Menjelang Tidur

Oleh: Felisberto Hernández

Sering kali, sesaat menjelang tidur, aku mengingat keluargaku seakan-akan sedang mengintip pekarangan rumahku melalui lubang kecil dan sesekali berkedip untuk memperjelas apa yang kulihat. Saat itu tengah hari dan aku baru kembali dari kota dan mereka belum bertemu denganku. Mereka berkumpul di meja makan, di bawah pepohonan, bisa kulihat juga cahaya dan bayangan jatuh seperti sekeping koin di atas taplak meja, dan menumpuk tiap kali dedaunan tertiup angin. Larut dalam kegembiraan pesta kecil, mereka kelihatannya melupakanku. Suatu malam kenangan itu mengulang dirinya sendiri, serupa baling-baling kipas angin: mereka berkumpul di meja dan melupakanku, berputar dan berputar. Tetapi mendadak listrik mati, dan teranglah bahwa di dalam tiap kepala mereka tersimpan gambar diriku dan membawa gambar ini ke mana pun dengan cara yang barangkali amat berbeda dengan caramu membawa foto orang mati. Aku belajar bagaimana mereka merasakan ketidakhadiranku dan seperti apa rupa mereka saat mengenangku. Namun aku juga belajar hal lain: sekalipun aku membuka pintu diam-diam dan mengintip mereka dari balik alang-alang, aku tetap akan melihat mereka sebagai sebuah kenangan, dan aku tahu kenangan itu akan selalu mengikutiku. Dan aku memutuskan jika suatu hari aku harus mempertahankan mereka, beginilah caranya, dari agak jauh dan dalam sunyi. Beberapa kali, saat kenangan itu menyergapku malam-malam, suasana pesta kecil itu tak ubahnya kartu pos biasa, meski begitu senyum mereka tidak berubah.

 

[Cerita ini terdapat dalam kumcer Piano Stories, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Luis Harss]

Gang

Sebuah gang beraspal. Di sisi kirinya tong sampah mengepulkan asap, udara malam yang dingin memerangkap asap, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Asap itu hanya mengapung sebisanya, seperti arwah murung. Seorang lelaki berselonjor, punggungnya bersandar pada tong. Kaki kirinya, yang tidak memakai alas, bergoyang-goyang. Gerak kaki itu menyiratkan bahwa pemiliknya sudah berada di ambang tidur dan terjaga. Tiap kali sebuah sepeda motor dari arah depan menyorotkan lampu ke wajah si lelaki, kakinya bergoyang lebih cepat. Dua bangunan yang mengapit jalan sempit itu tampak kumuh dan cacat dan kegelapan dan asap berhasil mengaburkannya, meski hanya sedikit, tetapi cukup. Wangi benda sintetis terbakar bonus belaka.

Tiga orang melewati jalan itu: dua laki-laki dan satu perempuan, dua berpegangan dan yang satu membuntuti seperti anjing peliharaan.

“Kita bisa memanggil angin dengan cara bersiul,” kata si anjing peliharaan, “Ibuku yang mengajari.”

Ia terpejam sebentar. Mengingat-ingat nadanya, dan sebelum ia berhasil, laki-laki di depannya berkata, “Kalau kau merasa pedih, tutup saja matamu.”

“Bercanda kau,” seru si perempuan, terkekeh. Tetapi laki-laki itu betul-betul memejamkan matanya dan ia menginjak kaki lelaki yang berselonjor. Ia meminta maaf, berkata bahwa ia tak melihatnya. Lelaki yang berselonjor hanya berdeham.

“Aku ingat,” si anjing peliharaan menyiulkan sebuah nada.

“Sialan, itu kan lagu Chrisye!” Si perempuan tertawa lagi.

“Benarkah? Sialan,” si anjing peliharaan mengutuk, “Kalau begitu selama ini aku ditipu ibuku.”

Ketiganya tertawa.

“Tapi, aku rasa bukan yang itu, deh…”

Gumaman yang dengan mudah dilupakan. Si perempuan memulai obrolan lain, “Menurut kalian, kapan asap ini akan pergi?”

“Ya tentu saja segera setelah udara menghangat,” jawab laki-laki yang memegang tangannya, yang tampaknya punya berbagai jawaban ringkas atas masalah apa pun.

