Hansen

Namanya Hansen. Nama panjangnya, Hantu Sendayan.

Dari namanya, kau mungkin sudah bisa menebak siapa Hansen dan di mana ia tinggal. Benar, ia adalah hantu dan ia tinggal di Sendayan Hills, sebuah kawasan perumahan yang letaknya kurang lebih empat kilometer dari pintu tol Sentul.

Aku tak perlu repot menjelaskan ‘hantu’, kau mungkin lebih paham daripada aku. Namun, ada baiknya kujelaskan Sendayan Hills ini, sebab tidak semua darimu tahu bahwa di dunia ini ada sebuah daerah yang, entah oleh siapa, diberi nama Sentul—meski tak rugi-rugi amat bila kau tidak mengetahuinya—dan tak jauh dari situ terdapat ‘desa’ bernama Sendayan. Di  ‘desa’ itulah Sendayan Hills muncul. Rumah-rumahnya serupa, dari gaya arsitektur hingga mungkin tinggi rumput di halaman. Bahkan jalan aspal pun sangat diperhitungkan, benar-benar simetris dan membentuk lingkaran sempurna. Saat melihat brosurnya beberapa bulan lalu, aku sempat terkagum-kagum. Seolah Sendayan Hills ini bukan diciptakan oleh manusia melainkan pesawat luar angkasa super-canggih yang pada suatu malam mendarat untuk memutilasi sapi, dan paparan radiasinya membuat rumah-rumah berdinding bambu dan beratap rumbia di desa itu dalam sekejap bertransformasi. Keesokan paginya, seorang pebisnis yang maha-kreatif mengklaim kawasan itu, memberinya istilah ‘modern minimalis’, dibuatkan iklan dan brosur, dan dengan sihir, brosur itu jatuh ke tangan istriku yang akhirnya memaksa kami untuk pindah. Soal nama aku sendiri tak tahu mengapa diberi nama seperti itu, entah seleraku yang jelek, tapi rasa-rasanya ‘Bukit Sendayan’ terdengar lebih bagus. Mungkin maksudnya agar terdengar sekelas Beverly Hills. Agak memaksa, memang. Tapi, yah, mungkin nama itu bisa membuat orang terkesan. Di samping itu, aku tak terlalu peduli soal nama. Oh, ya, aku sengaja mengutip kata ‘desa ’, sebab aku sendiri tidak tahu harus menyebut apa; tidak terlalu ‘kota’ untuk layak disebut kota, sekaligus sudah terlalu mewah untuk menyandang predikat desa. Setidaknya dulu Sendayan pasti pernah menjadi desa kecil, dua atau tiga puluh tahun lalu, sebelum manusia menemukan Bisnis Properti dalam usaha keras mereka melestarikan peradaban.

Ah, aku suka kata ‘peradaban’. Terdengar seperti nama buah-buahan.

Sewaktu masih manusia, Hansen adalah seorang perempuan. Harus kukatakan seperti ini karena aku kurang yakin apakah arwah masih membutuhkan jenis kelamin atau tidak. Maksudku, untuk apa lagi bagi mereka hal-hal duniawai seperti, alat kelamin?

Jangan terjebak dengan nama, kecuali kulitnya yang terlalu putih, tak ada hal lain yang mencirikan ia hantu ekspatriat. Kau bisa menjumpai hantu lokal seperti Hansen mondar-mandir di layar bioskop, di acara televisi malam, di program infotainment pagi dan sore, di dalam kepalamu. Ya, ya, di dalam kepalamu. Tepat seperti apa yang kaupikirkan saat pertama kali mendengar kata ‘hantu perempuan’—kita sudah akrab betul dengan soal begini, kan? Dari wajahnya, kutaksir ia meninggal saat memasuki usai dua puluh tahun. Dan ia, sebagaimana hantu kebanyakan, mengambang sekitar lima sentimeter dari permukaan tanah.

Tak ada yang aneh dengan Hansen, selain ia dapat dilihat dengan mata telanjang oleh siapapun.

Ia berkeliling komplek dari pagi sampai pagi lagi; menembus pagar, masuk ke dalam pohon, melintas di depanmu saat kau tengah bermesraan dengan pacarmu di taman belakang. Atau tiba-tiba ada di belakangmu, menepuk pundakmu dua kali dan bertanya.

