Babi dan Cerita yang Tidak Bisa Dipercaya

image

“Bagaimana, ya, mereka bisa yakin kalau babi itu babi ngepet?” ujar Ruke dengan suara setengah berbisik sambil menoleh ke arah lelaki itu.

Lelaki itu mengangkat bahunya. “Entah, kita lihat saja sampai selesai.”

Sore di awal Agustus yang cerah, keduanya tengah berdiri di beranda lantai dua rumah Ruke. Di bawah mereka, dekat sungai tak jauh dari pagar, puluhan orang tengah mengerumuni seekor babi. Babi itu dikurung di dalam kurungan ayam, sekujur tubuhnya dihiasi luka sayatan, barangkali dipecut dengan rotan, bambu, atau sapu lidi. Hidungnya berdarah, dan telinga kanannya sobek. Kepalanya terus menunduk, seolah ia tengah sibuk mencari sesuatu yang lebih penting di atas tanah dan menghiraukan orang-orang yang mencacinya.

Seorang lelaki berusia pertengahan lima puluh berada tepat di depan babi itu. Tangannya menengadah, dan mulutnya tak berhenti mengucap sesuatu. Rupanya lelaki itu pemuka agama di kampung Ruke, secara naluriah lelaki itu memimpin masyarakat yang berkerumun. Kelihatannya seluruh penduduk yang hadir sore itu menunggu aba-aba darinya.

“Bagaimana, ya, mereka yakin kalau babi itu babi ngepet.” Ruke mengulang kalimatnya, kali ini tanpa tanda tanya. Lelaki di sisinya tahu bahwa ia tak perlu menanggapinya.

Pertanyaan Ruke tepat sekali. Dilihat dari sudut manapun, babi itu adalah babi biasa. Badannya gemuk, moncongnya panjang, dan dibelakangnya terdapat ekor kecil yang melingkar seperti obat nyamuk bakar. Ekornya yang kecil tak seimbang dengan besar tubuhnya, seolah lemak menyebar ke seluruh tubuhnya kecuali di bagian ekor. Mungkin babi yang dituduh babi jadi-jadian itu hanya babi potong yang kabur dari peternakan, dan karena di kampung ini tidak pernah terlihat babi maka orang-orang langsung menyimpulkan babi itu adalah babi pesugihan. Terlalu cepat sampai pada kesimpulan.

Sambil melihat bagaimana orang-orang menyiksa babi itu, Ruke bercerita.

*

Sewaktu berusia enam tahun, Ruke pernah memelihara seekor babi betina kecil. Babi hutan. Babi itu diberi nama Ngoki.

“Ngoki itu ngegemesin banget!” ujar Ruke dengan menekankan kata ‘ngegemesin’ seakan itulah hal terpenting dan yang paling diingat Ruke tentang babi kecil miliknya. “Seperti balita umur 2 tahun yang mulai belajar mengenal kata-kata baru. Tiap kali aku berbicara kepadanya, ia seperti berpikir dan tak lama kemudian menampilkan ekspresi yang sangat menggemaskan. Seolah bilang ‘wah, ternyata di dunia ini ada kata seperti itu!'”

Ayah Ruke yang seorang pemburu menembak mati ibu Ngoki saat keduanya tengah menyantap umbi-umbian di hutan. Menurut cerita ayahnya, saat ia menghampiri mayat ibu Ngoki, Ngoki tengah berusaha membangunkan induknya. Ngoki tidak tahu bahwa ibunya sudah mati. Melihat Ngoki, ayahnya jadi teringat Ruke. Maka, dibawa pulanglah Ngoki ke rumah.

“Jadi, saat ayahmu melihat Ngoki hal yang pertama melintas di benaknya adalah kamu?” tanya lelaki itu.

Ruke tersenyum ceria dan mengangguk. “Lucu, ya. Ibuku sempat marah karena Ayah terkesan menyamakanku dengan anak babi. Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya? Toh, semua makhluk hidup sama saja.”

“Iya, kalau dipikir seperti itu tak ada salahnya. Lagipula, barangkali di bumi ini cuma manusia yang merasa terhina jika disamakan dengan binatang atau makhluk lain yang dianggap lebih jelek dari dirinya sendiri.”

Ruke mengangguk sekali lagi, kemudian meneruskan ceritanya.

