Masalah Besar

“Burit manusia memang elastis, mungkin ia bisa dimasukkan bola golf atau bola kasti. Tapi hanya karena fakta itu bukan berarti orang boleh seenaknya bilang lambung manusia bisa memproduksi telur angsa,” Kamu melepas tangan kiri dari stir lalu menunjuk paragraf pertama cerita pendek di koran Minggu yang sedang dipegang Abulhayat dengan ujung rokoknya. “Kalau aku cuma punya tiga ribu batu bata merah untuk membangun rumah kecil di tanah warisan bapakku, akan kusisakan satu untuk menggetok kepala redaktur koran ini sekalipun sebagai gantinya satu sisi rumahku bolong.”

“Tapi itu bisa saja terjadi, kan? Maksudku, kau tahulah, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.” Abulhayat membuka laci asbak yang segera ditutup Kamu saat batang rokoknya setengah masuk sehingga rokoknya terjepit di sana, “Selama laci ini tertutup kita nggak tahu apakah rokokmu patah atau hanya bengkok. Aku tak masalah kau punya secuil atau seperiuk iman, tapi selama kau tak membuka percakapan soal itu aku tak akan takut dekat-dekat denganmu.”

“Patah atau bengkok, terserahlah.” Abulhayat mengeluarkan kotak rokok dari saku jinsnya, menarik sebatang rokok, dan melempar kotaknya ke dasbor. “Tuhan memang bisa melakukan apa saja, kan?”

“Sekarang aku akan menyisakan dua batu bata merah.”

“Iya, kan? Ayolah, kau tidak bisa menjelaskan bagaimana buah semangka bisa berdaun sirih, seperti di lagu Rinto.”

Kamu menepikan mobil di trotoar, keluar dari mobil dan bersiap memanjat pohon.

Ngapain kau?”

“Spanduk itu,” ia mendongak, “cukup besar untuk menutup lubang di dinding rumahku kelak, kalau kau terus bicara.”

“Oke, aku bantu.”

Kamu dan Abulhayat masing-masing memanjat pohon akasia tempat sebuah spanduk kampanye dibentangkan. Keduanya membakar tali yang mengikat spanduk dengan korek gas, lantas turun setelah pekerjaannya selesai. Empat orang, tiga wanita dewasa dan satu bayi, lewat depan pohon selagi proses penurunan spanduk, kecuali bayi, sisanya memandang dua orang di atas pohon dengan pikiran masing-masing. Di trotoar keduanya melakukan gerakkan seperti paskibra melipat bendera. Seorang kakek yang melewati mereka berhenti dan bertanya macam-macam. Kamu menjawab ia dan temannya adalah petugas Satpol PP dan si kakek menepuk pundaknya sambil berkata begitulah seharusnya penampilan Satpol PP, mengenakan kaus bergambar ikan marlin, celana jins, dan sandal jepit.

“Menurutmu kakek tadi benar-benar percaya kita petugas Satpol PP?” tanya Abulhayat setelah menyuruh Kamu membuka bagasi belakang Corolla ’94-nya. Kamu mengingatkan bahwa bagasi belakang penuh, dan seolah baru ingat sesuatu Abulhayat berjalan santai ke pintu belakang dan melempar lipatan spanduk, kemudian ia duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan bertanya ulang.

“Aku tak mendengar nada sindiran. Lagipula kakek tadi sudah terlalu tua, usianya barangkali menginjak kepala tujuh atau delapan, maksudku, ia pastilah sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan ekstrim.”

“Ya. Termasuk melihat buah semangka berdaun sirih.”

“Tentu, tentu saja. Juga melihat Godzilla menginjak atap rumah makan Padang, mengambil sepinggan rendang, dan meninggalkan dua lembar seratus ribu di meja kasir.”

“Itu mustahil. Godzilla, kan, nggak ada.”

“Tapi reputasinya terkenal.”

“Meski reputasinya terkenal.”

“Sepertinya kita perlu spanduk yang lebih besar.”

“Eh, sebentar. Bisa kau pelankan laju mobilmu? Rasanya aku mendengar sesuatu di belakang.” Abulhayat menoleh ke kursi belakang. Dua bungkus ketoprak yang belum dimakan, sekaleng Mañana*, seplastik kembang gula mentol yang berguncang-guncang, buntalan kaus bekas pakai, dan spanduk biru yang menampilkan gigi petahana yang tidak rata.

“Tenang saja, kau tidak mendengar wahyu atau firman, kok. Paling kompresor AC-ku aus.”

“Aku memang nggak bisa menyetir, tapi aku tahu kompresor AC mobil sedan ada di depan.”

“Kalau begitu suara yang kau dengar berasal dari depan.”

Mobil mereka mengantre di perempatan. Lampu lalu lintas mati. Seorang polisi lalu lintas bergerak sistemis bak dakocan yang kena teluh dan sekumpulan pengendara tolol yang tetap membunyikan klakson dan barisan anak SD di zebra cross dengan minuman aneka warna di tangan mereka, dan Kamu terus memainkan jemarinya di atas kemudi sambil sesekali melihat gerak tangan polisi.

“Menurutku, dari bau keringatmu, kau makan gulai kambing sehari sekali selama seminggu terakhir.” ujar Abulhayat.

“Kau makan pepes anjing Pug,” jawab Kamu, mengendus-endus ketiaknya.

Abulhayat gantian mengendus-endus ketiaknya, “Bau anjing Pug tidak menyenangkan seperti ini.”

“Jadi menurutmu bau kambing menyenangkan?”

“Bukan begitu, baunya tajam seperti daging kambing tapi yang ini terasa manis. Mungkin kambing yang kau makan dicekoki setangki sirup coco pandan sebelum disembelih.”

“Terakhir kali aku makan daging kambing lebaran haji tahun lalu dan kau sendiri yang pernah heran mengapa aku tidak bau badan meski tidak pakai parfum atau deodoran. Kalau ini bukan bau badanmu, atau parfum yang kau pakai, paling-paling kaleng Mañana di belakang terbuka karena terus terguncang-guncang.”

Abulhayat memandangi Kamu sesaat, yang dilirik fokus ke gerak tangan polisi. Mata polisi lalu lintas melirik mobil mereka sebelum akhirnya bergerak-gerak lagi. “Jalan Raya Pemda ini baru diperbaiki bulan lalu, aspalnya mulus.”

“Tadi, kan, kita melewati dua atau tiga polisi tidur.”

“Kalau bukan Tuhan yang membuka kaleng Mañana itu, maka desainer kaleng Mañana dalam masalah besar.”

“Kalau begitu desainer kaleng Mañana memang dalam masalah besar.”

*Mañana: Minuman jus buah bersoda yang diproduksi di Surabaya sejak 2002, berbau seperti kloroform.

Pengalaman Menonton Film Bajakan

Berkas berformat .srt ini saya buka dengan aplikasi notepad dan disalin-rekat ke blog. Saya mengunduhnya satu paket dengan film berjudul “Shit People Can Make Great Art” yang memang ingin saya tonton sejak tahun lalu, barangkali salah satu dari kalian pernah menontonnya dan menemukan subtitle yang sama.

