Permen Karet

It can’t take a joke,
find a star, make a bridge.
It knows nothing about weaving, mining, farming,
building ships, or baking cakes.

Kabar kematian selalu seperti permen karet yang menempel di celana saya. Saya bisa menyingkirkannya dengan mudah, cuma perlu menempelkan permen karet dengan batu es dan semua akan beres. Tapi, beberapa kali berhadapan dengan kabar duka–salah duanya malah bertatap muka–bikin saya berpikir buruk: apakah saya cuma perlu merelakan permen karet itu menempel selamanya?

Selamanya itu mengerikan.

Pertemuan pertama kami, sejauh yang saya ingat, adalah tahun 1996. Kakek saya meninggal saat saya sedang memijat kakinya. Sebelumnya, ia tergelincir di kamar mandi, tak bisa bangun. Papa membawanya ke rumah sakit. Saya memijit kakinya seharian. Ini pengalaman pertama saya satu ruangan dengan maut.

In our planning for tomorrow,
it has the final word,
which is always beside the point.

Dua tahun setelahnya, kami bertemu lagi. Hari itu sekolah diliburkan karena kerusuhan pecah. Kau bisa melihat asap membentuk permen kapas raksasa, orang-orang menyanyi dan mengibarkan bendera di atas truk, dan kau bisa menontonnya di televisi. Seperti perayaan besar. Tak ada anak-anak yang tak tertarik dengan perayaan. Saya dan beberapa teman memutuskan melihat langsung. Kami berjalan kaki menuju sumber asap, harus memutar lewat kebun dan sungai besar, sebelum akhirnya tiba di pelataran Ramayana dan melihat sepotong kaki yang saat itu lebih mirip singkong bakar. Petugas menggiring kami ke dekat mobil pemadam kebakaran, dan inilah yang saya kira disebut jodoh: kami berdiri di samping barisan kantung-kantung berisi mayat. Beberapa tak tertutup rapat. Saya seharusnya tidak datang ke tempat itu, saya seharusnya menjaga Mama yang sedang hamil besar. Begitu pesan Papa ketika menjemput saya.

It can’t even get the things done
that are part of its trade:
dig a grave,
make a coffin,
clean up after itself.

Preoccupied with killing,
it does the job awkwardly,
without system or skill.
As though each of us were its first kill.

Sehari kemudian kami diungsikan ke rumah Bunda (adik nenek saya) di Jalan Sawo, Menteng. Kendaraan lapis baja yang lewat di depan rumah Bunda menuju Jalan Cendana dengan cepat mengalihkan pikiran saya dari kantung-kantung mayat. Saya mengikuti tank dari belakang sambil berteriak-teriak minta naik.
Seminggu setelah itu, tukang kebun yang dibayar untuk menyingkirkan ranting-ranting pohon sawo kering menginjak dahan yang rapuh, jatuh,  dan mendarat di pagar rumah Bunda. Saya sedang main Nintendo.

Empat bulan kemudian, September 1998, Mama melahirkan. Syahrir Pamungkas, adik laki-laki saya, meninggal setelah melalui 2 hari terpanjang dalam hidupnya di dalam inkubator. Padahal saya senang melihatnya di dalam akuarium itu, seperti melihat ikan mas koki.

Oh, it has its triumphs,
but look at its countless defeats,
missed blows,
and repeat attempts!

Sometimes it isn’t strong enough
to swat a fly from the air.
Many are the caterpillars
that have outcrawled it.

All those bulbs, pods,
tentacles, fins, tracheae,
nuptial plumage, and winter fur
show that it has fallen behind
with its halfhearted work.

Keluarga kami pindah ke Bogor, tinggal bersama nenek, di awal tahun 1999. Nenek saya menghabiskan masa tuanya dengan melahap nyaris semua telenovela dan sinetron dan kuis yang tayang di televisi. Ia hafal jadwal tayang masing-masing, dan telenovela adalah favoritnya: Maria Mercedez, Si Cantik Clara, Marimar, Rosalinda, Cinta Paulina, dan seterusnya. Sejujurnya, ketimbang sekolah, saya lebih senang menemani Nenek menonton Paquita Gallego. Suatu hari, kondisi tubuh yang kurang baik membuat nenek saya mesti melewatkan beberapa episode telenovela favoritnya. Dan kematian tidak mau menunggu sampai episode terakhir telenovela itu ditayangkan. Saya, lagi-lagi, satu ruangan dengan maut.

