JENDELA

image

“Jendelanya nanti jangan lupa dikunci ya, Mas.” Seorang lelaki menegurku dari balik jendela. Karena gelap, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Aku baru menempati kamar ini tadi sore dan belum berkenalan dengan siapapun selain induk semangku. Setelah menerima kunci kamar, aku memindahkan empat kardus yang berisi benda-benda dari kamar indekosku yang lama dan dua buah ransel berisi pakaian dari mobil sewaan ke dalam kamar. Selesai memindahkan semua itu, aku merebahkan diri di atas ranjang dan tertidur pulas, lalu terbangun satu jam yang lalu karena lapar.

Aku kira, lelaki bersepeda itu adalah satpam komplek. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya berkeliling meski cuaca sedang tidak bersahabat. Aku bangkit untuk menyalakan lampu kamar agar wajah lelaki itu terlihat lebih jelas. Tetapi, belum sempat aku melihatnya, ia sudah berbalik dan mengayuh sepedanya menjauhi jendela.

Punggung lelaki itu terlihat samar di tengah guyuran hujan, kelamaan lenyap seutuhnya di telan kegelapan.

Aku menghampiri jendela. Ratus titik air meluncur bergantian di permukaan kaca seperti anak-anak yang mengantri papan seluncuran di taman bermain. Angin yang masuk ke dalam kamar membawa serta air hujan, membasahi tirai cokelat bermotif bunga, lantai, dan dua kardus yang berisi buku di kolong meja belajar. Aku mengutuk kelalaianku sendiri, dan bersyukur telah diingatkan orang tadi. Jika tidak diingatkan, bisa jadi jendela ini akan terbuka sampai pagi.

*

“Bagaimana indekos barumu?” tanya seorang teman kantorku saat jam istirahat. Kantin kantor siang itu sangat penuh, seperti siang kemarin, dan kemarinnya lagi. Wangi masakan mengambang di udara, bercampur dengan aroma parfum, deodoran, dan tentu saja, wangi keringat. Menghasilkan wangi baru yang cukup aneh sekaligus adiktif.

“Cukup nyaman,” jawabku sambil berusaha menusuk sebuah bakso berukuran kecil. Ketika makan bakso, aku selalu menghabiskan mi dan sayur terlebih dahulu sebelum menyantap bola-bola dagingnya. Salah satu kebiasaan masa kanak-kanak yang terbawa hingga dewasa.

“Tak ada kejadian aneh?”

Aku menoleh ke arahnya.

“Kejadian aneh?”

“Maksudku kejadian seperti lampu yang nyala mati sendiri, derit pintu, suara langkah orang, jeritan samar, atau semacamnya.”
Sambil menahan tawa, aku menggeleng kecil. “Kau terlalu banyak membaca Goosebump.”

Ia menjitak kepalaku.

Keheningan menghampiri kami hingga selesai makan. Ia meminum habis es teh manis setelah itu memanggil pelayan untuk memesan es teh manis lagi. Aku meminum jus mangga sedikit, lalu mengeluarkan kotak rokok dan korek dari saku celana.

“Baguslah kalau tak ada kejadian aneh.” Ia menepuk pundak kananku tiga kali, “Soalnya, kudengar indekos yang kamu sewa itu banyak hantunya.”

Aku jadi teringat dengan lelaki yang mengingatkanku untuk menutup jendela. Maka kuceritakan saja kejadian itu, sekadar bahan perbincangan sembari menunggu waktu istirahat berakhir.

“Baik sekali orang itu, ya?” komentarnya setelah ceritaku selesai. “Satpam yang bertanggung jawab.”

Aku mengangguk. “Kalau aku tahu siapa namanya, mungkin akan kutraktir segelas kopi. Yah, sebagai ucapan terima kasih.”

“Sebaiknya nanti sepulang bekerja, kau cari dia di pos satpam. Sedikit bersosialisasi, lah. Jangan menyendiri terus. Lagipula, nggak sulit mencari seseorang selama kau mau bertanya, kan?”