Wajah si anjing peliharaan semakin kusut, ia bersusah payah mengingat sesuatu, sesekali menyanggah pikirannya sendiri, menyepakatinya, lalu menyanggah lagi hingga ia kehilangan ritme berjalan dan tanpa sengaja menendang laki-laki di depannya. Ia meminta maaf dan membenahi ritmenya lagi, sambil tetap berpikir. Kelihatannya ia sudah tak peduli apakah siulan ajaran ibunya bisa mengundang angin atau tentara Jepang, ia hanya penasaran. Lalu telinganya menangkap siul samar. Udara malam yang dingin memerangkap siulan itu, ia tak naik tetapi juga mustahil menembus belangkin. Siulan itu hanya mengapung sebisanya, seperti nyanyian arwah murung.

Si anjing peliharaan menoleh ke belakang, ia segera tahu dari mana sumbernya, tetapi ia tak bisa lagi melihat lelaki yang berselonjor. Ia berhenti dan memaksa otot matanya bekerja ekstra.

Decit rem kereta di suatu tempat. Ledakan kecil dari arah tong, barangkali komponen elektronik atau bola lampu yang terbakar. Wanginya sampai ke hidung si anjing penjaga, seperti pisang goreng hangus, pikirnya. Saat ia melihat ke depan, kedua temannya sudah tak kelihatan.

Wboebwobvononwv

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar dengan membawa kunci. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar membawa tutup kaleng berwarna merah. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Gagak itu delapan kali kembali ke kamar dan membawa pergi sesuatu. Selama itu terjadi, seorang duda berkemeja biru, usianya sekitar lima puluhan, memperhatikannya di depan pagar rumah. Ia menghitung berapa kali gagak itu kembali dan barang apa saja yang ia bawa.

“Aduh. Mengapa ia belum juga membawa keluar benda itu,” gumamnya, membakar ujung honcoe. “Padahal tidak ada binatang yang lebih pintar dari gagak.”

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Saat terbang ia memberaki kepala si Duda. O, hidup manusia memang rapuh, ia dibangun di atas pasir. Gagak tidak tertarik membuat sarang dari surat yang berisi kemalangan orang lain, ia tidak akan pernah berguru kepada hewan yang lebih bodoh.

Madesu

Dua hari lalu Pak Darusman, guru matematikaku, berkata begini di depan kelas. “Madesu*. Jangan tiru Yanti, ya.”

Sebelumnya ia menuduh aku mengobrol saat ia sedang menjelaskan cara menentukan modus dari suatu data. Aku memang mengajak bicara teman sebangku, memintanya sedikit menjelaskan hal yang kulewatkan karena aku tidak terlalu menangkap penjelasan Pak Darusman sementara ia terus melanjutkan pembahasan tanpa mempedulikan tanganku yang terangkat. Pak Darusman menulis sesuatu di papan tulis dan aku diminta ‘mengajarkan’ kepada teman-teman yang lain, menurutnya karena aku mengobrol saat ia menerangkan artinya aku sudah menguasai materi. “Kamu, kan, lebih pintar dari saya,” tambahnya.

Aku menjawab jujur bahwa aku belum mengerti. Ia memotong alasanku, dan tetap memaksaku untuk mengerjakan soal. Sambil menatapku yang berdiri seperti orang  bodoh, ia berdecak lalu berkata bahwa masa depanku suram. Maksudnya mungkin bercanda, sebab ia bicara begitu sambil tertawa, dan satu kelas ikut tertawa. Ia memintaku keluar.

Sebelum sampai kantin aku berbelok ke kiri, ke ruang multimedia. Aku hendak mengirim sesuatu ke Pak Darusman melalui email.

Kepada
Bapak Darusman
Di tempat

Sulit mengutarakannya secara langsung, karena itu saya memutuskan
untuk mengirim email ini. Bahwa mulai detik ini, apapun yang Bapak
katakan, akan saya balas dengan...

