Wboebwobvononwv

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar dengan membawa kunci. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Ia keluar membawa tutup kaleng berwarna merah. Gagak itu hinggap di antena, lima atau enam detik, sebelum akhirnya terbang dan tak terlihat lagi.

Gagak itu delapan kali kembali ke kamar dan membawa pergi sesuatu. Selama itu terjadi, seorang duda berkemeja biru, usianya sekitar lima puluhan, memperhatikannya di depan pagar rumah. Ia menghitung berapa kali gagak itu kembali dan barang apa saja yang ia bawa.

“Aduh. Mengapa ia belum juga membawa keluar benda itu,” gumamnya, membakar ujung honcoe. “Padahal tidak ada binatang yang lebih pintar dari gagak.”

Seekor gagak masuk ke kamar melalui jendela. Saat terbang ia memberaki kepala si Duda. O, hidup manusia memang rapuh, ia dibangun di atas pasir. Gagak tidak tertarik membuat sarang dari surat yang berisi kemalangan orang lain, ia tidak akan pernah berguru kepada hewan yang lebih bodoh.

Madesu

Dua hari lalu Pak Darusman, guru matematikaku, berkata begini di depan kelas. “Madesu*. Jangan tiru Yanti, ya.”

Sebelumnya ia menuduh aku mengobrol saat ia sedang menjelaskan cara menentukan modus dari suatu data. Aku memang mengajak bicara teman sebangku, memintanya sedikit menjelaskan hal yang kulewatkan karena aku tidak terlalu menangkap penjelasan Pak Darusman sementara ia terus melanjutkan pembahasan tanpa mempedulikan tanganku yang terangkat. Pak Darusman menulis sesuatu di papan tulis dan aku diminta ‘mengajarkan’ kepada teman-teman yang lain, menurutnya karena aku mengobrol saat ia menerangkan artinya aku sudah menguasai materi. “Kamu, kan, lebih pintar dari saya,” tambahnya.

Aku menjawab jujur bahwa aku belum mengerti. Ia memotong alasanku, dan tetap memaksaku untuk mengerjakan soal. Sambil menatapku yang berdiri seperti orang  bodoh, ia berdecak lalu berkata bahwa masa depanku suram. Maksudnya mungkin bercanda, sebab ia bicara begitu sambil tertawa, dan satu kelas ikut tertawa. Ia memintaku keluar.

Sebelum sampai kantin aku berbelok ke kiri, ke ruang multimedia. Aku hendak mengirim sesuatu ke Pak Darusman melalui email.

Kepada
Bapak Darusman
Di tempat

Sulit mengutarakannya secara langsung, karena itu saya memutuskan
untuk mengirim email ini. Bahwa mulai detik ini, apapun yang Bapak
katakan, akan saya balas dengan...

974888883741444455555722777722377777444333311112244222222227777777
866666555566624366663079466697281736662876619766333666933666666669
066386626683466066326616602866212667776606660666866527664411669178
166666496631766866876616639166212666666686636366266666661144662224
466286656624166466076616687466212665556696633366766777665277667827
266666392766673966663749066622233662226626688866766322663374663447
+78978918791418984547987451871445197184545987181543243212145575789987=
166556699966639166226622266633066256691166698722222223334123275879
266436606600066266226636692766266036636679366078266452366198789543
066666676666666066666636666666366666616666666076622660266191782345
166756616674266866226636673166466816606600066376644336677438794521
166226646610966766226676699966566776676633366078008887887998752437

Aduh, bahkan di email saya kesulitan mengungkapkannya.
Semoga Bapak Mengerti.

Salam,
Yanti IX IPS 4

Satu jam yang lalu, di mata pelajaran Matematika, Pak Darusman memanggilku ke depan. Ia menceramahiku dan yang lain soal betapa pentingnya Matematika, dan ia berkata iagalak karena ia menyayangi kami. Ia memaafkanku, dan ia memperlihatkan email-ku yang sudah ia cetak. Ada lingkaran merah besar di deretan angka yang kutulis. Kemudian, dengan senyum penuh kemenangan, ia menyarankanku untuk belajar Matematika dasar lagi karena hasil hitunganku salah.

“Kamu mau membalas dengan apa?” tanya Pak Darusman.

Aku memberinya senyuman.

Saat menulis ini, aku sedang menghabiskan jus stroberi sambil tertawa sampai mau mati.

 

 

 

Mau tahu di mana letak lucunya?

1. Ctrl + F

2. Ketik angka ‘6’

3. Lihat pola di badan email Yanti

4. Hehe~
 
5. Alternatif: Telusuri tiap angka ‘6’

 

 

 

*Madesu: Masa depan suram.