“Kapan nikah?”

Tadi sore, aku baru saja mengalaminya. Kakiku gemetar dan lidahku kelu, bukan hanya karena aku sedang berhadapan dengan hantu tapi juga karena aku jadi teringat ayah istriku. Sebelum kami menikah, ia hobi sekali bertanya begitu dengan tatapan seperti drakula yang berpuasa darah manusia selama satu bulan—dan saat kami bertatap muka ia selalu sedang berlebaran. Pertanyaan itu juga sering dilontarkan oleh teman-teman semasa sekolah saat kebetulan bertemu di suatu tempat, paman, bibi, bahkan ibuku sendiri jika ada kesempatan. Dan, syukurlah, aku mampu bertahan hidup sampai menikah di usia 28 tahun dengan hanya tersenyum saat menjawabnya. Kupikir, pertanyaan seperti itu sekadar basa-basi saja. Dihapuskan dari pemahaman manusia pun tak akan mengubah apa-apa. Tapi ternyata, ada gunanya juga. Sial. Mungkin inilah tujuan para orang tua suka bertanya begitu: Jika suatu hari kau bertemu hantu yang menanyakan kapan kau menikah, kau tak perlu ketakutan sampai terkencing-kencing di celana.

Air seni sudah sampai di ujung penis saat aku mengangguk kecil ke arahnya.

Setelah itu, ia ngeloyor pergi. Cuma begitu sajakah? Ya.

*

“Bagaimana?”

Edwin, tetanggaku, tengah berdiri di depan pagar rumahnya dan bertanya seperti itu. Apanya yang bagaimana? Tanyaku dalam hati.

Edwin mengaku berusia 39 tahun. Bertampang seperti perompak, perawakannya tinggi besar, rambut dipotong cepak seperti tentara, perut membuncit karena alkohol, bibir keunguan dan di atasnya menggantung kumis yang cukup tebal utuk menyembunyikan seekor anak belalang. Dan ia suka mengusap kumisnya dengan telunjuk dan ibu jari, dimulai dari tengah, menyusuri bentuk kumisnya, hingga berakhir di sudut mulut tempat di mana rangkaian rambut kasar itu berakhir. Untuk menambah nyali, jelasnya kemarin, meski aku tak bertanya. Seolah ia sengaja mendesain bentuk kumisnya untuk menakut-nakuti warga. Lengan kanannya dipenuhi tato, dan mata kirinya selalu tertutup oleh kotoran mata. Seperti kucing yang menderita radang selaput mata kronis, mata kirinya terus mengeluarkan kotoran mata sepanjang hari selama sepuluh tahun terakhir. Suatu kejadian di masa lampau—yang tidak ia ceritakan kepadaku—menyebabkan matanya seperti itu. Mata kirinya hanya mampu terbuka jika ia membasuh wajah atau menangis. Aku bertanya-tanya, apa gerangan yang mampu membuat lelaki segarang dirinya menangis? Pasti ada, sesuatu seperti kehilangan, mungkin.

Edwin tipikal lelaki jenaka yang kerap berusaha membuat lelucon tentang apa saja, dan seringnya menjurus ke selangkangan—meski tidak terlalu lucu, menurutku. Dan seperti kebanyakan manusia, ia sedikit menyebalkan. Kemarin setelah membantuku mengangkat barang dari mobil pindahan ke dalam rumah baru, istriku menyajikan teh hangat dan camilan. Aku dan Edwin berbincang hingga larut malam, dan dengan bersemangat ia menceritakan kenakalannya dari usia belasan hingga kini. Tak terlalu seru, memang, kebanyakan soal perempuan. Salah satu keahlian khususnya adalah mengajak perempuan tidur.  Kalau sudah bercerita tentang perempuan yang pernah ditidurinya, ia terlihat dua puluh tahun lebih muda.

Mungkin, kejadian yang menyebabkan mata kirinya selalu tertutup itu berhubungan dengan alkohol dan selangkangan.

“Kau sudah bertemu Hansen?” lanjutnya.

Ternyata soal Hansen. Aku mengangguk kecil. “Baru saja.”

“Bisa menjawab pertanyaannya?”