974888883741444455555722777722377777444333311112244222222227777777
866666555566624366663079466697281736662876619766333666933666666669
066386626683466066326616602866212667776606660666866527664411669178
166666496631766866876616639166212666666686636366266666661144662224
466286656624166466076616687466212665556696633366766777665277667827
266666392766673966663749066622233662226626688866766322663374663447
+78978918791418984547987451871445197184545987181543243212145575789987=
166556699966639166226622266633066256691166698722222223334123275879
266436606600066266226636692766266036636679366078266452366198789543
066666676666666066666636666666366666616666666076622660266191782345
166756616674266866226636673166466816606600066376644336677438794521
166226646610966766226676699966566776676633366078008887887998752437

Aduh, bahkan di email saya kesulitan mengungkapkannya.
Semoga Bapak Mengerti.

Salam,
Yanti IX IPS 4

Satu jam yang lalu, di mata pelajaran Matematika, Pak Darusman memanggilku ke depan. Ia menceramahiku dan yang lain soal betapa pentingnya Matematika, dan ia berkata iagalak karena ia menyayangi kami. Ia memaafkanku, dan ia memperlihatkan email-ku yang sudah ia cetak. Ada lingkaran merah besar di deretan angka yang kutulis. Kemudian, dengan senyum penuh kemenangan, ia menyarankanku untuk belajar Matematika dasar lagi karena hasil hitunganku salah.

“Kamu mau membalas dengan apa?” tanya Pak Darusman.

Aku memberinya senyuman.

Saat menulis ini, aku sedang menghabiskan jus stroberi sambil tertawa sampai mau mati.

 

 

 

Mau tahu di mana letak lucunya?

1. Ctrl + F

2. Ketik angka ‘6’

3. Lihat pola di badan email Yanti

4. Hehe~
 
5. Alternatif: Telusuri tiap angka ‘6’

 

 

 

*Madesu: Masa depan suram.

Survei

 

Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]
Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]

Bagaimana cara anda menghibur diri?

A. Nonton ulang ‘Bedknobs and Broomsticks’ sambil mengupas kentang dan minum teh Tong Tji plus sedikit garam dan perasan limau nipis
B. Membuka empat tab youtube dengan lagu berbeda-beda dan volume maksimal
C. Menyegarkan laman berita sampai isinya berubah sesuai dengan yang anda mau
D. Memandangi foto aktor/aktris kesukaan anda sambil memainkan alat kelamin
E. Membalas SMS provider yang sehari sekali menyapa anda dengan promo-promo yang sama sekali tidak menarik dengan mengirim puisi-puisi Nizar Qabbani sepanjang tiga halaman

Judul lagu mana yang menurut anda layak menempati ruang antara trek Eleanor Rigby dan I’m Only Sleeping di album Revolver?
A. Inane Love Ballad for One-Sided Love
B. Horrid Nursery Rhyme Sung by Dipshit
C. Song Your Drunk Mom Sings at Karaoke
D. Eat, Pray, Love, Kickflip, Backflip, Shark Attack, Papa, Alfa, Charlie, Alfa, Romeo, Execute, Operation Mongoose
E. They Scream Like People

Apa yang anda katakan untuk membuat pacar anda senang?
A. Obrolan kita selevel, My Love
B. Aku ingin makan bola matamu supaya kamu bisa melihat isi hatiku, My Love
C. Aku ingin ikut program kloning, menggandakan diri sebanyak 50 juta, sehingga aku bisa mencintaimu sebanyak itu, My Love
D. Kalau kamu lem, aku jadi pipa: kita sama-sama bikinan pabrik, My Love
E. Bahkan kematian harus melangkahi kepalaku dulu sebelum mematikanmu, My Love

Mengapa anda tidur?
A. Mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat
B. Enak
C. Sudah menjadi kebiasaan
D. Tidur hanya mitos pabrik bantal dan tukang bikin ranjang dan sofa supaya kita beli produknya
E. Karena tidur menghindari kita dari berbuat maksiat dan juga menghindari kita dari makan dan minum dan masalah-masalah duniawi

Menurut anda, jika anda digigit anak berdandanan gotik, apakah anda akan menjadi vampir?
A. Iya
B. Tidak
C. Tidak, karena aku ingin jadi drakula
D. Tidak, kecuali yang menggigitku Nick Cave atau, yah, minimal Robert Smith
E. Aku memang vampir

Terima kasih telah berpartisipasi.

