengan mendengar lagu dangdut house selama 24 jam. Bos Besar, seperti yang sudah-sudah, akan menghubung-hubungkan keteledoranku dengan rambutku yang sudah terlalu panjang, kumis yang tidak dicukur, tali sepatu, kaus kaki, parfum, apa saja. Bos Besar sangat ahli dalam hubung-menghubungkan, itulah kenapa ia bisa menjadi Bos Besar.

Aku membakar rokok sambil mengingat-ingat di mana aku menyimpan benda kecil itu.

Dan di rokok yang keempat, aku belum bisa mengingatnya.

Kumatikan rokok, lalu membuka tas kerja. Selain kertas-kertas kerja, buku catatan, dan pulpen tiga warna, tak ada apa-apa lagi di sana. Kubalik tas kerja lantas mengguncangnya sedikit dan yang keluar hanyalah kertas alumunium foil pembungkus permen karet. Kupejamkan mata, dan menghirup nafas dalam-dalam. “Sebaiknya kau makan dulu,” begitu perintah suara-suara gaib yang kuterima. Aku menuruti perintah itu. Kulangkahkan kaki ke dapur, mengambil bubur instan, menyobek kemasannya lalu mengguyurnya dengan air panas dari dispenser. Sambil menunggu nasi-nasi kering itu mengembang, aku membuat susu cokelat. Sewaktu kecil, ibuku selalu berkata susu bisa meningkatkan kinerja otak. Karena ia sering mengulang-ulang kalimat itu, kelamaan aku pun ikut percaya.

Kunikmati bubur yang sejujurnya kurang nikmat sembari mengingat-ingat kapan terakhir kali aku melihat kandar kilat USB inventaris kantor itu. Tiap kali bubur meluncur di dalam kerongkongan, ingatan tentang benda kecil itu muncul.

Benda itu tak lebih besar dari kotak korek api, berwarna merah, dan di ujungnya terpasang tali kuning, kombinasi warna yang akan segera mengingatkanmu pada bendera Republik Rakyat Tiongkok. Berkapasitas 8 gigabita, baru terpakai sekitar 5 gigabita dan ruang kosong yang tersisa dihuni virus. Di dalamnya tersimpan empat folder utama; folder pertama dinamai ‘WORK’, jika diklik dua kali akan menampilkan tiga folder lagi dan di dalam tiap folder berisi folder lagi, isinya data-data yang berhubungan dengan pekerjaan kantor, perangkat lunak bajakan, dan empat video porno Jepang berdurasi lebih dari satu jam; folder kedua diberi nama ‘HONEY MOON’, isinya foto-foto Bos Besar dan istrinya sewaktu mereka berbulan madu keliling Eropa dan singgah di Disney Land Hongkong sebelum akhirnya pulang ke tanah air, ia sengaja menyimpan folder itu di dalam kandar kilat USB dan komputer khusus pegawai untuk memberi semacam motivasi: kalau kami bekerja keras, kami bisa juga berbulan madu ke tempat-tempat itu; folder ketiga bernama ‘BAHAN VIDEO’, berisi segala hal yang dibutuhkan untuk membuat video dokumenter; dan folder terakhir diberi nama ‘VIDEO DOKUMENTER’, di dalamnya tersimpan berkas video dokumenter tentang bagaimana kegiatan di dalam kantor sehari-hari. Saat mengedit video, aku tak bosan-bosannya tertawa: para pegawai tersenyum dibuat-buat sambil bekerja, beberapa berdiskusi sambil tertawa renyah. Di dalam video itu semua nampak bahagia, seperti sekumpulan orang yang sedang bermain kartu di pos ronda. Dan Bos Besar, dengan perut buncitnya berusaha berjalan setegap mungkin; menyapa satpam dan resepsionis; melambaikan tangan ke office boy; menepuk pundak beberapa pegawai dan bertingkah seolah sedang menanyakan kabar, sebelum akhirnya duduk di kursi kebesarannya dan menyampaikan ceramah singkat, lalu ditutup dengan kutipan Bill Gates. Video dokumenter itu kuedit dengan—meminjam istilah kesukaan Bos Besar—sekreatif mungkin. Entah apa maksudnya, tetapi saat kuperlihatkan hasil kerjaku, Bos Besar nampak terpukau. Aku curiga ia hanya menikmati suara renyah Ella Fitzgerald menyanyikan Night and Day yang kujadikan lagu latar, atau kutipan bijak yang ia sampaikan sebagai penutup video sureal itu. Setelah selesai, ia menepuk pundakku dan berkata, “Kau memang kreatif.”