Aku mengangguk.

Ia tertawa. “Bagaimana rasanya?”

“Yah, gugup, bingung, dan sedikit ketakutan. Walaupun kau bilang ia nggak berbahaya, tetap saja.”

Ia tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Ya, ya, aku mengerti. Dulu aku juga seperti kau, bahkan lebih parah. Aku sampai ngompol, saking takutnya.”

“Benarkah?” tanyaku, terkejut. “Kukira hanya aku saja yang hampir ngompol.”

Aku tertawa, ia tidak. Ia menatapku heran. “Serius? Aku tadi hanya bercanda, lho.”

Lucu sekali.

*

Istriku menelepon, mengingatkan untuk mengangkat jemuran. Di sela kesibukannya, ia sisihkan waktu satu menit untuk membicarakan tiga hal sekaligus: langit yang mendung, hujan yang mungkin akan segera turun, dan lima detik terakhir tentang jemuran kering. Ia berbicara cepat, tepat, dan tanpa menunggu komentarku. Menguntungkan, karena saat ia menelepon aku sedang sibuk. Tangan kananku memegang ponsel, dan jemari tangan kiriku berusaha menekan tombol control-alt-delete di kibor komputer. Obrolan searah terkadang tak begitu buruk.

Sebelum mengangkat jemuran, aku melihat lagi hasil pekerjaanku hari ini. Sebuah website untuk produk jus yang kugarap dengan serius satu minggu terakhir. Buruk dan menyebalkan, seperti biasa, sesuai kemauan klien. Ini sudah revisi kedua, kuharap tak ada revisi lagi. Karena ‘revisi’ yang dimaksud sang klien artinya ‘peninjauan kembali untuk semakin memperburuk hasil sebelumnya’. Awal bekerja, aku selalu benci hasil buatanku, yang artinya aku benci diriku sendiri sebab menghasilkan gambar jelek dan murahan. Kuceritakan hal ini pada atasanku dan ia hanya tertawa.

“Kau akan terbiasa,” katanya.

Dan, ya, puji Tuhan! Kini aku sudah terbiasa. Pada akhirnya kita akan terbiasa pada segalanya, dan menyenangi hal-hal yang kita benci sebelumnya. Barangkali begitulah takdir umat manusia.

Kuregangkan badan sejenak sambil berpikir. Bertahun-tahun aku masuk sekolah untuk mempelajari hal-hal yang tak terlalu ingin kuketahui, memilih jurusan kuliah yang tak terlalu kusenangi—aku mengambil jurusan ekonomi atas saran seorang teman agar mudah mencari pekerjaan, dan mendapat pekerjaan yang tak terlalu berhubungan dengan gelar akademis yang kudapatkan—setidaknya, hingga kini aku belum melihat hubungan langsung antara kebijakan fiskal dan moneter dengan tipografi dan desain website. Tak cukup sampai di situ, aku membuat website dan logo untuk produk yang tak pernah sekalipun kubeli dan sesekali mendesain atribut kampanye pesanan partai yang tak pernah kupilih. Hidup ini, lumayan lucu.

Sekarang, aku harus mengangkat jemuran karena pasti sekitar tiga puluh menit lagi istriku akan menelepon untuk memastikannya. Oh, bicara soal jemuran, telepon dan hal yang lumayan lucu aku jadi teringat sebuah tebak-tebakan klasik: Apa persamaan antara jemuran dan telepon?

*

Saat aku menuju halaman belakang, aku mendengar Edwin menyalakan mobil. Suara knalpotnya mengusik kucing kampung yang tertidur di kursi belakang.

Hanya ada empat potong pakaian yang dijemur, delapan buah celana dalam, tiga celana pendek, dua rok terusan, dan satu celana panjang. Kebanyakan milik istriku. Kuambil satu per satu lantas kuletakkan di pundak kanan. Saat mengambil celana dalam biru muda kepunyaan istriku, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam kepalaku.

Sebuah lubang yang tak lebih besar dari rumah semut berada tepat di bagian yang menutupi vagina. Mudah ditebak, lubang ini berasal dari percikan bara rokok. Tapi, setahuku, istriku tak merokok.

