Hujan Katak

frog2

 

“Menurutmu, Tuhan yang menciptakan waktu, atau waktu yang menciptakan Tuhan?”

Setelah kurang lebih sepuluh menit kami terdiam, perempuan itu bertanya begitu sambil menoleh ke arahku. Jelas sekali ia berbicara kepadaku, tak ada orang lain di depan ruko yang tutup ini selain kami berdua. Barangkali ia mencoba untuk memulai sebuah percakapan, jika aku menjawabnya mungkin akan terjadi perbincangan panjang sambil menunggu hujan reda. Bagaimana pun, tuhan adalah topik yang tak syak lagi mampu menciptakan obrolan panjang, bahkan tanpa akhir, dan cenderung membosankan. Seperti berlari di lintasan berbentuk lingkaran sempurna. Aku tidak terlalu tertarik.

“Aku tidak tahu banyak soal tuhan dan waktu,” jawabku jujur.

Perempuan itu merogoh tasnya kemudian mengeluarkan sekotak rokok dan korek api. “Rokok?”

Aku tersenyum kecil, menolaknya secara halus. “Aku nggak merokok.”

Perempuan itu menatap wajahku sebentar dengan pandangan heran, kemudian meletakkan kotak rokok dan korek api di atas bangku kayu panjang yang kami duduki. Ia menyandarkan tubuhnya ke rolling door, menghasilkan bunyi berderit yang memilukan.

Dari penampilannya, perempuan itu nampak seperti pegawai kantoran biasa. Rambutnya hitam dan dipotong pendek, ia memiliki wajah bulat telur dengan hidung tak terlalu mancung yang cocok sekali dengan model rambutnya. Seolah jika model rambutnya dipanjangkan beberapa sentimeter saja akan merusak keseimbangan bentuk oval wajahnya. Matanya dihiasi bulu mata palsu—hingga kini aku tidak terlalu mengerti kenapa perempuan suka mengenakan bulu mata palsu—dan make up-nya mulai luruh dibasuh keringat serta air hujan, menyisakan gincu merah yang terlihat mencolok di wajahnya. Bibir perempuan itu tidak terlalu tebal, biasa saja, namun jika seseorang menatap wajahnya pasti akan lebih dulu menangkap bibirnya. Mungkin memang itu tujuannya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing terbuka, menampakkan tanda kecokelatan di bagian clavicle-nya. Semacam tanda lahir berbentuk pulau kecil yang akan segera mengingatkanmu pada gambaran benua dalam peta. Tubuhnya dibalut blazer berwarna cokelat muda, berpadu dengan rok span hitam yang menampilkan lekuk bokong dan pahanya. Seolah belum cukup, ia membungkus kakinya dengan sepatu cokelat yang selaras dengan warna blazer-nya. Sepatu itu sedikit menarik perhatianku, bukan karena haknya yang terlalu tinggi, namun ada lingkaran kecil di ujungnya. Bekas terbakar. Mungkin ia pernah mematikan rokok di sana. Lingkaran itu terlihat begitu alami, seperti bulan yang datang terlalu cepat saat matahari belum lenyap seutuhnya.

Perempuan berpenampilan seperti dia bisa kujumpai di jalan atau di stasiun pada jam-jam pulang kerja. Tetapi, apa yang dibicarakan perempuan itu agak aneh. Kupikir, sangat jarang seorang pegawai kantor kelas menengah tertarik dengan teologi, apalagi membicarakannya dengan lelaki yang tak ia kenal. Barangkali hanya pikiranku saja yang terlalu sempit.

“Waktu lebih berkuasa dari Tuhan,” ujarnya dengan pasti. Tanpa menyelipkan kata ‘menurutku’, atau ‘aku pikir’ seakan-akan ia tengah membicarakan kebenaran absolut.

“Menurutmu begitu?” tanyaku, sedikit enggan.

“Tuhan butuh waktu untuk menciptakan semesta, enam hari. Hari ketujuh, Dia istirahat. Tuhan membutuhkan kronologi, di mulai dari kata ‘pertama-tama…’ bahkan  Zeus membutuhkan Khronos agar petirnya bias merambat.” Perempuan itu menjelaskan tanpa jeda untuk berpikir, sepertinya ia telah ratusan kali mengucapkan kalimat itu. “Bisa kamu bayangkan dunia tanpa waktu?”

“Barangkali seperti lukisan,” jawabku.

Perempuan itu menghisap rokoknya, kemudian mengangguk kecil. “Atau, seperti ingatan.”

