Catatan Pemabuk [1]

Oleh: Hunter S. Thompson

 

Untuk Heidi Opheim, Marysue Rued, dan Dana Kennedy

 

My rider of the bright eyes,

What happened you yesterday?

I thought you in my heart,

When I bought your fine clothes,

A man the world could not slay.

—Dark Eileen O’Connell, 1773

 

 

San Juan, Musim Dingin 1958

 

Di awal lima puluhan, ketika San Juan menjadi kota wisata, seorang mantan joki bernama Al Arbonito membangun bar di halaman belakang rumahnya di Calle O’Leary. Ia menamainya Al’s Backyard dan menggantung papan nama di atas pintu rumahnya, dengan tanda panah mengarah ke jalan di antara dua bangunan bobrok menuju halaman belakang. Pada mulanya ia tak menyajikan apa pun selain bir seharga dua puluh sen per botol, dan rum, seperak sekali tenggak, atau lima belas sen jika dengan es. Setelah beberapa bulan, ia mulai menjual hamburger buatannya sendiri.

Bar itu merupakan tempat yang menyenangkan untuk minum-minum, terlebih di pagi hari saat matahari masih dingin dan kabut garam yang muncul dari laut memberi udara segar, wangi menyehatkan yang beberapa jam kemudian akan bersusah payah untuk tetap berada di sana melawan uap dari mesin-mesin, bau keringat orang-orang San Juan di siang hari, dan wangi itu masih akan sedikit tersisa hingga matahari tenggelam.

Di malam hari pun menyenangkan, meski tidak terlalu. Kadang angin sepoi-sepoi bertiup dan biasanya melewati Al’s Backyard karena tempatnya strategis—di puncak bukit Calle O’Leary, sangat tinggi sampai-sampai jika halaman belakang itu memiliki jendela kau bisa melihat seluruh kota di bawah. Tapi ada tembok tebal yang memagari halaman belakang itu, alhasil yang bisa kau lihat hanya langit dan beberapa pohon pisang.

Seiring waktu berlalu, Al membeli mesin kasir baru, lalu ia membeli payung-payung kayu untuk menaungi meja; dan akhirnya memindahkan keluarganya dari rumah di bukit Calle O’Leary, dari kawasan pinggir kota, ke kota besar yang baru tumbuh di dekat bandara. Ia juga mengupah seorang negro baik hati bernama Sweep untuk mencuci piring dan mengantar hamburger, dan akhirnya belajar memasak juga.

Ia mengubah ruang tamunya menjadi bar piano kecil, dan merekrut seorang pianis kurus berwajah murung asal Miami bernama Nelson Otto. Pianonya diletakkan di tengah jalan antara ruang minum koktail dan halaman belakang. Sebuah piano tua yang besar dan cantik, bercat abu-abu terang dan dilapisi lak khusus agar terlindung dari udara bergaram—dan selama tujuh malam dalam seminggu, sepanjang dua belas bulan musim panas tanpa akhir di kepulauan Karibia, Nelson Otto duduk di depan piano; membaur peluhnya dengan rangkaian akor rumit dan melelahkan dari musik yang ia mainkan.

Di Biro Wisata para turis berbincang soal angin sejuk di pantai Puerto Rico yang membelai mereka siang dan malam selama setahun—tapi nampaknya angin sejuk itu tak pernah menyentuh Nelson Otto. Ia menghabiskan sebagian besar harinya dengan memainkan repertoar blues dan balada-balada sentimental, keringat menetes dari dagu dan membasahi bagian ketiak kaus katun motif bunga miliknya. Dan setelah melewati jam demi jam yang lembab itu, ia mengutuk betapa panasnya suhu Puerto Rico dengan kata-kata kasar dan penuh kebencian yang kadang merusak suasana bar, orang-orang akan bangkit dari kursi dan pergi ke Flamboyan Lounge di seberang jalan, tempat yang menjual sebotol bir dengan harga enam puluh sen dan tiga setengah sen untuk steik sirloin.