2005 adalah tahun di mana saya benar-benar berhadapan dengan kematian. Sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak saya, dan setelah itu rasanya seperti menonton film. Saya terpelanting sejauh sepuluh meter, mendarat di aspal, dan tidur selama tiga hari. Saat bangun saya sudah ada di rumah sakit dengan tulang paha kanan remuk dan geger otak. Saya tidak mati, tidak sekolah selama empat bulan lebih, dan tidak bisa main skateboard lagi.

Teman sekelas saya, Deni Ramadhan Noerdin, meninggal lebih dulu.

Ill will won’t help
and even our lending a hand with wars and coups d’etat
is so far not enough.

Hearts beat inside eggs.
Babies’ skeletons grow.
Seeds, hard at work, sprout their first tiny pair of leaves
and sometimes even tall trees fall away.

Whoever claims that it’s omnipotent
is himself living proof
that it’s not.

Pada 2009, teman main basket sekaligus tetangga saya, Dani Dwi Permana, memutuskan untuk meledakkan diri di Hotel JW Marriot. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak kedua orangtuanya bercerai, kabarnya dia pindah ke Riau. Saya bertemu dia lagi melalui siaran televisi pagi yang memutar ulang video seseorang membawa koper dan meledak. Hari itu juga kompleks ramai, semua orang mengunjungi rumah Dani yang hanya ditinggali ayah dan kakaknya. Saya dan teman saya yang lain, Glen, duduk di tempat tinggi sambil mengisap ganja. Berkelakar tentang betapa tololnya anak itu, yang bertahun-tahun kemudian saya sesali.

Dari semua orang di keluarga, saya senang menghabiskan waktu bersama Abdul Aziz, paman saya. Saya memanggilnya Mas Aziz. Untuk standar anak puber, Mas Aziz adalah paket lengkap: jago main gitar, punya tato banyak, melompat-lompat dengan BMX, mahir melukis, bisa membuat alat-alat aneh dari kayu, dan pandai melipat-lipat kertas. Dia mengajari saya mulai dari cara bermain gitar, melakukan bunny hop–trik melompat dengan BMX, hingga origami. Suatu hari ia patah hati dan memutuskan untuk mengonsumsi alkohol lebih banyak dari biasanya. Livernya rusak. Perutnya membuncit. Setiap hari ia harus menjalani sedot cairan perut di rumah sakit di daerah Cisarua. Pertengahan Maret 2012, saya seruangan dengan maut, lagi. Dan Mas Aziz meningalkan permen karet di celana saya, lagi.

Istri kakak saya kena serangan jantung setelah melahap nanas di tahun 2015. Tentu bukan karena nanasnya, komplikasi jantung dan kolesterol dan gula darah membuatnya tak tahan lagi. Ia meninggalkan anak semata wayangnya yang kini tinggal bersama kami. Anak ini dekat sekali dengan Mama. Mama sudah tua. Saya cuma berharap Mama baru akan pergi setelah anak ini cukup dewasa untuk malu bermanja-manja dengan neneknya. Saya tidak mau anak ini kena hantam maut dua kali.

There’s no life
that couldn’t be immortal
if only for a moment.