1

[highlight]00:00:00:24,942 –> 00:00:26,944
<font color=”#ffff00″><i>Alih Bahasa: Cicak Indigo</i></font>[/highlight]

 

2

00:01:00,102 –> 00:01:03,147

[RADIO FM BERCELOTEH]

 

3

00:01:03,314 –> 00:01:05,483

SUPIR TAKSI: Mereka masih mengikuti kita.

Bagaimana ini, Mbak?

 

4

00:01:05,649 –> 00:01:06,817

[SILAF MENGERANG TERTAHAN]

 

5

00:01:08,152 –> 00:01:10,237

Jalan saja.

 

6

00:01:10,571 –> 00:01:12,073

Baiklah.

 

7

00:01:12,239 –> 00:01:14,825

Saya tahu rumah sakit terdekat.

 

8

00:01:14,992 –> 00:01:17,912

Jalan saja, Pak.

Saya ingin cepat sampai rumah.

 

9

00:01:22,208 –> 00:01:23,542

[RADIO MEMUTAR MUSIK TECHNO]

 

10

00:01:23,709 –> 00:01:25,127

SUPIR TAKSI: Mbak?

 

11

00:01:25,377 –> 00:01:26,962

[NAPAS BERAT]

 

12

00:01:27,213 –> 00:01:28,839

Ya?

 

13

00:01:29,006 –> 00:01:30,049

Pernah dengar…

 

14

00:01:30,216 –> 00:01:34,470

Cerita tentang anak

yang memiliki kelainan pada tulang lehernya?

 

15

00:01:34,845 –> 00:01:37,681

Ia harus menyangga lehernya

dengan cervical collar khusus

 

16

00:01:37,848 –> 00:01:40,392

Supaya lehernya

tidak seperti agar-agar…

 

17

00:01:40,851 –> 00:01:43,354

[NADA DERING NOKIA]

 

18

00:01:43,521 –> 00:01:45,314

[REM BERDECIT]

 

19

00:01:51,779 –> 00:01:53,864

Lalu?

 

20

00:01:55,199 –> 00:01:56,992

Suatu hari…

 

21

00:01:57,159 –> 00:01:59,578

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

22

00:01:59,745 –> 00:02:02,373

…suatu hari anak itu me–

 

23

00:02:02,540 –> 00:02:03,958

[SUARA KLAKSON]

 

24

00:02:04,291 –> 00:02:05,501

Lalu?

 

25

00:02:05,668 –> 00:02:08,379

Saya kira kita harus menemukan

bar atau kafe yang masih buka…

 

26

00:02:08,546 –> 00:02:10,422

Selesaikan saja di sini.

 

27

00:02:10,589 –> 00:02:13,676

[SUPIR TAKSI TERBATUK KECIL]

…atau di rumah sakit, Mbak.

 

28

00:02:14,677 –> 00:02:17,596

Selesaikan di sini saja,

saat ini juga.

 

29

00:02:17,763 –> 00:02:18,973

Baiklah.

 

30

00:02:20,224 –> 00:02:21,725

Jadi, setelah itu?

 

31

00:02:21,892 –> 00:02:23,561

Sampai di mana tadi?

 

32

00:02:23,727 –> 00:02:26,772

Suatu hari, anak itu…

 

33

00:02:27,731 –> 00:02:30,693

Oh, ya, suatu hari anak itu–

 

34

00:02:31,026 –> 00:02:32,736

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

35

00:02:32,903 –> 00:02:36,115

Sebaiknya kita berhenti dan Mbak meminta maaf

kepada orang di mobil belakang.

 

36

00:02:37,992 –> 00:02:40,202

Mereka tak akan memaafkanku.

37

00:02:40,870 –> 00:02:43,414

Tuhan juga tidak akan memaafkan kita, Mbak…

 

38

00:02:44,456 –> 00:02:46,208

…tapi nyatanya kita terus meminta maaf.

 

39

00:02:46,709 –> 00:02:50,754

setelah itu biasanya kita

bisa merasa tenang.

 

40

00:02:51,255 –> 00:02:53,299

Saya tidak butuh ‘merasa’ tenang, Pak…

41

00:02:53,465 –> 00:02:55,885

…lagipula Tuhan sudah meninggalkan kota ini

sementara mereka tidak akan pernah.

 

42

00:02:56,051 –> 00:02:58,762

Saya kira tidak ada salahnya

dicoba.

 

43

00:02:58,929 –> 00:03:00,181

[SILAF TERKEKEH]

 

44

00:03:01,265 –> 00:03:03,934

[SILAF MENGERANG]/

Tidak ada salahnya, Mbak.

 

45

00:03:05,060 –> 00:03:08,314

Jangan bilang Bapak

salah satu dari mereka.

 

46

00:03:08,480 –> 00:03:10,941

Semua orang di sini bagian dari mereka,

Mbak tentu tahu itu.

 

47

00:03:11,108 –> 00:03:13,194

Jadi, bagaimana dengan

anak berleher agar-agar tadi, Pak?

 

48

00:03:13,360 –> 00:03:14,403

Suatu hari…

 

49

00:03:14,570 –> 00:03:19,116

…suatu hari anak itu me–/

[TUBRUKAN DI PINTU KANAN]

 

50

00:03:30,878 –> 00:03:33,631

Lanjutkan, atau saya tidak akan

membayar tarif argo.

 

51

00:03:38,344 –> 00:03:40,346

[PENYIAR RADIO MEWARTAKAN BERITA KRIMINAL]

 

52

00:03:45,976 –> 00:03:48,979

Suatu hari anak itu membuka cervical collar-nya…

 

53

00:03:57,029 –> 00:03:59,240

…kemudian dia berkata,

54

00:06:19,296 –> 00:06:22,383

Mengapa aku harus memakai benda sialan itu sumur hidupku, padahal…

 

55

00:06:43,821 –> 00:06:47,324

[SESUATU BERGEMELETAK]

 

56

00:07:01,672 –> 00:07:03,215

[NADA DERING NOKIA]

 

57

00:07:03,382 –> 00:07:05,384

…padahal dengan leher seperti ini

aku bisa memandang dunia dari berbagai sudut.”

 

58

00:07:05,551 –> 00:07:06,969

Lalu dia tertawa seperti ini…

 

59

00:07:07,886 –> 00:07:09,388

[SUPIR TAKSI TERTAWA]

 

60

00:07:11,974 –> 00:07:15,686

Dengan kepala yang tidak bisa dikontrol

anak itu memiliki pandangan baru terhadap dunia.

 

61

00:07:15,853 –> 00:07:17,855

Hingga suatu hari…

 

62

00:07:20,023 –> 00:07:21,024

Hingga?

