Gelombang Besar

Karena hidup tak bisa dibikin lebih singkat lagi, kutekankan di sini: kau boleh patahkan batang hidungku berkali-kali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Karena hidup tak bisa dibikin lebih pepat lagi, kutekankan di sini: ambil kerah lawan dan pukul sampai tak kaukenali. Sampai bosan. Sampai ketemu arti.

Dibangun di atas pasir, pada dasarnya, kesedihan gampang roboh.

Tapi aku orangnya pacak menemukan cara buat menyerah.

2017

Dan Jadilah Demikian

Beruang tetanus dan sekarat akhirnya mati
Empat pria berseragam menyingkirkan bangkai
Dari pandangan penonton yang sedang menghindar
dari pandangan beruang yang seperti
payet hitam di gaun perempuan di pagar
dekat papan nama latin bertuliskan
Helarctos malayanus–beruang matahari
Perempuan itu menyingkir pelan-pelan

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

Sedang berusaha menyelesaikan apa yang suda dimulai. Hhh. Mungkin baru beres dua atau tiga tahun lagi. Ditaruh di blog, biar jadi semacam pengingat. Bole intip kalau mau. Hehe~

Flamingo: Kumpulan Cerita Seram

“Konyol sekali, menghabiskan 10 tahun cuma untuk menciptakan manusia. Kalau kau tak bisa bikin manusia lebih cepat daripada alam, sebaiknya kau tutup saja bengkel ini.” -Nasihat Rossum muda kepada Rossum tua (Rossum’s Universal Robots – Karel Čapek)

Demi keamanan dan keadilan, semua nama tokoh dalam kumpulan cerita ini disamarkan.

[…]

Stasiun radio terakhir di muka bumi sudah bangkrut sedekade lalu, dan yang saat ini sedang kamu dengar adalah suara hantu yang membajak frekuensi. Sobat Begadang Nusantara, selamat datang di Jurit Malam, Tidur di siang hari, menganggur di malam hari bersama Madam Luluk dan Bang Ben Bugimen.

[jingle Jurit Malam] Papa-Alfa-Charlie-Alfa-Romeo mengajakku gombal di udara~ memang cinta asyik di mana saja walau di angkasa~

[…]

“Eh, kau punya nomor telepon Bill Gates?” Sebuah ponsel mendarat di dasbor, menyenggol miniatur Dieguito dan membuatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Bill Gates Microsoft?”

“Bill Gates mana lagi?”

“Kukira kau menyebut nama tetanggaku,” ia berdeham. “Kau bertanya nomor telepon Bill Gates seolah kami tinggal bersebelahan.”

“Aku ingin meneleponnya dan bilang ‘Sebelum melakukan hal-hal menjijikan sebaiknya pikirkan puki emakmu.’ atau apalah.”

“Memangnya, ada masalah apa antara kau dengan si Bill?”

“Dulu dia bilang Open Source berbahaya, dikait-kaitkan dengan komunisme segala. Sekarang Microsoft bergabung dengan Linux Foundation. Memang bajingan si Jembut Anjing ini, tak heran dia kaya raya.”

Sebuah tangan menghentikan goyangan Maradona, “Lantas, apa yang bikin kau marah? Kau pernah dengar pepatah: Jika kau tak bisa mengalahkan musuhmu, ajaklah mereka bekerjasama.”

Tangan lain menyentil kepala Maradona, “Jadi, apa sudah saatnya kita menyerah dan bekerjasama dengan mobil di belakang?”

Sambil berdeham, lelaki bersuara bariton membenarkan posisi spion tengah. Lampu merah dan biru berkedap-kedip. “Kau pikir aku tak bisa mengalahkan dia, ya?”

[…]

Menyetir mobil dengan lambung berisi seliter Topi Miring dan dua mayat di bagasi bukanlah hal mudah. Setidaknya itu yang dialami jagoan kita, Napas Kecoa, lima belas menit lalu sebelum ia dan mobil dinasnya menabrak pembatas tol di kilometer 26, meluncur tak terkendali di tanah curam, dan berhenti setelah menabrak gubuk di tepi sawah.

[…]

Ia mengingat-ingat pertama kalinya jatuh hati kepada pistol. Hal pertama yang muncul di dalam pikirannya adalah lampu-lampu neon yang merangkai nama Louis, restoran Italia-Amerika dan bagaimana seseorang membuka botol dengan cara diputar-putar, ditekan, dan ditarik hingga berbunyi ‘plop’, tak lama kemudian seseorang mati di meja makan. Plop. Mungkin begitu bunyi ketika nyawamu copot.

