HARUKI MURAKAMI – KUCING PEMAKAN MANUSIA (3) [TAMAT]

surreal_dark_background_by_mysticmorning-d3bv1so

Di tempat kerja keesokan harinya aku menyerahkan surat pengunduran diri. Atasanku sudah mendengar rumor dan menegaskan lebih baik mengambil cuti saja sementara waktu. Rekan-rekan kerjaku terkejut mendengar bahwa aku ingin berhenti, namun tak satu pun berusaha keras membujukku untuk tidak melakukannya. Berhenti bekerja ternyata tak terlalu sulit. Setelah kau memutuskan untuk membebaskan dirimu dari sesuatu, hanya sedikit yang tidak bisa kau singkirkan. Bukan—bukan sedikit. Setelah kau memutuskan sesuatu, tidak ada yang tidak bisa kau singkirkan. Dan setelah kau mulai menyingkirkan sesuatu, kau akan memiliki kenginginan untuk menyingkirkan segala hal. Seolah-olah kau akan mempertaruhkan hampir semua uangmu dan mengambil keputusan. Persetan, aku akan pertaruhkan semuanya. Tak perlu disisakan, aku sudah pusing.

Aku mengemas semua yang kupikir akan kubutuhkan menjadi satu dalam koper Samsonite biru ukuran medium. Izumi melakukan hal yang sama.

Ketika kami terbang melintasi Mesir, tiba-tiba saja aku dicekam ketakutan yang teramat jika seseorang secara tak sengaja mengambil koperku. Di dunia ini, pastilah ada puluhan ribu koper Samsonite biru yang sama dengan milikku. Mungkin saat aku tiba di Yunani, membuka koper, dan menemukan koper itu berisi benda-benda milik orang lain. Serangan kecemasan yang parah menerpaku. Jika koperku hilang, maka tak akan ada satu pun yang tersisa bagiku untuk menyambung hidupku—hanya Izumi. Tiba-tiba aku merasa seakan aku telah lenyap. Sensasi yang sangat aneh. Aku merasa orang yang tengah duduk di dalam pesawat itu bukanlah aku. Otakku keliru mengikatkan dirinya pada ‘kemasan’ yang terlihat sepertiku. Kekacauan total melanda pikiranku. Aku harus kembali ke Jepang untuk kembali ke dalam tubuhku. Namun saat ini aku berada di dalam pesawat, terbang melintasi Mesir, dan tak ada jalan untuk kembali. Di saat seperti ini, dagingku rasanya seolah terbuat dari plester. Jika aku menggaruknya, ia akan terkelupas. Tubuhku gemetar tak terkendali. Aku tahu jika guncangan ini berlangsung lebih lama lagi tubuhku akan pecah dan menjadi debu. Meski pesawat terbang difasilitasi pendingin ruangan, tubuhku dibanjiri keringat. Bajuku menempel di kulit. Bau yang mengerikan menyeruak dari tubuhku. Sementara itu, Izumi menggenggam tanganku erat-erat dan memelukku sesekali. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia tahu apa yang sedang kurasakan. Guncangan ini berlangsung selama setengah jam. Aku ingin mati—menempelkan moncong revolver di telingaku dan menarik pelatuknya, sehingga baik pikiran maupun tubuhku akan meledak menjadi debu.

Setelah guncangan mereda, aku tiba-tiba merasa lebih ringan. Kukendurkan bahu yang tegang dan menyerahkan diri ke aliran waktu. Aku jatuh ter tidur, dan, ketika mataku terbuka, di bawahku terhampar perairan nilakandi Aegean.