Dia benar. “Baiklah, pulang kerja nanti aku mampir dulu beli makanan ringan sebelum ke pos satpam.”

Ia melirik jam tangan, kemudian memberi isyarat bahwa jam istirahat telah berakhir dengan embusan nafas panjang. Ia bangkit dari kursi, mengambil dompet, kemudian berjalan ke kasir. Aku mematikan rokok di asbak, kemudian mengikutinya.

“Nanti malam kau menginap saja,” tawarku.

“Apa boleh bawa perempuan?”

“Tentu saja. Kalau kau punya.”

Ia tertawa hingga kedua bahunya berguncang sambil mengucapkan kalimat kasar.

“Aku ada urusan kecil nanti sore, setelah urusanku selesai aku akan mampir ke tempatmu.”

“Oke, aku tunggu.”

“Oh, iya. Kamarmu nomor berapa?”

“Nomor 15. Paling atas, lantai tiga.”

“Lantai tiga?”

Lantai tiga. Aku mengulang pernyataanku dan pertanyaannya dalam hati. Aku baru menyadari satu hal penting yang bisa membuat Sir Isaac Newton terkejut hingga bangkit dari kuburnya, andai ia tahu.

*

Temanku tak jadi menginap, ia hanya menitip salam untuk lelaki bersepeda itu jika malam ini ia datang lagi. Salam kenal. Lelucon yang bagus.

Aku tetap saja harus pulang ke kamar yang baru kusewa itu. Pertama, aku sudah membayar uang sewa selama tiga bulan. Kedua, aku tak punya uang lagi untuk menyewa kamar baru. Ketiga, lihat poin pertama dan kedua.

Aku berteori bahwa lelaki bersepeda itu hanya imajinasiku saja, buah dari kesepianku. Dan jawabannya sangat sederhana, aku perlu seorang teman. Maka, sambil bekerja aku menyusun kriteria teman yang cocok untuk tinggal bersamaku; tidak merepotkan, tidak banyak bicara, dan tidak memercayai keberadaan hantu. Syarat yang terakhir adalah yang terpenting, tidak percaya hantu artinya tidak takut hantu.

Aku sendiri tidak peduli akan keberadaan hantu, ada atau tidaknya hantu tak ada urusannya denganku. Seumur hidup aku belum pernah melihat hantu, itulah mengapa aku berkesimpulan lelaki itu hanya imajinasiku saja, proyeksi ingatan, kepingan memori dari film horor yang pernah kulihat atau novel misteri yang kubaca. Tetapi, kupikir, hanya karena aku belum pernah melihatnya belum tentu hal itu tidak ada, bukan?

Itulah mengapa aku tidak mendukung orang yang percaya hantu maupun yang tidak percaya. Teman-teman di kantorku sering memperdebatkan hal itu, dan menurutku itu sangat konyol. Mereka memiliki beberapa tema utama yang diperbincangkan di waktu istirahat: gaji yang tak kunjung naik, alat elektronik yang diidamkan, parfum, atasan yang brengsek, teman yang menjilat atasan, ajang pencarian bakat di televisi, dan hantu. Aku tak tertarik dengan semua itu, karena itu saat bersama mereka aku kerap merasa bukan bagian dari mereka. Syukurlah, mereka tahu aku tidak menyukainya, jadi aku tak perlu dimintai pendapat tentang apa-apa, termasuk pendapat mengenai hantu. Aku sungguh-sungguh tidak peduli. Satu-satunya yang kupedulikan saat ini, kesepianku harus diusir.

Setelah kupikirkan masak-masak hanya ada dua teman yang memenuhi kriteria tadi: hewan dan tumbuhan. Awalnya pilihanku jatuh ke tumbuhan; sebuah pohon jeruk kecil atau bunga anggrek tentu tak akan merepotkan, tak banyak bicara, dan tidak percaya hantu. Andai pohon percaya hantu, tentu pohon akan lari ketika ia tahu ada hantu yang bersantai di dahannya. Tapi pohon tidak lari. Dan percayalah, pohon yang bisa berlari atau berbicara seperti manusia akan sama menakutkannya dengan hantu. Atau mungkin lebih menakutkan.