Angin dingin berembus, melewati rumput, dahan pohon, lalu sampai di belakang leherku. Kudukku meremang. Samar, terdengar suara petir. Kuperhatikan sekitar, tak ada siapa pun. Bodoh sekali, tentu saja tak ada siapa-siapa di halaman belakang rumahku sendiri. Aku melihat ke atap, empat ekor burung gereja melompat kecil di sana. Salah satu di antara mereka menoleh ke arahku, mungkin bercicit tetapi terlalu kecil atau terbawa angin sehingga aku tak mampu mendengarnya, tak lama ia menoleh ke langit, lalu terbang cepat seperti malaikat maut yang tiba-tiba merasa ingin mencabut nyawa seseorang di suatu tempat. Melihat temannya terbang, tiga ekor yang tersisa ikut mengepakkan sayap juga. Angin dingin kembali menabrak rambutku, kali ini lebih keras. Kuhela nafas. Udara terasa mengental, membungkus tubuh, membuatmu merasa seperti ulat yang tengah melewati proses menjadi kepompong. Cuaca seperti ini kelihatannya memang sengaja dibuat untuk menindasmu, membuatmu gelisah.

*

Telepon rumah berdering saat aku sedang berada di dapur. Setelah mengeringkan tangan dengan handuk kecil, aku bergegas ke ruang depan.

“Aku pulang terlambat,” ujar istriku di telepon. “Mungkin sekitar pukul sebelas baru sampai rumah.”

“Sedang sibuk-sibuknya, ya?”

“Begitulah, bulan ini banyak sekali yang menikah,” jawabnya. Istriku bekerja di sebuah Wedding & Event Organizer yang cukup terkenal.

“Kalau dipikir-pikir, lucu juga.”

“Lucu bagaimana?”

“Sebentar lagi Haloween, kan? Mereka menikah di bulan yang sama saat pagar dunia orang mati dan dunia orang hidup terbuka. Sedikit horor.”

Ia tertawa di ujung sana. “Kau berpikir sejauh itu?”

“Nggak diniatkan untuk memikirkannya. Tiba-tiba saja kepikiran; bulan baik bagi yang satu dan bulan menyeramkan bagi yang lain.”

“Seolah menegaskan bahwa pernikahan itu horor, ya.”

Kini gantian, aku yang tertawa.

“Jemuran sudah diangkat?”

“Sudah. Sebentar lagi akan kusetrika.”

“Baguslah. Di sini hujan sudah turun.”

“Ya, di sini juga.” Aku berdeham. “Anginnya lumayan kencang.”

Agak lama ia terdiam, seperti memikirkan sesuatu, atau berusaha mencari cara menutup telepon yang tidak menyakiti siapa pun. “Ada masalah dengan rumah baru kita?”

“Sedikit. Ada bocor di dapur. Sudah kutadahi dengan ember.”

“Dapur, ya?”

Aku mengangguk. Bodoh sekali. Anggukan tidak bisa dikirim lewat kabel telepon.

“Bisa kau betulkan besok?”

Aku mengangguk lagi, secara otomatis.

“Halo?”

“Bisa, bisa.”

“Selain itu ada lagi?”

“Nggak ada. Aku rasa rumah ini cukup tangguh untuk menghadapi badai Katrina sekalipun.”

“Tapi kalau badainya masuk ke dalam rumah, tetap saja porak-poranda, kan?” Ia tertawa.

“Iya, sih,” jawabku. “Paling tidak, cangkangnya tetap utuh.”

Hening.

Gemuruh petir yang terakhir semacam perintah bagi rintik hujan, seperti pasukan terjun payung sekutu saat operasi Market Garden, mereka terjun bebas dari awan kumulonimbus dan mendarat di atap rumahku, menghantam jendela, menciptakan kebisingan yang kadang membuatmu jengah.

“Benar kau bisa tangani sendiri atap yang bocor?”

“Bisa.”

“Tak perlu menyewa tukang?”

Aku menggeleng. “Pasti gentengnya hanya bergeser sedikit. Kau tahu, kan? Masalah rumah baru yang dibangun di bawah tekanan waktu tenggat.”

“Mereka pasti terburu-buru.”

“Tepat sekali.”

“Yakin bisa kau selesaikan?”