Di dunia ini ada yang percaya bahwa imajinasi manusia tak terbatas, beberapa kawanku bahkan berkata dengan penuh percaya diri bahwa otak manusia lebih luas dibanding jagat raya. Dan karena imajinasi tak terbatas, kreativitas manusia pun tak terbatas. Kau bisa membayangkan apa saja dan membuat apa saja, sederhananya begitu. Kupikir, indah sekali kalau memang benar begitu. Tapi yang kutahu, di kantorku kreativitas ada batasnya. Pintu perbatasan itu dijaga Bos Besar. Di tangannya, kata ‘kreatif’ bisa dijual seharga enam kali lipat Upah Minimun Pegawai. Jika menurutnya kau ‘kreatif’, maka kau kreatif dan yang lebih penting dari itu: kau selamat dari siksaannya. Jika kau ‘kurang kreatif’, kau akan dibantu untuk meningkatkan kreativitasmu sampai ia memutuskan bahwa kau sudah ‘kreatif’. Kalau kau ‘tidak kreatif’ kau akan disiksa dulu, diberi wejangan dengan kalimat-kalimat yang lebih tajam dari guillotine, dan mungkin kau akan dikirim ke seminar motivasi untuk direhabilitasi. Kalau kau ‘tak-bisa-diandalkan’, ia akan menendang bokongmu.

“Kau adalah sapi,” seru Bos Besar. “Jadilah sapi kreatif yang menghasilkan susu terbaik, kalau tidak, pulang sajalah.”

Hingga bubur dan susu cokelat habis, kemampuan otakku mengingat hanya sampai situ. Aku sama sekali tidak ingat di mana aku meletakkannya. Di saat-saat terbaik untuk menunjukkan pentingnya keberadaan ingatan, ia malah mengingat hal-hal yang tidak penting. Ingatan memang luar biasa sialan.

Terdengar pintu diketuk lagi. Sebelum ia mengucap salam, aku sudah membukakan pintu.

Ana Mayuri nyengir. “Boleh minta air panas lagi?”

Aku mempersilakannya mengambil sendiri. Ia masuk dan mengulang cara berjalannya—berjingkat, melompat, seperti kancil di ladang mentimun. Tanpa diminta, mataku terus mengikuti langkahnya. Meski—harus kuakui—ia mulai menarik perhatianku, aku tak berharap jatuh cinta dengan perempuan ini. Bukan karena dia istri orang, tapi saat ini ada hal yang lebih penting dari sekadar cinta-cintaan. Yah, tanpa bermaksud meremehkan, sejauh ini aku menganggap perasaan seperti itu tak lebih dari hasrat yang muncul karena kau ingin memiliki sesuatu di luar dirimu, yang tak kau punya. Dan karena banyak yang kau tak punya—atau bahkan kau memang sebenarnya tak punya apa-apa—kau bisa jatuh cinta kapan pun, pada apa pun. Semacam satu dari beberapa aplikasi gratis untuk menghibur diri yang diciptakan manusia selama mereka berevolusi.

“Apa semua kamar laki-laki memang sekacau ini?” tanyanya sambil mengocok botol susu, samar-samar tercium aroma susu formula.

Aku mengangkat bahu.

“Sarang semut bahkan lebih rapi dari kamarmu.”

“Ya,” kataku dengan nada kesal. “Dan lebih ramai, jadi, sama saja.”

Ia pergi.