Sepulang kerja, aku bergegas menuju toko tanaman yang terletak tak jauh dari gedung tempatku bekerja. Toko tanaman itu diapit toko musik dan rental DVD, aku sering melewatinya ketika hendak menyewa DVD. Namun sialnya, toko tanaman itu telah tutup. Aku melirik jam tangan, pukul lima lewat empat menit.

Pegawai rental DVD menegurku, ia memberitahukan ada film baru. Aku berterima kasih dan menjelaskan bahwa saat ini aku tak berminat untuk menyewa DVD, aku ingin membeli tanaman. Ia menjelaskan toko tanaman tutup pukul setengah lima.

“Mas tahu nggak toko hewan di dekat sini?” tanyaku.

“Oh, ada, Mas. Di dekat pangkalan ojeg depan perumahan itu,” jawabnya. “Kalau nggak salah, sedang ada diskon anak anjing di situ.”

Aku menggeleng. “Saya mau pelihara kupu-kupu.”

Ia menatapku heran. Memelihara kupu-kupu. Seolah sadar bahwa itu bukan urusannya, ia melirik jam tangan. “Biasanya, sih, jam lima sudah tutup. Tapi dicoba saja, Mas.”

Aku berterima kasih, kemudian bergegas menuju kawasan perumahan yang ia tunjukkan. Perumahan tempat indekosku berada. Aku tidak tahu ada toko hewan di situ. Pangkalan ojeg, kalau tidak salah, dekat dengan pos satpam. Kabar baiknya, jika lelaki yang mengingatkanku untuk menutup jendela itu adalah seorang satpam, barangkali aku bisa bertemu dengannya sekali lagi.

*

Toko hewan itu ternyata ada, dan baru akan tutup. Sebuah toko kecil yang terhalang tumpukan motor yang berbaris di depannya, tanpa papan nama atau gambar hewan untuk menegaskan identitasnya. Pantas saja aku tak menyadari keberadaan toko itu.

Penjaga toko yang tengah mengunci pintu tersenyum ramah kepadaku, ia tak jadi menutup toko. Aku membalas senyumannya dan seolah mengerti, ia membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Aku mengikutinya dari belakang.

Wangi khas toko hewan menyeruak masuk ke dalam hidungku. Percampuran wangi kotoran hewan, makanan mereka, nafas, dan wangi nyawa membentuk kolam udara di dalam ruangan sempit yang nyaris seukuran dengan kamar sewaanku. Dan aku nyaris kehabisan nafas menyelaminya. Jika aku bertanya bagaimana penjaga itu tahan berlama-lama di dalam ruangan ini, mungkin ia akan menjawab itu adalah rahasia perusahaan.

Kehadiranku disambut sepasang mata kucing Persia berbulu cokelat yang kandangnya diletakkan persis di depan pintu masuk. Di atas kandang kucing itu terdapat kandang lain yang ukurannya sama tetapi berisi anak anjing berwarna putih, entah jenis apa. Anjing itu menjulurkan lidah sembari menggaruk telinga kirinya.

Ada banyak sekali pilihan selain kucing dan anjing itu: burung kakatua yang terus mengoceh, musang, hamster, tikus putih, ular, katak, landak kecil, kura-kura, bahkan burung hantu. Siapa gerangan yang hendak memelihara burung hantu? Pikirku. Pasti ada, tetapi aku bukan salah satunya.

“Dipilih dulu saja, Mas,” ujarnya sambil tangannya mengelus bulu burung kakatua. “Anjing jenis apapun didiskon 30%. Atau Mas mau jual hewan?”