Malam tadi saya baru dapat kabar duka. Mauludie Adam, satu dari sedikit teman baik saya, meninggalkan permen karet lagi di celana saya. Sialan. Dia ini anak paling sehat yang pernah saya tahu: atlet basket berbakat (menyabet gelar MPV dua tahun berturut-turut di liga basket antar sekolah), drummer, dan kerajingan adrenalin. Dia satu-satunya orang yang pernah melompat dari atap sekolah setinggi dua meter dan mendarat di lapangan sepakbola, dia berusaha mengerti alasan mengapa saya mencangkul halaman sekolah sebagai bentuk protes, dia menemani saya di kantor polisi semalaman. Sebelum bandnya bubar–saya yang membentuk band itu, dan saya adalah orang pertama yang keluar dari band. Audi melanjutkan band itu sampai kira-kira setengah tahun. Reputasi saya sebagai orang-yang-hobi-bikin-band-dan-meninggalkannya bikin tak ada lagi orang yang percaya main band dengan saya–kami minum bir di Circle K depan Museum PETA, Bogor, sambil membicarakan My Bloody Valentine dan kemungkinan membuat band baru dengan personel hanya dua orang. Dia bilang, “Alah. Nanti juga lu bosen.”

Saya cuma ketawa.

“Lagian kalau cuma berdua, repot. Lu kan bakal mati duluan nih, Sab (dia memanggil saya Sabda). Nanti gua yang repot.”

Death
always arrives by that very moment too late.

In vain it tugs at the knob
of the invisible door.
As far as you’ve come
can’t be undone.

Saya belum tidur semalaman, berusaha mengingat kapan terakhir kali saya membersihkan permen karet di celana saya. Beberapa kali berhadapan dengan kabar duka–salah duanya malah bertatap muka–bikin saya menyadari satu hal: saya tidak pernah menyingkirkan sekumpulan permen karet sialan itu. Selama ini yang saya lakukan cuma merelakannya menempel.

Merelakan itu menguras energi.

 

Puisi yang dicetak miring adalah karya Wislawa Szymborska yang berjudul On Death, without Exaggeration

Iklan

Musim Dingin di Monte Carlo

Jika langit bersih, di horizon kemerahan yang seakan mengapung di atas laut Mediterania, kau bisa melihat pegunungan Corsica berbaris seratus mil dari tempatmu berdiri. 
Di malam hari kau bisa melihat bintang-gemintang yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari tempatmu berdiri.

Tetapi jika kau tenggelam–sekali pun air laut tampak jernih–kau cuma bisa melihat objek buram yang jaraknya tak lebih dari setengah lapangan bola. Benda itu mengapung di atasmu, bergoyang lemah, seperti seledri.

Air dan kedalaman menghalangi sinar matahari yang biasanya mewarnai pakaian terbaik seledri itu, yang membuatnya tampak cantik di depan semua orang, menyisakan bentuk dan warna yang tak menggairahkan sama sekali.

Kau terpenjara di tempat seperti itu. Kurang dari dua menit lagi, jika temanmu gagal meraih tanganmu; jika kau gagal sampai ke permukaan, kau akan mati. Kau akan mati di dunia yang tak kau kenali.

Kau tahu dia harus bergegas ke permukaan, mengambil napas. Setelah itu dia akan terbatuk sedikit, dan mungkin menangis. Dia akan naik perahu yang kalian sewa, duduk di atas peti ikan, dan menutup wajahnya sendiri. 

Matahari segera mengembalikan warna pakaian terbaiknya, yang kau sukai, dan angin laut akan membuatnya menggigil. Dia sepertinya akan duduk di sana selama beberapa menit, memikirkanmu, membayangkan kepalamu menyembul dan memanggil namanya.

Kematianmu bukan hal luar biasa dan mengganggu andai saat hidup kau tidak meninggalkan jejak.

Hantam

Kehendak bukan, dan tidak akan pernah menjadi, lawan sepadan di atas ring. Tetapi mengulur-ulur pertarungan juga bukan ide bagus. Sepanjang waktu selama kau berusaha menunda, ia muncul pada piksel cacat layar komputer, pada bau keringat, pada sebotol vitamin C 1000 mg. Menagih janji.

Ia menunggu hari di mana kau merasa segalanya sudah cukup: keluargamu baik dan sehat dan terjamin, teman-temanmu baik dan sehat dan terjamin, dan kau pikir darmamu sudah tidak perlu ditambah lagi. Seperti yang kau janjikan.