Perempuan itu mengulurkan tangannya hingga terkena tetesan hujan. Mungkin untuk memastikan sesuatu, semisal memastikan besar bulir hujan yang turun atau menimbang beratnya, atau keduanya. Sebab, tanpa melakukan hal itu pun, ia pasti sudah tahu bahwa hujan belum reda. Terlihat jelas air masih turun dari langit dalam jumlah yang banyak, semacam latihan paratrooper, air-air itu melompat dari awan lalu terjun bebas di mana saja sesukanya. Di atas kap mobil mewah, di aspal, bahkan dengan kurang ajar mereka mendarat di kepala manusia. Hembusan angin menggoyang-goyangkan puncak nyiur, seperti tengah berusaha keras untuk menghindarkan pohon itu dari serangan kilat yang terus menyambar. Berkendara di tengah cuaca seperti ini barangkali sama rasanya dengan menyelam saat terjadi tsunami.

Entah kapan terakhir kali aku melihat cuaca seperti ini, mungkin jika tidak terperangkap di depan ruko ini aku tak akan memikirkannya. Jika tidak di sini aku pasti sedang berada di rumah, menghangatkan badan dengan secangkir kopi panas sembari mendengarkan rekaman lagu yang tersimpan di dalam folder komputer. Chuck Berry, atau Elvis. Atau The Doors, ya, pasti The Doors dengan Riders on the Storm. Pola bass-nya yang stagnan, dalam, dan berulang membuatku bisa membayangkan seolah aku tengah naik motor di tengah badai. Dan barangkali aku tak akan pernah bertemu perempuan itu. Perempuan itu membuatku ngeri. Entah kenapa, setelah ia membahas Tuhan dan Zeus, aku merasa seperti menjadi target sambaran petir.

Mataku menyusuri dinding di belakang, mencari meteran listrik yang ternyata berada tepat di atas kepalaku. Ah, kebetulan sekali. Sekali saja petir menyambar ruko ini, aku tak bisa lari ke mana-mana lagi.

“Mari kita buat kesepakatan,” ujar perempuan itu tiba-tiba. Aku yang tengah fokus memandangi meteran listrik dan membayangkan sesuatu yang buruk jadi terperanjat.

“Kesepakatan apa?”

Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatiku, ada prasangka tak baik mengenai perempuan itu. Mungkin ia sales yang hendak menawarkan barang elektronik, kartu kredit, atau asuransi kematian. Atau salah satu dari sekian banyak orang di negara ini yang terlibat bisnis Multi Level Marketing. Bisa jadi. Ia membuka percakapan dengan kata ‘tuhan’ dan ‘waktu’, kini ia ingin aku membuat ‘kesepakatan’ dengannya. Sebentar lagi, barangkali, ia akan mulai mengoceh panjang lebar mengenai sebuah produk sambil mengiming-imingi sesuatu yang ‘menggiurkan’ sambil tak lupa menyelipkan teror berupa kepastian seperti waktu yang terus menyempit, kematian, dan sebagainya. Setelah itu ia akan mengeluarkan jurus jitu berupa kalimat motivasi yang secara sembarang ia kutip dari motivator-motivator penebar tribalisme kesuksesan. Berprasangka buruk memang melelahkan, tetapi kadang muncul begitu saja.

“Kesepakatan, ya, kesepakatan. Jujur saja, aku tertarik denganmu.” Perempuan itu membuang rokok ke lantai, lalu menginjaknya. Setelah itu ia mengambil putung rokok itu, dan memasukkannya ke dalam tas. Kakinya bergerak-gerak membersihkan noda hitam di lantai sambil dengan susah payah agar roknya yang pendek tak terangkat. Setelah  memastikan tak ada noda, ia menoleh ke arahku. “Aku ingin mengajakmu berkenalan. Tetapi, sebelum itu kita buat kesepakatan.”

“Sebelum berkenalan kita membuat kesepakatan.” Aku mengulang kalimatnya, tak yakin dengan apa yang kudengar.

“Ya,” jawabnya cepat. “Kita sepakat untuk hanya memberitahukan kebohongan saja.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, kita nggak memberitahukan kebenaran soal diri kita.” Perempuan itu mengambil sebatang rokok lagi kemudian menyalakannya. “Mengarang identitas. Nggak sulit, bukan?”

“Tentu saja. Tapi, buat apa?”

“Identitas donat adalah lubangnya, bukan dari apa dia dibuat. Kebenaran itu berlubang. Seperti donat.”

Aku tidak mengerti, dan tidak melihat keuntungan jika menolak maupun menyetujuinya. Sejujurnya, jika tak diajak mengobrol pun tak apa.

“Anggap saja ini permainan,” ujarnya, seolah membaca pikiranku. “Aku tertarik dengan tangan kirimu.”

Seketika pandanganku beralih ke telapak tangan kiri, memandangi ketidak-lengkapan di sana.