Sebuah ide melintas saat aku menutup pintu. Mungkin kalau aku merapikan kamar, kandar kilat USB itu bisa kutemukan. Merapikan kamar bukan perkara sulit, hanya saja aku tak tahu harus mulai dari mana.

Aku mulai dengan menyalakan komputer dan memutar lagu Ebiet G. Ade. Ada banyak pilihan lagu di sana, tapi aku menarik folder Ebiet G. Ade dan memasukkannya ke dalam perangkat pemutar musik digital. Bukan tanpa alasan. Pertama, selama folder itu tersimpan di dalam komputer, aku tak pernah mendengarnya—seingatku aku mengunduh beberapa lagu Ebiet G. Ade untuk kelengkapan mengedit video pernikahan seorang teman. Kedua, aku berharap, pesan-pesan terselubung di dalam lagunya berhasil membujukku untuk tetap berpikir segalanya akan baik-baik saja; sederhana dan baik-baik saja. Berharap. Lucu juga. Faktanya, aku memang tak pernah bisa membuang keyakinan semacam itu. Sifat optimis yang sudah terkikis waktu, sudah lebih kecil dari lubang penis, kini mengkristal dan tak bisa dipecahkan, tak bisa diapa-apakan lagi. Ia tertinggal di suatu tempat di dalam tubuhku, menjagaku untuk tetap kecanduan harapan.

Ternyata di dalam folder itu hanya ada tiga lagu Ebiet G. Ade, dan semua lagunya sama: Elegi Esok Pagi, Elegi Esok Pagi [2], Elegi Esok Pagi [3]. Nampaknya, aku mengunduh lagu yang sama sebanyak tiga kali. Apa boleh buat.

Izinkanlah kukecup keningmu, bukan hanya ada di dalam angan.

“Esok pagi kau buka jendela, kan kau dapati penyimpan data merah.” Aku ikut bernyanyi dengan sedikit mengubah liriknya, supaya terasa lebih dekat.

Aku mulai dari meja belajar. Di atasnya terdapat empat novel dan empat belas buku praktis—dari mulai Photoshop untuk Pemula lengkap dengan cakram video tutorial hingga Cara Berternak Gurami.

Empat novel ini tak kubeli, semuanya hadiah. Novel pertama, The Catcher in the Rye karangan J. D Salinger, adalah hadiah dari mantan pacarku yang pertama. Ia mengaku tergila-gila dengan Holden Caulfield dan John Lennon. Saat ia tahu bahwa Mark Chapman juga membaca novel ini, ia segera memberikannya kepadaku.

Novel kedua adalah Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer, hadiah dari Ayah. Sewaktu aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta dan menyewa kamar sendiri, ia menghadiahiku buku ini. “Jangan menjadi budak,” pesannya. Namun sejak bekerja kantoran, aku kesulitan menciptakan ilusi bahwa aku manusia bebas. Aku menceritakannya kepada Ayah dalam sesi tanya-jawab iseng sambil menonton pertandingan sepakbola di televisi, kujelaskan pula bahwa gajinya cukup besar dan aku tak kepengin membeli apa-apa, jadi bisa kusisihkan sebagian untuk tabungan hajinya—ia menyimpan keinginan naik haji sejak usianya memasuki kepala lima. Aku menangkap kekecewaan dari caranya menanggapi, maka aku membesar-besarkan hatinya dengan berkata bahwa kadang kita perlu berkompromi. Setelah itu, hingga saat ini, kami tak pernah lagi membahas soal pekerjaanku.

