Lelaki Tua Kita

Saat lelaki tua kita terbangun di pagi hari, ia menemukan selembar daun berwarna hijau muda di atas bantalnya. Tanpa rasa curiga, ia mengambil daun itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Setelah itu, ia menyalakan radio yang frekuensinya tak pernah diubah—stasiun radio lokal yang selalu memutar lagu Mars Kabupaten Bogor selepas adzan Subuh. Dengan mengikuti irama mars, ia meregangkan sendi-sendi rentanya. Dimulai dari kaki, pinggang, tangan kanan dan kiri, dan tiba saat ia hendak meregangkan tulang lehernya, ia merasa ada yang aneh dengan kepalanya pagi ini.

Lelaki tua kita meraba-raba kepalanya. Jemarinya berhenti bergerak saat menemukan sesuatu yang seharusnya tak ada di sana. Karena penasaran, ia bercermin. Terkejutlah ia ketika mendapati tunas pohon duku setinggi sepuluh sentimeter mencuat dari kranium kepalanya.

Ya, pohon duku.

Kau mungkin sudah tak asing lagi dengan cerita model begini, misalnya: ketika Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, ia mendapati dirinya berubah menjadi kecoak raksasa nan menjijikan.

Kafka dengan sangat baik menceritakannya, sampai-sampai sebagian darimu langsung teringat Samsa tiap kali menemukan kecoa merayap di toilet atau dinding kamarmu. Atau malah bikin kau yakin bahwa roh binatang suci yang terperangkap dalam tubuh manusiamu adalah kecoa. Tapi Samsa hanyalah tokoh fiktif, yang artinya, nasibmu boleh sama seperti Samsa, namun tidak serta merta membuatmu berubah jadi serangga secara harfiah—meski secara metafora mungkin saja kau jauh lebih menjijikan dari binatang itu. Lelaki tua kita ini bukanlah tokoh rekaan, ia bisa saja tetanggamu, pamanmu, ayahmu, atau bahkan kau sendiri, dan karena alasan itulah aku tak akan menyebutkan namanya.

Baiklah, kita kembali ke lelaki tua kita. Sampai di mana tadi? Ah, ya, ia menemukan tunas duku tumbuh di kepalanya. Sepintas, mengingatkan kita pada Baling-baling Bambu-nya Doraemon.

Sembari mengingat-ingat kapan terakhir kali ia makan buah duku, ia menyibak rambut, meneliti dengan cermat melalui pantulan cermin. Tunas hijau itu nampak kontras di antara rambut putihnya, tumbuh subur, dan tertancap kuat di tempurung kepala. Ia meringis tiap kali berusaha mencabut tunas itu. Gunting saja, pikirnya.

Radio melantunkan nada pembuka acara berita pagi—semacam fanfare yang terlalu cepat dan terlalu bersemangat, dan durasinya benar-benar tepat sepuluh detik, seolah jika ditambah sedetik lagi kesan semangatnya akan memudar. Pukul enam pagi. Ia belum menemukan gunting, dan acara televisi kesayangannya sudah dimulai.

Gunting tidak akan pergi ke mana-mana, tapi acara televisi suka meninggalkan pemirsanya. Tak peduli seloyal apa pun, mereka tak akan sudi menunggu, apalagi hanya untuk mencari gunting. Karena itu pembawa acara televisi kerap mengingatkanmu untuk tidak beranjak dari sofa, sebab ia khawatir pemirsanya akan menyesal telah melewatkan bagian terpenting dari acaranya. Dan lelaki tua kita rupanya sangat senang diingatkan seperti itu. Sebab mungkin ia sudah berkali-kali melewatkan hal penting dalam hidupnya, ditampar penyesalan berkali-kali pula.

Dahinya mengerut, nampaklah barisan gunung keriput yang seperti gulungan obak pantai selatan saat siku Tuhan tanpa sengaja menekan tombol pause di acara Jalan-Jalan Sore yang tengah Ia saksikan sambil berbaring di singgasana. Lelaki tua kita nampak tengah berusaha keras mengingat kapan terakhir kali ia diingatkan oleh orang lain. Beberapa detik kemudian, kerutannya mengendur, mengingat adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah ia tahu.