Saat berusia sepuluh tahun aku tertidur, dan ketika terbangun jari kelingking, jari manis, dan jari tengahku telah hilang. Menyisakan telunjuk dan ibu jari di sana, membuatnya nampak seperti capit kepiting. Kata Ayah jariku digigit tikus karena aku tidak mencuci tangan sebelum tidur, entah mengapa aku menyukai penjelasan itu meski kenyataannya jariku dipotong dokter selagi aku memejamkan mata. Menyadari ketidak-lengkapan itu, serta merta aku menyembunyikannya dengan cara menutupi telapak tangan kiri dengan tangan kanan.

“Tak perlu disembunyikan,” ujarnya perlahan. “Siapa namamu?”

“Nama sungguhan atau…?”

“Tentu saja bohongan,” potongnya cepat.

Aku berpikir agak lama. Aneh. Jika berbohong secara spontan, aku bisa dengan cepat menjawab. Namun jika disuruh berbohong, aku justru malah kesulitan. Setelah memutar otak, mencari nama yang tepat, sebuah nama muncuk di dalam pikiranku.

“Pertiwi.”

Perempuan itu tergelak. “Dari sekian banyak nama di dunia ini, kamu pilih nama perempuan?”

“Nama itu yang terpikirkan,” tukasku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Baiklah. Pertiwi. Nama yang bagus. Dewi bumi.”

“Aku baru tahu,” ujarku, jujur. Mungkin karena kesepakatan itu, ia akan menganggapku bohong. Di hadapan perempuan ini, aku merasa jadi makhluk yang tak tahu apa-apa di muka bumi. “Kamu sendiri, siapa namamu?”

“Minke,” jawabnya cepat.

“Tokoh novel? Kalau nggak salah.”

“Betul. Bumi Manusia karangan Pram.” Perempuan itu mengeluarkan sebatang rokok lagi, “Kamu pernah baca?”

Aku menggeleng. “Pernah dengar saja, banyak orang mengutipnya.”

“Mengutip saja tidak pernah cukup.” Perempuan itu membakar rokoknya. “Apa pekerjaanmu?”

Lagi-lagi aku terdiam sejenak. Merenungi kebohongan apa lagi yang akan kuutarakan. Terlintas di dalam kepalaku sebuah pekerjaan yang sesungguhnya ingin kugeluti, namun belum dan mungkin tak akan pernah kugeluti. “Atlet perahu layar.”

“Atlet perahu layar?” ia bertanya dengan nada heran, seolah tak pernah mendengar kata itu diucapkan oleh siapa pun. “Kenapa?”

“Entah, ya. Aku senang melihat ombak, seperti melihat hasrat yang berkejaran.”

“Lalu, sampai di pantai ombak-ombak itu menjilat pasir, bikin pasir mendesis pasrah.” Perempuan itu menambahkan kalimatku. Aku tak keberatan. Ada benarnya juga.

“Apa pekerjaanmu?”

“Simpanan Bos.”

Simpanan Bos. Ternyata di dunia ini ada pekerjaan seperti itu. Tentu saja ia bohong. Pasti sama seperti aku, ia menyebutkan pekerjaan yang sesungguhnya ingin ia geluti namun hingga kini belum terwujud. Simpanan Bos. “Apa pekerjaan Simpanan Bos?”

“Banyak sekali. Apa pun bias dikerjakan, selama itu menyenangkan hati si Bos.”

Aku berandai-andai, kira-kira apa yang ia lakukan untuk menyenangkan hati si Bos. Sebenarnya, aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi tiba-tiba kilat menyambar. Segalanya tetap merah, bahkan saat aku memejamkan mata. Tak lama terdengar suara gemuruh yang amat dahsyat. Kilat itu pasti menyambar sesuatu, entah apa, yang jelas sangat dekat dengan ruko ini.

Saat aku membuka mata, seekor katak melompat-lompat di bawah kakiku. Perempuan itu agak menggeser sedikit kakinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan sambil mengulang caranya mematikan rokok. Aku jadi berpikir, kira-kira, ada berapa jumlah putung rokok di dalam tasnya?

Sambil memandangi katak yang melompat menjauhi kakiku, aku memikirkan soal Tuhan dan waktu. Pemikiran itu muncul begitu saja. Waktu yang bergulir tak kenal ampun, dan sepasang orang tua yang menyaksikan anaknya tumbuh dewasa, dan selama menunggu mereka menumbuhkan uban dan keriput. Matahari berputar dengan cara yang sama setiap hari, namun segala yang hidup di bawah sinarnya menua secara pasti. Kalau dipikirkan sangat aneh. Dan, aku jadi memikirkan ayah dan ibuku.

Perempuan di sisiku batuk kecil. “Ada katak lagi.”

