The Last Picture Show

2014-12-06 00.24.50

Oleh: Ryū Murakami

Aku baru saja tiba di Tokyo dari kota pelabuhan di Kyushu yang terdapat pangkalan militer AS, di Tokyo aku tinggal bersama beberapa teman di apartemen kecil yang tak bagus-bagus amat dalam gedung kayu sebelah utara Taman Inokashira. Aku dan teman-temanku itu membentuk sebuah band blues di kampung halaman dan pindah ke kota besar dengan harapan nasib baik menghampiri. Aku menggebuk drum, namun tak ingin memajukan band blues dari pedalaman Kyushu. Tujuan utamaku adalah minggat sejauh mungkin dari orangtua, mereka mengizinkanku pergi ke Tokyo dan akan rutin mengirimi uang saku dengan catatan aku wajib mengikuti kelas persiapan masuk perguruan tinggi. Teman-temanku yang lain bekerja sebagai busboy* atau pramusaji sambil menunggu kesempatan besar tiba. Aku tak bekerja dan memilih tinggal bersama mereka karena kupikir dengan begitu tentu lebih mudah ketimbang menyewa kamar sendiri.

Begini rencana mereka: bekerja pada malam hari, latihan band di siang harinya, menghadiri konser besar supaya bisa berbaur dengan orang-orang yang tepat dan, kalau memungkinkan, ikut audisi perusahaan rekaman. Di dalam kereta malam menuju Tokyo, mereka bersumpah dalam waktu enam bulan mereka akan manggung dalam acara Hibiya Park Concert Series sebagai band blues berbahasa Jepang. Termasuk aku, ada lima anggota, dari berbagai latar belakang. Nakano, pembetot bass dan pemimpin band, ayahnya adalah seorang pekerja kerah putih yang baru pensiun; gitaris kami, Yamaguchi, adalah hasil kawin silang antara seorang pekerja ekspor-impor dan guru piano; Shimada, pemain organ, anak tunggal pemilik SPBU; dan Kato, sang vokalis, dibesarkan sendirian oleh ibunya. Keadaan ekonomi mereka berbeda pula, tentu—Nakano dan Kato bisa dibilang kabur dari rumah tanpa membawa kasur atau mangkuk dan sendok,  sedangkan orangtua Shimada rutin mengirim paket makanan dan pakaian juga amplop berisi uang tiap pekan, dan Yamaguchi memiliki pelantang-suara-stereo-yahud dengan open-reel tape deck.

Meski begitu keempatnya segera mendapat kerja sebagai busboy dan pramusaji: Kato dan Shimada di sebuah diskotek di Roppongi, Yamaguchi di restoran live-music kawasan Shinjuku, dan Nakano di kelab kabaret daerah Ginza. Dan karena itu, rencana yang telah disusun sebelumnya jadi tidak mudah dijalankan. Semua tempat kerja mereka buka sekitar pukul enam petang hingga sebelas malam, akan tetapi busboy dan pramusaji wajib tiba dua atau tiga jam lebih awal dan tetap di sana—mengelap meja, mencuci piring, dan sebagainya—walaupun sudah tutup. Nakano, yang bekerja di Ginza, mesti berangkat pukul dua siang dan pulang sekitar pukul dua pagi sambil terhuyung, setelah mengejar kereta terakhir. Sebenarnya, ada sebuah kelab kabaret di dekat sini—tepatnya di daerah Kichijoji, tapi Nakano bersikeras hanya di Ginza-lah ia bisa menjalin hubungan bagus di bidang musik blues sambil bekerja. Hanya Tuhan yang tahu darimana ia mendapat ide macam itu, yang kini terdengar seperti lelucon.

Hanya Shimada yang punya mikrofon dan amplifier, dan semua orang kecuali aku membawa instrumen masing-masing dari Kyushu. Drum terlalu besar, dan lagi milikku hanyalah barang rongsok yang tinggal menunggu busuk dan terurai saja, jadi aku berjanji akan bekerja paruh waktu dan gajinya kupakai untuk beli drum baru. Akan tetapi, aku tak sungguh-sungguh ingin main drum lagi. Aku membawa stik drum dan ikut latihan dengan memukul-mukul tatami, dan semakin hari aku semakin tak berhasrat. Busboy dan pramusaji mendapat jatah libur satu hari dalam dua minggu, dan tiap orang harinya berbeda-beda. Teman-teman sekamarku akan kembali larut malam dan makan ramen instan yang kusiapkan, setelah itu, kelelahan bekerja, mereka merangkak ke kasur tanpa banyak cakap.