Kau tampaknya tak akan bisa membuat dunia jadi lebih baik: ia akan selalu seperti film horor jelek yang saking buruknya akan sayang dilewatkan apabila kau menutup mata dan telinga. Lelucon bisa menguranginya, sedikit. Pada beberapa kesempatan humor yang bikin ketawa cukup melegakan. Tetapi yang model begitu hanya seperti krim anti penuaan yang rutin kau oles sejak usia 20; hanya bisa menunda.

Kau berpikir bahwa kau tak akan meninggalkan dunia ini–kau masih ingin melihat unikorn pemakan cupcake di kala hujan, ingin melihat kutu anjing di sofa, ingin menyeberang ke Suriname atau Pamplona. Bahwa kau mencintai sekaligus membenci dunia dengan intensitas yang sama di waktu bersamaan pula.

Jadi yang kau perlukan hanya keyakinan bahwa apa yang kau lakukan cukup. Jika hari itu tiba, penuhi janjimu: naiklah ke ring. Dan hantam.

Saat kau mati, kau selamat; tak ada yang bisa menyentuhmu

Mongrel hitam-putih mondar-mandir di depan pintu seperti pelayan ber-dinner suits yang takut membangunkan tuannya tetapi tak kepengin sang Tuan melewatkan makan malam.

Ia berhenti di dekat kaki meja. Meringkuk seraya memandangi pesawat telepon, sebelum benda itu berbunyi dan membuatnya langsung berada dalam posisi siaga, lalu meringkuk lagi setelah telepon berhenti berdering.

Ia menaruh dagunya di lantai. Pada hari-hari biasa di jam-jam begini, di bawah meja itu selalu tersedia semangkuk makanan.

Tidak Perlu Melempar Koin

Nasib buruk satu orang tak ada urusan dengan nasib baik orang lain.

Seorang anak menunggu kereta ekonomi Jabodetabek lewat. Tangan kanannya menggenggam batu. Ia melihat lokomotif, menyusul suara peringatan palang pintu rel. Anak itu, dengan meniru gaya pahlawan super favoritnya, memasang kuda-kuda. Kereta lewat. Ia melempar batu sekuat tenaga. Batu menyusuri gerbong satu, gerbong dua, gerbong tiga, dan masuk gerbong empat melalui jendela dan mengenai pelipis Gula Batu yang sedang melamun. Kena kepala. Tentu saja telinga anak itu tak menangkap jeritan Gula Batu, ia sibuk meloncat-loncat kegirangan sebab baru saja melampaui rekor pribadi.

Sementara di dalam gerbong empat, Gula Batu menutup pelipisnya. Darah mengaliri tangan kanannya. Beberapa penumpang memandang iba, bahkan sempat-semoatnya bertanya apa yang ia rasakan. Sakit belaka. Seorang bapak yang berdiri di belakangnya menepuk pundak Gula Batu dan berkata: beruntung tidak kena mata.

Petugas kereta menghampiri Gula Batu, menanyakan hal yang baru ditanyakan penumpang lain beberapa menit lalu. Sakit belaka. Petugas membuka jalan, Gula Batu mengikuti sambil meringis. Beruntung. Jalan mereka nyaris tanpa hambatan sampai seorang ibu yang membawa dua tumpuk sayur dan ayam hidup tak bisa menggerakkan belanjaannya. Tak ada ruang lagi. Sakit belaka. Ibu itu sesungguhnya bisa saja memaksakan diri, ia bisa mendorong belanjaannya sekitar sepuluh senti, namun itu artinya satu dari empat penumpang yang menggelayut di pintu harus meloncat selagi kereta melaju dan itu rasanya tindakan yang kurang bijak. Petugas melirik Gula Batu, memintanya untuk sedikit bersabar, “Sebentar lagi Stasiun Pasar Minggu,” katanya, “Anda bisa turun dan mendapat pertolongan pertama.”

Petugas itu rupanya tidak tahu, Gula Batu sudah mendapat pertolongan pertamanya dari bapak yang tampaknya gemar bersyukur: “Beruntung tidak kena mata.”