Ia beranjak ke ruang televisi. Baru saja mendudukkan pantat di atas busa sofa, bel pintu depan berbunyi. Dengan kecewa, ia mencari-cari sandal rematik yang biasa ia letakkan di dekat kakinya ketika ia duduk di sofa.

Selagi lelaki tua kita mencari sandal rematik, kita intip siapakah gerangan tamu lelaki tua kita. Seorang lelaki paruh baya berseragam oranye. Ah, tukang pos rupanya. Dengan tanpa ekspresi, tukang pos itu menekan bel sekali lagi.  Ia melirik jam tangan, berdecak, lalu menyelipkan amplop cokelat melalui celah pintu. Kita maklumi sajalah, pekerjaannya banyak dan waktunya sedikit. Apalagi kalau ia tahu yang ditunggunya sedang sibuk mencari sandal rematik yang jelas-jelas tak ia pakai saat keluar kamar. Mungkin tukang pos itu akan kesal, mungkin juga tidak.

Setelah pencarian yang sia-sia, lelaki tua kita menyerah, dengan bertelanjang kaki ia berjalan ke arah pintu. Tapi di depan pintu tak ada siapa-siapa. Kurang ajar, pikirnya, pasti ulah anak tetangga.

Saat hendak menutup pintu, ia mendengar sesuatu bergeser di lantai. Amplop cokelat. Ia mengambilnya dan bergegas kembali ke sofa.

Amplop itu berisi uang kiriman anak semata wayang lelaki tua kita untuk hidup selama satu bulan. Sebenarnya, jumlah uang itu cukup untuk menghidupinya selama tiga bulan. Ia ingin memberi tahu anaknya agar tak perlu mengirim terlalu banyak, karena ia tak ingin pergi ke mana pun. Lebih baik ditabung, atau diberikan kepada cucunya. Ya, lelaki tua kita berpikir, untuk apa jalan-jalan kalau segalanya ada di televisi? Dan rasanya, ia ada benarnya juga. Namun ia selalu lupa untuk menelepon anaknya, dan sebaliknya.

Ia kembali ke ruang televisi, duduk di sofa tunggal yang berjarak kurang lebih dua meter dari televisi. Di sisi kanan sofa ada meja kecil berbentuk lingkaran yang di atasnya terdapat telepon, buku tulis kecil, pulpen, jam duduk berwarna hijau, dan gelas berisi air putih. Ia meletakkan amplop tadi di sana, menutupi buku catatan dan pulpen.

Acara televisi di mulai.

Tidak terlalu menarik, memang, hanya acara promosi apartemen. Tapi ia suka acara itu, sebab pembawa acaranya—seorang wanita berusia awal tiga puluhan—mirip almarhum istrinya. Sejauh yang ia ingat, cuma bentuk alisnya saja yang berbeda—alis pembawa acara itu lebih tebal dari alis istrinya—selebihnya nyaris sama. Bahkan mungkin wangi tubuhnya, andai televisi bisa juga mengeluarkan bau, pasti lelaki tua kita akan mencium ketiak pembawa acara itu. Sebentar saja, sekadar memastikan kemiripan wanita itu dengan istrinya. Sayangnya, kotak televisi belum secanggih itu. Kau hanya diizinkan untuk membayangkan, dan seolah ikut merasakan. Bukan membaui, apalagi mencicipi. Akan tetapi paling tidak, sejauh yang ia ingat, soal fisik keduanya mirip. Selain itu, bintang tamu acara tersebut selalu mirip dengan anak laki-lakinya; berambut pendek, disisir rapi dan mengkilap seperti Superman yang terlalu banyak memakai pomade, mengenakan jas hitam, dasi berwarna cerah, sepatu kulit hitam yang juga barangkali disemir dengan minyak rambut, dan mengenakan jam tangan perak di pergelangan tangan kirinya. Sekali lagi, sejauh yang ia ingat, begitulah penampilan anaknya. Ia tak bisa membayangkan laki-laki lain berpenampilan seperti itu selain anak semata wayangnya. Siapapun tamu acara itu, pasti sangat mirip dengan anaknya.

