Pesan Dalam Botol

IMG_20151227_174036

PAGI INI AKU menemukan botol lagi. Terdampar begitu saja bersama helaian kelp dan ranting oak basah di pantai, tak jauh dari rumah peristirahatanku. Sama seperti kemarin pagi, dan kemarin paginya lagi, kuambil botol itu dan melempar-lemparnya beberapa sentimeter ke udara sambil berjalan menuju nyiur terdekat.

Tiga hari yang lalu aku datang kesini. Sebuah pantai tanpa nama dekat Massachusetts Bay. Jauh dari Jakarta. Temanku menyarankan untuk tinggal satu hingga dua bulan di sini, ia yang mengurus segalanya mulai dari transportasi hingga penginapan. Ia memintaku untuk diam dan menurut saja, maka aku diam dan menurut saja, itu tidak sulit.

Temanku bilang, ia akan membungkusku  dengan kardus, membubuhi alamat lengkap, kode pos, serta nomor telepon, kemudian menitipkanku ke layanan jasa pengiriman barang antar negara. Seseorang di belahan bumi lain akan menjemputku di bandara, dan kau akan di antar ke alamat yang kutuliskan. Aku tak perlu melakukan apapun selain diam.

Begitulah hingga pada malam tiga hari yang lalu aku tiba di depan pintu sebuah rumah panggung sederhana di tepi pantai. Nyaris mirip barang yang diantar, bedanya, di rumah panggung ini sang penerima barang itu bukan manusia melainkan kekosongan belaka. Ya, aku sengaja diantar ke sini untuk menemui kekosongan. Memutus salah satu takdir manusia sebagai makhluk sosial, menurut temanku itulah yang harus kulakukan saat ini. Seperti yang ia minta, aku diam dan menurut saja. Lagipula, itu tidak sulit.

Selama di tempat ini, aku hanya berjalan menyusuri pantai. Tidak cukup jauh sampai aku kehilangan pemandangan rumah panggungku, jika sudah merasa terlalu jauh aku akan berjalan balik. Kadang aku berjalan sedikit menuju laut, berhenti saat ombak menenggelamkan separuh badanku, lalu kembali lagi ke daratan dengan kantung celana dipenuhi pasir. Tak ada orang di sini, dan memang aku tak memiliki kepentingan untuk bertemu orang lain.

Tiga hari berlalu begitu saja. Barangkali kebosanan dan waktu sedang adu lari. Semakin aku merasa bosan, semakin cepat pula waktu berlalu. Aku membakar rokok di pagi hari, dan ketika rokoknya habis hari sudah petang.

Aku baru sadar, lagu-lagu di telepon selularku itu-itu saja sejak dua tahun terakhir. Menyadari fakta itu membuatku berpikir, barangkali aku tidak suka musik.

Tak ada hari baru, segalanya hanya pengulangan dan pengulangan yang apabila semakin kupikirkan semakin nyatalah bahwa segalanya tak bermakna. Mungkin seseorang menemukan kalender dan menamai hari hanya untuk memberi orang lain ilusi bahwa hari berubah, bahwa kemarin tak sama dengan hari ini, nyatanya sama saja. Atau, aku merasa seperti itu hanya karena aku tidak melakukan pekerjaan penting? Aku rasa tidak begitu. Pekerjaanku sangat penting, setidaknya menurut temanku seperti itu. Sangat penting bagi siapa, aku tidak tahu.

Rokokku sudah habis. Kubenamkan bara apinya ke dalam pasir, lalu aku memutuskan untuk kembali ke rumah panggung dengan membawa botol yang kutemukan hari ini. Saat perjalanan pulang, aku menemukan satu botol lagi. Botol itu terlempar jauh ke pantai, mungkin karena itu tadi aku melewatkannya. Kali ini botol Gin.

Gin?