[…]

Nah, itulah ruginya orang yang tidak banyak bicara. Padahal kalau diajak bicara, kan, tidak perlu melibatkan pisau segala. Siapa tahu istri Mas dan tetangganya cuma sedang menggoreng sosis, sedikit necking atau petting sambil menunggu sosis masak tentu tak ada salahnya. Asal jangan sampai gosong. Madam pernah membaca buku tentang hal-hal yang diungkapkan di bilik pengakuan dosa, salah satu pengaku bertanya apakah menggesek-gesekkan alat kelamin ke lawan jenis tanpa menikah termasuk dosa? Romo tentu menjawab itu sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan, tapi menurut Madam itu sah-sah saja. Selama sosisnya tidak gosong. Hehe.

[…]

“Sialan. Lagipula buat apa dia repot-repot menyebutku menyebalkan? Kurasa dia hanya orang yang dendam kepadaku. Dan doanya itu lho. ‘Tempat yang terang’, cih, doanya tak terkabul. Tak akan terkabul. Kalau bisa aku pengin mendatanginya dan menyuruhnya berhenti mendoakanku. Percuma.”

“Mereka suka harapan, mestinya kau maklum. Tak ada yang ingin tinggal dalam ruang sempit dan gelap dalam waktu yang tak terbatas.”

“Tapi kita tahu itu tidak ada.”

“Kita tahu, mereka tidak.”

“Sialan. Doa itu malah bikin aku ingin memukulnya.”

“Setidaknya masih ada yang sudi mengingatmu meski kau menyebalkan. Mungkin dia istrimu. Tak ada yang memendam perasaan sebal berlebihan kepadamu selain pasanganmu.”

“Sialan. Kuharap dia bukan istriku. Kuharap dia bukan siapa pun.”

“Kau tahu dia tidak mungkin bukan siapa pun. Minimal kau tahu dia seorang perempuan.”

“Sialan.”

Pamit

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Cara terbaik menilai anjing bukan dari kemolekan rambut atau seberapa cepat ia menyahut, melainkan dari jumlah garit dan bagaimana pada suatu hari ia mesti merelakan sepuluh senti ujung ekornya.

Kutaruh di atas meja: Sabuk dan dompet, ponsel dan korek, selusin koin.

Ironi tak menyelamatkanmu dari apa pun dan handuk yang kau pakai untuk membersihkan muntahan juga tidak. Hidup sangat terbatas, proses memaafkan mustahil selesai. Semesta merenggang, tak ada satu pun yang benar-benar dekat.

a seguro, le llevan preso

Ia duduk di kedai kopi. Jemarinya mengetik angka-angka enkripsi perangkat lunak baru sambil sesekali memandang orang mengobrol di Starbucks seberang jalan. Mengapa dunia tidak bergerak dengan cara yang lebih gampang? Pikirnya. Mengapa orang-orang mesti sembunyi, bahkan di internet, dari orang lain? Kau ada di sini. A seguro, le llevan preso.

In Vitro

Sebuah rumah panekuk. Pelayan, yang merangkap koki, membersihkan meja pelanggannya–seorang wanita berkemeja biru ketat–lalu meletakkan botol saus dan sendok dan garpu. Ia membariskan benda-benda di atas meja secara horizontal, membuatnya seperti sehimpun regu tembak, kemudian meminta wanita itu menunggu sepuluh menit.

Wanita itu mengenang percakapan tiga orang asing yang membawanya ke rumah panekuk ini.

Satu jam lalu ia di jalan menuju stasiun, menuju rumah suaminya. Tak ada tanda-tanda ia akan menundukkan kepala, ketiak kiri mengempit amplop coklat, bahu kanan memanggul beban tas kulit, dan perias mata yang seperti lebam. Ia berhenti di depan kelompok pengamen yang menyanyi lagu Fariz RM. Di belakangnya, dua orang lelaki membicarakan sebuah rumah panekuk, berusaha mengajak teman perempuan mereka untuk mencobanya juga. Letaknya tak jauh dari Stasiun Gondangdia, di jalan kecil yang akan menuntunmu ke Stasiun Gambir. Buku menu di rumah panekuk itu berisi dua puluh tiga jenis makanan, enam jenis minuman, dan tiga jenis kue, tetapi hanya satu jenis makanan dan minuman yang tersedia. Panekuk dan teh tawar hangat. Rumah panekuk itu, kata salah seorang dari mereka, sebetulnya tak perlu menulis menu banyak-banyak, ia hanya perlu mempertahankan rasa panekuk dan sausnya. Yang satu menyetujui dan menambahkan kecurigaannya, sambil terkekeh, bahwa si koki menambahkan ganja ke dalam adonan panekuk. Keduanya sepakat panekuk itu membuat siapa pun yang memakannya merasa sedang dalam perayaan keagamaan atau festival tahunan; perasaan yang hanya mungkin muncul dalam momen-momen seperti itu.