Darah Gula Batu sudah malas keluar ketika mereka tiba di ruang operator yang terdapat kotak P3K di dinding. Petugas mengambil kapas dan alkohol, membersihkan luka sambil mengeluh sementara operator kereta sibuk memperhatikan lampu sinyal kereta.

“Aku belum siap menganggur,” katanya, “Tapi juga tidak tahan kerja begini.”

“Tidak ada yang memaksamu terus bekerja,” si Operator menyahut. Tangannya sibuk mengupasi kacang.

“Ya, memang.” Petugas Kereta Api menekan terlalu keras hingga Gula Batu hampir meninju wajahnya. “Tidak ada juga yang memaksamu untuk mendengarkan aku.”

“Aku sudah hafal keluhanmu, jadi rasanya tak perlu repot-repot mendengarkan.”

SesungguhnyalahvGula Batu tak ingin terjebak dalam obrolan itu, yang hanya membuatnya membayangkan hal yang mestinya ia lakukan sebelum kena lempar batu. Jika saja ia punya sedikit keyakinan, ia tak perlu merasakan sakit lagi. Ia mengingat-ingat pesan singkat dari atasannya dan wajah-wajah rekan kerjanya dan ekspresi kekasihnya dan pilihan paling masuk akal yang tak ia ambil.

Gelombang Besar

Karena hidup tak bisa dibikin lebih singkat lagi, kutekankan di sini: kau boleh patahkan batang hidungku berkali-kali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Karena hidup tak bisa dibikin lebih pepat lagi, kutekankan di sini: ambil kerah lawan dan pukul sampai tak kaukenali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Dibangun di atas pasir, pada dasarnya, kesedihan gampang roboh.

Tapi aku orangnya pacak menemukan cara buat menyerah.

2017

Dan Jadilah Demikian

Beruang tetanus dan sekarat akhirnya mati
Empat pria berseragam menyingkirkan bangkai
Dari pandangan penonton yang sedang menghindar
dari pandangan beruang yang seperti
payet hitam di gaun perempuan di pagar
dekat papan nama latin bertuliskan
Helarctos malayanus–beruang matahari
Perempuan itu menyingkir pelan-pelan

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

Sedang berusaha menyelesaikan apa yang suda dimulai. Hhh. Mungkin baru beres dua atau tiga tahun lagi. Ditaruh di blog, biar jadi semacam pengingat. Bole intip kalau mau. Hehe~

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

“Konyol sekali, menghabiskan 10 tahun cuma untuk menciptakan manusia. Kalau kau tak bisa bikin manusia lebih cepat daripada alam, sebaiknya kau tutup saja bengkel ini.” -Nasihat Rossum muda kepada Rossum tua (Rossum’s Universal Robots – Karel Čapek)

Demi keamanan dan keadilan, semua nama tokoh dalam kumpulan cerita ini disamarkan.

[…]

Stasiun radio terakhir di muka bumi sudah bangkrut sedekade lalu, dan yang saat ini sedang kamu dengar adalah suara hantu yang membajak frekuensi. Sobat Begadang Nusantara, selamat datang di Jurit Malam, Tidur di siang hari, menganggur di malam hari bersama Madam Luluk dan Bang Ben Bugimen.

[jingle Jurit Malam] Papa-Alfa-Charlie-Alfa-Romeo mengajakku gombal di udara~ memang cinta asyik di mana saja walau di angkasa~

[…]

“Eh, kau punya nomor telepon Bill Gates?” Sebuah ponsel mendarat di dasbor, menyenggol miniatur Dieguito dan membuatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Bill Gates Microsoft?”

“Bill Gates mana lagi?”

“Kukira kau menyebut nama tetanggaku,” ia berdeham. “Kau bertanya nomor telepon Bill Gates seolah kami tinggal bersebelahan.”

“Aku ingin meneleponnya dan bilang ‘Sebelum melakukan hal-hal menjijikan sebaiknya pikirkan puki emakmu.’ atau apalah.”

“Memangnya, ada masalah apa antara kau dengan si Bill?”