Aku mencari-cari katak yang ia maksud, ternyata berada tepat di atas paha kananku. Aku langsung mengayunkan tangan dengan cepat mengusir katak itu. Perempuan itu tertawa melihat apa yang baru saja kulakukan.

“Dari mana datanganya katak ini?” ia bertanya. Kali ini ia tidak tahu.

“Dari langit,” jawabku asal.

Aku bermaksud bercanda, namun sepertinya tidak lucu. Ia tidak tertawa. Tangan perempuan itu menunjuk ke jalan raya. Mataku mengikutinya, dan terperanjat. Ratusan katak terjatuh dari langit, beberapa mati karena mendarat di aspal yang keras. Sisanya, dan jumlahnya tetap banyak, mendarat dengan selamat dan meloncat ke berbagai penjuru. Aku melompat naik ke atas kursi.

“Bagaimana kamu tahu mereka datang dari langit?” perempuan itu bertanya sambil ikut naik ke atas kursi tanpa melepaskan sepatunya. Ia nyaris jatuh, andai kami tak berpegangan.

“Aku nggak tahu, aku hanya bercanda.”

Perempuan itu memiringkan kepalanya. “Bagaimana kamu tidak tahu apa yang ucapkan?”

“Aku, kan, Cuma bercanda. Sudah kubilang. Asal bicara saja.”

“Tapi bercandaanmu itu jadi kenyataan.” Di luar dugaan, ia malah terkikik geli.

Aku memikirkan sesuatu, setidaknya untuk mengalihkan pikiranku sendiri dari kejadian ini. “Mungkin begini. Telur-telur katak di danau ikut menguap bersama air, menjadi awan, lalu telur itu menetas dan menjadi kecebong… saat menjadi katak dewasa bobot badan mereka terlalu berat, lalu jatuhlah.”

Perempuan itu hanya tertawa mendengar penjelasanku. “Kamu lucu.”

“Lucu bagaimana?”

Ia tak menjawab.

Katak-katak masih terus berjatuhan. Mereka ada di mana-mana, suara mereka terdengar kering dan begitu nyata. Tak ada lagi petir. Mungkin petir tadilah yang membangunkan katak-katak ini yang tengah tertidur nyenyak sambil menunggangi awan. Suara petir berganti menjadi paduan suara katak yang lebih memekakkan. Darah katak berceceran, mengalir bersama air hujan, masuk ke parit. Mungkin setelah ini aka nada hujan darah. Aku tidak tahu.

“Pertiwi,” bisik perempuan itu. “Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhina.”

Aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan, mungkin mengutip sebuah buku, lirik lagu, atau mantra. Entah. Apa sesungguhnya yang dipikirkan perempuan itu, aku tidak tahu. Apakah ia memikirkan hujan katak ini? Aku rasa tidak. Perempuan itu jelas sibuk dengan pemikirannya sendiri, barangkali tak tersisa ruang untuk memikirkan dunia ini. Kalau pun dunia akan kiamat, barangkali ia tak terlalu peduli.

Ia menahan nafas. “Kamu pernah memikirkan ke mana jari-jarimu pergi?”

Aku menggeleng. “Aku nggak pernah berpikir sejauh itu.”

“Menurutku jarimu sengaja hilang,” tangan perempuan itu meraih telapak tangan kiriku, memandanginya dengan seksama di tengah suara katak yang bersahutan.

Aku mengerenyitkan dahi. “Maksudmu?”

“Seperti tato, ada orang yang percaya tato itu untuk melengkapi apa yang alam belum berikan. Aku sendiri, sih, tidak setuju. Tapi menurut mereka tato itu menyempurnakan tubuh mereka. Aku pikir, jari-jarimu itu seperti itu.”

“Jadi menurutmu, jariku hilang untuk menyempurnakan tubuhku, begitu?”

“Bukankah lebih enak menyikapi kehilangan dengan berpikir seperti itu?”

Setelah itu ia melompat dari kursi, kemudian berlari menembus hujan katak. Ia meninggalkan sepatunya, seperti Cinderella. Tetapi aku adalah pangeran malas yang tak memiliki keinginan untuk berusaha mencari pemilik sepatu.

Kupandangi sepatu itu sambil membayangkan kaki pemiliknya. Setelah hujan katak ini reda, aku akan pulang meninggalkan sepatu itu. Aku tahu, sesuatu dari diriku telah dibawa pergi oleh perempuan itu. Ia, dengan kebohongannya, telah mencuri sesuatu. Sesaat terbesit rasa penasaran untuk mengetahui kebenaran tentang dirinya. Namun, kubuang jauh-jauh rasa penasaran itu. Bukankah lebih enak menyikapi kehilangan dengan berpikir seperti ini.

Seekor katak di bawah bangku memandangiku, kantung suaranya kembang kempis.

krok krok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s