 

63

00:07:21,191 –> 00:07:23,318

[RADIO MATI]

64

[highlight]00:07:23,485 –> 00:07:27,364

<font color=”#ffff00″><i>Lima menit lagi aku akan datang dan menerjemahkan sisa dialog dengan cara membisikkannya ke telinga kalian sampai film berakhir. Aku janji. Salam, Cicak Indigo.</i></font>[/highlight]

 

Sugali

[#ARSIP Terlalu banyak tidur-tiduran membuat saya browsing yang tidak-tidak dan tanpa sengaja terdampar di blog lawas. Saya tahu ini memalukan, tapi bagaimanapun cerita ini teronggok di sana dan, yah, sialan memang menyadari bahwa saya menulis cerita pendek yang buruk sekali, beberapa bagian tidak masuk akal, dan sebagainya, sekaligus ada perasaan tidak rela menghapusnya. Jadi saya memutuskan untuk memindahkannya ke blog ini. Ditulis sekitar tengah tahun 2009 setelah membaca “Kepada Pelukis Affandi” di Deru Campur Debu, “Membuat Sajak, Melihat Lukisan” di Pulanglah Dia Si Anak Hilang: Kumpulan Terjemahan dan Esai, dan novel grafis “The Eyes of the Cat” karya duet Jodorowsky-Moebius, tokoh Sugali di cerita ini adalah bahan untuk membuat tokoh Kek Su di dalam novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Saya tidak mengeditnya, langsung salin dan tempel dari blog lama (dan saya baru lihat lagi beberapa menit lalu ternyata ada juga di laman kompasiana saya, diunggah tahun 2012. Dan seingat saya, saya pernah mengunggahnya juga di kemudian.com sekitar tahun 2010.) Selamat membuang-buang waktu. Hehe.]

Cerita hari ini adalah cerita biasa tentang hari tuanya Sugali, orang kampung biasa memanggilnya Gali. Kek Gali. Kakekku. Lebih tepatnya kakek tiriku, dan lupakan soal gelar tiri dibelakangnya. Itu tidaklah penting.

Seperti senja kemarin, Kek Gali ajak aku duduk di serambi depan. Ada tiga cangkir di atas meja yang sama tuanya dengan usia Kek Gali. Satu untuknya, satu untukku (meski ia tahu, aku tak akan meminumnya) dan satu untuk lukisan perempuan cantik di sisinya. Perempuan yang menurutku aneh, terlalu bersahaja. Tanpa kalung emas menjuntai, tanpa gelang perak merambat di lingkar tangannya, tanpa gincu, bedak dan segala benda yang biasa di pakai Mpok Sirem, rentenir tua di kampungku. Tidak seperti Mpok Sirem yang gemar mengeksploitasi tubuhnya sendiri agar terlihat cukup, perempuan dalam lukisan itu sepertinya memang sudah cukup seperti itu. Cukup tersenyum seperti itu. Dan seperti kebanyakan lukisan lainnya, lukisan perempuan itu pun tidak minum teh. Namun tetap saja Kek Gali meletakkan secangkir teh dihadapannya. Lukisan perempuan itu adalah nenekku.

Kek Gali mengangkat secangkir teh hangat. Keriput tangannya bergetar seiring dengan laju gelas menuju tepi bibirnya. Namun senyumnya merekah; serasa semua melambat dan ratus-titik-kenangan muncul satu persatu.

Kek Gali membakar rokok kreteknya, kenangan itu mulai menggagahi wajahnya. Matanya jadi terpejam. Kembali ia pada suatu masa di mana Gali muda adalah seniman terhebat, seniman yang karyanya dibicarakan oleh jutaan orang. Patungnya di buru seperti paus biru. Lukisannya di pajang di istana, di kamar tidur bahkan di kamar mandi raja-raja. Siapa tak kenal Sugali? Bahkan jika kamu bisa bertanya pada seekor semut pun, mungkin semut akan mengenalnya. Sugali si Seniman Istana.

Pada suatu siang, Gali muda yang ingin melukis gunung pergi ke sebuah desa. Desa Althea. Desa terjauh dari kota, desanya para budak. Sesampainya di desa itu, ia langsung menyewa sebuah rumah milik warga yang menghadap gunung. Namun hingga petang menjelang, kanvasnya masih kosong. Pandangannya mulai lelah ketika seorang perempuan masuk membawakan secangkir teh hangat, lengkap dengan asapnya, perempuan berusia dua puluhan itu cantik sekali. Lebih cantik dari lukisan bidadarinya di rumah, lebih cantik dari seluruh objek perempuan yang pernah ia lukis dijadikan satu. Rambutnya yang kecokelatan berpadu dengan oranye senja dan seolah gunung yang akan di belakang kehilangan makna indah.

“Maukah kamu menjadi objek lukisanku?” tawar Gali. Perempuan itu hanya mengangguk kecil.

“Duduklah di kursi itu….” Perintahnya, perempuan itu pun menurut. Ia berjalan perlahan menuju kursi. “Tersenyumlah!”

Nampaklah dihadapan Gali muda. Senyum tipis, indah, dan misterius seperti nebula Mata Kucing. Gali memutuskan untuk melukis bibirnya terakhir, karena jujur saja itu bagian tersulit. Ia mulai dari mata, menuju hidung, rambut hingga pakaiannya. Hatinya berkata, ini akan menjadi lukisan terindah yang pernah ia buat. Sesaat sebelum ia menggoreskan cat untuk melukis senyum perempuan itu, perempuan itu mati. Mati tanpa sebab. Matanya terpejam. Perempuan itu terjatuh dari kursi. Anehnya, senyum itu tak berubah. Tidak bergeser sedikitpun. Masih sama indah ketika ia hidup. Mati, dan hanya Gali muda yang ada di situ.

Malam kian menua, dalam perjalanan menuju kota dengan kereta kuda Gali muda terus mendekap lukisannya. Rahasiakan. Rahasiakan. Gumamnya pada dirinya sendiri.

Raja Hobes I berkunjung keesokan harinya, tepat ketika Gali muda sedang mengagumi lukisan Perempuan Tersenyum di dinding rumahnya. Tak lama kemudian Raja Hobes I keluar lagi, membawa lukisan Perempuan Tersenyum itu. Ditinggalkannya Gali muda yang nyaris mati dipukuli para pengawal karena bersikeras menolak lukisannya di beli. Sementara itu di desa Althea terjadi peristiwa menggemparkan, tubuh seorang perempuan di temukan mati tergeletak di atas tempat tidur dalam sebuah kamar yang memperlihatkan pemandangan gunung, hal biasa bagi para budak jika mati setelah mendapat kunjungan dari orang lingkungan kerajaan. Yang membuat matinya menjadi luar biasa adalah, bibir perempuan itu hilang. Hilang. Berganti lukisan bibir dari cat minyak. Tak ada yang mengira bibir itu hasil lukisan cat minyak, sampai seorang anak kecil tanpa sengaja menumpahkan minyak tanah ke wajah perempuan malang itu. Anak itu berusaha membersihkan wajah perempuan itu dengan kain, dan terkejutlah ia ketika mengelap bagian bibirnya. Bibir itu luntur.