24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif

Sengaja saya lampirkan berkas salinan hasil pemeriksaan yang merupakan sumber pembuatan cerita ini selain kliping koran, hasil wawancara dengan beberapa pihak yang terkait peristiwa, serta pencarian melalui internet. Berkas ini saya dapatkan dari penjual buku langganan saya yang mendapatkannya dari penjual sayur langganannya (Puji Tuhan!). Saat ditemukan beberapa bagian pembuka terhapus, diduga kuat akibat kesalahan teknis saat menggandakan lampiran di mesin foto copy. Meski begitu, bagian lain tidak hilang dan berisi informasi penting bagi saya untuk menulis ulang cerita ini dan saya kira penting bagi pembaca sekalian.

Salam

A.H

24 Jam Bersama Gaspar 2

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH JAWA BARAT

WILAYAH KOTA DEPOK

“PRO JUSTITIA”

(lambang POLRI)

                                       BERITA AC

Pada hari ini Jumat tanggal 5 Ju

———————————–T

Pangkat BRIPTU/NRP 6

surat tugas No. pol

terhadap perem

————————-

———————-

Dilahirkan di Ba

seorang ibu r

Alamat sek

Ia diperiksa untuk dimintai keterangan selaku saksi pelapor dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana atau Pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 atau 338 KUHPidana,

sehubungan dengan adanya laporan polisi No. Pol LP/77

——————————————————————

Atas pertanyaan pemeriksa yang diperiksa menerangkan secara tanya jawab sebagai berikut di bawah ini: ————————————————————————-

PERTANYAAN JAWABAN

Apakah anda sekarang dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta bersediakah anda sekarang untuk diperiksa dan akan menerangkan dengan pernyataan dengan sebenar-benarnya?

Ya dan tidak. Secara jasmani pinggang saya agak sakit, biasalah, penyakit lama. Namun secara rohani insya Allah saya dalam keadaan siap, atau minimal saya sudah berusaha keras untuk mempersiapkan rohani saya. Umur manusia memang tidak ada yang tahu. Kemarin anak itu masih petakilan, siapa yang menduga dia malah lebih dulu wafat. Semoga rohani dia pun sudah cukup, meski… meski saya tidak terlalu yakin soal ini. Soalnya, anak itu, aduh, ampun.

Mengertikah anda mengapa anda dimintai keterangan oleh polisi?

Ya, walaupun tidak terlalu mengerti. Kata Bapak Kumis tadi saya satu-satunya saksi yang sejauh ini bisa polisi temukan, yang lainnya sedang dalam pencarian. Apakah Bapak percaya dengan saya?

Kami hanya menjalankan prosedur yang berlaku. Saat ini saya akan bertanya mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan peristiwa kemarin. Apakah anda setuju untuk bekerja sama? 

Syukurlah, masih ada yang memercayai saya. Soal bekerja sama, kita, kan, memang dianjurkan untuk selalu bekerja sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Coba ceritakan apa yang anda lakukan Sabtu pagi kemarin.

Apa, ya, saya bangun pagi. Selesai salat Subuh. Memberi makan Jenifer.

Jenifer?

Burung kutilang kami. Sebenaranya itu milik suami saya, siulannya merdu sekali. Aduh, bagaimana ya menjelaskannya. Bapak tahu suling bambu? Nah, bayangkan si pemain hanya memainkan nada-nada tinggi. Kira-kira seperti itulah. Kadang mengingatkan saya pada Nike Ardila. Saya pernah memaksa suami saya untuk mengganti namanya menjadi Nike saja, tetapi dia tidak mau. Jenifer lebih bagus, katanya. Saya sendiri tidak mengerti di mana letak bagusnya, meski begitu saya patuh saja. Melawan suami ganjarannya nera–

Cukup soal Jenifer. Setelah itu apa yang anda lakukan?

Begini, Pak. Ingatan saya masih cukup baik, tetapi saya agak kesulitan menceritakan sesuatu kalau tak runut. Kalau Bapak ingin keterangan yang jelas, jangan potong cerita saya. Nanti segalanya jadi kacau dan saya terpaksa harus memulai dari awal.

Baiklah. Coba ceritakan secara lengkap apa yang Anda lakukan Sabtu pagi satu minggu yang lalu.