“Dulu dia bilang Open Source berbahaya, dikait-kaitkan dengan komunisme segala. Sekarang Microsoft bergabung dengan Linux Foundation. Memang bajingan si Jembut Anjing ini, tak heran dia kaya raya.”

Sebuah tangan menghentikan goyangan Maradona, “Lantas, apa yang bikin kau marah? Kau pernah dengar pepatah: Jika kau tak bisa mengalahkan musuhmu, ajaklah mereka bekerjasama.”

Tangan lain menyentil kepala Maradona, “Jadi, apa sudah saatnya kita menyerah dan bekerjasama dengan mobil di belakang?”

Sambil berdeham, lelaki bersuara bariton membenarkan posisi spion tengah. Lampu merah dan biru berkedap-kedip. “Kau pikir aku tak bisa mengalahkan dia, ya?”

[…]

Menyetir mobil dengan lambung berisi seliter Topi Miring dan dua mayat di bagasi bukanlah hal mudah. Setidaknya itu yang dialami jagoan kita, Napas Kecoa, lima belas menit lalu sebelum ia dan mobil dinasnya menabrak pembatas tol di kilometer 26, meluncur tak terkendali di tanah curam, dan berhenti setelah menabrak gubuk di tepi sawah.

[…]

Ia mengingat-ingat pertama kalinya jatuh hati kepada pistol. Hal pertama yang muncul di dalam pikirannya adalah lampu-lampu neon yang merangkai nama Louis, restoran Italia-Amerika dan bagaimana seseorang membuka botol dengan cara diputar-putar, ditekan, dan ditarik hingga berbunyi ‘plop’, tak lama kemudian seseorang mati di meja makan. Plop. Mungkin begitu bunyi ketika nyawamu copot.

[…]

Nah, itulah ruginya orang yang tidak banyak bicara. Padahal kalau diajak bicara, kan, tidak perlu melibatkan pisau segala. Siapa tahu istri Mas dan tetangganya cuma sedang menggoreng sosis, sedikit necking atau petting sambil menunggu sosis masak tentu tak ada salahnya. Asal jangan sampai gosong. Madam pernah membaca buku tentang hal-hal yang diungkapkan di bilik pengakuan dosa, salah satu pengaku bertanya apakah menggesek-gesekkan alat kelamin ke lawan jenis tanpa menikah termasuk dosa? Romo tentu menjawab itu sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan, tapi menurut Madam itu sah-sah saja. Selama sosisnya tidak gosong. Hehe.

[…]

“Sialan. Lagipula buat apa dia repot-repot menyebutku menyebalkan? Kurasa dia hanya orang yang dendam kepadaku. Dan doanya itu lho. ‘Tempat yang terang’, cih, doanya tak terkabul. Tak akan terkabul. Kalau bisa aku pengin mendatanginya dan menyuruhnya berhenti mendoakanku. Percuma.”

“Mereka suka harapan, mestinya kau maklum. Tak ada yang ingin tinggal dalam ruang sempit dan gelap dalam waktu yang tak terbatas.”

“Tapi kita tahu itu tidak ada.”

“Kita tahu, mereka tidak.”

“Sialan. Doa itu malah bikin aku ingin memukulnya.”

“Setidaknya masih ada yang sudi mengingatmu meski kau menyebalkan. Mungkin dia istrimu. Tak ada yang memendam perasaan sebal berlebihan kepadamu selain pasanganmu.”

“Sialan. Kuharap dia bukan istriku. Kuharap dia bukan siapa pun.”

“Kau tahu dia tidak mungkin bukan siapa pun. Minimal kau tahu dia seorang perempuan.”

“Sialan.”

Pamit

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Cara terbaik menilai anjing bukan dari kemolekan rambut atau seberapa cepat ia menyahut, melainkan dari jumlah garit dan bagaimana pada suatu hari ia mesti merelakan sepuluh senti ujung ekornya.

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Ironi tak menyelamatkanmu dari apa pun dan handuk yang kau pakai untuk membersihkan muntahan juga tidak. Hidup sangat terbatas, proses memaafkan mustahil selesai. Semesta merenggang, tak ada satu pun yang benar-benar dekat.