Kabar menghebohkan itu cepat sekali menyebar sampai lingkungan istana. Raja Hobes I yang ketakutan, menyuruh orang-orang suci untuk segera mengamankan lukisan itu dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Gali muda. Seniman itu di tuduh melakukan praktek sihir dan sebagaimana nasib ratusan orang yang di tuduh penyihir, mereka akan di bakar hidup-hidup. Terlambat, Gali muda sudah kabur dari rumahnya. Ia bukan penyihir, dan lukisannya tak mengandung sihir apapun. Hanya sebuah senyuman yang ingin ia abadikan.

Sekian waktu berlalu, tersiar berita bahwa bibir itu memiliki kekuatan gaib dan bisa membuat si pemiliknya cantik pula hidup abadi. Beberapa kali terjadi percobaan pencurian. Mereka yang terobsesi dengan sihir, tak peduli lukisan itu ada di kamar sang raja atau di sarang piranha, mereka tetap akan mencurinya. Kabar itu sampai di telinga Gali. Gali sebenarnya tak kabur terlalu jauh, ia melukis wajahnya sendiri. Menambahkan kumis dan jenggot. Kini, tak satupun orang mengenalinya sebagai Gali si Seniman Istana melainkan Ali si budak pelabuhan. Ia bekerja sebagai budak di pelabuhan kerajaan.

Sejak Gali mendengar kabar bahwa lukisan itu berhasil dicuri. Ia gelisah. Berdoa sepanjang malam. Malam itu Gali tak bisa tidur, ia memikirkan lukisan Perempuan Tersenyum miliknya, mulutnya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dan entah Tuhan mengabulkan doanya, kebetulan, atau memang takdir atau apapun kamu menyebutnya, lukisan itu kini berada tepat dihadapannya. Lukisan itu tergeletak begitu saja di tempat sampah pelabuhan. Sungguh heran, hanya bagian bibirnya saja yang hilang, sisanya masih utuh dan masih indah meski ada yang kurang tanpa senyuman itu.Orang gila macam apa yang nekat mencuri di istana hanya untuk mengambil bibir itu? Pikirnya.

Gali membawanya pulang. Meletakannya di bawah tempat tidur. Gali berjanji tak akan kehilangan lukisan itu untuk kedua kali.

Kini Gali muda sudah tua, Punggungnya sudah tidak lagi tegap, susah payah pula ia menopang tubuh ringan-kurus itu, benar terasa sudah tidak lagi ringan. Tetapi ajaib, ketika menceritakan kisah itu padaku di temani lukisan Perempuan Tersenyum yang kini bibirnya sudah ada pada tempatnya lagi, ia nampak lebih muda.

“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bibir yang sedang tersenyum itu kini berada di lukisan ini lagi, bukan? Lukisan perempuan yang bahkan tak ku ketahui namanya ini…” Kek Gali seolah mampu membaca pikiranku, ia melanjutkan “Pada suatu hari, kapal kami berlayar ke sebuah negeri yang jauh. Sesampainya di sana, entah kenapa aku ingin mengunjungi rumah ibadah. Mungkin rindu, entahlah. Aku memasuki rumah ibadah dekat pelabuhan, belum sempat aku berdoa sampai kedua mataku tertuju pada sebuah kotak kaca di sudut ruang peribadahan itu. Terkejutlah aku, di sana, di dalam sebuah kotak kaca, senyum itu mengembang cantik sekali, ditemani ayat-ayat pengusir roh.

“Aku heran, bagaimana mungkin senyum seindah ini di tuduh mengandung roh jahat. Apakah mereka buta? Jadi kupikir, percuma bila bibir yang sedang tersenyum itu diletakkan di sana hanya untuk ditakuti saja. Mungkin menurut mereka senyum itu misterius dan memiliki maksud tersirat, sebab di atas kotak kaca itu terdapat tulisan ‘Senyum Iblis’. Entah bagaimana mereka menafsirkannya, padahal, aku sendiri yang menempelkan senyum itu dulu, tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengabadikannya dan tidak mau senyuman terindah itu lenyap di makan belatung atau cacing tanah.”

Kek Gali menatapku, “Dan ya, harus ku akui mungkin caraku salah…”

Matanya mendelik. Ia mengambil sebatang rokok lagi, kemudian membakarnya. “Kulukis sebuah kotak kaca lengkap dengan ayat-ayat pengusir roh dan bibir yang sedang tersenyum, meski senyum itu tak sama persis, tak memiliki roh, tapi aku yakin tak akan ada yang menyadarinya. Sebab lukisan kotak kaca itu sama persis kecuali bibir yang sedang tersenyum itu. Ah, andai saja aku mampu melukiskan senyum itu dengan baik, tak mungkin aku harus mencuri bibir pemiliknya dulu, dan itu mungkin dosa terbesarku.”

Tehnya sudah tak lagi hangat, asapnya sudah pergi beberapa menit yang lalu. Kek Gali tetap menikmatinya. Sama saja.

“Setelah aku berhasil menyelundupkannya ke kapal, aku kembali lagi ke rumah ibadah itu. Memohon ampun, ah, begitulah manusia bukan? Setelah menyadari kesalahan yang mereka lakukan, mereka mengiba, memohon ampun pada Tuhan. Entah Tuhan mengampuni atau tidak, manusia hanya tahu Tuhan maha pengampun…dan senyuman ini, Nak,” matanya menatapku tajam, “ia tak memiliki kekuatan sihir. Seperti senyuman yang lain, ia bisa memperkaya orang yang melihatnya tanpa membuat miskin orang yang memberikan senyum.

“Senyuman tak bisa di beli, anakku, meski Raja Hobes I sanggup membeli ratusan budak untuk dijadikan pembantunya, ia tak akan pernah bisa membeli senyuman. Senyuman tak bisa dipinjamkan, apalagi disewakan, senyuman hanya bisa dibagi.”

Rumah ini dibalut penuh oleh udara yang bercampur wangi kayu, juga wangi cat minyak. Aroma yang sama sejak kali pertama Kek Gali memutuskan untuk tinggal di sini bertahun-tahun yang lalu, ah tentu saja, sudah sangat kuhapal benar baunya, Tidak hanya aku, patung-patung yang lain juga pastilah sangat hapal benar wangi ini. Wangi yang sejak kami di ciptakan oleh Kek Gali sudah seperti ini. Matahari tak akan pernah meninggi, tak akan pula benar-benar tenggelam. Ia akan tetap di sana, antara timbul dan tenggelam. Tertahan di posisi itu. Tak ada yang pernah bilang bahwa lukisan bisa menenggelamkan seseorang.

Lukisan Langit.

Lukisan Mpok Sirem Si Rentenir.

Lukisan Istana Raja Hobes I.

Lukisan Raja Hobes I.

Lukisan Kereta Kuda.

Lukisan Jembatan.

Lukisan Desa Althea.

Lukisan. Lukisan.. Lukisan.