Aku menggeleng. Orang itu mengerikan. Tidak hanya melakoni bisnis jual-beli nyawa dan memberi nyawa-nyawa itu harga, ia juga mengorting harga nyawa makhluk hidup. Tetapi tidak bisa disalahkan juga, kenyataannya manusia melakukan cara apapun untuk bertahan hidup.

Mataku tertuju pada akuarium kecil berbentuk persegi panjang yang berisi seekor ikan mas koki. Sisik ikan itu berkilauan ditimpa cahaya matahari sore yang masuk melalu ventilasi kecil, membuatnya terlihat begitu dramatis. Seolah itulah alasan ia dia diletakkan di sana, agar terlihat dramatis dan menarik minat pelanggan. Ikan, itulah hewan yang memenuhi syarat untuk menjadi teman sekamar.

“Ikan itu harganya berapa?” tanyaku sambil menunjuk ikan yang kumaksud.

Penjaga toko menyebutkan harga dan menyampaikan penjelasan yang agak berlebihan, seolah itu adalah ikan mas koki terakhir di muka bumi.

Aku berjalan mendekati ikan kesepian itu. “Tinggal satu?”

“Yang lain sudah terjual satu bulan lalu, hanya tinggal itu saja.”

Aku memutuskan untuk membelinya, mungkin berdasarkan persamaan nasib.
Penjaga toko mengeluarkan plastik transparan dan mengisinya dengan air.

“Eh, nggak sama akuariumnya, Mas?” sergahku.

“Wah, kalau sama akuariumnya harganya bisa sepuluh kali lipat, Mas.”

Aku mengeluarkan uang dan menyerahkan kepadanya. Ia tersenyum simpul, lalu berjalan mendekati akuarium.

“Mas nggak akan menyesal beli ikan ini, percaya deh.”
Tentu saja.

*

Setelah perjalanan yang tidak terlalu jauh tetapi terlalu banyak mata yang memandang aneh, akhirnya aku tiba di depan gerbang indekosku. Ada larangan membawa hewan peliharaan dan membawa wanita ke dalam indekos, maka terpaksa aku harus izin terlebih dahulu. Tidak sulit mendapatkan izin memelihara ikan, ikan tidak bisa menggonggong dan ia buang air di dalam air. Buang air di dalam air. Tentu saja tidak akan merepotkan siapapun. Hal tersulit adalah mencari alasan ketika induk semangku bertanya untuk apa melihara ikan. Akhirnya aku berbohong, kantorku mendapat klien perusahaan pakan ikan dan aku mendapat tugas untuk meneliti makanan apa yang disukai dan tidak disukai ikan. Sungguh kebohongan yang tidak dapat dipercaya. Anehnya, induk semangku percaya. Lebih tepatnya, sebenarnya ia tak terlalu peduli jawaban atas pertanyaannya. Andai kujawab ikan mas koki ini akan dilatih untuk diterbangkan ke bulan pun, ia pasti akan tetap mengizinkan.

Tiba di kamar, kuletakkan akuarium itu di atas meja belajar dekat jendela. Memerhatikan bagaimana ia bergoyang-goyang di dalam air, siripnya melambai-lambai seperti bendera ditiup angin kemarau, dan mulutnya tak berhenti melakukan gerakan membuka dan menutup, seperti bicara namun tanpa suara. Atau aku yang tak mampu mendengar suaranya? Entahlah.

Aku tak percaya, aku baru saja menukarkan beberapa lembar uang dengan makhluk hidup. Untuk teman sekamar.

*

Aku terbangun tengah malam karena ingin buang air kecil. Dan saat kubuka mata, seseorang duduk di ranjangku. Seorang perempuan. Menyadari aku terbangun, dengan cepat ia melihat ke arahku sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir dan mendesis. Memerintahkan aku untuk diam.