Salam,
Alfred Kurniawan

Sebelum Masuk Ia Mengetuk Pintu Dulu

But there’s one thing I know,
the blues they send to meet me won’t defeat me.

-B.J. Thomas

Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapapun yang berkata sebaliknya pastilah delusif atau kalau tidak, ya, pendusta kelas berat. Orang-orang hanya nampak menyenangkan saat kau mengingatnya sebagai masa lalu, atau membayangkannya sebagai masa depan, atau memikirkan seseorang yang sama sekali di luar jangkauanmu sambil tidur-tiduran, dan kembali mengulek wajahmu saat kau terpaksa bangkit dari ranjang, mengintip si Pengetuk melalui jendela kamar, dan itulah dia: Buntelan daging bipedal. Seharusnya manusia tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa mengetuk pintu dengan begitu manusia lain tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa membuka pintu, mengasah kemampuan berbasa-basi, jadi tidak perlulah kau merasakan kekesalan dan merancang niat buruk tiap ada kesempatan. Tapi , yah, terlambat. Evolusi melangkah terlalu jauh. Setelah membaca buku-buku sejarah aku selalu merindukan masa di mana kucing-kucing raksasa bertaring pedang menyeret prahomo-sapiens ke sudut tergelap suatu gua atau ketika agama masih soal cerita tuhan-tuhan antropomorfis atau sewaktu kita masih mengorbankan nyawa orang lain untuk mengatasi perkara cuaca atau zaman di mana matematikawan bergumul dengan persoalan mistis sampai-sampai tak keluar kamar selama berminggu-minggu dan memaksa bininya mengetuk pintu dan ia mesti kembali menghadapi buntelan daging bipedal yang diberkahi kemampuan merajuk. Kau membuka pintu, anjing, ini akar dari segala masalah. Membuka pintu. Kau melihat Honda Astrea terparkir di tepi jalan, tetapi kau tahu, kan? Kita tidak pernah benar-benar melihat sesuatu dengan benar. Kita cuma melihat apa yang ditampilkan pikiran kita dan ia bisa berbentuk apa saja. Bebas. Dan bebas artinya bebas. Mungkin yang kaulihat adalah Honda Astrea hitam dengan putaran gas berwarna biru metalik, tetapi bagiku yang kulihat adalah tahi kuda super-besar yang menutupi puncak Jaya. Mungkin yang kaulihat adalah seorang gadis dengan paras kejepangan dilengkapi payudara sebesar enam pisin yang ditumpuk dan punya kebiasaan membersihkan sudut matanya tiap lima atau enam menit, tetapi yang kulihat adalah okapi setinggi 168 sentimeter yang mulutnya bergerak-gerak meniru cara manusia bicara meski begitu yang keluar dari mulutnya adalah Bahasa Okapi. Aku tidak pernah kursus Bahasa Okapi, sayangnya. Jadi kubiarkan ia bicara sampai liurnya yang muncrat dan mendarat di kausku mengering sambil membayangkan minuman apa yang ditenggak kuda jantan yang menghamili seekor zebra: Absinthe atau tujuh galon Guinness? Kukira sebotol Absinthe sama dengan tujuh galon stout. Kuda itu harus sangat mabuk, kalau tidak, ya, tidak akan ada okapi. Persetan ilmuwan yang bilang zebra dan okapi tidak berkerabat, persetan Pak Wahyu, guru biologiku yang mengutip ilmuwan bahwa kuda dan okapi tidak berkerabat. Beberapa darimu pasti sulit mempercayai ini tetapi seluruh makhluk di muka bumi, dari gajah hingga pohon beringin, adalah sepupu jauh. Ini benar. Cicak yang mati terjepit pintu kulkasmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam miliarmu. Bangsat yang sembunyi di lipatan kasur dan kadang iseng masuk ke celana dalam dan menggigit pelirmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam belas miliarmu. Pacarmu adalah sepupu dari sepupu pangkat tiga ratus jutamu. Dan kau menghamilinya dan anakmu menghamili anak dari sepupu dari sepupu pangkat dua ratus sembilan puluh sembilanmu dan kau punya cucu dan cucumu dihamili cucu dari sepupu pangkat sekian ratus jutamu dan seterusnya kemudian suatu hari, beberapa abad dari tahun kematianmu, sepupu-sepupu jauh itu akan menjadi setoples acar. Kalau kau tidak percaya dengan teori ini, cobalah tempatkan buah semangka dan biri-biri dalam satu ruangan. Tetapi kalau ada burung finch, khusunya burung finch berparuh panjang, aku lebih merekomendasikannya sebagai bahan percobaan. Darwin pernah mencobanya dan berhasil, ia berhasil karena meneliti di alam terbuka, di alam terbuka tidak ada yang mengetuk pintu. Liur di kausku sudah mengering dan okapi yang berusaha terlihat seperti manusia di hadapanku nampaknya sudah bosan bicara. Aku suka okapi yang bosan bicara, ia lebih nampak seperti manusia sungguhan. Jadi aku tergerak untuk bercerita tentang sebuah klub yang tidak akan membiarkan satu pun anggotanya keluar hidup-hidup ketika ia sudah resmi menjadi anggota, tak mengizinkan anggota baru masuk begitu saja, dan klub itu hanya menyisakan beberapa tipe anggota yang sanggup bertahan. Aku tak tahu apakah si okapi mengerti cara manusia berkomunikasi, tetapi tatapannya mengisyaratkan kebencian mendalam. Kuceritakan pula kepadanya bahwa ada masa di mana apa yang manusia sebut cinta dan empati memiliki wujud, bisa dipegang, dan ditendang-tendang, lalu suatu hari banjir besar menghanyutkan keduanya. Apa yang kita pahami hari ini tentang kedua benda itu hanya legenda yang setengah mati dihidupkan dalam tiap percakapan. Itulah mengapa aku benci kau mengetuk pintuku.