Waktu yang tersisa untuk latihan hanya rentang singkat antara pagi-yang-agak-siang hingga tengah-hari-lewat-sedikit, masalah lainnya, kami bahkan nyaris tak pernah mencolokkan seluruh instrumen kami ke satu-satunya amplifier yang kami miliki dengan volume yang layak. Pernah sekali kami membesarkan suaranya saat bermain Gimme Some Lovin’ dari Spencer Davis Group, tak lama lelaki yang tinggal di lantai atas datang dan menyemprot kami. Ia seorang Yakuza muda, datang ke kamar kami sambil menenteng senjata tajam, sejenis pedang, yang bentuknya agak aneh. Nakano dan Shimada, di tempat asal kami, adalah berandalan yang jago kelahi, disegani bahkan oleh siswa sekolah lain, tapi mereka diam saja seperti burung kenari terjepit jendela saat berhadapan dengan Yakuza sungguhan.

Ketika sebulan berlalu dan band blues kami, bisa dikatakan, tak ada kemajuan sama sekali. Segumpal awan frustasi terbentuk. Dan awan itu mengarah padaku: Yazaki, kapan sih kau dapat kerja dan beli drum baru? Aku jawab, aku sedang menimbang-nimbang antara lanjut main drum atau fokus sekolah saja. Band ini adalah alasan kami patungan untuk menyewa apartemen, jadi aku tahu kalau aku berhenti dari band maka aku harus keluar dari sini. Kerabat Shimada menemukan tempat lain, tapi agak mahal, meski hanya memiliki dua kamar dan dapur kecil dengan kloset jongkok dan tanpa kamar mandi, jaraknya sekitar dua puluh menit dari Stasiun Kichijoji, tentu saja akan lebih murah kalau patungan. Aku tak mungkin minta tambahan uang saku kepada orangtuaku, dan aku tak tahu bagaimana cara seorang pengangguran membayar uang sewa.

Aku tak menghadiri kelas persiapan kuliah dan tak mencari kerja. Setiap hari aku berjalan-jalan mengitari toko-toko buku bekas di Kanda, membeli novel atau buku koleksi puisi, lalu nongkrong berjam-jam di rumah kopi yang memutar lagu jazz atau rock ‘n roll.

Dua bulan berlalu, awan frustasi berubah menjadi badai. Suatu malam Nakano dan aku nyaris bertengkar, ia bilang sudah bersusah-payah mencari celah untuk memasukkan aku sebagai pramusaji dan aku dengan seenaknya menolak untuk melamar kerja. Yamaguchi melerai dan bilang, “Nakano benar, Yazaki sudah melanggar janjinya, tapi nggak ada gunanya berkelahi. Kita nggak datang jauh-jauh ke Tokyo cuma buat ribut.” Baku hantam berhasil dihindari, sebagai gantinya, tak ada lagi tempat bagiku di ruangan ini. Mata mereka mengarah ke pintu.

Saat itu pukul dua dini hari, kafe rock yang biasa kukunjungi sudah tutup, dan lagipula uang sakuku belum dikirim. Bulan Juni, udara hangat dan lembab, Taman Inokashira lenyap ditelan kabut. Aku merasa seperti tahi kerbau, kabut yang basah dan berat menempel di kulitku, membuatku jijik. Aku merambang-rambang di taman, keluar dari jalan setapak, melewati pepohonan, menuju kolam. Sepasang kekasih tengah bermesraan di bangku kecil tepat di bawah pohon, saat kakiku tersandung aku mendengar kepakkan sayap dan jerit pilu burung air dari arah kolam. Jeritan mereka mengingatkan aku pada Van Morrison yang sedang meratapi blues, dan aku bertanya-tanya, kok bisa-bisanya aku dan teman-temanku ingin memainkan musik pedih begitu.