Novel ketiga adalah Animal Farm, ini hadiah dari mantan pacarku yang kedua, seorang pecinta binatang. Ia memberikan novel ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-21 disertai surat ucapan yang kalau dibaca tanpa jeda bisa menghabiskan waktu lima belas menit. Aku sempat menduga sesungguhnya ia bermaksud untuk membuat teks pidato. Aku membalasnya dengan memberikan ikan mas koki di ulang tahunnya yang ke-20 (ulang tahun kami hanya terpaut tiga belas hari) dengan menyertakan kartu ucapan selamat ulang tahun yang bisa diselesaikan dalam satu tarikan nafas. Meski tak sepadan, ia mengaku senang, hal itu ia coba buktikan dengan menamai ikan itu dengan namaku. Dua minggu setelahnya, ikan itu mati dimakan kucing hadiah dari pacarnya sebelumku. Aku tak percaya ‘firasat’, ‘pertanda’, atau omong kosong semacam itu, tapi kami putus beberapa hari kemudian dan ia kembali dengan mantan pacarnya.

Novel keempat adalah novel favoritku, judulnya “Nekromance”, sebuah novel sains-fiksi dengan balutan kisah cinta karangan C. M. Vinati, seorang pengarang asal Bengkulu. Bercerita tentang sebuah mesin ‘menyerupai’ komputer bernama Nekro-R1 yang bisa ‘menghidupkan’ orang mati. Cara kerja Nekro-R1 cukup menarik: otak orang yang baru saja meninggal dimasukkan ke dalam tabung silinder berisi cairan, tersambung kabel-kabel merah dan biru, dan kabel-kabel itu mengirim data otak ke mesin-mesin canggih di dalam Nekro-R1, lalu mesin itu memecahkan gelombang otak dan mengubahnya menjadi teks. Nekro-R1 memungkinkan orang hidup dan otak orang mati bisa berinteraksi dengan cara mirip layanan pesan singkat atau aplikasi obrolan di ponsel maupun komputer modern. Namun, topik yang bisa dibincangkan hanya kejadian-kejadian sebelum meninggal; otak orang mati itu tak bisa menyimpan kenangan baru. Itulah kenapa aku mengutip kata ‘menghidupkan’. Si tokoh utama membelinya untuk ‘menghidupkan’ suaminya yang tewas dalam kecelakaan mobil, dan karena suami-komputernya hanya bisa mengenang, si tokoh utama terserang—meminjam istilah pengarang—Sindrom Nostalgia. Ia tewas di depan mesin itu satu tahun kemudian. Novel ini hadiah dari mantan teman kantorku, seorang pria pemurung yang sepertinya mengalami semacam gangguan berkomunikasi. Berbeda denganku ia tak pernah marah, sekaligus tak pernah terlihat gembira. Pendiam kelas berat, dan karena itu tak menyulitkan siapa pun. Suatu hari, Bos Besar memarahinya di depan karyawan lain. Mantan teman kantorku itu tak bergeming, bisa dikatakan bahkan tak terlibat dalam situasi itu. Wajahnya lurus saja, tak melawan maupun meminta maaf, seolah Bos Besar tak ada di sana, bukan, tepatnya: seakan ia tak ada di ruangan itu. Ia dianggap menyebalkan, lantas dipecat. Meja kerja kami bersebelahan, kalau aku jadi dia tentu aku akan melempar monitor ke wajah Bos Besar. Saat disuruh pergi, dia langsung bangkit dari kursi dan mengambil tas kerjanya. Sebelum pergi, ia menepuk pundakku dan memberikan novel kusam ini. Aku tak tahu alasannya, mungkin sebagai kenang-kenangan. Sepulang kerja, aku membacanya semalaman. Cerita cinta dalam novel ini biasa saja, yang menarik justru novel ini ditulis tahun 1981, tahun di mana IBM baru memperkenalkan Personal Computer.

Sambil membuka-buka novel itu dan membacanya sekilas, aku terheran-heran sendiri, mengapa pengarang novel ini tidak terkenal? Bisa jadi karena karyanya dianggap kurang penting di tahun itu, dan serupa kerikil yang tercebur ke sumur peradaban, ia tenggelam dan tak ada yang mengingatnya. Orang semakin banyak, mereka menguruk sumur itu, lalu mendirikan rumah di atasnya.