“Bisa. Tenang saja. Lagi pula, besok aku tak punya rencana ke mana pun. Seperti biasa.”

“Baguslah.”

“Kita tak perlu mengeluarkan uang lebih untuk menyewa tukang?”

Ia tertawa lagi. “Tolong pastikan cangkangnya masih tetap utuh, seperti katamu.”

“Siap laksanakan, Kapten!” jawabku agak keras. “Ada lagi?”

“Bicara soal cangkang,” katanya. “Aku jadi kepingin makan sup kerang.”

“Bercanda kau.”

“Bercanda bagaimana?”

“Kau, kan, alergi kerang.”

Kami terpingkal. Setelah tawa mereda, aku mengambil sebatang rokok, lantas membakarnya. Aku jadi teringat soal lubang di celana dalam istriku, tetapi aku tak memiliki keinginan untuk menanyakannya.

“Pokoknya, pastikan cangkang rumah kita kuat.”

“Kalau dalamnya berantakan, bagaimana?”

“Bisa kita bereskan.”

“Kalau mau.”

“Ya, ya.” Kuhisap rokok dalam-dalam, lalu kuhembuskan. “Kalau mau.”

“Sudah dulu, ya.”

“Jangan makan sup kerang.”

Kudengar ia terkikik di sana. Tawanya, dan seluruh suara yang masuk saat ia mengembalikan gagang telepon, mengingatkanku pada seekor kambing yang tak sengaja menelan karet ban di serial kartun Looney Tunes. Saat rokok kumatikan, lampu ikut padam. Mati listrik. Sialan.

“Kapan nikah?”

Nafasku tercekat.

*

Aku menyalakan tiga buah lilin, kuletakkan di ruang tamu, ruang tengah, dan lorong menuju kamar mandi. Setelah itu, aku duduk di ruang tamu. Hansen mondar-mandir di dalam rumahku, menembus tembok menuju rumah Edwin, lalu masuk lagi ke dalam kamarku. Karena tak tahu hendak melakukan apa, aku mengeluarkan papan catur dari kolong meja tamu.

“Bisa main catur?” tanyaku pada Hansen.

“Kapan nikah?”

Keparat.

Lampu kuning menyorot ruang tamu diiringi raungan mesin yang terdengar sayup ditelan suara hujan. Edwin sudah pulang. Kukeluarkan ponsel dari dalam saku, kemudian meneleponnya.

“Oi, ada apa?” jawabnya.

“Baru pulang, ya?”

“Iya, nih.” Terdengar pintu garasi ditutup.

“Main catur, yuk?”

“Wah, aku nggak bisa main catur. Tapi kalau main perempuan…” Deru nafas yang berisi kebanggaan sampai ke telingaku. “Jangan ditanya.”

Dan memang aku tak kepingin menanyakannya.

“Lagian, aku sedang sibuk.” Ia melanjutkan.

“Sibuk main perempuan?”

Ia tertawa, tawanya menyiratkan semacam ejekan halus yang kalau diartikan: memangnya kau pikir apa lagi, hah? “Ya, begitulah. Mumpung lagi hujan. Tugasku, kan, menyelesaikan apa yang tak bisa diselesaikan laki-laki lain.”

“Sayang sekali, kupikir kau bisa temani aku main catur di sini.”

“Bagaimana kalau kau saja yang ke sini?” usulnya. “Ada cewek yang perlu ‘perhatian lebih’, istri orang, sih. Tapi, yah, suaminya nggak akan tahu, kok.”

“Kalau ketahuan bagaimana?”

“Ya, memang, apa yang akan kau lakukan jika kau tahu istrimu selingkuh?”

Aku terdiam sejenak memikirkan jawabannya. Sebenarnya, aku mungkin tidak akan melakukan apa-apa. Kalau mau selingkuh, ya selingkuh saja. Tapi rasanya kurang sopan menjawab seperti itu.

“Marah, barangkali.” Akhirnya aku menjawab. “Belum kupikirkan.”

Edwin tertawa. Aku pamit, menutup telepon.

