Zulfikar

gambar di ambil dari grafik novel A God Somewhere karya John Arcudi dan Peter Snejbjerg
gambar di ambil dari grafik novel A God Somewhere karya John Arcudi dan Peter Snejbjerg

 

Buddha Gautama meninggalkan umatnya dengan berkata, “Jangan percaya begitu saja akan apa yang kau dengar.” Sementara politikus sibuk berteriak lantang, “Percayalah dengan apa yang kukatakan, percayalah pada apa yang kalian dengar!”

Pagi ini Zulfikar duduk di dalam kereta menuju Jakarta, kota yang tak jelas lagi siapa yang membentuk dan siapa yang dibentuk. Selepas membaca sebuah berita politik, seperti biasa, kepalanya pusing. Seolah baru saja menghisap sebatang ganja dan terlempar jauh ke dunia yang tak dikenali, negara yang sama sekali tak pernah ia tahu keberadaannya. Berita itu berbicara tentang situasi sebuah negara yang namanya sama dengan nama kewarganegaraannya di kartu identitas, nama yang sama dengan ingatannya 16 tahun lalu, tetapi entah bagaiamana terasa begitu asing. Meski memiliki nama yang sama, negara yang dibahas di situs berita online itu bukanlah negara yang ia kenal. Seberapa kenal ia dengan negaranya, ia tidak tahu. Akan tetapi ia merasa yakin, itu bukan negaranya. Secara faali berita politik itu tentu saja bukan untuknya.

Deru roda besi yang bergesekkan dengan rel, wangi deodoran dan keringat penumpang, dan decak gelisah perempuan paruh baya di sisinya yang tiap lima menit sekali melirik jam tangannya menjadi semacam musik relaksasi yang mengantar Zulfikar untuk menggali ingatannya lebih dalam tentang negaranya sendiri. Bongkahan memori yang membuatnya bisa merasa yakin bahwa benar ia benar-benar mengenali negara di dalam berita itu, mengenali politikus yang berbicara omong kosong di sana, dengan merasa yakin tentu saja ia bisa menemukan harapan. Orang bilang harapan itu penting, kamu boleh tidak sarapan asal jangan kehilangan harapan untuk makan siang. Begitu yang pernah ia dengar. Namun yang menggelikan, semakin dalam ia menggali, ia jadi semakin sangsi. Apakah ia menggali untuk mengenali, atau ia menggali untuk semakin tak mengenali? Penggalian memori yang ia lakukan menjadi semacam perayaan kesia-siaan dalam bentuknya yang lain.

Bagaimana ia yakin bahwa di planet ketiga dari matahari ada gugusan pulau yang diklaim sebagi negara, dan diberi nama, dan negara itu bukan bagian dari mimpi buruknya?

Bagaimana ia yakin di negara itu pernah terjadi peristiwa besar seperti Sumpah Pemuda, perang kemerdekaan, hari kemerdekaan, serta berbagai kejadian heroik di masa lampau, dan bukan hanya untuk mempertebal buku sejarah anak sekolah?

Bagaimana ia yakin negara itu pernah membantai Etnis Tionghoa di tahun 1740, membunuh jutaan pengikut komunis di antara tahun 1965 hingga 1966, memperkosa perempuan tionghoa, pembantaian yang disembunyikan, yang terang-terangan, menculik mereka yang dituduh mengancam stabilias nasional, memaksa Munir meninggalkan dunia, membiarkan Ahmadiyah, Syiah, dan kaum minoritas lainnya terus hidup dalam ketidak-pastian, juga secara sistematis menyiksa penduduknya dengan kemiskinan dan kebodohan?

Bagaimana ia yakin itu adalah nama sebuah negara dan bukan nama seorang maniak?

Bagaimana ia yakin pantai dan gunung yang indah itu adalah tempat mencari ketenangan, dan bukan sebuah tempat untuk objek foto, ajang pamer, juga bentuk lain dari penjajahan? Apakah pelesir dan ziarah akan kehilangan makna jika tak ditemukan sebuah teknologi penangkap waktu bernama kamera?

Bagaimana ia yakin berpuluh tahun lalu pernah hidup orang-orang besar dan hingga kini masih ada pengikut yang senantiasa mengamalkan ajarannya, dan bukan hanya untuk mencomot satu dua kalimat sebagai pegangan iman atau dipajang di media sosial?

Bagaimana ia yakin kemanusiaan itu ada, dan bukan hanya istilah yang dibikin untuk penghias mimpi buruknya?

Kemanusiaan di negara ini seperti bintang yang telah menempuh jutaan tahun cahaya hingga hanya terlihat samar di langit malam, bintangnya sendiri barangkali sudah lama musnah. Apa yang Zulfikar lihat berkelip di langit malam hanya jejak dari masa yang amat lampau. Apakah betul negara ini benar-benar ada? Pikirnya.

Informasi begitu mudah didapat, hingga Zulfikar mesti bertanya ulang apa arti kata ‘informasi’ sesungguhnya. Setiap hari orang-orang menggaungkan kebenaran dan kalimat bijak tanpa pernah menyadari bahwa kebenaran dan kalimat bijak yang terus dibicarakan justru mengikis kebenaran dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Menihilkan makna, dan semakin memperjelas bahwa sesungguhnya mereka sedang merayakan kesia-siaan yang sama dengan yang ia rasakan. Kesia-siaan purba, yang mengalir dalam tubuh Adam Hawa sejak keduanya menyantap buah terlarang.