Wanita itu tak ingin mendengar lebih banyak. Setelah lagu berakhir, ia melempar selembar uang sepuluh ribu lantas pergi. Ia naik kereta dan berhenti di Stasiun Gondangdia. Amplop coklatnya basah.

Pelayan meletakkan sepiring panekuk dan teh tawar hangat di atas meja. Wanita itu mengistirahatkan punggungnya di sandaran kursi. Ia tak segera memakan panekuknya, malah meminta diambilkan koran atau majalah. Tak ada koran atau majalah baru, kata pelayan seraya menyerahkan majalah LIFE terbitan 13 Juni 1969. Wanita itu membaca halaman demi halaman, mencuil panekuk saat berganti halaman, dan menghabiskan tehnya setelah menutup halaman terakhir. Serangga terbang menghampiri lampu, mengitarinya seperti sedang melakukan ritual suci, atau hanya upaya kecil mereka untuk bertahan. Wanita itu menutup amplop coklatnya dengan majalah. Ia menatap gambar sampul majalah itu dan berpikir bahwa hidup dan mati, dan pertemuan-pertemuan yang terjadi di antara kedua kutub itu, hanyalah kecelakaan. Ada kecelakaan yang hanya menggores pipi, yang tak mengorbankan banyak darah. Ada pula yang sebaliknya.

delapan seloki wiski

tak perlu membawa pistol
dalam pertarungan pisau
dan lupakan ketapel-ketapel Daud
pada kantung-kantung baju orang saleh
atau ancaman-ancaman dari langit

defile yang seperti antrean piyik
meski dipenuhi rajahan pitawat
darab cemeti mereka
tidak lebih keras dari
delapan seloki wiski

Saya Menemukan Mayat di Kursi yang Biasa Saya Duduki

Di saku celananya terselip surat:

“Kau bisa saja bersikap masa bodoh. Kita tak perlu membicarakannya. Mengabaikan sesuatu, di dunia di mana kabar bergerak lebih cepat dari proses tarik-embus napas, bukanlah pekerjaan yang membuat ketiakmu berkeringat. Perkaranya jadi rumit karena sekalipun tidak dibicarakan ia tidak lenyap.”

Rasanya saya ingin memukul orang bodoh yang terlalu bahagia.

Kapal Tempur Yamato

Ketika bom atom mendarat di tanah mereka
ia tidak sekadar merusak tetapi juga
menanam ingatan

(72 tahun kemudian pohonnya tumbuh dan berbuah dan buahnya menggelinding ke ruang kerjaku.)

Ruang kerjaku seperti stoples selai
yang disimpan di dalam lemari oleh seorang nenek yang pikun.

Ia duduk, bertanya sesuatu mengenai buku di tangannya dan kubilang aku tidak tahu
“Tidak tahu bukanlah jawaban.”
“Tidak tahu adalah jawaban,” kataku
“Aku cuma baca dua paragraf.”
Matanya nyalang.

Ia menuang teh herbal dari poci
–kubayangkan Kapal Tempur Yamato
terombang-ambing di sana
kalah dan putus asa
(aku melihatnya di pesisir sambil mengumpulkan guano.)

Ia mulai basa-basi
membicarakan seorang teman lama yang kabarnya jadi pecun.

Aku mengantuk, sungguh, dan menyesal telah mengenal adab memuliakan tamu
“Jadi, kapan
kau pergi?” tanyaku.
Wajahnya mengingatkanku pada kuda yang menatap maklaf
yang kosong.

Ketika bom atom mendarat di tanah mereka
ia tidak sekadar merusak tetapi juga
menanam ingatan

(72 tahun kemudian pohonnya tumbuh dan berbuah dan buahnya busuk di ruang kerjaku.)

Teorema Monyet Tak Terhingga

“Monyet-monyet itu bisa menyelesaikan naskah Hamlet andai mereka tidak kesal dan membanting mesin tiknya, mengumpulkan serpihan dan menyusunnya menjadi instalasi yang sangat Dada tetapi kalau dilihat dari kejauhan seperti sebongkah pantat babi.”

Tidak ada yang tertawa, sebab di hadapan Hans hanya ada sebuah kunci motor dan selera humor kunci motor buruk sekali: Dia senang menghilang. Gurauan terburuk dalam sejarah komedi.

Anjing liar yang suka berteduh di bawah bayang-bayang angsana depan rumah Hans menggonggong. Hans kedatangan tamu. Dia bangkit dari sofa dan mengintip melalui jendela, seorang lelaki bertopi dan lehernya ditutupi serban, atau sarung, atau taplak, berwarna biru yang membuatnya nampak seperti gaucho. Kurang dari tiga puluh detik lagi dia akan mengetuk atau mengucap salam atau mengetuk sambil mengucap salam atau menyadari bahwa ia salah alamat dan pergi tanpa melakukan keduanya. Tetapi pria itu mengetuk dan mengucap salam. Tiga kali, dengan sedikit jeda. Hans melirik dispenser yang menopang galon kosong.