Selebihnya, ia suka judul acara promosi apartemen itu: “Harmoni. Hunian modern dengan fasilitas terlengkap, bebas banjir dan gempa bumi.” Lelaki tua kita belum pernah merasakan gempa bumi, tapi ia benci banjir. Istrinya mati tenggelam. Apakah benar tenggelam atau itu cuma salah satu adegan dari sebuah sinetron yang pernah ia saksikan? Ia sendiri tidak yakin. Ia mengutuk ingatannya yang semakin hari semakin buruk saja. Sekaligus ia senang. Mungkin ia akan bisa hidup lebih tua lagi, terlalu tua sampai-sampai kotak ingatannya benar-benar kosong atau terlalu penuh hingga tak sanggup lagi mengingat.

Di tengah acara, saat obrolan mulai mengerucut ke arah harga, perut lelaki tua kita keroncongan. Ia harus makan sesuatu. Disingkirkannya amplop cokelat untuk mengambil buku kecil, setelah itu dicarinya nomor telepon toko makanan. Pagi ini, ia ingin makan ayam goreng. Ia menelepon rumah makan, lalu memesan ayam goreng dan teh manis hangat.

Padahal, ia sudah memutuskan untuk hanya makan sayuran saja. Tapi untuk pagi ini, ia ingin ayam goreng. Jadi vegetariannya besok saja.

Sembari menunggu makanan datang, ia kembali menonton televisi.

Di dunia ini, ada banyak anak keparat yang setelah dirawat bertahun-tahun, lupa begitu saja dengan orangtuanya. Tapi tidak dengan anak semata wayangnya, anaknya tak pernah lupa mengirimkan uang, bahkan sempat mengirimkan asisten rumah tangga untuk mengurusnya—meski tidak bertahan lama karena sang asisten bunting oleh tukang bubur keliling dan mesti pulang kampung untuk menikah. Walaupun pekerja keras, anaknya sesekali menelepon ke rumah. Hal itu cukup membuktikan bahwa buah hatinya adalah lelaki yang hebat dan bertanggung jawab. Ia yakin anaknya tumbuh menjadi lelaki yang seperti di televisi—seperti Ari Wibowo atau Primus Yustisio atau campuran keduanya—meski ia sendiri lupa kapan terakhir kali ia melihat wajah anaknya, dan kapan terakhir kali ia mendengar suaranya. Soal sepele macam itu tak mampu meluruhkan rasa bangganya.

Hidup dengan ingatan samar mungkin akan membuat segala hal jauh lebih mudah.

Anaknya pasti akan marah jika mengetahui ia makan duku bersama bijinya. Saat anaknya masih setinggi paha, ia sering mengingatkan untuk jangan menelan biji apapun saat makan buah. Ia bilang, nanti biji itu akan tumbuh di atas kepalamu, dan anaknya percaya. Apa jadinya jika anaknya tahu bahwa ayahnya sendiri makan buah beserta bijinya? Ia harus membiasakan diri mengenakan kopiah atau semacamnya untuk menutupi tunas duku di kepalanya, sekadar antisipasi kalau-kalau anaknya pulang tanpa mengabari lebih dulu.

Bel berbunyi lagi. Kali ini pasti pengantar makanan. Ia mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam amplop, kemudian mencari sandal rematiknya sambil menyusun rencana bagus; setelah ini ia akan makan pagi sambil menyaksikan Film Televisi yang kalau dipikir-pikir mirip kisah cintanya dulu, 315.360.781 liter udara yang lalu.

*

Saat lelaki tua kita terbangun di pagi hari, ia menemukan selembar daun kecokelatan di atas bantalnya. Tanpa rasa curiga, ia mengambil daun itu dan membuangnya di tempat sampah.