Zulfikar memandangi sekitar, gerbong ini sesak sekaligus sepi. Para pekerja dengan pikirannya masing-masing berusaha mendefinisikan apa yang ditangkap tubuhnya, berpikir bahwa mereka tidak sendirian. Dua karyawati membincangkan penyakit seorang artis, dua lelaki di belakangnya menempelkan kemaluannya di bokong perempuan itu sambil terus membicarakan ponsel dan pekerjaan mereka. Tiga siswa membicarakan betapa susahnya soal Ujian Nasional, seorang bapak botak terus menelepon seseorang, dan ibu tua yang bercerita kepada seorang gadis yang baru ia temui di dalam gerbong. Dengan lantang, ibu tua itu menceritakan anak lelakinya yang sukses di negeri seberang dan tak pernah lupa mengirimkan uang, anaknya sendiri tak pernah pulang. Orang-orang di dalam gerbong ini terus menciptakan keramaian setebal-tebalnya agar kesepian tak mencuat ke permukaan. Mengecoh kesepian, sebab sepi konon menyakitkan. Sialnya, itu sia-sia.

Orang-orang sibuk dengan kecemasan masing-masing; pekerja mencemaskan gaji yang tak kunjung naik, bos mencemaskan pergerakkan buruh, buruh mencemaskan harga yang membumbung, anak sekolah mencemaskan ujian kelulusan, guru mencemaskan reputasi sekolah jika siswanya banyak yang tak lulus, sarjana cemas tak dapat kerja dengan upah yang dapat mengembalikkan uang yang mereka habiskan untuk kuliah bertahun-tahun, pemeluk agama mencemaskan pemeluk agama lain, masa depan mencemaskan masa lalu, masa lalu cemas kelak dilupakan. Bagaimana ia yakin bahwa negara tidak sedang memelihara kecemasan agar penduduk lupa memelihara kemanusiaan?

Zulfikar menyentuh layar telepon selularnya untuk menampilkan situs berita nasional, memeriksa judulnya satu per satu. Berharap satu dari sekian banyak berita yang masuk bisa meyakinkan dirinya bahwa, ya, ia adalah bagian dari negara itu. Dan, ya, Negara itu ada, memenuhi syarat mutlak untuk bisa diakui dunia. Ada, dan sedang berkembang menuju tiada, tak dikenali oleh penduduknya sendiri.

“Zul, buat apa sih mikirin kemanusian?” tanya Negara di dalam pikirannya. “Kemanusiaan gak ada duitnya. Kamu baut kecil dalam sistem gigi roda penggerak mesin ini. Jika kamu aus, kamu tidak berguna lagi. Jika kamu tidak berguna, kamu akan ditendang. Selagi berguna, perbanyak kerja, kurangi mikir. Ikuti seminar kesuksesan, beli buku motivasi, agar kamu tahu apa itu sukses versi kami.”

Zulfikar membalik pikirannya dengan tiba-tiba, ia tak kepingin berjumpa dengan Negara. Kini, matanya terpejam menikmati perjalanan kereta. 15 menit lagi ia akan sampai di stasiun tujuan, pulang, untuk besok kerja lagi. Rute yang sama lagi. Kebosanan yang sama lagi, kebosanan yang saking bosannya sudah tak perlu lagi ia keluhkan. Jauh di dalam pikirannya, ia merindukan sesuatu. Sebuah tasik kecil di bukit tanpa nama, ia akan mencelupkan kakinya di sana, merasakan dingin naik dari kaki hingga kepala sambil memandangi tiga bongkah awan berarak ke timur, angin bertindak serupa penggembala sabar yang menggiring awan-awan itu.

Apakah manusia yang membentuk kota, atau kota yang membentuk manusia? Apakah manusia yang membentuk negara, atau negara yang membentuk manusia menjadi apa yang negara mau, negara perlukan? Ia tidak tahu.

Zulfikar gelisah, ia tetap sabar menerima kenangan yang diceritakan kembali padanya oleh tubuh benak yang tak kalah gelisah. Ia tahu, sejak menara Babel runtuh, manusia seharusnya menumbuhkan sayap untuk menggapai langit bukan melulu berkonflik di bawahnya. Sejak Tuhan tak lagi ikut campur urusan jagat raya, duduk manis di singgasana dan menanti, manusia seharusnya sudah mesti bekerja untuk kemanusiaan. Bukan untuk Tuhan, negara, atau agama. Tetapi, untuk merasa ada, sepertinya manusia memerlukan konflik.

 

***

 

Pukul 1 dini hari, lepas tahajud Zulfikar terpekur. Waktu yang tepat untuk memikirkan keabadian.

Town Without Pity dari Gene Pitney telah sampai pada bagian outro, setelah ini Stevie Wonder akan melantunkan My Chery Amour, melagukan harapan. Ia tahu, ia hafal daftar putar lagunya yang tak pernah berubah sejak dua atau tiga tahun terakhir. Apakah istilah ‘harapan’ diciptakan manusia agar bisa membuat lagu-lagu yang manis? Zulfikar tidak tahu. Ia bahkan tidak tahu apa yang sepanjang hari ia pikirkan. Satu belum selesai, sudah lompat ke pemikiran lain. Ia hanya seorang pegawai biasa. Membaca banyak buku atau mendengarkan banyak lagu tak lantas membuatnya naik gaji. Tetapi, ia senang menyibukkan diri dengan memikirkan sesuatu yang sia-sia. Minimal, Zulfikar tak perlu menyakiti orang lain selagi ia belum bisa memastikan apakah yang ia lakukan berguna bagi orang lain.

Di waktu yang sama, jutaan orang masih terus berbicara. Seolah mereka takut, sekali saja mereka berhenti bicara peradaban akan musnah. Padahal, kesunyian juga patut dirayakan jika kita belum paham betul apa yang akan kita bicarakan.

Surga dan neraka itu ada, dan sangat dekat; pikiran sendiri.

 

 

Agraria

Bogor, 20 Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s