Kalau istriku selingkuh, mungkin aku akan sedikit kecewa dengan diriku sendiri. Ada sesuatu yang tak bisa kucukupi sehingga ia memutuskan untuk berselingkuh. Tapi, sejujurnya, aku pun tak pernah tahu apa yang istriku inginkan, seperti istriku tak pernah tahu apa yang benar-benar aku mau. Di dunia ini, barangkali, tak ada satu pun orang yang sungguh-sungguh mampu memahami keinginan orang lain. Pada akhirnya, seperti kata atasanku, semua orang akan terbiasa. Mungkin tak ada orang yang sudi repot-repot mencintai orang lain melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Mencintaimu lebih dalam dari samudera Hindia, katanya. Bah, setengahnya pun kau sudah mampus. Kira-kira, sama seperti tak ada orang yang bisa memaafkan orang lain dengan tulus. Pada akhirnya, orang hanya akan memaklumi saja, lalu perlahan melupakannya. Seperti biasa.

“Iya, kan, Hansen?”

“Kapan Nikah?”

“Sudah kubilang, kan? Aku sudah menikah,” jawabku dengan nada kesal. Agak menyesal sebenarnya, toh, ia sepertinya tak mengerti. “Bisakah kita membicarakan hal lain? Maksudku, hanya kau yang ada di sini dan sekarang sedang mati lampu. Kita bisa membicarakan apapun, selain pernikahan.”

“Kapan nikah?”

Aku menelan ludah. Kusandarkan punggung di sofa, menggeliat kecil. “Sebaiknya kau mulai berpikir untuk mengganti pertanyaan yang lebih menohok orang, misalnya: kenapa menikah?”

“Kapan nikah?”

“Aku mengerti. Mungkin karena kau sudah merasakan sendiri, hidup sendirian pun tak tak buruk-buruk amat, jadi kau pikir kau tak perlu lagi bertanya ‘kenapa’. Nah, sekarang, aku mulai merasa pertanyaanmu itu semacam ejekan buat orang yang kau tanya.”

Kuambil bantal kecil, kemudian meletakkannya di belakang kepala. “Enak, ya, jadi seperti kau. Nggak hidup di dunia mana pun, nggak memiliki tujuan, nggak pusing membuat rencana-renacana, nggak perlu khawatir karena nggak peduli dengan apa pun, apa pun. Dengan terus bertanya seperti itu, kau seperti buta, tak memiliki keinginan untuk mengetahui hal-hal lain, membicarakan persoalan lain. Atau mungkin sebenarnya kau tidak buta, kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat.” Aku menoleh ke arahnya. “Hansen, apa kau bisa melihatku?”

Hansen melayang menembus dinding.

*

Pukul sebelas kurang lima belas menit. Hujan masih turun deras, pekerjaanku belum tuntas, dan listrik masih padam—masuk surgalah PLN! Aku mengintip sedikit keluar rumah melalui jendela, buruk sekali, aku bahkan tak bisa melihat pagar rumahku sendiri. Setelah itu, aku bersandar lagi di sofa. Di belakangku, di balik tembok yang memisahkan rumahku dan Edwin, aku merasa mendengar suara. Aku tak ingin membayangkan ia tengah bersenggama, namun tak bisa.

Mati lampu mungkin kabar baik buatnya, pasangannya tak perlu menatap lama-lama mata kirinya yang dipenuhi belek.

Cahaya lilin menerangi separuh ruangan, membiarkan beberapa tempat tetap berada dalam kegelapan. Aku menyapu seluruh ruang tamu dan menemukan payung kecil yang biasa istriku bawa di dalam tas pundaknya tergeletak di atas rak sepatu. Kuputuskan untuk menjemput istriku saja.

*

Aku menunggunya di depan gerbang perumahan. Pos satpam sepi, mungkin mereka malas bekerja di tengah cuaca buruk seperti ini. Kukeluarkan ponsel untuk menelepon istriku, akan tetapi nomornya tidak aktif. Kulirik jam tangan, lima menit lagi pukul sebelas malam. Aku akan menunggunya.

Delapan taksi, sebuah sepeda motor yang berjalan sangat pelan, tiga buah truk kecil, enam truk besar, sebuah kontainer Coca Cola, dan Hansen lewat selama aku menunggu. Lima menit lagi pukul dua belas malam, belum ada tanda-tanda kedatangan istriku. Tetes hujan memantul di aspal dekat kakiku, sambil menjaga agar payung tak tertiup angin, aku merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Kuharap nomornya sudah aktif, ternyata belum.