“Aku tahu kau di dalam,” seru pria itu. “Hans. Ayolah, jangan bercanda. mereka menunggumu.”

Ketukan berubah menjadi gedoran saat Hans sembunyi di dapur. Ia memandangi kaleng sarden di atas meja dekat dispenser, gagang pisau yang sangat dibencinya karena sudah tidak terlalu kuat mencengkeram bilah besi dan membuatnya tidak bisa lagi mengiris bawang dengan cepat, dan kecoak yang mondar-mandir di antara kaleng sarden dan gagang pisau.

“Kuncimu menutupi lubang, Hans.”

Menyadari pria itu baru saja berusaha mengintip, Hans berlari ke kamar mandi. Menguncinya. Lalu membuka kuncinya, keluar dari kamar mandi, dan masuk kamar, dan menguncinya. Dia mengambil Encyclopedia of Wildlife and the Sea yang dibelinya seharga 15 dolar di Amazon hanya karena penguin di sampul mengingatkannya pada guru Bahasa Indonesia-nya di SMP.

“Monyet-monyet itu hampir menyelesaikan Hamlet.” Suara pria itu terdengar sangat dekat. Hans melihat jendela. Gorden hijau menampilkan bayangan seseorang yang kelihatannya tengah menempelkan kedua telapak tangannya di kaca. “Mereka tidak membanting mesin tiknya. Ah, leluconmu yang tidak lucu itu semakin tidak lucu. Kau harus melihatnya. Kita harus melihatnya.”

Bayangan pria itu meninggalkan gorden. Hans menarik napas, kemudian merebahkan diri di kasur. Dia menggesek-gesekkan betisnya di sprei, menghirup aroma pengharum yang digunakan penatu langganannya. Dulu dia hanya ke penatu untuk mencuci sprei sebab dia tidak tahu sisi terbaik untuk mulai melipat kain seluas itu dan bagaimana cara terbaik mengakhirinya, kini dia ke penatu saat wangi kain itu sudah tak terdeteksi hidungnya.

Suara pintu terbuka. Pintu dapur. Hans bangkit dan berlari secepat yang dia bisa dan mendapati pintu dapur sudah terbuka dan pisau sudah tak ada di atas meja. Hanya kaleng sarden kosong dan kecoak yang tersisa. Antena kecoak itu bergerak-gerak, lalu, seperti seseorang yang ingat jam tangannya tertinggal di toilet umum, kecoak itu terbang ke balik dispenser.

Hans berlari lagi ke kamarnya. Dia membanting pintu tanpa menguncinya. Hans memilih bersembunyi di dalam lemari, berusaha mengalihkan ketakutannya dengan memikirkan cerita-cerita kesukaannya, dari pengarang favoritnya, dan membayangkan dirinya sebagai tokoh utama. Kadang cara ini bekerja dengan amat baik.

Seorang pria Skotlandia menjual buku yang kelak menghancurkan hidupmu.

“Hans…”

Orang-orang terdekatmu mati dalam pola-pola kabalistis.

“Kapan kau akan mengganti pisau sialan ini?”

Kau berdiri di tengah kota kosong yang sekaligus bangkai harimau, dan sebuah perusahaan raksasa, yang tak pernah ada, mengintai setiap gerak-gerikmu.

“Mati ditusuk pisau seperti ini tidak keren, Hans. Keluar sajalah, kita bicara.”

Kondektur di kereta yang kau tumpangi sangat tidak tahu adat, dan dia mantan raja Babilon.

“Kalau kutambahkan ‘baik-baik’ setelah kata ‘bicara’, apakah kau mau keluar?”

Seorang wanita berambut merah yang kau jumpai berkata bahwa kau bangkai yang berjalan.

“Hans, aku tidur di atas kasurmu.”

Di sekelilingmu berdiri rak-rak buku, kau berada di perpustakaan yang barangkali tak pernah ada dan kau mengalami hal-hal buruk di sana.

“Aku mungkin akan memberakinya, Hans.”

Kau tak yakin apakah kau yang menulis cerita atau cerita yang menulismu.

“Kalau kau tidak keluar juga aku akan benar-benar berak di atas spreimu.”

Kau berdiri di sebuah ruangan di mana titik tengah ruang itu berada di semua tempat dan kau tak berhasil menemukan tepinya dan kau bergidik memikirkannya.

“Kuhitung sampai tak terhingga.”

Kau mungkin manusia, tetapi mungkin juga gagasan eksperimen matematika.

“Satu… dua…”

Hans membuka pintu lemari. Tak ada orang di kamar. Tangannya gemetar. Pisaunya bergoyang-goyang.