Ketika seorang mantan komunis bernama Lotterman datang dari Florida untuk memulai San Juan Daily News, Al’s Backyard berubah menjadi semacam klub jurnalis khusus surat kabar berbahasa Inggris, karena tak satu pun jembel dan pemimpi yang bekerja untuk surat kabar milik Lotterman mampu jajan di bar-bar mewah ala “New York” yang tumbuh subur di seluruh kota seperti jamur payung. Reporter yang bekerja di siang hari dan pekerja di belakang meja akan keluyuran di Al’s Backyard sekitar pukul tujuh malam, dan para pekerja malam—orang-orang di bagian olahraga, korektor, dan penata letak—biasanya datang sekitar tengah malam. Sekali waktu seseorang datang untuk berkencan, tetapi di malam-malam biasa sangat jarang dijumpai wanita di bar itu, sekali pun ada, pasti dandannya erotis. Wanita-wanita kulit putih tidak terlalu banyak di San Juan, dan kebanyakan dari mereka adalah turis, penipu ulung, atau pramugari. Tak terlalu mengejutkan jika mereka lebih memilih kasino atau bar di Hilton.

Segala macam orang bekerja untuk surat kabar: mulai dari anak muda Turki yang ingin menghancurkan separuh dunia dan memulai segalanya dari awal, sampai sekumpulan orang tua berperut bir yang tak menginginkan apa pun selain menjalani hari-hari mereka dengan damai sebelum gerombolan pemuda sinting menghancurkan separuh dunia.

Para pekerja surat kabar itu menjangkau seluruh tipe manusia, dari orang-orang berbakat dan orang-orang jujur, hingga mereka yang tidak punya otak dan pecundang menyedihkan yang baru bisa menulis kartu pos—pemalas, buronan, pemabuk berbahaya, pengutil dari Kuba yang selalu mengapit pistol di ketiak mereka, orang keturunan Meksiko yang suka menganiaya anak kecil, mucikari, semburit, lelaki berpenyakit kelamin—kebanyakan dari mereka bekerja hanya untuk membeli beberapa botol minuman dan tiket pesawat.

Di sisi lain, ada juga orang seperti Tom Vanderwitz, yang belakangan bekerja untuk Washington Post dan memenangkan Pulitzer Price. Dan seorang lelaki bernama Tyrrell, sekarang ia adalah editor London Times, yang bekerja lima belas jam sehari hanya untuk memeriksa surat kabar dengan cermat.

Ketika aku tiba, San Juan Daily News sudah berusia tiga tahun dan Ed Lotterman sedang berada di ambang kebangkrutan. Sewaktu mendengarnya berbicara kau akan berpikir lelaki itu sedang duduk di ujung bumi, penampilannya seperti kombinasi Tuhan, Pulitzer, dan Bala Keselamatan. Ia sering bersumpah; jika semua orang yang pernah bekerja untuk surat kabar ini di tahun-tahun sebelumnya muncul bersamaan di dekat singgasana Sang Maha Kuasa—jika mereka semua berdiri di sana dan menceritakan sejarah mereka; kebiasaan, kejahatan, penyimpangam mereka—tak diragukan lagi bahkan Tuhan akan jatuh tersungkur sambil menjambak rambutnya.

Tentu saja Lotterman berlebihan; saat mengomel ia melupakan orang-orang baik disekitarnya dan hanya membicarakan orang-orang yang ia sebut “Bajingan Alkoholik.” Sialnya jumlah “Bajingan Alkoholik” ini jauh lebih banyak, dan hal yang bisa dibanggakan dari mereka adalah sikap mereka yang benar-benar aneh dan sangat sulit diatur. Mereka tidak bisa dipercaya, dan yang paling buruk, mereka mabuk, jorok, dan lebih tidak dapat diandalkan daripada seekor kambing. Meski begitu, mereka berhasil mencetak surat kabar. Dan saat mereka sedang merasa tidak ingin bekerja, kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu untuk minum-minum di Al’s Backyard.

Mereka marah-marah—menyebut Al  makhluk paling maruk sedunia—saat Al menaikkan harga bir hingga dua puluh lima sen; dan mereka terus mengomel sampai-sampai Al harus membuat papan berisi daftar harga bir di Caribe Hilton sebagai pembanding. Huruf dan angka di papan itu seperti cacing kepanasan, ditulis dengan tangan menggunakan krayon hitam, dan digantung di tembok belakang bar.