Mata pemuda itu terbuka, dihadapannya masih terpampang sebuah lukisan cat minyak. Lukisan seorang lelaki tua sedang duduk menikmati senja sambil menikmati teh dan sebatang rokok terselip di jarinya, sebuah patung anak kecil di sebelah kanannya dan lukisan perempuan tersenyum di sebelah kirinya. Si lelaki tua kelihatan sedang berbincang sendiri.  Tiga cangkir teh tersaji di atas meja kayu. Wajah lelaki tua itu kelihatan sangat bahagia. Dan mata patung anak kecil yang melihat ke arahnya.

Pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi barusan, antara mabuk dan sakit jiwa memang sulit dibedakan, tetapi ia sangat yakin. Lukisan itu bercerita padanya. Dengan ragu, pemuda itu mendekat untuk membaca nama pelukisnya. Sugali.

Anjing Kelima

Ada empat ekor anjing: A, B, C, dan D. A dan C mengelilingi B seperti bangkai satelit atau mayat astronot yang terus mengorbit sekalipun sudah kadaluarsa. Sementara D, yang sepertinya tidak tahu di mana garis edarnya, menyelinap di antara mereka, “dan kalau bukan nasib baik yang mampu menyelamatkan anjing prengus itu dari tubrukan dua anjing lain, aku tak tahu lagi apa namanya.”

Marki selalu mengulang cerita itu tiap kali ia sedang mendengarkan Don’t Think Twice It’s Alright-nya Dylan sementara aku manggut-manggut tanpa pernah kepengin tahu apa yang hendak ia sampaikan di balik kisah empat anjing tadi. Namun serupa ketololan lain di dunia ini, ia mudah menular.

Dua malam lalu aku duduk di bawah pohon rambutan, melakukan rangkaian aktivitas yang biasa kulakukan untuk menambah tingkat kepercayaan diri: Menggelar papir di atas paha, mengambil sejumput tembakau favoritku, dan melintingnya. Kalau hasil lintingan terbakar dengan baik hanya dalam sekali bakar artinya aku tidak sedang gugup dan segalanya akan berjalan lancar, tetapi kalau yang terjadi sebaliknya aku akan pulang dan mencoba lain kali. Malam itu lintinganku bekerja dengan baik, ia terbakar sempurna. Kuisap dalam-dalam asap tembakau, merasakan semacam arus ketenangan tak terhingga merayap dari pembuluh hidung ke atas kepala, membuat otakku agak seperti kesemutan, lalu kuembuskan perlahan melalui hidung dan mulut. Paru-paruku terbuka dan oksigen yang kuhirup setelahnya tak pernah terasa semurni itu. Aku siap.

Kunaiki pohon rambutan dan duduk di dahan yang telah kupilih beberapa minggu lalu. Bukan dahan kesukaannku, sebenarnya, diameternya tidak terlalu besar dan terlalu banyak ranting kecil yang menghalangi akses turun. Meski begitu dahan itu cukup terhalang dan pula ini November, beberapa pohon rambutan sedang berbuah, termasuk rambutan Binjai ini. Akses camilan seolah tak terbatas dan nyemil sembari mengisap kretek bukanlah ide yang buruk. Aku sudah menyiapkan kantung kertas untuk menyimpan limbahnya.

Tidak akan ada nyamuk malam itu, aku sudah memperhitungkannya. Tetapi bukan berarti tanpa masalah. Di luar dugaan, lampu kamar atas masih menyala. Lampu itu harusnya mati satu jam yang lalu. Penghuni kamarnya seorang kakek usia 87 tahun atau lebih, ia memiliki kebiasaan menonton sinetron hingga pukul sembilan malam, setelah itu ia akan menutup tirai dan mematikan lampu. Namun sudah jam sepuluh lewat lampu tak kunjung padam. Karena bosan aku mengeluarkan ponsel, memasang earphone, dan memilih lagu Dylan. Aku menganggap Donovan lebih layak didengar ketimbang Dylan, tetapi aku punya tiga nomor kesukaan dan Don’t Think Twice It’s Alright tidak masuk hitungan. Aku tak rela membuang sekian menit untuk mendengarkan curahan hati Dylan. Aku sendiri lupa kapan aku memasukkan nomor itu ke dalam ponsel, kendati demikian ia ada di sana, terhimpit di antara lagu-lagu yang masuk kategori ‘Tak Bernama’ yaitu lagu-lagu yang secara asal kuunduh tanpa mengubah informasi lagu. Tak ada salahnya kudengar, mungkin bisa cocok dengan rambutan dan kretek. Jadi kuputar lagu itu dan bayangan empat ekor anjing muncul di dalam pikiranku.

Empat ekor anjing. Dua di antara mereka melompat-lompat mengitari satu anjing, yang mungkin memiliki daya tarik tertentu, sementara yang seekor mendekam di kolong Starlet tua, sesekali ia menghampiri tiga anjing itu, merusak beberapa hal, lalu pergi lagi. Minder, barangkali, atau merasa segalanya sudah berjalan dengan baik tanpa kehadirannya, atau alasan-alasan lain yang biasa dilontarkan pecundang. Sekali dengar aku sudah tahu ini soal cinta dan hal-hal remeh yang mengitarinya, lagi-lagi bukan favoritku, meski begitu kukira kisah cinta, semurahan apapun, bahkan mampu membuat manusia setengah genderuwo duduk, diam, dan menyimak dan ‘merasa terhubung’ dengan cerita, sebagai bonus. Aku menekan kata ‘merasa terhubung’ sebab kukira begitulah cara hal-hal murahan bekerja.

Marki sudah hidup terlalu lama, wajar bila ia merasa terhubung dengan banyak hal. Ia menonton film yang dibintangi Rano Karno, Rendra Karno, Ratno Timur, Rudy Salam, Rahmat Kartolo, Remy Sylado, Ray Sahetapi, Rhoma Irama, atau aktor berawalan R lain dan merasa nasib mereka di film-film itu sama dengan nasibnya. Ia membaca biografi atau autobiografi orang lain dan merasa jalan hidupnya diwakili tokoh-tokoh itu. Ia menonton sinetron yang pemeran utamanya seorang laki-laki papa yang berjuang setengah mati mendapat cinta perempuan kaya raya dan ia merasa menjadi lelaki termiskin di dunia, padahal sebaliknya. Marki sudah melewati batas usia rata-rata manusia Indonesia, artinya peluang ia hidup lima atau enam bahkan sepuluh tahun lagi semakin terbuka dan semua kenangan baik yang terjadi padanya maupun yang terjadi pada orang lain yang diceritakan kepadanya dan menjadi kenangan miliknya melebur hingga ia punya banyak sekali cerita tentang dirinya, tentang kegemerlapan masa muda, dan mengapa ia sering terlihat bingung dan murung tak lain karena ia hanya merasa pernah melalui semua peristiwa itu, semua perasaan itu, namun ia mungkin menyadari bahwa tak semua peristiwa benar-benar ia alami.