Selesai salat Subuh. Memberi makan Jenifer. Jenifer adalah burung kutilang kami. Sebenaranya itu milik suami saya, siulannya merdu sekali. Aduh, bagaimana, ya, menjelaskannya. Bapak tahu suling bambu? Nah, bayangkan si pemain hanya memainkan nada-nada tinggi. Kira-kira seperti itulah. Kadang mengingatkan saya pada Nike Ardila. Saya pernah memaksa suami saya untuk mengganti namanya menjadi Nike saja, tetapi dia tidak mau. Jenifer lebih bagus, katanya. Saya sendiri tidak mengerti di mana letak bagusnya, meski begitu saya patuh saja. Melawan suami ganjarannya neraka. Begitu kata guru mengaji saya semasa remaja. Belakangan suami saya menjelaskan mengapa ia tidak mau mengganti nama Jenifer. Ia bilang itu karena ingatannya payah. Kalau tiba-tiba kita mengganti namanya, kemungkinan ia akan sering lupa dan kembali menyebutnya Jenifer. Ingatan saya masih cukup bagus. Kalau sudah begitu, kasihan burung kutilang itu nanti. Ia akan dipanggil dua nama, dan itu akan membuatnya bingung. Siapa saya sebenarnya? Mungkin begitu pikirnya kelak. Lalu ia depresi dan mati. Burung yang stres rentan mati. Tidak hanya burung, kami juga pernah memiliki dua ekor kelinci. Karena kotor, saya memandikannya, tak lama setelah dimandikan keduanya mati secara hampir bersamaan. Menurut tetangga kami yang seorang Dokter Hewan, kelinci memang mudah mati. Semua hewan akan mudah mati kalau stres. Saya sendiri heran apa yang membuat hewan bisa stres? Kalau manusia, ya, mudah dimengerti. Kita bisa stres kalau tidak punya beras, kalau uang habis di tengah bulan, kalau cicilan tidak bisa dibayar, tetapi apa yang membuat hewan stres? Sejauh ini, dari beberapa hewan peliharaan kami yang pernah hidup, kami belajar bahwa hewan bisa stres karena dimandikan, dikagetkan, dipindah tempat, ditaruh di tempat yang tidak semestinya, tetapi kami tidak tahu apakah hewan bisa stres hanya karena nama. Risikonya terlalu tinggi dan kami belum siap kehilangan peliharaan lagi. Baru dua bulan lalu kami kehilangan seekor ikan mas koki, ia stres karena kesepian.

Saya harap Bapak mengerti mengapa saya terkesan berlebihan memperlakukan Jenifer. Pengalaman mengajarkan saya banyak hal tentang datang dan pergi, hidup dan mati, dan meski saya mengerti semua itu memang proses alamiah, namun tetap saja saya rela menghabiskan pagi saya untuk merawat Jenifer sebagai upaya menunda kepergian Jenifer. Agak sulit menyiapkan makanannya, Pak. Jenifer hanya mau makan bubur jagung di pagi hari, dia akan menolak kalau dikasih ulat. Kebetulan stok jagung kami habis, jadi saya pergi ke toko sayur untuk memesan satu peti jagung.

Jadi, anda pergi ke toko sayur?

Ya.

Jam berapa kira-kira?

Beberapa menit selepas salat Subuh. Tetapi kadang saya bangun bahkan sebelum azan Subuh. Baru beberapa meter melangkah dari rumah, masjid menyerukan azan. Jadi saya memutuskan kembali ke rumah dan salat.

Setelah itu anda pergi ke toko sayur?

Tidak. Saya lapar. Saya memutuskan untuk membeli bubur ayam yang biasanya berjualan di perempatan, sekitar lima puluh meter dari rumah.

Tukang bubur melihat anda pagi itu?

Tidak. Tidak begitu. Saya memang pergi ke perempatan tetapi ia belum ada di sana. Mungkin karena masih terlalu pagi.

Karena itu anda memutuskan pergi ke toko sayur?

Buat apa?

Menurut pengakuan anda tadi, anda perlu membeli jagung untuk Jenifer.

Maksud saya buat apa saya susah payah ke toko sayur? Saya punya telepon genggam. Ini dia. Anak saya mengajarkan saya bagaimana cara menelepon toko sayur, toko kelontong, dan beberapa tetangga. Saya tidak punya nomor telepon polisi seperti Bapak, karena kata anak saya polisi terlalu simple untuk melayani saya yang rumit. Saya minta ia menjelaskan apa yang dimaksud simple, sederhana, katanya, kita cuma perlu memberi uang. Mereka tidak punya waktu banyak untuk mendengarkan cerita saya. Saya sendiri tidak percaya polisi sesederhana itu. Buktinya Bapak mau mendengarkan saya. Iya, kan? Anak muda mem–

Ibu menelepon toko sayur, siapa yang menerima telepon?

Salah satu penjualnya. Saya hafal suaranya: Agak berat dan berkarakter, seperti Bob Tutupoli. Kalau dia yang menerima telepon biasanya pesanan saya akan sampai kurang dari setngah jam. Tetapi kalau yang bersuara lenje seperti Vina Panduwinata itu biasanya membutuhkan waktu satu jam, dan kalau yang mengangkat telepon seorang anak kecil yang suaranya selalu seperti mengantuk biasanya pesanan saya tidak pernah sampai hingga saya sendiri lupa pernah memesan sayuran dan baru ingat keesokan paginya ketika mengecek peti jagung Jenifer kosong.