Kuletakkan novel C. M. Vinati di atas meja bersama buku lain yang kini sudah tertata rapi. Aku juga menggeser sedikit posisi lampu duduk, menempatkan pensil dan pulpen ke tempatnya, dan meremas catatan-catatan kecil berisi titipan induk semangku—ia suka menitip ini itu saat aku keluar kamar—lantas membuangnya ke keranjang sampah. Kandar kilat USB itu tak ada di atas meja. Kabar baiknya, buku yang tadinya berbaring sembarangan kini berdiri vertikal.

Lagu Elegi Esok Pagi sudah berputar sebanyak tujuh kali. Aku beralih ke karpet hijau bermotif bunga tempat di mana kaus kaki, kemeja, dan beberapa kaus bekas pakai bertebaran. Kuambil satu per satu kemudian memasukkannya ke keranjang untuk dikirim ke binatu.

Ada tiga kemeja di sana, dan yang berada di tanganku adalah kemeja kuning kotak-kotak. Kemeja ini dibelikan ibuku. Sehari setelah ia tahu anak semata wayangnya mendapat kerja, ia langsung pergi dan pulang membawa dasi, kaus kaki, dan kemeja ini. Semuanya berwarna kuning. Ibuku tak ada sangkut-pautnya dengan partai Golkar, ia memilih warna kuning karena, menurut pengakuannya, saat ia melihat kemeja itu dan membayang-bayangkan aku memakainya, aku nampak tampan. Dan kalau seorang ibu beranggapan anaknya tampan, maka seluruh dunia pun akan berpikiran sama. Begitu teori ibuku. Aku memakainya dari rumah, dan menggantinya dengan kemeja putih polos di toilet stasiun.

Aku seharusnya tak kaget saat menemukan remahan keripik singkong, kulit buah salak yang menyerupai keripik, kulit pisang yang sudah menjadi keripik, dan banyak tisu kering di bawah karpet—seketika terbesit ide untuk membuat usaha kripik—akan tetapi saat menemukan cincin di bawah salah satu tisu, aku tidak bisa tidak terkejut. Cincin itu adalah cincin nikah milik istri Bos Besar. Terakhir kali ia ke kamar ini hari Senin kemarin. Kami bersanggama selama satu jam, dan sorenya ia berangkat ke bandara untuk terbang ke Makasar.

Usianya 32 tahun dan seperti istri-istri bos kebanyakan, mengenakan pakaian apapun ia tetap nampak anggun. Aku tak ingin mengingat bagaimana ia berdiri menghadapku, menepuk-nepuk perutnya lantas melepas bra—ia hanya memiliki buah dada kanan, buah dada kirinya diangkat setelah divonis kanker—kemudian meletakkan buah dada palsunya di meja, dan menindihku. Ia berkata di telingaku bahwa ia tidak mencintaiku, mengingatkanku untuk jangan terlalu serius dengan hubungan ini. Aku memang tak pernah berpikir begitu, jawabku. Ia agak marah mendengarnya, tetapi lalu melupakan kemarahannya saat aku mulai memasukinya. Beberapa jam setelah ia pergi, ia mengirim pesan singkat soal cincin kawinnya yang tertinggal. Berpesan kalau aku menemukannya tolong disimpan, dan lusa ia akan mengambilnya. Hari Rabunya, ia mengalami kecelakaan taksi saat menuju ke bandara Makasar dan meninggal dunia.

Ia dimakamkan Kamis pagi. Hari itu kantor diliburkan. Aku dan seluruh karyawan kantor menghadiri prosesi pemakaman. Hampir semua orang, termasuk Bos Besar, memandangi kemeja kuningku. Rasanya kurang lebih seperti memakai baju muslim lengkap dengan sarung dan peci di pesta halloween. Tapi, apa boleh buat? Istri Bos Besar menyukainya. Selera perempuan dewasa terkadang sulit kumengerti.