Anehnya, aku menuruti perintahnya. Dan karena tak tahan lagi, aku bergegas bangun dari tempat tidur menuju toilet. Barulah sehabis buang air kecil, aku menyadari hal yang harus kulakukan ketika menemukan orang asing di dalam kamarku. Terlebih ini sudah lewat tengah malam. Bagaimana jika ia bermaksud jahat?

Tunggu. Bagaimana jika perempuan tadi adalah bagian dari mimpiku yang terputus di tengah jalan? Tapi seingatku, tidurku nyenyak tanpa mimpi. Untuk memastikannya, aku harus keluar dari toilet ini. Sebelum itu, aku harus membasuh wajah. Memastikan kesadaranku telah kembali dengan cara mengetahui apakah kulit wajahku bisa merasakan dinginnya air.

Dan ternyata, bisa.

Aku membuka pintu toilet dengan hati-hati, berusaha agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Setelah memastikan pintu toilet tertutup rapat, aku berdiri di depan pintu, berusaha menembus kegelapan kamarku dan mencari sosok perempuan tadi. Di atas ranjangku, samar-samar aku melihat bayangan seseorang tengah duduk, aku tak bisa memastikan ke arah mana ia melihat. Mataku belum terbiasa di dalam gelap.

“Apa yang sedang kamu lakukan di situ?” perempuan itu bertanya tanpa rasa bersalah. Maksudku, ia salah, seharusnya akulah yang bertanya seperti itu.

“Siapa kamu?”

“Soal itu, lebih baik dirahasiakan.”

Dirahasiakan? Ah, lucu sekali. “Kamu ada di dalam kamarku, aku berhak tahu.”

“Kamu sudah tahu, kan, aku nggak bermaksud jahat.”

Dengan cepat aku memikirkan kejahatan apa yang bisa ia lakukan terhadapku. Barangkali, ia akan memperkosaku? Apakah seorang perempuan dewasa memperkosa lelaki berusia 27 tahun termasuk kejahatan? Entahlah. Tapi rasanya meskipun termasuk kejahatan, jarang sekali diperkarakan. Atau, ia datang untuk mencuri? Apa yang hendak ia curi? Tak ada barang mewah yang kumiliki. Aku akan dengan suka rela memberikan komputer jinjing yang penuh virus dan telepon selular milikku yang barangkali tidak lebih mahal dari miliknya. Tak perlu repot-repot mencuri. Jika ia ingin mencuri buku-bukuku, ambil saja, toh, aku sudah membaca semuanya. Atau, ia datang untuk membunuhku? Yang benar saja.

“Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Bersembunyi.”

Setelah meyakinkan diri, aku berjalan mendekatinya. “Perlu kamu tahu, aku tak ingin bermasalah dengan siapa pun.”

“Dia selalu membuat masalah dengan siapa pun.” Perempuan itu mengambil kotak rokok milikku di atas meja. “Bahkan denganmu.”

“Dia? ‘Dia’ siapa?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar seolah pertanyaanku tadi adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar.

“Aku nggak tahu siapa ‘dia’ yang kamu maksud, dan nggak berniat untuk berkenalan dengannya.” Aku berkata agak keras. “Setelah rokokmu habis, sebaiknya kamu pergi dari sini.”

Ucapanku tadi mengingatkanku akan satu pertanyaan penting lainnya. “Oh, iya. Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kamarku?”

“Jendelamu tidak dikunci.”

Jendela?

Pandanganku beralih ke jendela. Benar, jendelaku terbuka. Seingatku, aku sudah menguncinya sebelum tidur. Apa benar aku sudah menguncinya? Aku mengutuk ingatanku yang benar-benar payah sambil berjalan mendekati jendela, menutupnya, kemudian menguncinya. Ini penting, kini perempuan itu terjebak di dalam kamarku. Sebentar lagi aku akan menyergapnya, berteriak hingga seluruh penghuni indekos  akan terbangun. Ia akan tertangkap dan malam berakhir, tidur dan segala omong kosong ini akan segera kulupakan, paginya aku bisa kembali hidup seperti biasa.