Bisa telepon toko itu sekarang?

Tentu saja bisa. Sebentar.

[Saksi menelepon toko sayur. Tukang sayur bersuara berat yang dimaksud bernama Bambang Trimurti. Dari Saudara Bambang diketahui bahwa saksi membeli satu peti jagung untuk pakan burung. Saudara Bambang menyuruh pegawainya, Saudara Yudha, untuk mengantar ke rumah saksi sekitar pukul 05.30 WIB]

Survei

 

Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]
Tangkap layar salah satu fragmen di film Ruang Rak Noi Nid Mahasan (Last Life in the Universe) [2003]

Bagaimana cara anda menghibur diri?

A. Nonton ulang ‘Bedknobs and Broomsticks’ sambil mengupas kentang dan minum teh Tong Tji plus sedikit garam dan perasan limau nipis
B. Membuka empat tab youtube dengan lagu berbeda-beda dan volume maksimal
C. Menyegarkan laman berita sampai isinya berubah sesuai dengan yang anda mau
D. Memandangi foto aktor/aktris kesukaan anda sambil memainkan alat kelamin
E. Membalas SMS provider yang sehari sekali menyapa anda dengan promo-promo yang sama sekali tidak menarik dengan mengirim puisi-puisi Nizar Qabbani sepanjang tiga halaman

Judul lagu mana yang menurut anda layak menempati ruang antara trek Eleanor Rigby dan I’m Only Sleeping di album Revolver?
A. Inane Love Ballad for One-Sided Love
B. Horrid Nursery Rhyme Sung by Dipshit
C. Song Your Drunk Mom Sings at Karaoke
D. Eat, Pray, Love, Kickflip, Backflip, Shark Attack, Papa, Alfa, Charlie, Alfa, Romeo, Execute, Operation Mongoose
E. They Scream Like People

Apa yang anda katakan untuk membuat pacar anda senang?
A. Obrolan kita selevel, My Love
B. Aku ingin makan bola matamu supaya kamu bisa melihat isi hatiku, My Love
C. Aku ingin ikut program kloning, menggandakan diri sebanyak 50 juta, sehingga aku bisa mencintaimu sebanyak itu, My Love
D. Kalau kamu lem, aku jadi pipa: kita sama-sama bikinan pabrik, My Love
E. Bahkan kematian harus melangkahi kepalaku dulu sebelum mematikanmu, My Love

Mengapa anda tidur?
A. Mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat
B. Enak
C. Sudah menjadi kebiasaan
D. Tidur hanya mitos pabrik bantal dan tukang bikin ranjang dan sofa supaya kita beli produknya
E. Karena tidur menghindari kita dari berbuat maksiat dan juga menghindari kita dari makan dan minum dan masalah-masalah duniawi

Menurut anda, jika anda digigit anak berdandanan gotik, apakah anda akan menjadi vampir?
A. Iya
B. Tidak
C. Tidak, karena aku ingin jadi drakula
D. Tidak, kecuali yang menggigitku Nick Cave atau, yah, minimal Robert Smith
E. Aku memang vampir

Terima kasih telah berpartisipasi.

Salam,
Alfred Kurniawan

Sebelum Masuk Ia Mengetuk Pintu Dulu

But there’s one thing I know,
the blues they send to meet me won’t defeat me.