Aku bertemu Maki saat baru merintis karier, sepuluh atau sebelas tahun lalu. Hari itu aku merasa seolah bisa membekukan apapun yang kusentuh dan udara tak ubahnya genangan lumpur. Benda-benda logam di saku jaket terdengar lebih bergemericing ketimbang biasanya serta aroma bunga kenanga mengikuti ke mana pun aku berjalan bahkan terus berseliweran ketika aku memutuskan untuk rehat di kursi dekat danau buatan sampai-sampai aku harus mengacak-acak semak di tepi danau itu sekadar memastikan tak ada bunga kenanga di sana.

Ada sebuah balai kambang di tengah danau. Kecuali genting coklat yang sudah lumutan, seluruh bangunan balai terbuat dari bambu. Ia terapung di atas tong-tong plastik biru, untuk sampai ke sana disediakan jembatan apung sepanjang delapan hingga sepuluh meter. Dari tempatku berjongkok aku bisa melihat celana abu-abu tua dan sepasang kaki bersandal kulit bergerak naik turun, diselipi tawa terkekeh dan sesuatu berderit dan aroma tahi kucing yang kuduga terinjak beberapa menit sebelumnya. Kubuka sepatu, mencium satu per satu solnya sambil mendekati tepi danau, kucelupkan sol sepatu kanan dan kuusap-usap di rumput. Sepasang kaki di balai kambang berhenti bergoyang, ia mengeluarkan kepalanya, melihatku. Seorang kakek. Ia memperlihatkan botol bening lalu melakukan gerakkan mengundangku sambil tersenyum. Aku kenal botol itu. Kujamin tak satu malaikat pun mampu menolak isinya, apalagi setan dan pengikutnya.

Marki. Aku tak tahu lengkapnya: Markizul, Markido, Markilun, atau apalah. Ia sedang memegang komik Paman Gober dan sebotol absolute vodka. Telinganya disumbat earphone, yang ia lepas saat aku tiba. “Hidup terlalu lama bikin kau kesemutan tiap lima menit,” katanya, meluruskan kaki. Ia mencopot jack earphone dari ponsel sehingga lagu yang ia dengarkan mampir pula ke telingaku. Dari suaranya kita tahu siapa yang bernyanyi. “Pernah dengar cerita empat anjing?”

Sudah pukul empat pagi, lampu kamar orang tua itu belum mati juga. Keparat memang. Aku turun dari pohon dan pulang. Masih ada hari esok.

Setelah bercerita mengenai empat ekor anjing itu, Marki mengeluarkan sebungkus tembakau dan papir dari sakunya.

“Kau sama sekali tidak terlihat seperti tipe orang yang super-repot,” sindirku, mengeluarkan sebatang rokok, membakarnya, dan sedikit mengembuskan asap ke arah Marki yang tengah meletakkan tembakau di tengah papir.

“Melinting kretek adalah pekerjaan paling santai sedunia,” katanya, “Apanya yang repot? Kau cuma perlu melintingnya.”

“Aku tak punya kesabaran untuk itu.”

“Apa itu kesabaran? Tidak ada yang punya kesabaran di dunia ini. Semua, kan, hanya soal menahan laju waktu.”

“Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, tetapi begini ya,” aku melompat, berdiri, lalu memasang kuda-kuda. “Aku sedang menahan kentut. Lebih nyata, dan kau langsung paham apa yang kumaksud. Kentut lebih nyata ketimbang waktu dan tolong jangan bahas lebih jauh mengenai hal ini kecuali kau ingin aku berak di celana.”

Marki tertawa. “Kau bekerja?”

Aku mengangguk. Ia menanyakan secara spesifik profesiku. “Pekerjaan di antara pekerjaan,” jawabku. Dan ia bilang ia tidak mengerti apa yang kukatakan, “Nah, perasaan tidak mengerti itulah yang kurasakan saat kau berkata ‘menahan laju waktu’ dan sebagainya. Kau tahu, temanku, seorang penyair, lagak bicaranya sepertimu. Suatu hari ia berusaha menerjemahkan gerak asap di mulut knalpot metromini, ia mendatangi tiap metromini yang sedang menunggu penumpang. Nasibnya sudah ditentukan sejak minggu pertama ia melakukan hal itu.”

“Apapun pekerjaanmu, kukira, kau butuh ketenangan. Melinting tembakau bisa menjadi indikator ketenangan seseorang, kau tahu?” Ia menjilat lintingannya dan membakarnya. “Jangan pernah melakukan sesuatu yang berisiko jika hasil bakaranmu kacau, itu pertanda jelas kau sedang gugup.”

Menjelang pukul enam, sebelum tidur, aku lewat pohon rambutan itu lagi. Kamar di atas masih menyala. Aku memesan bubur ayam tanpa kacang goreng. Duduk di kursi plastic, sarapan, sambil memandangi rumah di hadapanku. Tak ada satu pun orang yang mau kenal dengan orang tua penghuni kamar itu. Beberapa orang pernah berusaha menyapanya, tetapi ia nampaknya tidak berbakat dalam urusan sapa-menyapa. Kontribusinya terhadap masyarakat sekitar hanya iuran sampah dan RT dan ronda dan sumbangan 17-an setiap tahun, selain itu tak ada lagi. SIapapun enggan menyapa orang macam itu, apalagi menawarkan bantuan. Ia menunjukkan kesan bahwa ia tak butuh bantuan siapa-siapa, bahkan di depanku ia berlagak sok jago dengan mengutip perkataan orang-orang bijak dan segala macam. Kukatakan kepadanya bahwa ada seorang raja paling bijak, suatu hari dia kehabisan stok kalimat bijak dan berkata, “Keparat. Kalian tahu tahi keledai? Kalian semua seperti itu.” Ia cuma ketawa. Pekerjaan utamanya hanya mengunjungi danau, membawa komik-komik bocah, membaca di balai kambang, lalu pulang lagi sebelum matahari benar-benar lingsir. Setelah sarapan aku kembali ke rumah dan mengasah kemampuanku. Meski orang tua itu terlalu banyak petuah dan kadang menyebalkan, aku kepengin prosesnya cepat, karena begitulah permintaannya.

Aku kembali lagi ke pohon rambutan Binjai di malam berikutnya dan berikutnya. Melinting dengan cara yang sama dan duduk di dahan yang sama dengan lagu yang sama pula. Pemuja kebebasan itu, tahi kucinglah, mempromosikan kebebasan bak potongan seledri di bubur ayam. Apa yang mereka bilang, ‘lakukan yang kau suka,’ ‘jadilah diri sendiri,’ dan omong kosong semacam itulah. Marki pernah menuturkan kisah yang mirip film La Dolce Vita, tetapi ia menceritakannya dengan sudut pandang orang pertama dan aku tidak keberatan mendengarkan. Marki pernah mendeskripsikan seorang perempuan, aku tak ingat ia pernah menuturkan perempuan lain sedetail itu, dan gambarannya mirip Lydia Kandaou dan aku menikmatinya. Aku bahkan menertawakan pengalaman lucu yang pernah menimpanya yang juga pernah menimpa Donald di salah satu komik yang kupinjam darinya, dan aku tetap ketawa sampai rasanya tak ada otot yang tak menegang. Marki tak menceritakan dirinya sebagai dirinya sebagaimana aku tak pernah menceritakan aku sebagai diriku, tetapi kami ia terlalu cerdik untuk ukuran orang berusia delapan dasawarsa lebih sedikit dan aku tentu saja mengasah kemampuanku setiap waktu. Itulah mengapa aku masih duduk di dahan itu, menununggu ia bermimpi mengenai empat ekor anjing dan aku berpikir tentu akan lebih menarik kalau anjing keempat berkata kepada dua anjing sialan yang terlalu lama berputar-putar: “Waktu kalian sudah habis, pecundang. Pergi sana.” Saat itu aku akan masuk dan memberinya kejutan kecil tanpa mengejutkannya dari tidur. Tetapi lampu kamarnya tak kunjung padam.