“Sebaiknya kamu mulai memastikan apa fungsi jendela itu untukmu; memperlihatkan sesuatu, atau menyembunyikan sesuatu.”

Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan, namun aku merasa terganggu dengan kalimatnya.
Perempuan itu menyalakan rokok. Cahaya jingga dari korek gas mengarsir lekuk wajahnya. Nampaklah sepasang mata, satu hidung, dan bibir yang menjepit filter rokok. Meski tak terlalu jelas dan hanya sepersekian detik, aku bersyukur wajah perempuan itu tidak rata.

Bara rokok melayang naik turun. Aku mendekati ranjang, mungkin pembicaraan baik-baik akan mengubah suasana, dan aku bisa menyuruhnya keluar dari kamar baik-baik sebelum aku memutuskan untuk menangkapnya. Mungkin ia jujur, ia hanya ingin bersembunyi. Kalau begitu, aku menjelaskan bahwa aku tak ingin terlibat masalah apapun. Aku berkata dengan suara pelan, ia boleh sembunyi di kamarku selama ia bisa memastikan aku tak akan tersangkut masalahnya.

“Tapi ini bukan hanya masalahku, ini masalahmu juga. Masalah semua orang.”

“Masalah semua orang?”

Ia mengangguk.

“Menarik,” jawabku sambil tersenyum ramah, entah ia melihat atau tidak. “Masalahnya, aku merasa tak memiliki masalah dengan siapa-siapa. Aku hanya pekerja kantor yang setiap pagi pergi ke kantor, dan pulang di sore hari. Temanku sedikit, dan dapat kupastikan aku tidak memiliki masalah dengan mereka. Semakin sedikit teman, semakin sedikit masalah. Logika yang cukup masuk akal, bukan? Dan sejauh ini hidupku baik-baik saja.”

“Tapi, tak ada satupun orang yang tak memiliki masalah.” Ia menghembuskan asap. “Terlebih dengan dia.”

Aku berjalan mendekati ranjang sambil berusaha menahan emosi. Saat duduk di sisinya, tercium wangi parfum beraroma jeruk. “Baiklah, bagaimana kalau kamu mulai menjelaskan siapa ‘dia’ yang kamu maksud. Barangkali aku mengenalnya, dan bisa membantumu.”

“Kamu mengenalnya, sangat mengenalnya. Tapi percuma, kamu nggak akan bisa membantuku. Kamu bahkan nggak bisa membantu dirimu sendiri untuk lari darinya.”

“Aku nggak lari dari siapa pun.”

“Ya, kamu lari dari sesuatu. Setiap orang selalu berlari dari sesuatu, dan jika pelarian yang satu telah usai, mereka akan memulai pelarian lain. Dan percayalah, apapun ‘sesuatu’ yang mereka kejar adalah bentuk lain dari dia. Dia bisa berubah bentuk sesuka hati. Bahkan dia bisa menjadi kamu, menjadi aku.” Ia menawarkan sekotak rokok.

Kuambil kotak rokok dari tangannya, kemudian mengeluarkan satu batang lantas membakarnya. Tak ada gunanya memaksa perempuan itu untuk menjelaskan siapa dirinya dan siapa ‘dia’ yang ia maksud. Lebih mudah menganggap perempuan itu gila ketimbang harus memahami apa yang ia ucapkan. Aku terlalu lelah untuk berpikir keras. Jika perempuan itu ingin bersembunyi, baiklah, kuberikan tempat persembunyian. Tetapi pagi-pagi sekali ia harus pergi sebelum induk semangku mengetahui kehadirannya. Aku tak mau membuat masalah di minggu pertama.

“Kita ganti topik saja,” ujarku, menyerah.

“Baiklah.”

“Apa yang ingin kamu bicarakan?”

Ia menghembuskan asap rokok. “Entahlah. Menurutmu apa yang biasa dibicarakan lelaki dan perempuan pada pukul dua dini hari?”