-B.J. Thomas

Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapapun yang berkata sebaliknya pastilah delusif atau kalau tidak, ya, pendusta kelas berat. Orang-orang hanya nampak menyenangkan saat kau mengingatnya sebagai masa lalu, atau membayangkannya sebagai masa depan, atau memikirkan seseorang yang sama sekali di luar jangkauanmu sambil tidur-tiduran, dan kembali mengulek wajahmu saat kau terpaksa bangkit dari ranjang, mengintip si Pengetuk melalui jendela kamar, dan itulah dia: Buntelan daging bipedal. Seharusnya manusia tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa mengetuk pintu dengan begitu manusia lain tidak perlu sampai pada tahap di mana mereka bisa membuka pintu, mengasah kemampuan berbasa-basi, jadi tidak perlulah kau merasakan kekesalan dan merancang niat buruk tiap ada kesempatan. Tapi , yah, terlambat. Evolusi melangkah terlalu jauh. Setelah membaca buku-buku sejarah aku selalu merindukan masa di mana kucing-kucing raksasa bertaring pedang menyeret prahomo-sapiens ke sudut tergelap suatu gua atau ketika agama masih soal cerita tuhan-tuhan antropomorfis atau sewaktu kita masih mengorbankan nyawa orang lain untuk mengatasi perkara cuaca atau zaman di mana matematikawan bergumul dengan persoalan mistis sampai-sampai tak keluar kamar selama berminggu-minggu dan memaksa bininya mengetuk pintu dan ia mesti kembali menghadapi buntelan daging bipedal yang diberkahi kemampuan merajuk. Kau membuka pintu, anjing, ini akar dari segala masalah. Membuka pintu. Kau melihat Honda Astrea terparkir di tepi jalan, tetapi kau tahu, kan? Kita tidak pernah benar-benar melihat sesuatu dengan benar. Kita cuma melihat apa yang ditampilkan pikiran kita dan ia bisa berbentuk apa saja. Bebas. Dan bebas artinya bebas. Mungkin yang kaulihat adalah Honda Astrea hitam dengan putaran gas berwarna biru metalik, tetapi bagiku yang kulihat adalah tahi kuda super-besar yang menutupi puncak Jaya. Mungkin yang kaulihat adalah seorang gadis dengan paras kejepangan dilengkapi payudara sebesar enam pisin yang ditumpuk dan punya kebiasaan membersihkan sudut matanya tiap lima atau enam menit, tetapi yang kulihat adalah okapi setinggi 168 sentimeter yang mulutnya bergerak-gerak meniru cara manusia bicara meski begitu yang keluar dari mulutnya adalah Bahasa Okapi. Aku tidak pernah kursus Bahasa Okapi, sayangnya. Jadi kubiarkan ia bicara sampai liurnya yang muncrat dan mendarat di kausku mengering sambil membayangkan minuman apa yang ditenggak kuda jantan yang menghamili seekor zebra: Absinthe atau tujuh galon Guinness? Kukira sebotol Absinthe sama dengan tujuh galon stout. Kuda itu harus sangat mabuk, kalau tidak, ya, tidak akan ada okapi. Persetan ilmuwan yang bilang zebra dan okapi tidak berkerabat, persetan Pak Wahyu, guru biologiku yang mengutip ilmuwan bahwa kuda dan okapi tidak berkerabat. Beberapa darimu pasti sulit mempercayai ini tetapi seluruh makhluk di muka bumi, dari gajah hingga pohon beringin, adalah sepupu jauh. Ini benar. Cicak yang mati terjepit pintu kulkasmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam miliarmu. Bangsat yang sembunyi di lipatan kasur dan kadang iseng masuk ke celana dalam dan menggigit pelirmu adalah sepupu dari sepupu pangkat enam belas miliarmu. Pacarmu adalah sepupu dari sepupu pangkat tiga ratus jutamu. Dan kau menghamilinya dan anakmu menghamili anak dari sepupu dari sepupu pangkat dua ratus sembilan puluh sembilanmu dan kau punya cucu dan cucumu dihamili cucu dari sepupu pangkat sekian ratus jutamu dan seterusnya kemudian suatu hari, beberapa abad dari tahun kematianmu, sepupu-sepupu jauh itu akan menjadi setoples acar. Kalau kau tidak percaya dengan teori ini, cobalah tempatkan buah semangka dan biri-biri dalam satu ruangan. Tetapi kalau ada burung finch, khusunya burung finch berparuh panjang, aku lebih merekomendasikannya sebagai bahan percobaan. Darwin pernah mencobanya dan berhasil, ia berhasil karena meneliti di alam terbuka, di alam terbuka tidak ada yang mengetuk pintu. Liur di kausku sudah mengering dan okapi yang berusaha terlihat seperti manusia di hadapanku nampaknya sudah bosan bicara. Aku suka okapi yang bosan bicara, ia lebih nampak seperti manusia sungguhan. Jadi aku tergerak untuk bercerita tentang sebuah klub yang tidak akan membiarkan satu pun anggotanya keluar hidup-hidup ketika ia sudah resmi menjadi anggota, tak mengizinkan anggota baru masuk begitu saja, dan klub itu hanya menyisakan beberapa tipe anggota yang sanggup bertahan. Aku tak tahu apakah si okapi mengerti cara manusia berkomunikasi, tetapi tatapannya mengisyaratkan kebencian mendalam. Kuceritakan pula kepadanya bahwa ada masa di mana apa yang manusia sebut cinta dan empati memiliki wujud, bisa dipegang, dan ditendang-tendang, lalu suatu hari banjir besar menghanyutkan keduanya. Apa yang kita pahami hari ini tentang kedua benda itu hanya legenda yang setengah mati dihidupkan dalam tiap percakapan. Itulah mengapa aku benci kau mengetuk pintuku.