Dua botol yang kutemukan hari ini kuletakkan bersama botol-botol lain di atas meja ruang tamu. Botol-botol ini kutemukan sejak hari pertama. Sekarang sudah enam buah jumlahnya; Martini, Bourbon, tiga botol Vodka, dan tak kusangka, ada Gin juga. Gin ini mungkin dibuang oleh pelaut malang, dihantar ombak hingga terdampar ke pantai ini. Bisa juga nelayan cod frustasi. Yah, siapa lagi?

Ada yang menarik dari botol-botol ini. Di dalamnya terdapat kertas, digulung, dan dimasukan begitu saja. Aku jadi berandai dari mana datangnya.

Hipotesa pertamaku sederhana: seorang pelaut mabuk membuang botol-botol ini dari kapalnya. Tak ada sentuhan drama. Murni hasil kerja iseng pemabuk. Bah, dangkal sekali! Lalu bagaimana dengan gulungan kertas di dalamnya?

Baiklah, kutambahkan sedikit.
Ada bar di tengah laut. Bermil-mil nun jauh di laut lepas. Saat gelombang tenang, di sana berdiri bar. Ya, bar. Bar saja. Hanya ada meja bar. Tanpa dinding, tanpa bangunan. Para pelaut akan menjangkarkan kapal mereka seratus meter dari bar itu, lalu mendekat dengan sekoci. Mereka menambatkan sekoci di dekat meja, memesan minuman keras, lalu menikmati minuman keras di atas sekoci yang terus bergoyang. Setelah merasa cukup, mereka kembali ke kapal.
Tentu akan banyak sekali botol kosong di sekitar bar itu. Sang pemilik bar memanfaatkannya. Ia menuliskan titik koordinat bar itu di atas kertas, menjelaskan posisinya dengan pesan rahasia yang hanya diketahui oleh para pelaut. Semacam metode periklanan untuk menarik minat pelanggan. Bagaimana pun dunia memang diselubungi rahasia, dan rasanya tak ada satupun orang yang tak tertarik dengan rahasia.

Aku serius sekali berkhayal. Ruang waktu di luar kepalaku seakan bergerak cepat. Dan saking cepatnya, aku lupa apa saja yang kulakukan selagi kepalaku mengkhayal tak jelas.

Keesokan paginya, mudah ditebak, aku menemukan botol lain lagi. Kali ini jumlahnya tiga buah. Aku mengambil jarak. Kuamati botol-botol itu dari jauh. Mereka tidak diam saja. Riak kecil mengayunnya, tapi helaian kelp bersama ranting menahannya. Seperti tidak rela mereka diseret kembali ke tengah laut.

Kuambil botol-botol itu, membukanya, kemudian membaca isi pesannya. Isinya, seperti biasa, sebuah paragraf yang berisi keluhan dan kesepian hidup. Tulisan tangannya sungguh jelek, seperti cacing yang sedang melakukan tari kejang. Kalau ada cacing yang bisa tari kejang maka akan nampak seperti tulisan ini. Hingga tiba di gulungan kertas ketiga, aku merasakan sesuatu yang bergerak di dalam kepalaku. Sebuah tulisan singkat yang hanya terdiri dari dua suku kata di dalam gulungan ketiga ini membuatku memikirkan sesuatu. Rasa-rasanya aku mengenali tulisan tangan ini. Perasaan familiar sesaat membuatku merinding.

Setahuku di tengah laut sana ada gugusan kepulauan minor, belasan pulau kecil tak berpenghuni membentuk formasi acak, memecah gelombang samudera hingga hanya ombak ramah yang sampai ke Massachusetts Bay. Dan aku curiga, ada seseorang terdampar di salah satu pulau itu. Dia yang melarung pesan S.O.S ini dalam botol.

Aku berharap dia seorang perempuan yang menanti diselamatkan. Dia mungkin menemukan botol-botol ini di pulau itu. Barangkali pulau itu tempat penyelundup menyembunyikan minuman keras di era perang dunia kedua. Suatu hari terjadi gempa, botol-botol dan drum yang ditimbun di ruang bawah tanah kemudian bocor, akibatnya ratusan liter minuman keras itu merembes dan mencemari pulau kecil itu. Semua tumbuhan di sana mengandung alkohol, meminum air kelapa atau makan buahnya saja bisa membuat mabuk. Ia bertahan hidup dengan makan dan minum apa saja yang ada di pulau itu, dan untuk mengusir sepi ia menuliskan surat-surat ini, memasukkannya ke dalam botol-botol kosong yang pasti jumlahnya sangat banyak di pulau itu. Kesepian dan terus mabuk. Perlahan ia menjadi gila, tapi sangat puitis.