“Awalnya, ibuku nggak setuju. Tapi setelah dijelaskan, Ibu jadi kasihan. Barangkali semacam naluri seorang ibu. Jadi dibiarkanlah Ngoki tinggal di rumah dengan satu syarat, Ngoki harus tinggal di luar.”

Ayah Ruke tidak setuju, sebab, jika para tetangga tahu mereka memelihara seekor babi tentu akan menjadi masalah besar. Dengan berat hati, ibunya menyetujui Ngoki tinggal di dalam rumah tetapi menolak jika harus membersihkan kotoran Ngoki. Karena itu, Ruke menawarkan diri untuk membersihkannya. Biarpun begitu, tetap saja ibunyalah yang lebih sering membersihkan.

Hari-hari Ngoki di dalam rumah berjalan lancar. Ruke begitu menyayangi Ngoki, ia menganggap Ngoki seperti adiknya sendiri. Ngoki dijahitkan baju, dipakaikan pita merah di kepalanya, dan diberi susu bayi yang mahal. Tak jarang Ruke mendandani Ngoki dengan lipstik dan bedak milik ibunya. Tentu saja ibunya marah. Tetapi, karena kejadian itu terus berulang, akhirnya ibu Ruke mengalah. Akhirnya, lipstik dan bedak yang telah dipakai Ngoki dihibahkan kepada Ruke. Ia senang sekali. Ia pun mulai sering mendandani Ngoki.

“Hingga pada suatu malam…” Ruke menatap kosong ke arah babi yang tengah disiksa oleh penduduk kampung. “Saat tengah tertidur, aku terbangun karena merasa kesulitan bernafas. Kata ibuku itu namanya ketindihan. Saat aku membuka mata, aku mendapati wajah Ngoki berada tepat di depan wajahku.”

Ruke menelan ludah. “Ngoki berbicara kepadaku.”

“Babi berbicara?” lelaki itu bertanya dengan nada heran.

“Iya…” Ruke menghapus keringat di hidungnya. “Berbicara bahasa manusia.”

“Ngoki berbicara bahasa manusia?” ulang lelaki itu, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Atau tak yakin dengan kesehatan jiwa perempuan di sisinya.

“Betul. Aku nggak bohong. Aku tahu, pasti sulit untuk percaya, tapi aku nggak bohong. Terserah kamu mau percaya atau nggak.”

“Aku percaya,” jawab lelaki itu. Melihat ekspresi wajah Ruke yang penuh kengerian rasanya sulit untuk tidak percaya. “Ngoki bilang apa?”

“Ngoki bilang, ‘Berhentilah mewarnai wajahku dengan sampah-sampah itu. Aku nggak nyaman.’ Lalu aku yang ketakutan hanya bisa mengangguk. Aku ingin menarik selimut, menutupi wajahku.”

“Aku pikir juga kamu hanya mimpi buruk.”

“Ya, tentu saja aku pikir juga begitu. Aku menceritakannya pada Ayah dan Ibu keesokan paginya, keduanya juga bilang begitu. Tapi karena aku takut dan yakin bahwa itu bukan mimpi, sejak pagi itu aku berhenti mendandani Ngoki. Dan sedikit menjauhinya.”

“Kamu yakin itu bukan mimpi?”

“Sangat yakin.” Ruke menoleh ke arah lelaki itu, matanya mantap menatap lelaki di depannya. Lelaki itu balas menatap dan menemukan pantulan wajahnya di bola mata Ruke, semua benda yang ditangkap bola mata itu terlihat cembung, termasuk wajahnya.

Karena merasa canggung, lelaki itu menggaruk kepala, kemudian mengalihkan pandangannya ke pemuka agama yang berdiri di dekat babi malang itu. Sang pemuka agama mulai berteriak sembari sesekali menendang-nendang kandang ayam tempat mengurung babi. Barangkali ia tengah melakukan semacam interogasi. Babi itu tentu saja tak menjawab, ia hanya mengeluarkan suara pilu. Ia pasti merasa terancam tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

“Kalau hanya satu kali mengalami kejadian itu, aku mungkin nggak akan seyakin ini,” lirih Ruke.

“Maksudmu kejadian itu terulang lagi?”

Ruke mengangguk mantap. “Setidaknya tiga kali.”

“Tiga kali?”

Terdengar hembusan nafas Ruke. “Satu minggu setelah kejadian itu, aku terbangun lagi tengah malam karena kebelet pipis. Sewaktu melewati ruang televisi, Ngoki menegurku, “Ruke sini temani aku nonton.” Begitu katanya.”