*

Masalah terbesar yang kami hadapi di pulau itu adalah nyaris tidak adanya hal yang harus dilakukan. Kami tidak bekerja, dan tidak memiliki teman. Pulau ini tidak memiliki bioskop atau lapangan tenis atau buku untuk dibaca. Kami telah meninggalkan Jepang dengan sangat mendadak hingga aku benar-benar lupa untuk membawa buku. Aku membaca dua novel yang kubeli di bandara, dan salinan tragedi Aeschylus yang dibawa Izumi. Aku membaca semuanya dua kali. Untuk melayani wisatawan, kios di pelabuhan menyediakan beberapa paperback berbahasa Inggris, tapi tidak ada satu pun yang menarik mataku. Membaca adalah kegemaranku, dan aku selalu memimpikan jika aku memiliki banyak waktu luang aku akan berenang dalam tumpukan buku, namun ironisnya, di sinilah aku—dengan sangat banyak waktu luang dan tak ada yang bisa dibaca.

Izumi mulai belajar bahasa Yunani. Ia selalu membawa buku pelajaran ahasa Yunani, dan membuat catatan berisi daftar konjugasi kata kerja yang selalu ia bawa ke mana-mana, melafalkan kata kerja keras-keras seperti mantra. Ia sudah sampai ke titik di mana ia mampu berbicara dengan pemilik toko meski masih kacau, dan kepada pelayan saat kami singgah di kafe, sehingga kami berhasil memiliki beberapa kenalan. Tak mau kalah, aku pun memperbaiki bahasa Perancisku. Kupikir suatu hari akan berguna, tetapi di pulau kecil yang kumuh ini aku tak pernah bertemu seseorang yang berbicara bahasa Perancis. Di kota, kami mampu bertahan dengan bahasa Inggris. Beberapa orang tua mengerti bahasa Jerman atau Italia. Bahasa Perancis, nyatanya, sungguh tidak berguna.

Karena tak ada banyak hal yang bisa dilakukan, kami berjalan-jalan ke mana pun. Kami mencoba memancing di pelabuhan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Bukan karena ikannya sedikit; tapi karena airnya terlalu jernih. Ikan-ikan bisa melihat dengan jelas dari mulai kail hingga wajah orang yang mencoba menangkap mereka. Hanya ikan yang benar-benar bodoh saja yang bisa tersangkut mata kail. Aku membeli buku sketsa dan cat air di toko lokal dan berjalan kaki mengelilingi pulau untuk melukis pemandangan dan orang-orang. Izumi duduk di sisiku, melihat lukisanku sambil menghafal konjugasi Yunani-nya. Orang-orang setempat sering datang dan melihatku melukis. Untuk membunuh waktu, aku melukis wajah mereka, yang tampaknya cukup memuaskan. Jika aku memberikan lukisan itu kepada mereka, seringnya mereka mentraktir kami bir. Sekali waktu, seorang nelayan memberi kami seluruh gurita tangkapannya.

“Kamu bisa hidup dengan melukis,” kata Izumi. “Kamu berbakat, dan bisa membuat usaha kecil dengan itu. Bilang saja kamu adalah seniman dari Jepang, di sini pasti sangat jarang.”

Aku tertawa, tapi Izumi memasang wajah serius. Kubayangkan diriku mengelilingi kepulauan Yunani, meluangkan waktu senggangku dengan menggambar wajah orang, menikmati bir gratis sesekali.

Bukan ide yang buruk, simpulku.

“Dan aku akan menjadi koordinator tur untuk turis Jepang,” Izumi melanjutkan. “Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan berdatangan ke sini, dan tentu pekerjaan itu akan sangat dibutuhkan. Tentu saja itu artinya aku harus mulai serius belajar bahasa Yunani.”

“Apakah kamu sungguh-sungguh berpikir kita bisa menghabiskan dua setengah tahun tanpa melakukan apa pun?” tanyaku.

“Yah, selama kita enggak kerampokan atau sakit atau sesuatu seperti itu. Kalau enggak ada hal-hal yang enggak terduga, kita seharusnya bisa bertahan. Namun, tak ada salahnya mempersiapkan untuk hal-hal yang tak terduga.”

Hingga saat itu aku nyaris belum pernah ke dokter, ujarku padanya.