Di tepi barat kota pelabuhan daerah Kyushu, dalam bar penuh petugas logistik dan pelaut Amerika yang kebanyakan berkulit hitam akan bikin kau memikirkan blues, yang entah bagaimana, menjadi puncak paling terang dari semua jenis musik di muka bumi. John Lennon, Mick Jagger, dan Bob Dylan lahir dari blues. Musik itu berbicara pada semua orang di penjuru dunia. Tempat musik rock dan soul mengakarkan diri. Dan ketika kami tiba di Tokyo, kami sangat yakin, semua pemikiran kami benar adanya. Tapi nyatanya, kami bahkan tak pernah sekalipun mendengar seseorang memainkan blues di kota ini. Di kafe-kafe rock blues hanya diputar sesekali, dan di jalanan atau di plaza depan pintu masuk barat stasiun Shinjuku orang-orang memainkan musik sampah, sarat lagu-lagu rakyat anti-perang. Blues tak bisa ditemukan di Tokyo. Mendengarkan koleksi rekaman Shimada dan Yamaguchi yang mengagumkan di dalam apartemen serupa kandang merpati, tak sama sensasinya dengan mendengarkan musik yang sama di pelabuhan kota kami. Setidaknya itulah yang kurasakan, dan kuduga mereka pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Di diskotik, kafe live-music, dan kelab-kelab kabaret kau hanya bisa mendengar band-band cover Filipina, grup vokal yang menyanyikan lagu pop, atau penyanyi-penyanyi enka bersuara melengking seperti anak kucing kelaparan. Kato, suatu kali, pernah mengusulkan untuk pulang kampung saja, tapi Nakano berargumen: kau tak bisa berharap menang hanya dalam waktu dua bulan, dan pulang tanpa menyelesaikan apa-apa terlihat amat-sangat menyedihkan.

Akhirnya aku tiba di kolam, dan saat aku berjalan-jalan di tepinya, aku berpikir semuanya akan semakin memburuk. Aku harus segera pindah atau membeli drum, tapi kedua pilihan itu mengharuskanku punya uang terlebih dahulu, dan aku baru memutuskan untuk mencari kerja besok saat tiba di bawah lampu jalan mataku melihat Yakuza yang tinggal di atas apartemen kami. Ia berdiri di tepi jalan dekat semak-semak, ketika aku melewatinya sambil menunduk, ia memanggilku. Sebuah plastik sampah besar berwarna biru diletakkan dekat kakinya, ia mengenakan sarung tangan kerja, kemeja hitam agak longgar, dan celana panjang nyentrik menutupi pinggul kurusnya.

“Ke sini sebentar.”

Sambil berjalan mendekat, aku mempersiapkan wajahku buat dihajar, dan kalau ia bertindak lebih kejam lagi aku mungkin akan melakukan sedikit perlawanan.

“Ini aku,” ujarnya, “yang tinggal satu lantai di atasmu. Kau tahu aku, kan?” Aku mengangguk. “Siapa namamu?”

Wajah Yakuza itu dibanjiri peluh. Usianya barangkali akhir dua puluhan, dan bentuk wajah itu seakan sudah ditakdirkan untuk menenteng-nenteng sarung samurai—alis sempit dan meruncing, mata sipit, pipi cekung, hidung tipis, mulut kecil. Aku menyebutkan nama.

“Aku Tatsumi, bisa minta tolong? Kukira, kita bisa bekerja sama.” Dia menunjuk semak-semak. Hydrangea**. “Kukasih upah 300, nggak, 500 yen.”

Apa yang harus kulakukan, tanyaku, dan Tatsumi si Yakuza menjawab: memetik daun.

“Daun-daun muda lebih bagus, petik lalu masukkan ke kantung ini.”

Aku melakukan perintahnya. Akan tetapi, aku bertanya-tanya, apa gerangan yang akan dilakukan seorang Yakuza dengan daun-daun hydrangea.

“Semua ini akan kukeringkan dan kujual,” katanya dengan bangga. “Keringkan, hancurkan, giling, lalu jual—wangi dan rasa semak-semak ini mirip mariyuana. Begajulan macam kau pasti tahu gunanya gelek***, kan?”