“Pisang,” jawabku asal.

“Apa yang bisa diobrolkan dari pisang?”

“Nggak banyak, tapi ada. Misalnya komedi slapstick lawas tentang seseorang yang nggak sengaja menginjak kulit pisang, Andy Warhol dan The Velvet Underground, atau monyet.”

“Menurutmu kenapa pisang identik dengan monyet? Padahal makanan monyet bukan hanya pisang.”

“Nggak tahu, ya. Mungkin karena bentuknya yang khas dan mudah diingat. Atau bisa jadi, dulu sekali, setiap kali orang melihat monyet, monyet itu selalu sedang makan pisang.”

Perempuan itu mematikan rokoknya di atas asbak, asap keluar dari bara yang belum sepenuhnya mati. Setelah itu, ia merebahkan diri di atas ranjang. Nampaknya ia bosan dengan obrolan ini.

“Aku ingat satu lelucon klasik tentang moyet, mau dengar?” ujarnya sambil menggeliat.

Aku mengangguk kecil. Tak sepenuhnya ingin dengar, tapi adakah pilihan lain?

“Ada dua kelompok monyet yang dipisahkan oleh jurang selebar lima puluh meter. Di tempat kelompok monyet pertama banyak ditumbuhi buah-buahan segar, sementara di tempat kelompok monyet kedua hanya ada bebatuan. Tak ada makanan sama sekali.”

Aku sudah pernah mendengar cerita ini, yang membuatnya menarik adalah aku diceritakan kembali oleh seorang wanita yang baru kutemui beberapa menit lalu. Awalnya, ia bilang ia sedang bersembunyi. Kemudian, ia menanyakan apa fungsi jendela kamaku. Kini, ia mengoceh tentang monyet. Entah beberapa menit lagi apa yang akan ia bicarakan.

“Kelompok monyet pertama kekenyangan, sementara kelompok monyet kedua kelaparan. Kelompok monyet pertama membicarakan tentang kelaparan yang melanda kelompok monyet kedua sambil makan buah segar, menyatakan keprihatianan mereka dengan perut terisi penuh. Dan kelompok monyet kedua merintih sambil memegangi perut mereka, anak-anak monyet terpaksa mengunyah batu saking kelaparannya, dan mereka hanya bisa membayangkan betapa nikmatnya makan buah segar seperti kelompok monyet petama. Setiap hari mereka hanya disuguhi pemandangan kelompok monyet pertama dan buah-buahan mereka yang melimpah, dan kelompok monyet pertama tak pernah ingin membagi buah milik mereka. Mereka takut jika sekali mereka membaginya, maka kelompok monyet kedua akan terus meminta bagian. Mereka takut buah-buahan mereka akan habis dan tak cukup untuk anak-cucu mereka. Tetapi, kelompok monyet pertam tak henti-hentinya mengoceh tentang betapa malang nasib saudara mereka di seberang jurang, membicarakan sebuah pergerakan, tanpa melakukan hal yang berarti.

“Masing-masing di antara mereka menyadari bahwa jurang yang memisahkan mereka semakin melebar dari hari ke hari. Entah karena mekanisme tektonika lempeng, atau hanya perasaan mereka saja. Dan waktu bergulir, siang menjadi malam, menjadi pagi, menjadi siang lagi. Tak terasa dua puluh tahun berlalu, dan mereka masih tetap seperti itu. Monyet yang kenyang tetap kenyang, monyet yang lapar tetap lapar.”

“Setahuku, ceritanya nggak seperti itu.” Aku protes saat ia selesai bercerita. “Bukankah seharusnya kelompok monyet kedua melempari kelompok monyet pertama dengan batu, dan kelompok monyet pertama balas melempari kelompok monyet kedua dengan buah? Sehingga kelompok monyet kedua yang kelaparan bisa makan buah juga. Aku rasa cerita seperti itu lebih menyenangkan dan lucu ketimbang versimu.”