Izumi menatap lurus ke arahku, mengerutkan bibirnya, dan menariknya ke satu sisi.

“Katakanlah aku hamil,” mulainya. “Apa yang akan kamu lakukan? Ya, kamu memang menjaga dirimu dengan baik, tapi manusia selalu berbuat salah. Dan jika itu terjadi, uang kita akan terkuras dengan cepat.”

“Jika hal itu terjadi, kita mungkin harus kembali ke jepang,” kataku.

“Kamu enggak ngerti, ya?” katanya pelan. “Kita enggak akan pernah bisa kembali ke Jepang.”

*

Izumi melanjutkan studi bahasa Yunani-nya, dan aku lanjut menggambar. Ini adalah waktu terdamai sepanjang hidupku. Kami makan seadanya dan menyesap anggur termurah. Setiap hari, kami mendaki bukit terdekat. Ada desa kecil di puncaknya, dan dari sana kami bisa melihat pulau lain nun jauh di sana. Berkat udara segar yang melimpah dan olah raga ringan menaiki bukit, bentuk tubuhku jadi bagus. Setelah matahari terbenam di pulau itu, tak ada satu pun suara yang bisa kau dengar. Dan dalam keheningan itu Izumi dan aku bercinta dengan tenang dan berbicara tentang apa saja. Tak perlu lagi mengkhawatirkan kereta terakhir, atau pulang dengan membawa kebohongan untuk pasangan kami. Ini hal luar biasa yang bahkan melampaui anggapan kami. Musim gugur menua sedikit demi sedikit, dan awal musim dingin pun datang. Angin bertiup, dan ombak berbuih di lautan.

Di saat seperti itulah kami membaca cerita di koran tentang kucing pemakan manusia. Di koran yang sama, terdapat berita mengenai kondisi kaisar Jepang yang memburuk, tapi kami membeli koran itu hanya untuk memeriksa nilai tukar mata uang. Nilai Yen terus menguat terhadap Drachma. Ini sangat penting bagi kami; semakin kuat nilai yen, semakin banyak uang yang kami punya.

“Omong-omong soal kucing,” beberapa hari setelah kami membaca artikel. “Waktu masih kecil aku punya kucing yang menghilang dengan cara yang sangat aneh.”

Izumi terlihat ingin tahu lebih banyak. Ia mengangkat wajahnya dari daftar konjugasi dan melihat ke arahku. “Kok bisa begitu?”

“Aku masih kelas dua, atau mungkin kelas tiga. Kami tinggal di rumah dinas dengan taman yang luas. Ada sebuah pohon pinus tua di sana, yang saking tingginya kamu hampir tidak bisa melihat puncaknya. Suatu hari, aku duduk di teras belakang membaca buku sedangkan kucing kampung bercorak kuning hitam peliharaan kami sedang bermain di taman. Kucing itu melompat-lompat sendirian, yah, hal yang lazimnya dilakukan seekor kucing. Semakin lama ia kelihatan semakin bersemangat melompat-lompat seperti itu, ia benar-benar enggak sadar kalau aku sebenarnya sedang memperhatikan. Semakin lama aku memperhatikannya, aku jadi semakin takut. Kucing itu macam kesurupan saja, melompat-lompat tak terkendali sampai bulu-bulunya bergidik. Seakan-akan ia melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat. Akhirnya, ia berlari mengitari pohon pinus seperti macan dalam cerita Little Black Sambo. Kemudian ia mencengkram tanah untuk berhenti mendadak dan memanjat pohon hingga ke cabang tertinggi. Aku hanya mampu melihat wajah kecilnya di atas cabang itu. Kucing itu masih terlihat semangat dan gelisah. Ia bersembunyi di balik cabang pohon, memandangi sesuatu. Aku berteriak memanggil namanya, tapi ia bertingkah seolah ia tidak mendengarku.”