Selesai upacara pemakaman, aku kembali ke kamar. Melempar kemeja sembarangan lalu berbaring di ranjang. Ponselku berdering, pesan singkat dari sekretaris Bos Besar. Mengingatkan soal rapat penting hari Senin dan video dokumenter. Keesokan harinya aku membawa video dokumenter buatanku untuk ditinjau oleh Bos Besar sebelum diperlihatkan di depan klien Senin nanti. Aku masuk ke dalam ruangannya saat ia tengah menatap foto mendiang istrinya, wajahnya kusut sekali. Setelah kuperlihatkan video buatanku, ia nampak gembira. Ia mulai bercerita masa mudanya, buku yang ia baca, orang yang dikaguminya. Membangga-banggakan diri, seperti biasa. Meski cara bicaranya tak mengenakkan hati, aku cukup senang bisa menghiburnya. Tapi hanya sebentar, saat seseorang masuk mengantarkan amplop dan ia membukanya, ia marah-marah, memaki mendiang istrinya. Aku menerka-nerka apa isi amplop itu. Seolah baru sadar aku ada di sana, ia memintaku keluar. Aku menuruti perintahnya; mohon undur diri; berjalan menuju pintu; memutar grendel; dan saat itulah sesuatu yang keras menabrak kepala belakangku. Sebuah ponsel. Ponsel mendiang Bos Besar. Aku sudah berpesan kepadanya untuk menghapus video kami dari ponselnya, nampaknya sebelum sempat dihapus ia keburu wafat.

Lagu Ebiet G. Ade memasuki intro untuk ke sepuluh kalinya saat terdengar ketukan pintu lagi. Aku meletakkan cincin kawin di meja belajar sebelum membuka pintu.

“Boleh minta air panas lagi?”

“Aku punya termos kosong,” kataku. “Isi saja dengan air panas, bawa ke kamarmu. Jadi kau nggak perlu bolak-balik lagi.”

“Kau nggak suka aku bolak-balik?”

“Bukan begitu. Aku cuma kasih saran biar kau nggak perlu repot bolak-balik.”

“Ini yang terakhir,” ujarnya setelah menatap wajahku agak lama. “Buat teh manisku sendiri.”

Kubuka pintu lebar-lebar. Ia melangkah masuk, berdiri di depanku sambil memandangi isi kamar. Mengangguk kecil lalu menoleh ke arahku: “Mau kubantu?”

“Terima kasih, tapi sudah hampir selesai.”

Setelah itu ia melangkah ke dapur, tanpa berjingkat. Ana Mayuri lebih tampak seperti anak SMP yang sedang bersiap-siap sekolah. Tubuhnya kecil dan cara berjalannya mirip bocah di taman bermain. Kalau saja aku tak mendengar tangis bayi dari kamarnya, aku tak akan percaya ia sudah menjadi seorang ibu. Berapa usianya saat ini? Aku tak bisa menerka, mungkin sama denganku atau bisa jadi malah lebih muda dariku. Kenapa ia memutuskan untuk menikah di usia muda? Kenapa tidak nanti-nanti saja? Pertanyaan-pertanyaan yang bukan urusanku muncul dan menghilang secara bergantian.

Ia keluar dari dapur, mendekati meja komputer. Tangan kirinya menunjuk cincin kawin dan tangan kanannya memegang cangkir. “Ini punyamu?”

Aku menggeleng.

Ia mengangguk kecil sambil memonyongkan bibirnya. “Kau suka lagu ini, ya?”

“Lumayan.”

Ia menyeruput tehnya. “Nggak ada lagu lain?”

“Ada, sih, tapi malas ganti.”

“Eh, menurutmu, kalau perempuan di lagu ini membuka jendela dan dia nggak mendapati seikat kembang merah, apa dia akan kecewa?”

“Bisa iya, bisa nggak. Lagi pula, kembang itu pasti ada di sana. Di dalam liriknya nggak ada kata ‘mungkin’, jadi sudah pasti ada di sana.”

“Tapi laki-laki yang meletakkan kembang kan nggak berjaga semalaman di depan jendela rumah perempuan itu.” Ia meminum tehnya lagi. “Laki-laki itu terlalu yakin. Padahal, bisa saja ada pencuri yang mengambil kembangnya, paginya perempuan itu nggak menemukan apa-apa saat membuka jendela. Sebagai gantinya, ia menemukan si pencuri berdiri sambil memegang kembang curiannya di depan pintu rumah.”