Rasanya lucu dipanggil ‘begajulan’ oleh seorang Yakuza. Aku memang menghisap ganja beberapa kali di kampung halamanku. Di bar-bar yang melayani bule, Petugas Logistik Amerika menghisapnya seperti rokok biasa. Jadi aku berpikir menghisap ganja bukanlah tindakan yang buruk. Nakano dan yang lain mengeluhkan susahnya mendapat cimeng**** di Tokyo. Biasanya, kau bisa mendapat candu apapun yang kauinginkan asalkan kau tahu tempat-yang-tepat, di dekat sini sulit sekali mencari tempat-yang-tepat itu.

“Asal kau tahu saja, ini penemuanku sendiri. Kau tahu apa yang keren? Aku tak perlu melanggar Undang-Undang Narkotika, dan tak ada yang tahu kalau barang yang mereka hisap adalah semak-semak. Tapi, kalaupun mereka sadar sudah ditipu, mereka nggak mungkin mengeluh dan melaporkannya ke polisi, kan?”

Memetik hydrangea dini hari di Taman Inokashira, kupikir, malah kejahatan yang lebih buruk daripada menghisap ganja. Pekerjaan ini ternyata lebih berat dari yang kuduga. Memang, aku hanya perlu memilih daun-daun yang masih muda, memetiknya, lantas memasukkanya ke dalam kantung plastik. Namun, terlalu lama berjongkok, memutar badan, benar-benar menyiksa punggungku. Ditambah lagi, udara malam terasa hangat dan lengas, segera saja tubuhku dibasahi keringat. Kantung pertama kami nyaris penuh saat kami mendengar sepeda mendekat. Tatsumi melompat dan bersembunyi dibalik semak-semak, aku mengikutinya. Ternyata bukan polisi, melainkan bocah pengantar susu. Saat kembali bekerja, aku bilang, dari jauh mungkin kita tak terlihat seperti penjahat, lebih seperti seorang lelaki yang sedang tersiksa oleh kenangannya sendiri. Tatsumi mengerenyitkan alisnya dan bilang:

“Polisi nggak akan berkompromi dengan alasan konyol seperti itu.”

Ketika dua kantung kami terisi penuh, langit timur mulai merekah. Dalam perjalanan kembali ke apartemen, Tatsumi dan aku bertukar cerita. Kukatakan bahwa aku baru dua bulan di Tokyo, asli dari Kyushu. Kami datang ke sini untuk mengembangkan band blues, dan sekarang aku sedang mencari kerja. Tatsumi, di luar dugaan, ternyata usianya cuma tiga tahun lebih tua dariku. Ia bercerita ia mulai bergabung dengan sindikat yang berpusat di Shinjuku sejak masih sekolah; bahwa bahkan saat ini untuk menjadi Yakuza kau harus mendapat pendidikan yang bagus; bahwa ia tinggal bersama seorang wanita penghibur bar yang usianya sama dengan ibunya; ia memanggilnya Nee-chan—istilah sayang yang berarti ‘kakak perempuan’.

“Pasti nggak beres kalau kau kembali ke kamar saat teman-temanmu masih kesal, Nee-chan nggak pulang hari ini—kau mau tinggal di sini dulu?”

Ukuran apartemen Tatsumi sama dengan apartemen kami, tapi kamar yang lebih kecil sesak dengan sebuah tempat tidur ganda dan penuh dengan wangi kosmetik juga parfum.

Kira-kira lewat tengah hari aku terbangun dan mulai membantu melinting hydrangea.

Tatsumi tidak menjemur daun-daun itu di bawah sinar matahari.

“Kau pikir aku bisa membaringkan mereka begitu saja di atap, hah?” ujarnya sambil tertawa.

Senyumnya agak aneh, aku belum pernah melihat yang seperti itu. Bukan senyuman malu atau canggung, bukan pula senyum jahat. Hanya saja barangkali memang wajahnya tak dirancang untuk tersenyum, sehingga otot-otot di wajahnya bekerja ekstra-keras mencari tahu bagaimana cara melakukannya dengan baik. Ia memanggang daun-daun di wajan dengan api maksimal. “Kau harus memastikan kelembaban daun terkuras habis, tanpa menghanguskannya. Perlu jam terbang tinggi supaya hasilnya sempurna.” Sebelum mengangkat daun, ia menambahkan dua hingga tiga tetes pengharum mulut impor. “Ini resep rahasianya, sensasi mint terbaik sebelum kau mencium pacarmu, sekaligus memberikan rasa ‘internasional’ pada ganja palsu ini,” ujarnya sambil terkekeh bangga. Tugasku sendiri hanya menggiling daun kering. Tatsumi terkesan dengan hasil gilinganku.