“Siapa nama kucing itu?” Izumi bertanya.

“Aku lupa,” jawabku. “Malam berangsur datang, wajahnya terlihat semakin gelap. Aku khawatir dan menunggu kucing itu turun. Akhirnya ia benar-benar ditelan kegelapan. Dan kami enggak pernah melihat kucing itu lagi.”

“Enggak terlalu luar biasa, sih,” ujar Izumi. “Kucing-kucing memang sering lenyap kayak gitu. Apalagi kalau mereka sedang bersemangat. Mereka terlalu girang sampai-sampai tidak ingat jalan pulang. Kucingmu pasti turun dari pohon pinus dan pergi ke suatu tempat ketika kamu sudah tidak melihatnya.”

“Kukira juga begitu,” kataku. “Tapi saat itu aku masih kecil, aku berpikiran positif saja bahwa kucing itu telah memutuskan untuk tinggal di atas pohon. Pasti ada beberapa alasan mengapa ia enggak mau turun. Setiap hari, aku duduk di teras dan melihat ke arah pohon pinus, berharap melihat kucing itu sedang mengintip melalui celah-celah cabang.”

Izumi tampaknya telah kehilangan minat. Ia menyalakan Salem kedua, kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Apakah kamu terkadang memikirkan anakmu?” tanyanya.

Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya. “Yah, kadang-kadang.” Aku menjawab jujur. “Tapi enggak terlalu sering. Adakalanya sesuatu mengingatkanku.”

“Apa enggak kepingin melihat dia?”

“Sesekali, ya,” ujarku. Tapi itu bohong. Aku hanya berpikir itulah yang seharusnya kurasakan. Sewaktu masih tinggal dengan anakku, aku pikir dia adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah kulihat. Setiap kali aku pulang terlambat, aku selalu lebih dulu masuk ke kamar anakku untuk melihat wajahnya saat tertidur. Saking gemasnya, terkadang muncul hasrat untuk memeluknya kuat-kuat hingga ia hancur. Saat ini semua tentangnya—wajahnya, suaranya, tingkah lakunya—berada di negeri yang jauh. Yang bisa kuingat dengan jelas hanyalah wangi sabunnya. Aku suka mandi bersama dan menggosoki tubuhnya. Kulitnya sangat sensitif, karena itu istriku selalu membeli sabun khusus untuknya. Yang paling kuingat dengan jelas dari anakku hanyalah wangi sabunnya.

“Kalau kamu ingin kembali ke Jepang, pulanglah,” ujar Izumi. “Jangan mengkhawatirkan aku, aku bisa mengatasi semuanya.”

Aku mengangguk. Tapi aku tahu itu tidak mungkin terjadi.

“Aku membayangkan anakmu kelak berpikir kamu juga seperti itu,” kata Izumi. “Seperti kucing yang lenyap di atas pohon.”

Aku tertawa. “Bisa jadi,” kataku.

Izumi mematikan rokoknya di asbak dan mendesah pelan. “Ayo kita pulang dan bercinta.”

“Ini kan masih pagi,” ujarku.

“Lantas kenapa?”

“Ya, enggak apa-apa, sih.”

*

Kemudian, ketika aku terbangun di tengah malam, Izumi tidak ada di sisiku. Kulihat jam tangan yang kuletakkan di dekat ranjang. Dua belas tiga puluh. Aku meraba-raba mencari lampu, menyalakannya, dan menyapu pandangan ke seluruh kamar. Segalanya nampak tenang seolah-olah seseorang menyelinap selagi aku tertidur dan menebarkan debu-debu kesunyian di dalam kamar. Dua putung Salem meringkuk di dalam asbak, kotak rokok kosong yang diremas berada di sisinya. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tamu. Izumi tak ada di sana. Ia tidak ada di dapur maupun di kamar mandi. Kubuka pintu dan memandangi pekarangan. Hanya ada sepasang kursi vinyl, berkilauan dimandikan cahaya bulan. “Izumi,” panggilku dengan suara pelan. Tak ada jawaban. Aku memanggilnya lagi, kali ini dengan suara lebih keras. Jantungku berdegup kencang. Benarkah ini suaraku? Terdengar kelewat keras, tidak alamiah. Tetap tak ada jawaban. Angin lemah dari laut mendesau ujung-ujung rumput pampas. Aku menutup pintu, kembali ke dapur, dan menuang setengah gelas anggur untuk menenangkan diri.