Masalah Besar

“Burit manusia memang elastis, mungkin ia bisa dimasukkan bola golf atau bola kasti. Tapi hanya karena fakta itu bukan berarti orang boleh seenaknya bilang lambung manusia bisa memproduksi telur angsa,” Kamu melepas tangan kiri dari stir lalu menunjuk paragraf pertama cerita pendek di koran Minggu yang sedang dipegang Abulhayat dengan ujung rokoknya. “Kalau aku cuma punya tiga ribu batu bata merah untuk membangun rumah kecil di tanah warisan bapakku, akan kusisakan satu untuk menggetok kepala redaktur koran ini sekalipun sebagai gantinya satu sisi rumahku bolong.”

“Tapi itu bisa saja terjadi, kan? Maksudku, kau tahulah, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.” Abulhayat membuka laci asbak yang segera ditutup Kamu saat batang rokoknya setengah masuk sehingga rokoknya terjepit di sana, “Selama laci ini tertutup kita nggak tahu apakah rokokmu patah atau hanya bengkok. Aku tak masalah kau punya secuil atau seperiuk iman, tapi selama kau tak membuka percakapan soal itu aku tak akan takut dekat-dekat denganmu.”

“Patah atau bengkok, terserahlah.” Abulhayat mengeluarkan kotak rokok dari saku jinsnya, menarik sebatang rokok, dan melempar kotaknya ke dasbor. “Tuhan memang bisa melakukan apa saja, kan?”

“Sekarang aku akan menyisakan dua batu bata merah.”

“Iya, kan? Ayolah, kau tidak bisa menjelaskan bagaimana buah semangka bisa berdaun sirih, seperti di lagu Rinto.”

Kamu menepikan mobil di trotoar, keluar dari mobil dan bersiap memanjat pohon.

Ngapain kau?”

“Spanduk itu,” ia mendongak, “cukup besar untuk menutup lubang di dinding rumahku kelak, kalau kau terus bicara.”

“Oke, aku bantu.”

Kamu dan Abulhayat masing-masing memanjat pohon akasia tempat sebuah spanduk kampanye dibentangkan. Keduanya membakar tali yang mengikat spanduk dengan korek gas, lantas turun setelah pekerjaannya selesai. Empat orang, tiga wanita dewasa dan satu bayi, lewat depan pohon selagi proses penurunan spanduk, kecuali bayi, sisanya memandang dua orang di atas pohon dengan pikiran masing-masing. Di trotoar keduanya melakukan gerakkan seperti paskibra melipat bendera. Seorang kakek yang melewati mereka berhenti dan bertanya macam-macam. Kamu menjawab ia dan temannya adalah petugas Satpol PP dan si kakek menepuk pundaknya sambil berkata begitulah seharusnya penampilan Satpol PP, mengenakan kaus bergambar ikan marlin, celana jins, dan sandal jepit.

“Menurutmu kakek tadi benar-benar percaya kita petugas Satpol PP?” tanya Abulhayat setelah menyuruh Kamu membuka bagasi belakang Corolla ’94-nya. Kamu mengingatkan bahwa bagasi belakang penuh, dan seolah baru ingat sesuatu Abulhayat berjalan santai ke pintu belakang dan melempar lipatan spanduk, kemudian ia duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan bertanya ulang.

“Aku tak mendengar nada sindiran. Lagipula kakek tadi sudah terlalu tua, usianya barangkali menginjak kepala tujuh atau delapan, maksudku, ia pastilah sudah terbiasa dengan perubahan-perubahan ekstrim.”

“Ya. Termasuk melihat buah semangka berdaun sirih.”

“Tentu, tentu saja. Juga melihat Godzilla menginjak atap rumah makan Padang, mengambil sepinggan rendang, dan meninggalkan dua lembar seratus ribu di meja kasir.”

“Itu mustahil. Godzilla, kan, nggak ada.”

“Tapi reputasinya terkenal.”

“Meski reputasinya terkenal.”

“Sepertinya kita perlu spanduk yang lebih besar.”

“Eh, sebentar. Bisa kau pelankan laju mobilmu? Rasanya aku mendengar sesuatu di belakang.” Abulhayat menoleh ke kursi belakang. Dua bungkus ketoprak yang belum dimakan, sekaleng Mañana*, seplastik kembang gula mentol yang berguncang-guncang, buntalan kaus bekas pakai, dan spanduk biru yang menampilkan gigi petahana yang tidak rata.

“Tenang saja, kau tidak mendengar wahyu atau firman, kok. Paling kompresor AC-ku aus.”

“Aku memang nggak bisa menyetir, tapi aku tahu kompresor AC mobil sedan ada di depan.”

“Kalau begitu suara yang kau dengar berasal dari depan.”

Mobil mereka mengantre di perempatan. Lampu lalu lintas mati. Seorang polisi lalu lintas bergerak sistemis bak dakocan yang kena teluh dan sekumpulan pengendara tolol yang tetap membunyikan klakson dan barisan anak SD di zebra cross dengan minuman aneka warna di tangan mereka, dan Kamu terus memainkan jemarinya di atas kemudi sambil sesekali melihat gerak tangan polisi.