Dari mana datangnya kertas dan pena untuk menulis, aku belum bisa membayangkannya. Mungkin ada semacam kantor administrasi terbengkalai di sana, atau ia menemukan pena di antara ratusan botol yang berserak. Untuk sementara, itulah dugaanku.

Terlintas ide membuat rakit dari botol-botol ini, tapi jumlahnya saat ini jauh dari cukup. Akan kutunggu saja beberapa hari sampai jumlahnya puluhan, atau beberapa bulan hingga ratusan. Toh, sang perempuan bisa menunggu. Atau jika ingin cepat, kubuat saja perahu dari ranjang kayu dan semua furnitur berbahan kayu di rumah panggung. Jumlah kayu di rumah itu lebih dari cukup untuk membuat perahu kecil lengkap dengan tiang bendera dan bonus seprai putih polos untuk layar.

Sepanjang hari aku duduk di pantai sembari memikirkan aksiku untuk menyelamatkan perempuan itu, menyusun strategi pelayaran, hingga memikirkan peesediaan makanan. Santai saja, waktuku tak terbatas.

Duduk di atas pasir, memikirkan pelayaran kecil, dengan mata menatap langit sambil berharap sesuatu yang ajaib melintas seperti piring terbang dan monster laut sangat menyenangkan.

Massachusetts Bay pernah terkenal dengan rumor U.F.O-nya, tapi sejak tahun 90-an tidak ada lagi laporan penampakan. Seolah setelah tahun itu, para alien tahu mereka tak perlu repot singgah di bumi. Perlahan tapi pasti, penduduk bumi membunuh diri mereka sendiri. Mereka hanya perlu sabar. Tak masalah menunggu, mereka sudah menunggu dari zaman purba.
Dugaanku, benda yang sebelumnya dikira U.F.O itu hanya pari manta. Jangan salah sangka, pari manta bisa meloncat keluar air sampai kira-kira setinggi 15 kaki. Aku pernah membacanya di ensiklopedia. 15 kaki, sekitar empat meter lebih, cukup tinggi untuk dianggap terbang. Bentuk pari manta jelas mirip piring. Biasanya dalam kawanan dua sampai tiga ekor melayang di atas sampan. Dan karena mereka meloncat di tengah laut, orang-orang tidak dapat melihatnya dengan jelas dan menyimpulkan bahwa mereka telah melihat U.F.O di sini.
Ramailah berita itu, gosip berkembang seperti virus menyebar dari mulut ke telinga, dari telinga ke otak, menyusun cerita yang lebih fantastis, lalu kembali disebarkan dengan mulut. Dan terus berulang. Hingga tiba di tahun 90-an, ketika pantai mulai ramai dan semakin keruh, keturunan pari manta berikutnya sudah kehilangan otot-otot mereka untuk terbang. Kehilangan kemampuan untuk pergi melampaui batas.
Maka, sejak saat itu tak ada lagi penampakkan sesuatu-yang-diduga-piring-terbang.
Senja sudah lewat saat aku berjalan menuju rumah panggungku. Suara derit lantai kayu terdengar bersama langkah begitu aku masuk ke dalam.

Aku berjalan menuju bar. Ya, rumah panggung ini memiliki bar mini, semuanya dari kayu yang di cat putih. Dan temanku yang baik telah memenuhi rak-raknya dengan berbagai jenis minuman keras. Ada yellow fin tuna besar yang diawetkan menggantung di dinding, seandainya itu marlin mungkin lebih serasi.