Kakiku mulai kedinginan, salahku sendiri hanya mengenakan kolor dan sandal jepit. Kuputuskan untuk pulang saja. Mungkin istriku menginap di kantor, atau ingin menunggu hingga hujan benar-benar reda. Aku kenal istriku, ia selalu tepat waktu. Itulah mengapa ia mendapat jabatan yang bagus di kantornya. Tapi, seberapa jauh aku mengenal istriku? Aku tidak tahu. Ia sendiri bahkan mungkin tidak mengenal dirinya dengan baik, buktinya, ia sering kelelahan sebab bekerja melampaui batas-batas yang bisa diterima tubuhnya.

“Dari mana saja kau?” tegur seseorang saat aku baru meletakkan payung di depan pintu. Dan orang itu ternyata istriku.

Aku yang masih terkejut mendapati ia sudah ada di dalam rumah—duduk manis di sofa dengan tangan kanan memegang mangkuk—tak bisa menjawab apa-apa. Kutarik nafas dan menghitung sampai tiga belas, lalu kuhembuskan. “Menjemputmu di depan. Kau lupa bawa payung.”

“Oh, iya.” Cahaya lilin menerangi senyumnya.

Kami terdiam. Aku mengeringkan kaki dengan kain kering yang diletakkan di bibir pintu, lalu masuk ke dalam.

“Aku sampai tepat jam sebelas,” ujarnya. “Kau tahu, kan? Aku nggak pernah terlambat.”

“Tetap saja, aku khawatir.”

Ia menepuk sofa empat kali. “Ini, sudah kubuatkan mi rebus. Mungkin sudah agak dingin, tapi belum membengkak. Makanlah, kau pasti kedinginan.”

“Lumayan,” jawabku.

Ketika aku duduk di sisinya, wangi parfum bercampur keringat menyeruak dari seragam kantornya. Lagi-lagi, aku baru menyadari satu hal.

“Apa seragammu itu dibikin dari bulu angsa?” tanyaku sambil mengaduk mi rebus.

Ia menunduk, melihat seragamnya sendiri, kemudian menatapku heran. “Kenapa?”

“Di luar hujan, kau nggak bawa payung, dan seragammu masih kering.”

“Oh.” Ia tersenyum simpul, menggulung mi dengan garpu. “Kupikir ada apa.”

Hansen berhenti di hadapan kami. “Kapan nikah?”

*

Apa persamaan telepon dan jemuran? Kalau ‘kering’ sama-sama diangkat. Lucu juga.

Iklan

9 tanggapan untuk “Hansen

  1. Waktu itu, (kalo nggak salah 2015) Kay rekomendasiin blog ini buat dibaca. Terus sekitar Maret awal apa, ya… baca link yang di-share sama Bara. Dan gue suka betul sama cerpen yang ini, Mz Dio. Keren dan unik! Setelah beberapa kali jadi silent reader, akhirnya berani komen juga. Ehehe.

    Kalo boleh nanya nih, ya. Referensi bacaannya apa aja, Mas? Nuhun. 😀

    1. Wah, terima kasih Mz suda mampir dan baca-baca hehehe kalau bacaan sa tong sampah Mas, apa aja kalau paragraf awalnya menarik mesti saya baca sampai selesai.

      Kalau cerpen ini, seingat saya, idenya muncul dari percakapan dua ibu-ibu muda di angkutan umum soal “Kapan kawin?” Terus saya membayangkan kedua orang yang ngobrol itu semacam hantu gentayangan yang muncul di 100 Tahun Kesunyian (Garcia Marquez), yang langsung terhubung ke cerpen The Elderly Lady-nya Borges dan ‘ghost in the machine’ di Concept of Mind-nya Gilbert Ryle. Karena kurang kerjaan, yha, apa bole buat, saya tulis aja~ hehehe

      1. Makasih juga udah dibales komentarnya, Mz.

        Garcia Marquez tau, tapi belum baca yang itu. Dan sisanya, bener-bener nggak ada yang tau. Huwahaha. Oke, makasih infonya. Pantes tulisannya menarik. Apa aja dibaca gitu. Ntap. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s