Pancaran sinar bulan masuk melalui jendela dapur, membuat bayangan aneh di dinding dan lantai. Segala hal nampak seperti kumpulan simbol dalam permainan avant-garde. Seketika aku ingat: keadaan malam saat kucing itu lenyap di atas pohon pinus sama dengan malam ini, malam purnama tanpa satu pun gumpalan awan di langit. Setelah makan malam, aku pergi ke teras lagi untuk melihat kucing itu. Malam telah larut, bulan sudah bercahaya. Untuk beberapa alasan yang tak bisa dijelaskan, aku tak bisa memalingkan mataku dari pohon pinus. Waktu berlalu, aku yakin aku melihat sepasang mata kucing, berkilau di antara cabang-cabang pohon. Tapi itu hanya ilusi.

Aku mengambil sweater tebal dan celana jeans, menyambar koin di atas meja , mengantunginya, dan pergi ke luar. Izumi pasti sulit tidur lantas memutuskan untuk berjalan-jalan. Pastilah seperti itu.
Angin telah benar-benar mereda. Yang bisa kudengar hanya suara sepatu tenisku berderak sepanjang jalan berbatu, seperti lagu latar sebuah film yang berlebihan. Izumi pastilah pergi ke pelabuhan, pikirku. Ia tak memiliki tempat lain yang dituju. Hanya ada satu jalan menuju pelabuhan, jadi tidak mungkin aku tidak berpapasan dengannya. Lampu-lampu rumah sepanjang jalan padam, sinar bulan keperakkan mewarnai tanah sehingga membuatnya nampak seperti dasar laut.

Ditengah jalan menuju pelabuhan, aku mendengar suara musik samar dan tersendat-sendat. Awalnya kupikir itu halusinasi—seperti perubahan tekanan udara yang membuat telingamu berdenging. Tapi, jika didengarkan dengan seksama, aku bisa mendengar sebuah melodi. Aku menahan napas dan berusaha mendengarkan sebisaku. Seperti menenggelamkan diri dalam kegelapan di dalam tubuhku sendiri. Tak pelak lagi, itu adalah musik. Seseorang sedang bermain alat musik. Secara langsung, tanpa bantuan pengeras suara. Tapi alat musik macam apa itu? Alat musik mirip mandolin yang Anthony Quinn mainkan di Zorba the Greek? Bouzouki? Namun siapa gerangan yang memainkan bouzouki di tengah malam? Dan di mana?

*

Musik itu tampaknya berasal dari desa di puncak bukit yang kami naiki setiap hari untuk melemaskan badan. Aku berdiri di persimpangan jalan, bertanya-tanya apa yang harus dilakukan, dan arah mana yang harus diambil. Izumi seharusnya mendengar musik yang sama di titik ini. Dan aku merasa yakin ia akan menuju tempat itu.

Aku mengambil risiko dan berbelok ke kanan di persimpangan, jalan menuju lereng ini yang aku tahu dengan baik. Tak ada pohon di sisi jalan, hanya semak berduri setinggi lutut yang tersembunyi dalam bayang-bayang tebing. Semakin jauh aku berjalan, semakin keras dan jelaslah musik itu terdengar. Aku juga bisa menangkap melodinya lebih jernih lagi. Ada semacam kegembiraan yang amat mencolok dalam melodinya. Kubayangkan desa di puncak bukit itu tengah mengadakan semacam kenduri. Lalu aku teringat di hari sebelumnya, di pelabuhan, kami melihat prosesi pernikahan secara langsung. Tentu musik ini berasal dari kenduri pernikahan yang diselenggarakan malam hari.