“Kau benar-benar tahu apa yang harus kau lakukan,” pujinya.

Malam itu aku ikut berjualan. Ia memilih jalan belakang Shinjuku, antara gedung konser dan taman. Seringnya, ia mendekati pemabuk. Dan mereka umumnya menggoyangkan tangan. Malah sepasang kekasih, melihat Tatsumi dengan kemeja longgarnya mendekati mereka, lberbalik arah dan terbirit-birit menyelamatkan diri. Kami masih memliki sekitar seribu linting dalam tas wol. Disimpan rapi dalam bungkus plastic, tiap bungkus berisi sepuluh linting, tapi kami juga menjualnya satuan. Satu linting seribu yen.

“Apa sesulit ini menjualnya?” tanyaku.

“Terus terang saja,” kata Tatsumi. “Aku belum pernah membuat sebanyak ini sebelumnya. Biasanya Cuma lima atau enam linting dan menjualnya ke bocah tengik berambut gondrongf, macam kau… nah, di mana biasanya bocah tengik sepertimu nongkrong?”

Kafe rock yang sering kukunjungi berada dekat sini, akan tetapi aku tak yakin harus memberi tahu Tatsumi soal itu. Orang di sana pasti dengan senang hati membayar sepuluh ribu yen per linting, tapi mereka penikmat ganja sejati, dan kalau mereka tahu yang kujual barang palsu aku tak akan berani lagi menampakkan wajahku di sana. Melihat kemungkinan tak ada orang orang yang akan membil barang ini lebih dari sekali, satu-satunya yang paling mungkin dilakukan adalah menjualnya dalam partai besar. Aku menerima 20% dari tiap barang yang terjual, namun aku keberatan dan minta 40%. Kukatakan padanya, kalau setuju dengan 40%, aku akan membawanya ke tempat yang penuh hippies dan memperkenalkannya pada mereka. Akhirnya kami sepakat di angka 35%, sekarang, kita butuh dua atau tiga linting ganja asli.

“Buat apa?” Tanya Tatsumi, dan kujawab aku ingin menjual paling tidak empat ribu linting.

“Kalau kita menjual dalam jumlah kecil dan mereka nggak giting, mereka akan bilang ke yang lain, begitulah pasar terbentuk. Sekarang kita akan menjual dalam partai besar, nah, kita perlu contoh buat mereka hisap.”

Cerdas juga, kata Tatsumi seraya menampar kecil pipiku. Kami pergi ke diskotik kecil murahan tempat di mana Petugas Logistik dari pangkalan Yokota dan pelaut-pelaut Yunani dan Turki nongkrong, membeli tiga linting ganja asli, lalu pergi ke kafe rock menunggu bandar datang. Di dalam kafe, rekaman Pink Floyd menumbuk telinga kami.

“Anjing, aku tahan lagi!” Tatsumi berteriak di telingaku. “Tempat ini bangsat.”

Pukul sembilan malam terlalu dini bagi bandar, jadi kami memutuskan untuk nonton film. The Last Picture Show sedang diputar di bioskop yang buka sepanjang malam, Tatsumi menolak keras dan bilang ia tak suka menonton film yang diperankan bule. Tapi, di tengah film, ia menangis sesenggukkan.

“Nggak pernah menonton film seperti itu,” ujarnya saat kami mampir di suatu tempat untuk makan dan beli bir sebelum kembali ke kafe rock. “Kau sering, ya, nonton film model begitu?”

Tidak juga.

“Bagaimana film tadi menurutmu?”

Membuatku tersadar di mana-mana ada orang kesepian, bahkan di Amerika.

“Eh, apa maksudmu?”

Petugas Logistik di kampung halamanku agak pongah, jelasku—badan mereka besar-besar, selalu tersenyum lebar-lebar, terlihat amat gembira, jadi kupikir semua orang Amerika itu kaya dan bahagia.