“Menurutku, dari bau keringatmu, kau makan gulai kambing sehari sekali selama seminggu terakhir.” ujar Abulhayat.

“Kau makan pepes anjing Pug,” jawab Kamu, mengendus-endus ketiaknya.

Abulhayat gantian mengendus-endus ketiaknya, “Bau anjing Pug tidak menyenangkan seperti ini.”

“Jadi menurutmu bau kambing menyenangkan?”

“Bukan begitu, baunya tajam seperti daging kambing tapi yang ini terasa manis. Mungkin kambing yang kau makan dicekoki setangki sirup coco pandan sebelum disembelih.”

“Terakhir kali aku makan daging kambing lebaran haji tahun lalu dan kau sendiri yang pernah heran mengapa aku tidak bau badan meski tidak pakai parfum atau deodoran. Kalau ini bukan bau badanmu, atau parfum yang kau pakai, paling-paling kaleng Mañana di belakang terbuka karena terus terguncang-guncang.”

Abulhayat memandangi Kamu sesaat, yang dilirik fokus ke gerak tangan polisi. Mata polisi lalu lintas melirik mobil mereka sebelum akhirnya bergerak-gerak lagi. “Jalan Raya Pemda ini baru diperbaiki bulan lalu, aspalnya mulus.”

“Tadi, kan, kita melewati dua atau tiga polisi tidur.”

“Kalau bukan Tuhan yang membuka kaleng Mañana itu, maka desainer kaleng Mañana dalam masalah besar.”

“Kalau begitu desainer kaleng Mañana memang dalam masalah besar.”

*Mañana: Minuman jus buah bersoda yang diproduksi di Surabaya sejak 2002, berbau seperti kloroform.

Pengalaman Menonton Film Bajakan

Berkas berformat .srt ini saya buka dengan aplikasi notepad dan disalin-rekat ke blog. Saya mengunduhnya satu paket dengan film berjudul “Shit People Can Make Great Art” yang memang ingin saya tonton sejak tahun lalu, barangkali salah satu dari kalian pernah menontonnya dan menemukan subtitle yang sama.

1

[highlight]00:00:00:24,942 –> 00:00:26,944
<font color=”#ffff00″><i>Alih Bahasa: Cicak Indigo</i></font>[/highlight]

 

2

00:01:00,102 –> 00:01:03,147

[RADIO FM BERCELOTEH]

 

3

00:01:03,314 –> 00:01:05,483

SUPIR TAKSI: Mereka masih mengikuti kita.

Bagaimana ini, Mbak?

 

4

00:01:05,649 –> 00:01:06,817

[SILAF MENGERANG TERTAHAN]

 

5

00:01:08,152 –> 00:01:10,237

Jalan saja.

 

6

00:01:10,571 –> 00:01:12,073

Baiklah.

 

7

00:01:12,239 –> 00:01:14,825

Saya tahu rumah sakit terdekat.

 

8

00:01:14,992 –> 00:01:17,912

Jalan saja, Pak.

Saya ingin cepat sampai rumah.

 

9

00:01:22,208 –> 00:01:23,542

[RADIO MEMUTAR MUSIK TECHNO]

 

10

00:01:23,709 –> 00:01:25,127

SUPIR TAKSI: Mbak?

 

11

00:01:25,377 –> 00:01:26,962

[NAPAS BERAT]

 

12

00:01:27,213 –> 00:01:28,839

Ya?

 

13

00:01:29,006 –> 00:01:30,049

Pernah dengar…

 

14

00:01:30,216 –> 00:01:34,470

Cerita tentang anak

yang memiliki kelainan pada tulang lehernya?

 

15

00:01:34,845 –> 00:01:37,681

Ia harus menyangga lehernya

dengan cervical collar khusus

 

16

00:01:37,848 –> 00:01:40,392

Supaya lehernya

tidak seperti agar-agar…

 

17

00:01:40,851 –> 00:01:43,354

[NADA DERING NOKIA]

 

18

00:01:43,521 –> 00:01:45,314

[REM BERDECIT]

 

19

00:01:51,779 –> 00:01:53,864

Lalu?

 

20

00:01:55,199 –> 00:01:56,992

Suatu hari…

 

21

00:01:57,159 –> 00:01:59,578

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

22

00:01:59,745 –> 00:02:02,373

…suatu hari anak itu me–

 

23

00:02:02,540 –> 00:02:03,958

[SUARA KLAKSON]

 

24

00:02:04,291 –> 00:02:05,501

Lalu?