Hava Nagila

Agrariafolks

Adam memiliki penis dan penis Adam memiliki tulang yang kecil namun empat kali lebih kuat dari tulang paha dan memanjang dan punya  tiga sendi engsel seperti tulang jari tengah atau telunjuk atau jari manis atau kelingking. Adam bisa ereksi kapanpun, mencantel pada ranting pohon rambutan surgawi yang tak bisa patah sekalipun digelayuti enam ekor gajah, bahkan penis Adam bisa digunakan untuk menarik pelatuk Glock 17 kalau-kalau di surga masih perlu mati, hanya perlu sedikit latihan. Tetapi Tuhan saat itu sedang kreatif-kreatifnya, kau tahulah, Ia mencomot tulang penis Adam selagi ia tertidur dan menciptakan Hawa dengan harapan saat terbangun nanti makhluk kesayangannya itu terkejut dan terharu sampai-sampai menitikkan air mata dan bertanya-tanya bagaimana cara bersyukur yang baik saat mendapati seorang teman di sisinya. Sayangnya prediksi meleset, saat terbangun dari tidur enaknya Adam, seperti biasa,menggaruk-garuk pelirnya dan mencoba menaik-turunkan batang penisnya dan yang terjadi kemudian tidak terjadi apa-apa. Ada apa dengan mainanku? Tanya Adam, murung.

“Begitulah,” Paman Hun menarik napas dan menggosok-gosok lubang hidung dengan punggung jari, “Ketakutan akan nggak bisa ngaceng sudah muncul jauh sebelum setan membelot.”

“Tapi itu tak menjawab mengapa kau tidak menikah,” protesku.

“Tapi itu menjawab mengapa aku tak takut dengan ombak.”

“Aku rasa fakta bahwa Hawa diciptakan dari tulang penis tak ada urusannya dengan keberanian seseorang.”

Paman Hun menggosok-gosok lubang hidungnya lagi setelah itu megusap rambutku, ia memperlakukanku seperti bocah berambut topo dan tak ada yang suka diperlakukan seperti itu, kemudian ia mengambil Glock 17 miliknya dari tanganku, mencopot magasinnya dan berlari ke bibir pantai, melompat-lompat kecil, melempar magasin dan badan pistol sejauh yang ia bisa ke arah laut, dan berseru seperti orang gila, “Hava nagila*.”

Dari tempatku duduk aku bisa melihat garis tipis yang kelamaan membesar dan membesar dan Paman Hun sudah tertelungkup di atas papan selancar. Kuambil botol limun, memasukkan sedotan ke dalam mulut. Ia berdiri di tengah gulungan ombak, menyeimbangkan badan, dan saat cairan perisa meluncur di kerongkonganku, ia terpelanting. Suara tawanya ikut tergulung ombak.

 

*Hava Nagila: (הבה נגילה) sebuah lagu daerah berbahasa Ibrani yang berarti “Marilah bergembira”

Jenglot

Agrariafolks

Jadi kenapa ‘rutan’ adalah ‘rumah tahanan’ bukannya ‘rumah tuhan’? Kenapa Hillary Clinton kalau dilihat-lihat mirip kuskus? Kenapa orang yang 30 menit lalu kulihat sambil lalu di tempat parkir memarkir mobilnya secara horizontal? Kenapa beberapa orang lama sekali di kamar mandi? Kenapa seseorang menabrak orang-orang di jalan? Kenapa tidak, misalnya, ia menyuruh kawannya yang paling tampan duduk di tepi jalan dan ia menjalankan truknya, melindas kaki kawannya, lalu turun dan bertanya, kenapa kamu duduk di tepi jalan? Kenapa semua foto orang yang muncul ketika aku mengetik nama secara acak di mesin pencari dan Donald Trump terlihat seperti kentang? Kenapa allah menciptakan pohon dan hewan sebelum menciptakan matahari? Kenapa Kanada dikontrol oleh organisasi rahasia yang dipimpin oleh seekor gurita berkacamata Ray-ban? Rahasia macam apa yang ingin diketahui pengendara motor berknalpot super-berisik? Rahasia apa yang ingin diketahui orang-orang paranoid yang kelewat percaya diri bahwa sesuatu memperhatikan gerak-geriknya setiap saat.dan sesuatu yang lain berusaha menjerumuskan dirinya ke kerak neraka padahal tidak ada siapapun yang sedang melihatnya karena hidupnya sama sekali tidak menarik? Rahasia apa yang ingin diketahui Tommy Suharto? Lalu bagaimana dengan testis Bam Margera? Rahasia apa yang tidak ia katakan kepada penggemarnya setelah dipukuli nenek-nenek?

Kami duduk berhadapan. Di sisiku teman laki-lakinya asyik memperhatikan ponsel sambil bergumam ‘wah’, ‘wow’, ‘anjing’, dan sebagainya. Kami duduk berhadapan. Mari kita buat ini lebih jelas dan ringkas: Telapak kaki kami sesekali saling senggol di kolong meja dan hanya itulah yang kami lakukan di jam pertama. Di jam berikutnya apa yang kaki kami lakukan mengingatkanku pada gerak bandul pendulum saat gerhana matahari. Kami duduk berhadapan dan selama itu terjadi, beberapa pertanyaan muncul secara acak. Jumlahnya semakin bertambah saat kami berpisah. Semakin banyak pertanyaan semakin sedikit jawaban, begitu formulanya.

Mari kita lanjutkan. Bagaimana dengan jenglot yang kucurigai hidup di dalam setiap sepatu Chuck Taylor All-Star yang semakin membesar dan membesar tiap kali pemiliknya menginjak kubangan, menanti waktu yang tepat untuk membalas kebaikan pemiliknya?

Fungsi Minuman Bersoda

agrariafolks muntah bebek

Sebuah telaga. Empat perahu kayuh berbentuk bebek kuning bermuatan dua orang tertambat di dermaga, dua lainnya bergerak menjauh. Setelah penyewa perahu membawa pasangan masing-masing naik perahu, pengelola perahu bebek berbaring di dipan, ia meregangkan punggung sebelum menutup wajahnya dengan topi pancing.