Saat itu—tanpa peringatan terlebih dahulu—aku lenyap.

Mungkin karena cahaya bulan, atau karena musik itu. Setiap kali aku melangkahkan kaki, aku merasa diriku tenggelam lebih dalam ke dalam pasir hisap yang melenyapkan identitasku; perasaan yang sama seperti saat aku berada dalam pesawat melintasi mesir. Bukan aku yang berjalan di bawah sinar bulan. Ini bukan aku, tapi pemeran pengganti, yang terbuat dari plester. Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan. Tapi ini bukan wajahku. Dan ini bukan telapak tanganku. Jantungku berdegup keras, mengirimkan darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang sinting. Tubuh ini adalah orang-orangan dari plester, boneka voodoo yang ditiupkan nyawa oleh seorang penyihir. Cahaya dari kehidupan nyata telah hilang. Pemeran penggantiku, kumpulan otot palsu yang bergerak tanpa kukehendaki. Aku hanya boneka yang digunakan untuk ritual pengorbanan.

Jadi, di manakah ‘aku’ yang sebenarnya? Aku bertanya-tanya.

Tiba-tiba suara Izumi muncul entah dari mana. Dirimu yang sebenarnya sudah dimakan para kucing. Sementara kamu berdiri di sini, kucing-kucing lapar itu sudah melahapmu—memakan seluruh tubuhmu. Dan yang tersisa hanyalah belulang.

Kupandangi sekitar. Itu hanya ilusi, tentu saja. Yang bisa kulihat hanyalah tanah yang dipenuhi bebatuan, semak-semak rendah, dan bayangan kecil mereka. Suara itu ada dalam kepalaku.

Berhentilah memikirkan kegelapan seperti itu, aku menasihati diri sendiri. Seolah berusaha menghindari ombak yang amat besar, aku berpegang erat pada batu besar di gigir pantai dan menghela nafas. Ombak itu pasti akan berlalu. Kau hanya kelelahan, ujarku pada diri sendiri, dan terlalu tegang. Berpeganganlah pada sesuatu yang nyata. Tak jadi soal apa pun itu—yang penting nyata. Aku merogoh saku untuk menggenggam koin. Koin-koin itu berkeringat di telapak tanganku.

Aku berusaha keras memikirkan hal lain. Apartemenku yang hangat di Unoki. Koleksi rekaman yang kutinggalkan di sana. Koleksi jazz-ku yang meski sedikit tapi menyenangkan. Secara khusus, aku menyukai pianis jazz berkulit putih era lima puluh dan enam puluhan. Lennie Tristano, Al Haig, Claude Williamson, Lou Levy, Russ Freeman. Kebanyakan sudah tidak diproduksi lagi, dan aku menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mengoleksi mereka. Aku rajin berkeliling toko-toko musik, tukar-menukar barang dengan kolektor lain, dan perlahan memperkaya kintakaku sendiri. Sebagian besar kualitas pertunjukkan koleksiku bukanlah sesuatu yang sering kausebut ‘kelas satu’. Tapi aku menyukai keunikannya, suasana intim yang disampaikan oleh rekaman tua dan apak itu. Dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan jika hanya diisi oleh produk kelas satu, bukan? Saat ini, aku merasakan kembali setiap detail dari sampul rekaman lawas itu—berat dan bobot dari album itu ada di tanganku.

Namun kini, kenyataannya, semua itu sudah lenyap untuk selamanya. Dan aku sendirilah yang melenyapkan mereka. Tak akan pernah lagi aku mendengar rekaman-rekaman itu di sisa hidupku.