Karena surat kabar berfungsi sebagai pusat pertukaran informasi bagi para penulis, fotografer, dan para lulusan baru yang kebetulan menemukan diri mereka di Puerto Rico, Al mulai meragukan keuntungan bisnisnya. Laci kasir dipenuhi tagihan-tagihan yang tak terbayar dan kumpulan surat dari seluruh penjuru dunia, yang isinya janji untuk “melunasi tagihan dalam waktu dekat.” Jurnalis-jurnalis jembel terkenal dengan ingkar janjinya, dan bagi pengusaha kecil seperti Al, utang-piutang adalah tren yang menyusahkan.

Di hari-hari itu, bar tidak pernah kekurangan pengunjung. Mereka memang tidak tinggal terlalu lama di bar, namun mereka tetap berdatangan. Aku menyebut mereka ‘jurnalis jembel’ karena tak bisa menemukan istilah yang tepat. Tak ada lagi. Mereka penyimpang profesional, tapi mereka memiliki beberapa persamaan. Mereka sama-sama menggantungkan pendapatan mereka pada surat kabar dan majalah; hidup mereka ditujukan untuk mencari peluang dan pergerakan mendadak; dan mereka mengaku tak bersetia pada bendera mana pun juga tidak mengakui mata uang apa pun, melainkan hanya dengan mengandalkan keberuntungan dan hubungan pertemanan yang baik.

Sebagian kecil dari mereka lebih mirip jurnalis daripada jembel, dan yang lainnya lebih mirip jembel daripada jurnalis. Namun dengan beberapa pengecualian; mereka pekerja paruh waktu, pekerja lepas, wartawan asing yang—untuk satu alasan dan lainnya—beberapa kali dicoret dari organisasi jurnalistik. Mereka bukan pekerja licik dan pembeo nasionalis yang memilih pekerjaan tetap di koran-koran konservatif dan majalah berita yang selalu menyanjung kinerja pemerintah. Keduanya merupakan jenis yang berbeda.

Puerto Rico adalah pulau terpencil dan pekerja San Juan Daily News kebanyakan adalah jembel-jembel pengembara berwatak pemarah. Mereka yang bergerak tak menentu, mengikuti kabar angin dan kesempatan, dan tersebar di seluruh Eropa, Amerika Latin dan timur jauh—di mana pun yang ada surat kabar berbahasa Inggrisnya. Melompat dari satu tempat ke tempat lain, selalu mencari waktu istirahat panjang, tugas krusial; menguntit pewaris kaya raya atau seorang aristokrat, yang menanti mereka diujung tiket pesawat berikutnya.

Ya, aku adalah salah satu dari mereka—namun sedikit lebih kompeten dan lebih stabil dari yang lain—dan di tahun-tahunku menjadi jembel aku jarang menganggur. Kadang aku bekerja untuk tiga surat kabar sekaligus. Aku menulis salinan iklan untuk kasino-kasino baru. Aku juga seorang konsultan untuk sindikat judi sabung ayam, menulis kritik untuk menjelek-jelekkan restoran mewah, fotografer kapal pesiar, dan langganan korban kebrutalan polisi. Hidup yang tamak, memang, dan aku menjalaninya dengan baik. Aku punya teman-teman yang menarik, punya cukup uang untuk jalan-jalan, dan belajar banyak tentang dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kupelajari tanpa jadi gelandangan.

Seperti yang lain, aku seorang pencari, hidup berpindah-pindah, tidak pernah puas, dan kadang membuat onar. Aku tak pernah membuang-buang waktu untuk berpikir ekstra, aku merasa entah bagaimana instingku selalu benar. Aku berbagi sebuah ‘optimisme jembel’ kepada yang lain bahwa beberapa di antara kita sedang membuat kemajuan yang nyata, kita telah memilih jalan yang jujur, dan yang terbaik di antara kita pasti akan mencapai puncak.

Pada saat yang sama, aku juga berbagi pemahaman suram bahwa pekerjaan ini adalah sumber segala perasaan sia-sia yang kerap mendatangi kita, bahwa kita hanyalah pelakon, memperolok diri sendiri sepanjang pengembaraan konyol ini. Ketegangan antara dua kutub inilah—kegelisahan idealisme di satu sisi dan firasat akan datangnya malapetaka di sisi lain—yang membuatku bertahan.

 

 

 

(Bagian pembuka novel The Rum Diary karya Hunter S. Thompson. Diterjemahkan secara bebas oleh Agraria Bersalin. Tunggu kelanjutannya, kalau kami mau melanjutkan. Kalau punya saran untuk terjemahan judul yang lebih baik, silakan. Hehehe)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s