Lelaki itu menggaruk kepala sekali lagi, ia tak mengerti.

“Keesokan harinya saat kedua orangtuaku pergi, aku melihatnya tengah duduk di perpustakaan pribadi Ayah. Membaca buku ensiklopedia Afrika, aku ingat, soalnya aku senang dengan sampul buku itu. Sampul bergambar jerapah yang sedang memakan pucuk daun.”

“Buat apa Ngoki baca buku?”

“Aku nggak tahu, aku hanya mengintipnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tapi nampaknya dia membaca banyak buku, memakai kaca mata Ayah pula.”

“Lalu yang ketiga kalinya?”

Ruke terdiam memikirkan sesuatu, ia pasti tidak sedang mengingat kejadian tentang Ngoki. Ingatan melihat babi yang bertingkah seperti manusia bukanlah ingatan yang mudah dilupakan. Ruke sepertinya tengah menyusun kesimpulan, ia berusaha menyimpulkan apa tujuan Ngoki sebenarnya sambil mengingat kembali peristiwa yang ia lihat untuk ketiga kalinya.

“Ngoki membaca buku telepon sambil melihat peta Jakarta. Menandai beberapa daerah dengan spidol merah, dan beberapa foto tokoh penting.”

Lelaki itu mengerutkan dahinya. “Tokoh penting?”

“Ya, ada beberapa foto yang dicorat-coret dengan spidol merah. Aku tak kenal semuanya, hanya satu tokoh yang kukenal. Tokoh itu sering muncul di televisi.”

“Siapa?”

Ruke tak menjawab. “Ngoki seperti sedang merencanakan sesuatu. Hingga kini, aku nggak tahu apa itu, tapi sepertinya rencana besar dan membahayakan dirinya sendiri. Tetapi aku tahu, tujuannya baik.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Tahu saja. Ngoki sangat baik, setelah kupikir-pikir, akulah yang merasa terancam karena keanehannya. Ia nggak pernah melakukan hal buruk terhadapku. Ia hanya ingin membaca, barangkali untuk mengumpulkan informasi.”

“Informasi apa?”

Ruke lagi-lagi tak menjawab, ia khusyuk melihat ke arah kerumunan.

Dua orang pemuda datang dengan membawa bambu runcing. Panjangnya kurang dari dua meter. Bambu itu dibaringkan di atas tanah, tepat di bawah kaki sang pemuka agama.

Entah apa yang dibacakan tetua kampung itu, sambil berjongkok di depan bambu, ia menengadahkan tangan dan meracaukan kalimat-kalimat tak jelas sembari menutup mata. Kemudian ia mengelus-elus bambu di hadapannya. Para penduduk yang berkerumun terdiam, sebagian besar ikut menengadahkan tangan. Suasana khidmat tercipta seketika. Bahkan babi yang dituduh siluman itu terdiam, barangkali babi itu merasa kesunyian seperti ini adalah ancaman baginya. Dan bambu runcing itu sudah pasti bukan digunakan untuk bermain egrang.

“Apa yang akan mereka lakukan dengan bambu itu?” Ruke bertanya sambil memiringkan kepalanya.

Lelaki di sisinya tak perlu menjawab, sebab pertanyaan Ruke dijawab lantang oleh si tetua kampung.

“Jika kita tusuk babi ini dengan bambu yang sudah didoakan, dan kita ceburkan ke sungai kemudian ia berubah jadi manusia. Maka, terbukti, babi ini adalah babi ngepet!”

Kerumunan hening, semua orang menatap takzim ke arah pemuka agama.

“Sebab sungai, atas izin yang maha kuasa, akan meluruhkan segala ilmu sihir,” lanjut pemuka agama itu.

Penduduk bersorak, meneriakkan nama Tuhan.

Si pemuka agama lupa menyebutkan kemungkinan jika babi malang itu tak berubah jadi manusia. Ia kelihatan yakin sekali bahwa babi itu akan menjelma menjadi manusia. Sehingga kemungkinan bahwa babi itu tidak berubah bukan lagi hal penting baginya, juga bagi yang lain. Jika itu terjadi, barangkali, mereka hanya akan berkomentar, “Oh, ternyata bukan babi ngepet…” Lalu bangkai babi itu akan dihanyutkan, dan mereka akan pulang dengan perasaan kecewa. Bagaimana pun kelihatannya mereka amat menantikan berubahnya babi menjadi manusia.