“Yah, meski sedikit kelewatan, tapi imajinasimu boleh juga.”

“Aku cuma memikirkan perasaan si peletak kembang yang terlalu yakin kembangnya akan diterima oleh pujaan hatinya tapi ternyata tidak diterima. Dan perasaan si perempuan, sejak ia tahu kembang yang diterimanya hasil curian dan ia sudah kepalang menikahi pencurinya.” Ana Mayuri melangkah ke arahku. “Menurutmu apa yang mereka rasakan?”

“Entahlah,” jawabku. “Lain kali akan kupikirkan.”

Saat Ana Mayuri berada di kamar, lagu mengulang dua kali dan kini saat ia pergi, lagu sudah masuk intro lagi. Aku beranjak ke jendela, melongok sedikit siapa tahu ada kembang merah. Tak ada apa-apa, tentu saja. Matahari pagi menimpa wajahku, aku berdiam sejenak, membiarkan panas matahari menguapkan sisa-sisa tuak di dalam kepalaku. Kepalaku terasa sedikit lebih ringan.

Setelah itu, aku mengambil empat cangkir kotor dan dua mangkuk bekas mi instan di tepi jendela. Kemudian beranjak ke dapur mencuci cangkir dan mangkuk. Kamar sudah tertata rapi, aku belum menemukan benda kecil itu.

Seraya mengolesi spon dengan sabun cuci piring, aku kembali mengorek ingatanku. Sejak meninggalkan kantor di hari Jumat, seingatku, aku tak pernah melihat benda itu lagi.

“Engkau tahu aku mulai bosan bercumbu sambil sikap kayang.” Aku bernyanyi mengikuti lagu yang mengalun, sedikit berimprovisasi, seraya memeras-meras spons.

Selesai mencuci aku memasukkan semua sampah di keranjang ke dalam plastik besar, beranjak ke kamar tidur, menuang isi asbak ke dalam plastik, lalu meletakkannya di depan pintu. Saat itulah aku melihat Ana Mayuri tengah meregangkan badan di depan kamarnya. Ia meletakkan cangkir di atas teras dan bernyanyi kecil mengikuti lagu yang kuputar. Ia sudah berganti pakaian. Kali ini ia mengenakan kaus abu-abu polos agak ketat dan celana panjang longgar berwarna biru dengan dua garis putih di tepinya. Tak lama, suaminya keluar menggendong anak mereka. Ia berbicara dengan bayi mereka yang belum bisa bicara, lalu menyerahkan bayi itu kepada Ana Mayuri. Sebelum pergi, tak lupa ia mencium kening istri dan anaknya. Suaminya berbalik ke arahku, tersenyum ramah, mengangguk kecil, lalu pergi.

Sepintas, mereka terlihat bahagia. Meski begitu, aku menangkap semacam ketidak-bahagiaan, baik dari si suami maupun Ana Mayuri. Mungkin si suami tidak bahagia karena di hari Minggu masih harus bekerja, dan karena itu pula Ana Mayuri ikut tidak bahagia. Atau mungkin aku hanya cemburu. Yah, apapun itu, tidak terlalu penting mengingat aku belum menemukan kandar kilat USB keparat itu.

Aku kembali ke kamar, melepas sprei dan tirai lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor. Kuangkat kasur, berharap benda kecil itu ada di bawahnya, dan ternyata tidak ada. Aku memutuskan untuk mengepel lantai saja karena mulai yakin pencarian ini sia-sia. Aku mengisi ember dengan air, menuangkan karbol wangi cemara, dan mulai mengepel dari depan pintu hingga jendela.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, lagu yang sama masih berputar. Aku berjalan menuju jendela, tiga gedung perkantoran berdiri di sana. Itu kawasan bisnis di daerah sini, gedung yang paling kiri adalah tempat kerjaku. Daripada mencari lagi, sebaiknya aku menyiapkan telinga untuk dimarahi. Aku menampar-nampar pipi beberapa kali, dalam pertandingan tinju pelatih sering melakukannya, mungkin untuk memompa semangat sang petinju. Mungkin dengan cara yang sama aku bisa menyemangati diri sendiri.