“Kapan kamu pertama kalu mendengar lelucon monyet itu?”

“Entahlah, aku rasa saat TK dulu. Dua puluh tahun yang lalu, barangkali.”

“Dua puluh tahun waktu yang cukup lama, kan? Banyak hal berubah, termasuk lelucon tadi. Tapi ada hal yang tidak berubah, fakta bahwa kau dan aku kesepian dengan cara masing-masing. Orang lain hanya sanggup merasa kasihan, mereka bahkan juga merasakan kesepian yang sama, hanya saja mereka lebih mahir menipunya.”

“Tapi sejujurnya, lelucon versimu tadi nggak lucu. Dan aku nggak ngerti, kesepian apa yang kaumaksud. Aku memang hidup sendiri, tapi aku baik-baik saja.”

“Benarkah?” Ia tertawa kecil.
Aku berbaring di sisinya. Rasa kantuk menjalar perlahan, menyentuh kelopak mata, dan menutupnya dengan amat hati-hati. Besok pagi aku harus kembali bekerja. Aku tak peduli perempuan ini akan enyah kapan, mataku sudah tak bisa diajak kompromi.

Saat aku terpejam, perempuan yang berbaring disisiku menggumamkan sebuah lagu. Lagu lulabi yang belum pernah kudengar sebelumnya. Gumaman itu mengantarku tidur.

*

Keesokan paginya, seperti biasa, aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Hal pertama yang kupastikan adalah perempuan itu, apakah ia memutuskan untuk tidur atau ia menghabiskan malam sambil bergumam?

Aku terkejut ketika menyadari perempuan itu tak ada di sisiku, pintu kamar mandi sedikit terbuka namun tak ada suara kehidupan di sana. Ia tak ada di manapun. Aku sendirian.

Barangkali ia memutuskan untuk keluar dari kamarku setelah ia merasa keadaan sudah aman. Seperti orang-orang yang suka bersembunyi, mereka tak bisa memutuskan untuk bersembunyi selamanya. Suatu saat mereka harus keluar dari cangkang yang nyaman, dan merelakan dirinya ditelanjangi tatapan orang lain.

Aku bangkit dan memastikan tak ada siapapun di kamar mandi, dan memang tak ada. Aku sendiri di dalam kamar sempit ini.

Aku berjalan mendekati jendela yang tirainya tertutup rapat. Seingatku, jendela ini semalam terbuka. Barangkali perempuan itulah yang menutupnya saat ia memutuskan untuk pergi lewat jendela, baik sekali. Aku menyibakkan tirai, lantas mendorong jendela untuk membukanya karena kupikir jendela itu tak dikunci olehnya. Ternyata jendela itu terkunci.

Bagaimana cara perempuan itu mengunci jendela dari dalam jika ia pergi meninggalkan kamarku?

Mungkin ia pergi lewat pintu. Aku berjalan mendekati pintu dan memeriksanya. Pintu itu terkunci, kuncinya tergantung di rumah kunci.

Baiklah. Perempuan itu tidak keluar kamar ini, pikirku. Kupandangi seisi kamar, mencari-cari barangkali ia bersembunyi di suatu tempat di kamar ini. Dan yang kudapati hanya seekor ikan mas koki tengah berenang perlahan, gerakannya gemulai bak penari, sirip belakangnya mengikuti gerak tubuhnya. Sisik ikan itu berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi, dan mulutnya tak henti membuka-tutup, seperti tengah menggumamkan sebuah lagu.

*

Apakah fungsi jendela kamarku? Tanyaku pada diri sendiri. Untuk memperlihatkan sesuatu? Atau untuk menyembunyikan sesuatu? Atau, keduanya.

Para tukang kayu mungkin tidak tahu bahwa jendela yang dibuatnya ini ternyata berfungsi untuk memperlihatkan kesepianku pada dunia sekaligus menyembunyikan kesepianku dari dunia.

dari Agraria
untuk Jikruy, bersabarlah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s