Aku bisa sedikit meramu dengan mencampurkan Gin dengan tonic. Tapi, aku sedang malas melakukan hal-hal yang merepotkan. Kutenggak saja Vodka ini, dan tentu saja, tanpa musik.

Sejak tinggal di tempat ini, telepon selularku berubah fungsi menjadi alat pemutar musik saja. Tetapi aku sedang malas mendengar musik, maka telepon selular itu kini berubah menjadi benda tak berguna yang tergeletak pasrah di atas meja. Layarnya menatap langit-langit dengan tatapan kosong dan dingin khas benda mati. Seperti bangkai tikus yang mati terlentang setelah mengonsumsi ikan goreng beracun.

Sebotol Vodka telah habis, tetapi aku belum menemukan hal lain yang ingin kulakukan. Kuambil lagi sebotol Vodka, dan meminumnya lagi. Sudut mataku menangkap benda putih berbaring di ujung meja. Kudekati benda itu, ternyata hanya sebuah buku tulis yang terbuka, di tengah halamannya terdapat pena souvenir hotel di Jakarta.
Kuambil buku dan pena itu, sambil menghabiskan botpl ke dua, aku mulai menulis sesuatu. Bagaimanapun, sangat sulit menahan keinginan untuk bercerita. Akan tetapi, di sini tak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara. Ya sudah, aku menulis saja.

Selesai menulis, kugulung kertas itu hingga cukup kecil untuk masuk ke bibir botol vodka. Aku memutuskan untuk melempar botol ini ke tengah laut, mungkin akan tiba di pulau tempat perempuan itu terperangkap. Sekadar berbagi cerita, bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang kesepian di dunia ini. Tapi, meski sendiri dan merasa kesepian, kita akan baik-baik saja. Tuhan pun sendirian, kesendirian Tuhan adalah kekuatannya.

Aku membuat dua tulisan. Semakin banyak jumlahnya tentu semakin besar untuk sampai ke sana. Selesai menulis dan memasukkan kertas itu, aku keluar untuk melempar dua botol itu sekuat tenaga ke laut. Sejauh-jauhnya. Menurut perkiraanku esok pagi surat itu akan tiba di pulau kecil tempat perempuan malang itu.

Meski sempoyongan, aku berusaha untuk tetap sadar. Menghindari kursi, membuka pintu tanpa harus menabraknya lebih dulu. Karena hanya dengan cara itulah aku bisa merasa yakin bahwa aku tidak sedang mabuk.

Keesokan paginya, mudah ditebak, aku menemukan botol lain lagi. Kali ini jumlahnya dua buah. Aku mengambil jarak. Kuamati botol-botol itu dari jauh. Mereka tidak diam saja. Riak kecil mengayunnya, tapi helaian kelp bersama ranting menahannya. Seperti biasa,mereka seolah tidak rela botol-botol itu diseret kembali ke tengah laut.

Kudekati botol-botol itu, sambil menebak-nebak sendiri. Mungkin kali ini Bourbon atau Martini. Setelah kudekati, ternyata tebakanku meleset total. Kedua botol itu adalah Vodka.

***

Di suatu siang yang mendung, temanku menelepon. Ia mewartakan berita baik, baik bagi siapa? aku tidak tahu.
Intinya, ia bilang keadaan berangsur membaik. Orang mulai lupa. Itu sudah diperhitungkan, publik memang mudah sekali lupa. Setiap hari selalu saja ada berita menghebohkan, dan berita yang lalu akan dibiarkan berlalu. Berita basi, begitu kata mereka.

Temanku berkata bahwa jika tak ada halangan, bulan depan aku bisa kembali ke Jakarta. Aku tidak tahu apakah harus bergembira atau bersedih, yang pasti jika aku pulang, kesempatanku untuk bertemu perempuan itu akan sirna.

Aku duduk di beranda rumah panggung, menatap titik di mana laut dan langit bertemu. Karena bosan, aku mengalihkan pandangan ke pantai. Sebuah rakit kecil yang disusun dari botol-botol kosong terombang-ambing oleh gelombang. Mengapung sebisanya.

 

Mantarena, 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s