Aku mengingat aroma tembakau saat aku mencium Izumi. Rasa bibir dan lidahnya. Kututup mataku. Aku ingin ia ada di sisiku. Aku ingin ia menggenggam tanganku, seperti yang ia lakukan saat kami terbang melintasi mesir, dan takkan lepas.

Ombak itu akhirnya menghantamku dan pergi begitu saja, dan pula musik itu.

Apakah mereka berhenti bermain? Mungkin saja begitu. Lagipula, ini sudah hampir pukul satu. Atau mungkin sebenarnya musik itu tidak pernah dimainkan. Itu pun sangat mungkin. Aku sudah tak memercayai pendengaranku. Aku memejamkan mata lagi dan tenggelam ke dalam kesadaranku—menurunkan suara, membiarkan segalanya tenggelam ke dalam kegelapan itu. Tapi aku tidak mendengar suara apa pun. Tak ada gema.

Aku melihat jam tangan. Dan baru menyadari aku bahkan tak mengenakannya. Sambil mendesah, aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Aku tidak terlalu peduli soal waktu. Kupandangi langit. Bulan mengambang seperti karang yang dingin, kulitnya habis digerogoti waktu yang tak kenal kasihan. Bayang-bayang di permukaannya seperti kanker yang tengah memperluas wilayahnya. Cahaya bulan memperdaya pikiran manusia. Melenyapkan kucing. Dan ia juga melenyapkan Izumi. Mungkin kejadian malam ini sudah disusun dengan hati-hati, dimulai dari malam saat kucing itu menghilang.

Aku menggeliat, melemaskan lenganku, jemariku. Haruskah kulanjutkan, atau kembali dengan cara yang sama seperti aku datang? Kemanakah Izumi pergi? Tanpanya, bagaimana aku bisa terus bertahan hidup, sendirian di pulau terpencil ini? Ia satu-satunya hal yang menyatukan kerapuhan, kelabilanku.

Aku terus menanjak ke atas bukit. Aku sudah datang sejauh ini dan lebih baik sampai ke puncak. Benarkah ada musik di sana? Aku harus memastikannya sendiri, bahkan meski hanya tersisa sedikit bukti. Dalam lima menit, aku telah mencapai puncak. Di sebelah selatan, bukit melandai ke laut, pelabuhan, dan kota yang terlelap. Lampu-lampu jalan menghiasi jalan raya sepanjang pantai. Sisi lain bukit terbungkus kegelapan. Tak ada indikasi apa pun yang menunjukan bahwa pesta pernikahan baru saja di gelar di sana beberapa saat lalu.

Aku kembali ke apartemen dan menenggak segelas brandy. Berusaha tidur, namun tak bisa. Hingga cahaya muncul di ufuk timur, aku masih berada dalam cengkraman rembulan. Lalu tiba-tiba saja, aku membayangkan tiga kucing itu, nyaris mati kelaparan di dalam apartemen yang terkunci. Aku—yang benar-benar aku—sudah mati, dan kucing-kucing itu hidup, menyantap dagingku, menggigit jantungku, menghisap darahku, melahap penisku. Samar-samar, aku dengar suara mereka menjilat menjilati otakku. Seperti penyihir dalam Macbeth, tiga kucing lincah mengelilingi kepalaku yang hancur, menyeruput sup kental di dalamnya. Ujung lidah mereka yang kasar menjilat lipatan-lipatan pikiranku yang lunak. Dan tiap jilatan mereka membuat kesadaranku berkedip-kedip seperti lidah api dan memudar.

Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen ketiga Haruki MurakamiBlind Willow, Sleeping Women; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh admin Agraria dari terjemahan bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Beres juga hehe oh iya, kalau ada yang mau mendiskusikannya, silakan. Atau ingin memperbaiki cacat di sana sini, silakan. Atau kalau ada yang mau baca versi inggrisnya, di sini: Man-Eating Cats by Haruki Murakami Wah, saya suda dipanggil si bos. Waktunya lanjut nyangkul.

Salam,
Agraria

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s