Masalah Besar

“Burit manusia memang elastis, mungkin ia bisa dimasukkan bola golf atau bola kasti. Tapi hanya karena fakta itu bukan berarti orang boleh seenaknya bilang lambung manusia bisa memproduksi telur angsa,” Kamu melepas tangan kiri dari stir lalu menunjuk paragraf pertama cerita pendek di koran Minggu yang sedang dipegang Abulhayat dengan ujung rokoknya. “Kalau aku cuma punya tiga ribu batu bata merah untuk membangun rumah kecil di tanah warisan bapakku, akan kusisakan satu untuk menggetok kepala redaktur koran ini sekalipun sebagai gantinya satu sisi rumahku bolong.”

“Tapi itu bisa saja terjadi, kan? Maksudku, kau tahulah, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.” Abulhayat membuka laci asbak yang segera ditutup Kamu saat batang rokoknya setengah masuk sehingga rokoknya terjepit di sana, “Selama laci ini tertutup kita nggak tahu apakah rokokmu patah atau hanya bengkok. Aku tak masalah kau punya secuil atau seperiuk iman, tapi selama kau tak membuka percakapan soal itu aku tak akan takut dekat-dekat denganmu.”

“Patah atau bengkok, terserahlah.” Abulhayat mengeluarkan kotak rokok dari saku jinsnya, menarik sebatang rokok, dan melempar kotaknya ke dasbor. “Tuhan memang bisa melakukan apa saja, kan?”

“Sekarang aku akan menyisakan dua batu bata merah.”

“Iya, kan? Ayolah, kau tidak bisa menjelaskan bagaimana buah semangka bisa berdaun sirih, seperti di lagu Rinto.”

Kamu menepikan mobil di trotoar, keluar dari mobil dan bersiap memanjat pohon.

Ngapain kau?”

“Spanduk itu,” ia mendongak, “cukup besar untuk menutup lubang di dinding rumahku kelak, kalau kau terus bicara.”

“Oke, aku bantu.”

Kamu dan Abulhayat masing-masing memanjat pohon akasia tempat sebuah spanduk kampanye dibentangkan. Keduanya membakar tali yang mengikat spanduk dengan korek gas, lantas turun setelah pekerjaannya selesai. Empat orang, tiga wanita dewasa dan satu bayi, lewat depan pohon selagi proses penurunan spanduk, kecuali bayi, sisanya memandang dua orang di atas pohon dengan pikiran masing-masing. Di trotoar keduanya melakukan gerakkan seperti paskibra melipat bendera. Seorang kakek yang melewati mereka berhenti dan bertanya macam-macam. Kamu menjawab ia dan temannya adalah petugas Satpol PP dan si kakek menepuk pundaknya sambil berkata begitulah seharusnya penampilan Satpol PP, mengenakan kaus bergambar ikan marlin, celana jins, dan sandal jepit.