“Wah, cepat juga kau merapikan semuanya.” Ana Mayuri tiba-tiba sudah ada di sisiku dan berkata seperti itu.

“Aku sedang cari flash drive kantor. Kukira aku menghilangkannya di sini. Jadi, ya, sambil cari sekalian beres-beres. Ternyata nggak ada.”

“Semut pekerja yang suka menyendiri,” selorohnya. “Kalau nggak ketemu, bagaimana?”

“Ya, bagaimana lagi?” Aku terkekeh sambil tetap menatap tiga gedung di depan.

“Serius banget. Ada apa di sana? Pesawat luar angkasa?”

Aku menoleh ke arahnya. Ia menatap serius ske langit sambil menimang-nimang anaknya. “Namamu lebih aneh dari pesawat luar angkasa, kukira.”

“Nggak usah dipikirkan, itu nama panggung.”

“Kau penyanyi?”

Ia mengangguk. “Dulu, sih, sebelum menikah. Nama itu kubuat sendiri, dengan harapan akan menjadi kontroversi atau semacamnya. Yah, untuk mendobrak karir.” Ia berjalan dan berhenti di sisiku, memandang ke arah tiga gedung di depan kami. “Tapi, kelihatannya, nggak ada yang menangkap arti dibalik nama itu.”

Aku sendiri tak menangkap arti lain di balik nama itu. “Mungkin orang sudah terlalu sibuk, jadi nggak sempat memikirkan makna atau semacamnya. Kau seharusnya memilih nama yang lansung dimengerti orang, misalnya; Ana Geboy, Ana Durian, Ana Kambingsaya.”

Ia tertawa, mungkin karena kaget, bayinya menangis.

“Eh, kau kerja di mana?” Ia bertanya sambil berusaha mendiamkan bayinya.

Aku menunjuk tiga gedung di depan kami. “Tapi sekarang aku sudah nggak perlu ke sana lagi.”

“Dipecat?”

Aku mengangguk, tanpa menjelaskan apa-apa.

“Terus, buat apa kau cari-cari flash drive kantor lagi?”

“Buat rapat bes…”

Aku ingin tertawa keras, keras sekali. Tak peduli bayi yang sudah tenang menangis lagi. Tak peduli perutku sakit dan bubur yang baru saja kumakan naik ke kerongkongan. Tapi itu jenis tertawa yang sama sekali tidak enak. Jadi, kuputuskan untuk diam saja. Diam sambil menghirup wangi cemara yang meruap dari lantai, menikmati hasil kerjaku selama hampir dua jam.

Ebiet G. Ade berhenti bernyanyi. Sepertinya listrik mati. Keheningan yang mendadak itu membuatku tersadar, aku sedang berduaan di dalam kamar bersama istri orang yang sedang menggendong anaknya.

“Eh, kau suka tuak?” tanyaku.

“Belum pernah coba.”

“Bagaimana kalau nanti malam kita minum bersama? Ajak suamimu juga boleh. Anggap semacam pesta perkenalan.”

“Kayaknya suamiku nggak akan mau, besok dia kerja. Sedang semangat-semangatnya menabung buat beli rumah.”

“Kerja apa?”

“Paling mencuri,” jawabnya santai. “Nanti malam jemput aku setelah anakku tidur, bisa?”

Iklan

2 tanggapan untuk “Benda Kecil

  1. Ada yang kelupaan juga… Inget karakter Ana Mayuri, jadi inget film Afro Tanaka, pas adegan Aya Kato ngetok pintu kamar Tanaka buat kenalan karena dia baru pindahan. Terus sesaat si Tanaka bilang, “Kawaiiiii!” Tapi, Tanaka sok cool terus langsung tutup pintu lagi. :))))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s