 

25

00:02:05,668 –> 00:02:08,379

Saya kira kita harus menemukan

bar atau kafe yang masih buka…

 

26

00:02:08,546 –> 00:02:10,422

Selesaikan saja di sini.

 

27

00:02:10,589 –> 00:02:13,676

[SUPIR TAKSI TERBATUK KECIL]

…atau di rumah sakit, Mbak.

 

28

00:02:14,677 –> 00:02:17,596

Selesaikan di sini saja,

saat ini juga.

 

29

00:02:17,763 –> 00:02:18,973

Baiklah.

 

30

00:02:20,224 –> 00:02:21,725

Jadi, setelah itu?

 

31

00:02:21,892 –> 00:02:23,561

Sampai di mana tadi?

 

32

00:02:23,727 –> 00:02:26,772

Suatu hari, anak itu…

 

33

00:02:27,731 –> 00:02:30,693

Oh, ya, suatu hari anak itu–

 

34

00:02:31,026 –> 00:02:32,736

[SUARA TUBRUKAN DI BELAKANG]

 

35

00:02:32,903 –> 00:02:36,115

Sebaiknya kita berhenti dan Mbak meminta maaf

kepada orang di mobil belakang.

 

36

00:02:37,992 –> 00:02:40,202

Mereka tak akan memaafkanku.

37

00:02:40,870 –> 00:02:43,414

Tuhan juga tidak akan memaafkan kita, Mbak…

 

38

00:02:44,456 –> 00:02:46,208

…tapi nyatanya kita terus meminta maaf.

 

39

00:02:46,709 –> 00:02:50,754

setelah itu biasanya kita

bisa merasa tenang.

 

40

00:02:51,255 –> 00:02:53,299

Saya tidak butuh ‘merasa’ tenang, Pak…

41

00:02:53,465 –> 00:02:55,885

…lagipula Tuhan sudah meninggalkan kota ini

sementara mereka tidak akan pernah.

 

42

00:02:56,051 –> 00:02:58,762

Saya kira tidak ada salahnya

dicoba.

 

43

00:02:58,929 –> 00:03:00,181

[SILAF TERKEKEH]

 

44

00:03:01,265 –> 00:03:03,934

[SILAF MENGERANG]/

Tidak ada salahnya, Mbak.

 

45

00:03:05,060 –> 00:03:08,314

Jangan bilang Bapak

salah satu dari mereka.

 

46

00:03:08,480 –> 00:03:10,941

Semua orang di sini bagian dari mereka,

Mbak tentu tahu itu.

 

47

00:03:11,108 –> 00:03:13,194

Jadi, bagaimana dengan

anak berleher agar-agar tadi, Pak?

 

48

00:03:13,360 –> 00:03:14,403

Suatu hari…

 

49

00:03:14,570 –> 00:03:19,116

…suatu hari anak itu me–/

[TUBRUKAN DI PINTU KANAN]

 

50

00:03:30,878 –> 00:03:33,631

Lanjutkan, atau saya tidak akan

membayar tarif argo.

 

51

00:03:38,344 –> 00:03:40,346

[PENYIAR RADIO MEWARTAKAN BERITA KRIMINAL]

 

52

00:03:45,976 –> 00:03:48,979

Suatu hari anak itu membuka cervical collar-nya…

 

53

00:03:57,029 –> 00:03:59,240

…kemudian dia berkata,

54

00:06:19,296 –> 00:06:22,383

Mengapa aku harus memakai benda sialan itu sumur hidupku, padahal…

 

55

00:06:43,821 –> 00:06:47,324

[SESUATU BERGEMELETAK]

 

56

00:07:01,672 –> 00:07:03,215

[NADA DERING NOKIA]

 

57

00:07:03,382 –> 00:07:05,384

…padahal dengan leher seperti ini

aku bisa memandang dunia dari berbagai sudut.”

 

58

00:07:05,551 –> 00:07:06,969

Lalu dia tertawa seperti ini…

 

59

00:07:07,886 –> 00:07:09,388

[SUPIR TAKSI TERTAWA]

 

60

00:07:11,974 –> 00:07:15,686

Dengan kepala yang tidak bisa dikontrol

anak itu memiliki pandangan baru terhadap dunia.

 

61

00:07:15,853 –> 00:07:17,855

Hingga suatu hari…

 

62

00:07:20,023 –> 00:07:21,024

Hingga?

 

63

00:07:21,191 –> 00:07:23,318

[RADIO MATI]

64

[highlight]00:07:23,485 –> 00:07:27,364

<font color=”#ffff00″><i>Lima menit lagi aku akan datang dan menerjemahkan sisa dialog dengan cara membisikkannya ke telinga kalian sampai film berakhir. Aku janji. Salam, Cicak Indigo.</i></font>[/highlight]