“Aku, sih, nggak ngerti kamu ngomong apa,” kata Tatsumi. Ia duduk dengan kepala tertunduk. “Tapi, kukira, di Amerika ada juga anak muda yang jatuh cinta pada wanita yang lebih tua.”

Ia tak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, hanya duduk, merenung, memenadangi bir di bawahnya. Tatsumi sepertinya bukan peminum, baru tiga botol bir jalannya sudah sempoyongan.

Kami kembali ke kafe rock, kini The Doors menderak-derakkan dinding, dan aku memperkenalkannya pada tiga bandar dari Yokosuka, memperkenalkan Tatsumi sebagai Yakuza dari Okinawa yang baru tiba hari ini. Masing-masing dari mereka membeli hampir tiga ratus linting.

“Nee-chan, ini Yazaki, jangan pedulikan rambutnya yang seperti ramen. Di bawah rambutnya ternyata ada otak cemerlang.”

Kami pulang naik taksi, lampu apartemenku padam, dan Nee-chan telah kembali. Ia duduk di sana, makan ramen instan dengan hanya mengenakan kaus tanpa lengan. Nee-chan sangat pantas untuk menjadi ibu Tatsumi, atau bahkan ibuku. Ia tak mengenakan kutang dan tak mencukur bulu ketiaknya belakangan ini. Ia tidak mengatakan apa-apa, bahkan tak peduli dengan kehadiranku. Akan tetapi setelah kuperhatikan wanita bermake-up seperti kue putri salju ini menyeruput mi dengan rokok yang menyala di tangannya, aku merasa seolah mengerti mengapa Tatsumi menangis sewaktu menonton The Last Picture Show. Timothy Bottoms, tinggal di kota kecil di Midwest atau di manapun itu, memilih seorang wanita kesepian yang sudah bersuami dan usianya dua kali lebih tua sebagai partner seksnya. Pada adegan terakhir, ia memutuskan untuk pergi dari kota itu, memacu truk pick up-nya, tapi kemudian mendadak berbalik arah dan kembali ke tempat wanita itu. Wanita yang lebih tua dan sedang bosan itu, kupikir, semacam simbol untuk Amerika—yang dulu sekali pernah kehilangan sesuatu.

“Nee-chan, lihat berapa banyak uang yang kami dapat mala mini.”

Tatsumi mengambil gulungan sepuluh ribu yen dari saku celana nyentriknya dan meletakkannya di hadapan wanita itu—yang kini telah menghabiskan ramennya. Ia mulai menghitung uang di tangannya, dengan wajah lurus-lurus saja yang kurang lebih sama dengan saat ia menyeruput mi.

“Dari mana saja kau?” Tanya Nakano saat aku kembali ke apartemen. “Kami semua khawatir.”

Ia satu-satunya orang yang masih terjaga. Ia duduk di dapur dengan kolor dan kaus oblong, minum wiski Suntory yang paling murah.

“Kami sudah berdiskusi,” katanya. “Ibu Kato sakit lagi dan dia ingin pulang. Kenyataannya, kita nggak bisa memajukan band, atau bertahan hidup seperti ini. Shimada bilang, dia ingin bekerja sebagai gitaris sambilan di beberapa band yang dia tahu, dan Yamaguchi mau sekolah gitar jazz. Aku, aku belum tahu mau apa, yang jelas aku lelah dengan semua ini. Memang menyedihkan baru dua bulan sudah menyerah, tapi semuanya nggak akan berubah, Kawan. Kita bisa melakukan sesuatu yang kita benci, dan kalau melakukannya terus-menerus kita akan terbiasa dan akhirnya tak pergi ke mana-mana. Nah, hari Minggu tiga pecan lagi, kami akan main di konser kecil di taman. Bagaimana menurutmu, Yazaki? Shimada bilang dia bisa meminjamkan drum. Kau mau ikut, kan? Mungkin setelah itu kita nggak akan bisa main blues bersama lagi. Ada panggung terbuka di sudut Taman Inokashira dan mereka sering menggelar konser di sana. Kebanyakan main musik rakyat, sih, tiap Sabtu dan Minggu sore. Aku kebetulan bertemu salah satu panitianya, aku tanya apa kami bisa main juga, dan dia jawab, ‘Tentu saja.’ Begitulah.”