“Menurutmu kakek tadi benar-benar percaya kita petugas Satpol PP?” tanya Abulhayat setelah menyuruh Kamu membuka bagasi belakang Corolla ’94-nya. Kamu mengingatkan bahwa bagasi belakang penuh, dan seolah baru ingat sesuatu Abulhayat berjalan santai ke pintu belakang dan melempar lipatan spanduk, kemudian ia duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan bertanya ulang.

“Aku tak mendengar nada sindiran. Lagipula kakek tadi sudah terlalu tua, usianya barangkali menginjak kepala tujuh atau delapan, maksudku, ia pastilah sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan ekstrim.”

“Ya. Termasuk melihat buah semangka berdaun sirih.”

“Tentu, tentu saja. Juga melihat Godzilla menginjak atap rumah makan Padang, mengambil sepinggan rendang, dan meninggalkan dua lembar seratus ribu di meja kasir.”

“Itu mustahil. Godzilla, kan, nggak ada.”

“Tapi reputasinya terkenal.”

“Meski reputasinya terkenal.”

“Sepertinya kita perlu spanduk yang lebih besar.”

“Eh, sebentar. Bisa kau pelankan laju mobilmu? Rasanya aku mendengar sesuatu di belakang.” Abulhayat menoleh ke kursi belakang. Dua bungkus ketoprak yang belum dimakan, sekaleng Mañana*, seplastik kembang gula mentol yang berguncang-guncang, buntalan kaus bekas pakai, dan spanduk biru yang menampilkan gigi petahana yang tidak rata.

“Tenang saja, kau tidak mendengar wahyu atau firman, kok. Paling kompresor AC-ku aus.”

“Aku memang nggak bisa menyetir, tapi aku tahu kompresor AC mobil sedan ada di depan.”

“Kalau begitu suara yang kau dengar berasal dari depan.”

Mobil mereka mengantre di perempatan. Lampu lalu lintas mati. Seorang polisi lalu lintas bergerak sistemis bak dakocan yang kena teluh dan sekumpulan pengendara tolol yang tetap membunyikan klakson dan barisan anak SD di zebra cross dengan minuman aneka warna di tangan mereka, dan Kamu terus memainkan jemarinya di atas kemudi sambil sesekali melihat gerak tangan polisi.

“Menurutku, dari bau keringatmu, kau makan gulai kambing sehari sekali selama seminggu terakhir.” ujar Abulhayat.

“Kau makan pepes anjing Pug,” jawab Kamu, mengendus-endus ketiaknya.

Abulhayat gantian mengendus-endus ketiaknya, “Bau anjing Pug tidak menyenangkan seperti ini.”

“Jadi menurutmu bau kambing menyenangkan?”

“Bukan begitu, baunya tajam seperti daging kambing tapi yang ini terasa manis. Mungkin kambing yang kau makan dicekoki setangki sirup coco pandan sebelum disembelih.”

“Terakhir kali aku makan daging kambing lebaran haji tahun lalu dan kau sendiri yang pernah heran mengapa aku tidak bau badan meski tidak pakai parfum atau deodoran. Kalau ini bukan bau badanmu, atau parfum yang kau pakai, paling-paling kaleng Mañana di belakang terbuka karena terus terguncang-guncang.”

Abulhayat memandangi Kamu sesaat, yang dilirik fokus ke gerak tangan polisi. Mata polisi lalu lintas melirik mobil mereka sebelum akhirnya bergerak-gerak lagi. “Jalan Raya Pemda ini baru diperbaiki bulan lalu, aspalnya mulus.”

“Tadi, kan, kita melewati dua atau tiga polisi tidur.”

“Kalau bukan Tuhan yang membuka kaleng Mañana itu, maka desainer kaleng Mañana dalam masalah besar.”

“Kalau begitu desainer kaleng Mañana memang dalam masalah besar.”

*Mañana: Minuman jus buah bersoda yang diproduksi di Surabaya sejak 2002, berbau seperti kloroform.