“Kira-kira, sudah berapa banyak pasangan yang ia lihat sepanjang ia bertugas?” Herman membuka kaleng teh soda, lantas menenggaknya. Yang ditanya membuka satu kancing paling atas dan mengipas-ipas wajahnya dengan kertas biru.

“Aku tidak apa-apa,” katanya, mengetuk-ngetuk sudut kertas biru ke pipi Herman lalu kembali menjadikannya kipas. “Orang datang dan pergi, dan datang dan pergi. Bukan masalah besar.”

“Seingatku si Bapak sudah ada di dipan itu sejak aku SD, sejak kami baru pindah ke perumahan ini.” Herman mengepalkan tangannya, membuka satu per satu jemari. “Empat atau lima belas tahun. Wah… kalau satu hari lima pasangan saja satu tahun mungkin sekitar empat ribu orang, lima belas tahun berarti sekitar enam puluh ribuan.”

Nina diam saja.

“Eh, Nina, kau lapar? Aku punya sesuatu.”

Nina meletakkan kertas biru di atas rumput, mengambil kaleng teh soda milik Herman, lalu meminumnya. “Ini cukup. Kau tahu, soda bikin perutmu terasa penuh.”

“Tapi dengan roti coklat perutmu akan benar-benar terisi.”

“Simpan saja,” katanya. “Buat nanti kalau aku benar-benar sudah lapar.”

“Seingatku kau baru makan satu kali, bubur ayam tadi pagi?”

“Perutku rasanya penuh sekali.”

“Penuh sampai-sampai ingin kau keluarkan separuhnya?” ujar Herman, setengah bercanda.

“Ya, itu satu dari beberapa fungsi soda.”

Dua perahu bebek berjalan bersisian. Terdengar tawa samar, tawa perempuan. Barangkali penyewanya teman dekat. Keduanya sama-sama berbelok sehingga kini yang bisa kita lihat hanya kepala belakang mereka dan galur air di bokong bebek.

“Rasanya aku ingin punya kemampuan menurunkan kraken dari langit,” ujar Herman, menyobek bungkus roti cokelat. “Dan kujatuhkan di antara mereka.”

“Jahatnya anak ini…”

“Atau bukan untuk mereka,” ia meletakkan bungkus roti di atas kertas biru. “Bukan di sini. Tidak saat ini.”

Nina terlihat ingin tertawa, namun urung. Alih-alih ia malah menyerobot roti cokelat dari tangan Herman dan memakannya dengan lahap.

“Katanya nggak lapar?”

“Siapa bilang?” suara Nina tertahan gumpalan roti di mulutnya sehingga terdengar seperti katak sawah. “Aku hanya bilang perutku terasa penuh.” Ia kelihatan agak kesulitan menelan, karena itu ia bergegas mengambil teh soda, bersendawa kecil, lalu mengulang: “Terasa penuh.”

“Sekarang mungkin terasa lebih penuh lagi,” kata Herman. “Aku sudah menyediakan kantung plastik.”

“Kau laki-laki visioner,” katanya. “Akan menjadi suami yang baik.”

Herman terpingkal, membuat seekor burung gereja yang sedang mematuk-matuk rumput tak jauh dari mereka terbang.

“Aku,” pupil mata Nina mengikuti burung gereja, “Aku cuma berharap dilindungi dari roh jahat dan nasib sial.”

“Menurutku ditinggal seseorang bukanlah nasib sial.”

Nina mengangguk. Ia buka lagi sekaleng teh soda dan meminumnya serupa atlet sepakbola di masa istirahat yang lupa selain air ia juga butuh bernapas. Ia tersedak hingga menitikkan air mata, lalu terpingkal.

“Apanya yang lucu?” tanya Herman. “4.800 orang mati tersedak di tahun 2014, tahu?”

“Bisakah kau berhenti memikirkan angka, data, dan hal-hal seperti itu?” suara Nina meninggi.

“Angka tidak pernah berbohong.”

“Tapi angka membosankan. Mungkin itulah penyebab kau nggak punya banyak teman.”

Dua perahu bebek semakin mengecil. Kali ini bahkan terlihat lebih kecil dari batu yang digenggam Herman. Ia melempar-lempar batu itu sebelum akhirnya dibuang, suara jatuhnya sampai ke telinga, disusul wangi minyak kayu putih yang dibuka Nina.

“Kau mual?”

“Tadi kau tanya berapa banyak pasangan yang dijumpai si Bapak penjaga perahu bebek?”

“Kalau mual sebaiknya muntahkan saja.”

Nina mengambil lagi kaleng teh soda terakhir, meminumnya, lalu meremas kaleng itu. Herman merasa rumput-rumput hidup dan mulai menggelitik betisnya, tentu saja mustahil, setelah ia periksa ternyata beberapa semut tersesat di rambut kakinya. Ia menekuk tungkai kakinya dan menyapunya dengan telapak tangan. Rupanya ada semut yang masuk pula ke dalam sepatu olahraganya. Ia bisa merasakan sesuatu berjalan pelan menyusuri telapak kaki, dan segera menyesali keputusannya tidak mengenakan kaus kaki.

Ia membuka sepatu dan tak menemukan apa-apa.

“Kukira angka perkiraanmu tidak banyak mengubah fakta ini: Orang-orang itu akan pulang dan tidak menyisakan kesan apapun terhadap bapak itu, yang mereka ingat barangkali cuma kebahagiaan saat mengayuh perahu.”

“Lihat,” Herman menunjuk dua perahu bebek di tengah telaga. Perempuan di perahu sebelah kanan berdiri, hendak melompat ke perahu di sisinya. Sementara yang laki-laki berusaha membuang air dengan sesuatu. Ia melakukan gerakan seperti menyangkul berulang-ulang dan tiap kali ia membuang air bobot si Bebek seolah bertambah. Laki-laki itu menyerah dan memutuskan untuk melompat. Pasangannya sudah berpindah ke perahu bebek lain. Saat laki-laki itu muncul ke permukaan kepalanya dipenuhi tumbuhan air, ia berusaha mengambil udara di dekat perahu bebek yang berangsur karam. Mungkin karena masih bingung, ia malah berenang menjauh dari perahu temannya sambil berkali-kali mengibaskan rambut, berusaha melepas tumbuhan atau lumut atau apapun benda kehijauan yang menghiasi kepalanya. Dari kejauhan ia nampak seperti Kappa mabuk yang baru pulang dari pesta bujang. Perahu bebek malang itu kini hanya kelihatan atapnya. Kuning pucat dan tidak berdaya. Sementara si Bapak masih tidur lelap di dipan, empat pemuda yang berdesakkan di satu perahu barangkali tengah menyusun alasan-alasan masuk akal.

Nina dan Herman terbahak-bahak sambil tangan mereka sibuk memasukkan semua sampah ke plastik kresek putih: Kaleng-kaleng teh bersoda, plastik roti, kertas biru, dan struk belanja. Sesekali Nina menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat, dan tak perlu waktu lama hingga ia nyaris jatuh lalu mengeluarkan isi perutnya dan Herman dengan tangkas memberi kantung plastik sampah di tangannya.