“Aku nggak bisa ikut,” jawabku. “Aku sudah dapat uang, rasanya cukup buat menyewa apartemen sendiri besok. Tapi, aku pasti akan datang menonton kalian.”

Esoknya, aku menemukan sebuah apartemen, tak terlalu jauh, aku bisa membawa barang-barang dengan taksi. Sebuah kamar berukuran kecil, hanya empat setengah tikar, tapi uang yang tersisa cukup untuk membeli stereo. Gaya hidupku pun tak banyak berubah. Aku masih membeli buku-buku tua dan koleksi puisi di took buku bekas dan membacanya beberapa jam di kafe rock atau kafe jazz. Ketika aku kehabisan uang, aku mencari hydrangea, melinting beberapa ganja palsu, lalu menjualnya di Akasaka atau Roppongi. Aku menghindari Shinjuku, tapi suatu kali aku kepergok bandar dari Yokosuka di diskotik daerah Akasaka. Rupanya mereka bahkan tak menyadari ganja yang kujual itu palsu. Barangnya tak terlalu bagus, begitu komentar mereka.

Ketika hari Minggu yang dinanti tiba, panggung terbuka di Taman Inokashira penuh dengan penyanyi dan grup trio yang menyanyikan musik rakyat, mereka secara bergantian menyanyikan musik yang bisa bikin aku mati bosan. Sekitar 30 orang duduk tenang dan mendengarkan, dan lalu bertepuk tangan serempak dengan volume teratur—dari kecil, membesar, lalu mengecil lagi, dan lenyap. Saat Nakano dan yang lain bermain, sepasang orang tua yang baru saja memberi makan burung dengan remah roti pergi, mengeluhkan musik mereka yang berisik. Dan setelah membawakan dua lagu John Mayall, kwartet blues tanpa drummer itu mengakhiri konser sekaligus karier mereka. Meski begitu, keempatnya nampak menyimpan kepuasan tersendiri. Selepas aksi panggung singkat itu usai, mereka duduk di sisi panggung, minum kola sembari menertawai penyanyi musik rakyat yang sedang tampil. Nakano melihatku dan melambaikan tangan, mengisyaratkan ajakan untuk ikut bergabung, tapi aku hanya membalas lambaian tangan itu, mengangguk, lalu pergi. Aku berjalan-jalan di sekitar kolam, setelah itu duduk di bangku dekat semak-semak hydrangea tempat aku dan Tatsumi dulu memetik daunnya. Musim hujan telah berakhir, dan bunga-bunga akan segera melenyap. Melihat bunga-bunga yang warnanya mulai memudar, mengingatkanku pada malam lembab saat kami berjongkok memilih-milih daun, tiba-tiba aku merasakan semacam kebencian terhadap film The Last Picture Show. Aku tak akan pernah memaafkan film yang telah membuat lelaki segarang Tatsumi menangis.

Kuputuskan untuk bertemu dengannya, di gedung apartemen lamaku.

“Nee-chan sedang ada di sini, tapi masuklah…”

Wanita itu tengah bersiap-siap pergi kerja. Ia mengenakan gaun merah pudar. Make up-nya sudah selesai, dan kini ia sedang mengecat kuku-kukunya. Udara kamar dipenuhi bau tajam cat kuku yang membuatku sulit bernafas. Tatsumi sedang memanggang daun hydrangea di wajan. Wanita itu melirikku, tetapi tak mengucapkan apa-apa. Aku duduk membisu, memperhatikan ia menyapukan cat merah di kuku.

*Busboy : definisi lengkapnya bisa dilihat di sini
**Hydrangea : Hortensia, kalau di rumahku orang menyebutnya Panca Warna atau Kembang Bokor hehe~
***Cimeng : nama lain dari ganja
****Gelek : nama lain ganja yang mungkin istilah ini lebih tua dari cimeng

Diceritakan-ulang dari cerpen berjudul The Last Picture Show karya Ryū Murakami yang kami ambil di sini. Suda musim hujan hehe jangan lupa minum~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s