Setelah itu, ia menyalakan radio yang frekuensinya tak pernah diubah entah sejak kapan—ya, tebakanmu benar! Stasiun radio lokal yang selalu memutar lagu Mars Kabupaten Bogor selepas adzan Subuh. Sambil mengikuti irama mars, ia meregangkan sendi-sendi rentanya. Dimulai dari kaki, pinggang, tangan kanan dan kiri, dan tiba saat ia hendak meregangkan tulang lehernya, ia merasa ada yang aneh dengan kepalanya pagi ini.

Lelaki tua kita meraba-raba kepalanya. Jemarinya berhenti bergerak saat menemukan sesuatu yang seharusnya tak ada di sana. Karena penasaran, ia bercermin. Terkejutlah ia ketika mendapati tunas pohon duku setinggi kurang lebih tiga puluh sentimeter mencuat dari kranium kepalanya.

Dan nampaknya, kau sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki tua kita seharian, hari esok, esoknya, dan seterusnya. Jadi, yah, aku tak perlu repot-repot menceritakannya lagi.

Kau pasti ingin mencekikku karena sudah membuang-buang waktumu membaca cerita ini. Tapi, mau dikata apa? Nasi sudah menjadi tahi, dimakan ikan lele, lalu dimakan olehmu lagi, bersama nasi.

*

Pagi selanjutnya—tak bisa kupastikan sudah berapa lama kita meninggalkan lelaki tua kita, mungkin seminggu, sebulan, setahun, sewindu, yah, semakin sibuk kita rasanya semakin cepat waktu berlalu dan pada satu titik waktu kehilangan arti pentingnya untuk diingat-ingat. Kita mengalihkan pandangan ke luar rumah. Seorang ibu menuntun anak lima tahunnya yang berseragam polisi ke Taman Kanak-kanak, si anak berceloteh soal ikan mas koki peliharaannya yang menyebalkan karena selalu bangun lebih awal darinya padahal ia tidur lebih cepat dari ikan mas koki itu. Di dekat pos satpam, tukang ketoprak tengah mengiris bawang putih dan pelanggannya yang sedang flu beberapa kali membersihkan ingusnya dengan kausnya sendiri, Astrea hitam diparkir tak jauh dari gerobak tukang ketoprak, dan dibawahnya lima ayam kampung tengah mematuk-matuki tanah.

Kehidupan berjalan normal, dan memang selalu begitu. Tapi rumah lelaki tua kita macam rumah kosong saja; pagar yang dulu rutin dicat ulang menjelang Idul Fitri kini diselimuti tumbuhan merambat, juga nyaris menyentuh jendela. Dan jika kau membuka pintunya, kau akan menemukan amplop cokelat berserak di bawah pintu masuk, diselipkan begitu saja oleh tukang pos yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Di atas sofa depan televisi, pohon duku tumbuh subur setinggi hampir dua meter. Akarnya menembus lantai yang memang sudah retak di sana sini—mungkin karena gempa, cuaca, atau karena menahan bobot pohong di atasnya. Akarnya juga merobek kulit sofa. Jika tak ada per yang keluar-keluar, karet-karet hitam, dan busa kau mungkin akan berpikir bahwa itu bukanlah sofa melainkan akar pohon. Dan puncak pohon itu nyaris menyentuh langit-langit.

Kau pasti telah menduga bahwa pohon itu adalah lelaki tua kita, dan ya, memang benar. Tapi, yang tidak kita tahu, nasibmu mungkin tak jauh lebih baik dari lelaki tua kita. Ia, kini, bahkan nampak jauh lebih berguna dan bahagia. Menaungi seekor kucing kampung yang saban hari terlelap di akar-akarnya. Tumbuh besar tanpa merepotkan siapapun. Dan tak perlu repot-repot lagi merawat ingatan; mengenai sinetron terakhir yang ditontonnya atau cerita-cerita di masa lalu.

Tapi, jangan khawatir. Lelaki tua kita boleh tak bisa melihat maupun mendengar lagi, tapi radio lokal masih memutar lagu Mars Kabupaten Bogor, dan acara promosi apartemen masih disiarkan di televisi. Artinya, kau tak akan kehilangan apa-apa, tak perlu menyesali apa-apa. Mungkin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s