Pemuka agama itu mengambil bambu, mendirikannya di atas tanah. Kaki kanannya menghentak bumi tiga kali. Kerumunan merapat.

Ruke berbalik, menyandarkan punggungnya pada besi pagar beranda. “Hey, kamu mau eskrim? Sepertinya, aku punya eskrim stroberi di lemari pendingin.”

Lelaki di sisinya ikut berbalik, ia tersenyum kecil dan mengangguk. “Boleh. Kalau nggak merepotkan kamu.”

“Tentu saja nggak repot, cuma eskrim.”

Saat Ruke berjalan ke arah pintu, lelaki itu memandangi bagian tubuh belakangnya. Rambut panjangnya yang digelung menampakkan leher yang jenjang dan sepasang daun telinga kecilnya. Ruke menggumamkan sebuah lagu anak yang amat familiar di telinga lelaki itu, namun ia gagal mengingat judulnya. Anak kunci ditangan kanannya bergemericing seiring ayunan tangannya, mengiringi gumamannya, dan derap kakinya di lantai seolah menjadi metronom yang setia mengatur tempo. Mata dan telinga lelaki itu mengantar Ruke hingga menghilang di balik pintu. Sementara itu, tepat di belakang punggungnya, sebuah peristiwa tengah terjadi. Peristiwa yang amat bertolak belakang dengan keindahan di depan matanya.

Tak lama kemudian, Ruke kembali dengan membawa dua mangkuk berisi eskrim stroberi. Ia memberikan mangkuk di tangan kanannya kepada lelaki itu.

“Terima kasih. Aku suka sekali eskrim stroberi,” ujar lelaki itu.

“Benarkah?”

Lelaki itu mengangguk kecil.

“Ngoki juga suka eskrim stroberi.” Ruke tersenyum, sinar matahari sore mengarsir lekuk hidungnya. “Sangat suka.”

Lelaki itu membalas senyum Ruke, lalu ia menyandarkan tubuhnya ke besi pagar beranda. “Ada di mana Ngoki sekarang?”

“Pagi di bulan Mei tahun 1997, Ngoki menghilang. Entah bagaimana ia bisa keluar, padahal pintu masih terkunci. Kata Ayah, Ngoki babi yang baik, dia pasti akan sehat-sehat saja. Meski begitu, setiap sore aku selalu duduk di depan jendela menunggu Ngoki pulang. Aku merasa harus meminta maaf karena pernah memiliki prasangka buruk terhadapnya,” ujar Ruke, murung. “Setahun kemudian, kami sekeluarga pindah ke sini. Aku sedih, aku yakin Ngoki pasti pulang. Kini walaupun Ngoki pulang, aku nggak bisa bertemu dengannya. Pelan-pelan aku mulai melupakan Ngoki. Lagipula, tumbuh besar di sini nggak buruk, lingkungannya sangat tenang dan nyaman.”

“Syukurlah kamu pindah.” Lelaki itu berkata sambil menyuap sesendok eskrim.

Ruke mengerutkan dahi. “Syukurlah?”

“Iya. Kalau kamu nggak pindah, kita nggak akan bertemu,” jawab lelaki itu sambil tersenyum kaku.

Bahu Ruke menyenggol pelan bahu lelaki itu. “Nggak bisa dipercaya, bukan?”

“Apanya?”

“Semuanya. Ceritaku tentang Ngoki, kekerasan, babi dan orang-orang tadi…” Ruke menjilat sendok eskrimnya. “Kencan pertama kita ini.”

“Iya, ya. Kencan, kok, melihat babi.” Lelaki itu tertawa kecil. “Tapi rasanya, aku memang sulit mempercayai apapun akhir-akhir ini.”

“Oh iya, bagaimana nasib babi tadi?” Ruke berbalik cepat, melihat ke arah sungai.

*

Tepi sungai itu kini sepi, kerumunan telah bubar. Mereka mungkin pulang dengan perasaan kecewa. Di tepi sungai hanya ada dua bocah lelaki yang sedang dijewer perempuan paruh baya, ketiganya berjalan menjauhi sungai. Kelihatannya anak-anak tadi berusaha mengambil bambu yang telah dihanyutkan dan kini tengah bergerak perlahan terbawa arus yang tenang. Pada bagian runcingnya, darah melarut sebisanya.

Babi itu tak berubah menjadi manusia, tentu saja.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Babi dan Cerita yang Tidak Bisa Dipercaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s